Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Pendar lampu neon yang berkedip di lorong bawah tanah memantulkan bayangan Evangeline yang mendarat tanpa suara di atas lantai beton.

Tubuhnya merendah seketika, menumpu dengan jemari tangan kiri untuk menjaga keseimbangan, sementara mata hazelnya tetap terkunci pada celah pintu vault yang terbuka beberapa inci.

Penjaga kedua yang bersenjata lengkap masih berdiri membelakangi lorong, matanya terus mengawasi tangga akses utama di ujung koridor. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya sesungguhnya telah muncul dari langit-langit tepat di belakangnya.

Eva tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk berbalik.

Dengan gerakan cekatan yang terlatih, Eva meluncur menerjang bagian belakang lutut penjaga tersebut. Suara halus terdengar saat sendi lutut pria itu tertekuk secara paksa ke arah yang salah.

Sebelum penjaga itu sempat berteriak memecah keheningan, tangan kiri Eva sudah melingkari lehernya dari belakang, mengunci saluran udara dan arteri carotid dalam cengkeraman rear-naked choke yang mematikan.

Pria itu meledakkan sikunya ke belakang secara liar, berusaha menghantam rusuk Eva. Namun Eva memiringkan tubuhnya dengan sangat hati-hati, menyerap benturan itu seraya memperketat tekanan lengannya.

Tiga detik. Lima detik.

Mata penjaga itu memutar ke atas, suaranya tertahan di tenggorokan, dan seluruh otot tubuhnya mendadak lemas tak berdaya. Eva menuntun tubuh pria bertubuh besar itu turun ke lantai dengan sangat halus, memastikan senapan yang dibawa pria itu tidak membentur beton dan menimbulkan suara logam yang nyaring.

Eva dengan cepat melucuti amunisi pria itu, mengamankan sebuah pistol berperedam suara tipe Glock 19 di pinggangnya, lalu menyeret tubuh pingsan tersebut ke sudut gelap di balik tumpukan kotak pendingin pendingin udara.

Setelah situasi luar terkendali, Eva beralih ke pintu vault utama.

Celah pintu baja seberat lima ton itu memancarkan hawa dingin dan aroma kertas tua yang bercampur dengan bau minyak senjata murni. Eva menyusupkan tubuhnya masuk ke dalam celah tersebut, melangkah tanpa suara menembus kegelapan ruang penyimpanan rahasia Lady Vivienne Blackwood.

Bagian dalam vault tingkat tiga ini tidak menyerupai ruang penyimpanan barang berharga pada umumnya. Tempat ini lebih mirip sebuah perpustakaan privat yang dibangun di dalam benteng beton.

Rak-rak besi beratap tinggi berjejer rapi, memuat ratusan dokumen berantai enkripsi, cetakan peta lama distrik Verona Heights, serta deretan kotak baja bertanda lambang mawar tiga duri milik keluarga inti Blackwood.

Di ujung ruangan, di bawah pendar redup lampu meja kerja tua, tampak figur penjaga pengkhianat pertama sedang membelakangi pintu.

Pria itu memegang sebuah senter di antara giginya seraya kedua tangannya bekerja cepat membongkar sebuah kotak besi berukuran sedang yang diangkatnya dari rak paling bawah.

Di samping kotak itu, belati bertakik lima duri tergeletak di atas meja. Eva merayap di balik bayangan rak nomor 04, mengamati setiap gerakan pria tersebut dari jarak lima meter.

"Di mana map itu..." desis penjaga pengkhianat itu dengan suara rendah dan tergesa-gesa.

Tangannya mengacak-acak tumpukan surat bersegel lilin hitam di dalam kotak. "Pasti ada di sini. Dokumen perbatasan St. Jude..."

Jantung Eva berdenyut kencang saat mendengar nama St. Jude diucapkan kembali.

Pria ini bukan sekadar pencuri amatir yang mengincar perhiasan atau uang tunai keluarga Blackwood. Ia dikirim oleh faksi The Five Thorns khusus untuk mencari dokumen yang berkaitan langsung dengan wilayah operasi tempat ibu Eva dibunuh empat belas tahun lalu.

Namun, saat penjaga itu hendak menarik sebuah amplop cokelat tebal berstempel segel merah dari dasar kotak, langkah kakinya mendadak terhenti.

Pria itu merasakan hawa dingin yang tak biasa di belakang lehernya. Senjata belatinya diambil dari meja tanpa suara.

Ketika pria itu memutar tubuhnya dengan cepat seraya menarik pistol dari pinggangnya, ujung mata pisaunya sendiri sudah tertahan tepat dua milimeter dari bola mata kanannya.

Eva berdiri tegap di hadapannya. Wajah cantiknya kaku bagaikan pahatan es, dan sepasang mata hazelnya memancarkan pendar pembunuh yang sangat murni.

"Bergerak satu milimeter saja," desis Eva dengan suara lembut namun mengandung ancaman, "dan belati lima duri milik kelompokmu ini akan menembus otakmu melalui rongga mata."

Penjaga pengkhianat itu membeku seketika. Senter kecil di mulutnya terjatuh ke lantai, bergelinding pelan memancarkan sorot cahaya yang menerangi wajah kedua manusia itu dari bawah.

Pria itu menatap Eva dengan campuran rasa terkejut dan ketakutan yang tak terhingga. "K-kau... Nyonya pengantin baru..."

"Siapa yang menyuruhmu ke sini?" tanya Eva dingin, menekankan sedikit ujung belati pada kelopak mata pria itu hingga meneteskan setitik darah segar. "Siapa pemilik sebenarnya dari belati lima duri ini?"

Penjaga itu menyunggingkan senyum aneh yang penuh keputusasaan. Bibirnya yang berdarah gemetar pelan. "Kau tidak tahu apa-apa, Nona... Kau hanya pion di papan catur ini. The Five Thorns tidak pernah mati... mereka berada di dalam dinding manor ini... di antara orang-orang yang kau percaya..."

Eva menyempitkan matanya keras. "Sebutkan satu nama!"

"Jika aku menyebutkan namanya..." bisik pria itu dengan mata liar yang dipenuhi ketakutan mendalam, "...seluruh keluargaku di distrik luar akan dieksekusi sebelum matahari terbit."

Tiba-tiba, sebelum Eva sempat menekan pria itu lebih jauh dengan teknik interogasi Ghost Rose, sebuah suara langkah kaki berderap nyaring bergaung dari arah pintu luar vault.

Lampu-lampu sorot darurat berdaya tinggi di seluruh ruangan vault mendadak menyala serentak, membilas seluruh kegelapan dengan cahaya putih menyilaukan yang membuat pandangan mata Eva buram selama sepersekian detik.

"Jangan bergerak! Jatuhkan senjata!" teriak sebuah suara berat yang berwibawa diiringi suara kokangan belasan senapan mesin.

Eva melompat mundur secara refleks, melepaskan cengkeramannya dari penjaga pengkhianat seraya berlindung di balik rak besi tebal. Belati lima duri masih terselip di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah memegang Glock 19 yang direbutnya di luar tadi.

Saat pandangan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya terang, Eva melihat selusin pengawal bersenjata lengkap telah mengepung seluruh pintu keluar ruangan vault.

Dan berdiri di paling depan, di antara barisan moncong senjata yang mengarah lurus ke posisi Eva, adalah Dominic Blackwood.

Dominic mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengan bajunya telah digulung hingga siku. Di tangan kanannya, ia menggenggam pistol kustom berlaras panjang berukir mawar, senjata pribadi yang hanya digunakan saat ia hendak melakukan eksekusi langsung.

Sepasang mata kelam Dominic menyapu isi ruangan. Ia melirik penjaga pengkhianat yang gemetar di dekat meja kerja, lalu pandangannya terkunci pada Eva yang berdiri di balik rak besi seraya memegang belati lima duri yang berdarah.

Raut wajah Dominic tidak memperlihatkan rasa terkejut. Sebaliknya, yang terpancar dari ekspresi pria itu adalah ketenangan dingin yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah.

"Evie," suara Dominic bergaung rendah memotong keheningan ruangan vault, begitu jernih dan sarat akan dominasi murni. "Kau membuat penerobosan yang cukup mengagumkan dari pintu angin lantai tiga."

Eva tetap memegang posisinya di balik rak besi, menyeimbangkan posisi bertaruhnya. "Kau tahu aku keluar dari kamar?"

Dominic menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis. "Kau pikir aku benar-benar tertidur? Detak jantungmu meningkat tiga belas persen saat kau bergeser dari tempat tidur. Dan sensor suhu di dinding luar telah memetakan jalur penurunanmu sejak kau melangkah keluar jendela."

Eva menahan napasnya di balik rak. Pria ini benar-benar iblis. Pria itu membiarkannya turun ke vault bawah tanah ini secara sengaja hanya untuk melihat ke mana tujuannya melangkah.

Dominic melangkah perlahan memasuki ruangan vault, tidak memedulikan potensi bahaya dari senjata yang dipegang Eva. Para pengawalnya bergerak rapat mengiringi setiap langkah majikan mereka.

"Kau melompati dinding luar berangin kencang hanya untuk menemui salah satu penyusup dari faksi The Five Thorns?" tanya Dominic seraya berhenti lima meter di hadapan Eva.

Pandangannya melirik belati di tangan kiri Eva. "Atau kau memang merupakan bagian dari mereka sejak awal?"

"Jika aku bagian dari mereka, Blackwood," sahut Eva dengan nada menantang dari balik rak, "pria ini sudah kubantu melarikan diri bersama dokumen ibumu, bukan menahannya dengan pisau di lehernya!"

Dominic memiringkan kepalanya sedikit, mengamati ketegangan di wajah Eva. Ada kilatan penilaian yang bertolak belakang di balik mata kelam pria itu.

Dominic lalu berpaling ke arah penjaga pengkhianat yang kini merangkak ketakutan di dekat meja.

"Gareth," kata Dominic dingin, menyebut nama penjaga tersebut. "Empat belas tahun kau bekerja untuk keluarga Blackwood. Ayahmu adalah pengawal pribadi almarhum Ayahku. Apa yang mereka janjikan padamu untuk mengkhianati rumah ini?"

Penjaga bernama Gareth itu gemetar hebat, air mata ketakutan mengalir turun di wajahnya yang berdebu. "M-mereka memegang putriku, Tuan Dominic. Jika aku tidak mengambil dokumen manifes St. Jude 2012 malam ini... mereka akan mengirim jari-jari putriku besok pagi!"

"Siapa 'mereka'?" desis Dominic, suaranya jatuh ke titik paling rendah yang sangat mengancam. "Sebutkan nama pimpinan faksi yang memberimu perintah!"

Gareth menggelengkan kepalanya secara histeris. "Aku tidak pernah melihat wajahnya, komunikasi hanya melalui frekuensi radio. Tapi... tapi dia tahu sandi rahasia peti besi Lady Vivienne. Dia tahu sandi yang hanya diketahui oleh anggota keluarga inti."

Kata-kata Gareth bagaikan dentuman meriam yang menggetarkan dinding vault.

Sandi rahasia yang hanya diketahui oleh anggota keluarga inti Blackwood.

Eva menahan napasnya di balik rak. Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa puncak kepemimpinan The Five Thorns, dalang yang mengatur pembunuhan ibunya dan meretas sistem manor malam ini adalah seseorang yang duduk di jajaran paling atas kekuasaan keluarga ini.

Apakah itu Lady Eleanor?

Apakah itu salah satu dari tiga pimpinan faksi yang hadir di jamuan makan siang sebelumnya?

Atau... apakah ini adalah permainan bertingkat yang diatur oleh Dominic sendiri untuk membersihkan musuh-musuh internalnya?

Sebelum Gareth sempat menambahkan keterangan lain, pria itu mendadak tersedak keras.

Darah hitam pekat mendadak memancar keluar dari mulut dan hidung Gareth. Matanya membelalak lebar dalam rasa sakit yang sangat hebat.

Tubuhnya mengalami kejang-kejang hebat di atas lantai beton sebelum akhirnya terkulai kaku tak bernapas dalam waktu kurang dari lima detik.

Racun kontak bertindak cepat.

Viktor dengan cepat berlutut di samping mayat Gareth, memeriksa kantong baju pria itu dengan sarung tangan medis. "Tuan Dominic, kapsul racun mikro di dalam gigi gerahamnya pecah secara otomatis. Mekanisme pemicu frekuensi jarak jauh!"

Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat. Amarah yang ditahannya meletupkan aura pembunuh yang membuat udara di ruang vault terasa menyengat. Seseorang dari luar baru saja membunuh saksi kunci tepat di hadapan mereka menggunakan pemicu sinyal radio.

Dominic memutar tubuhnya kembali menatap Eva.

"Viktor," perintah Dominic tanpa mengalihkan pandangannya dari mata hazel Eva. "Amankan seluruh dokumen di ruang penyimpanan ini. Pindahkan ke lokasi sekunder."

Dominic lalu melangkah mendekati Eva, menghentikan langkahnya persis di depan rak tempat wanita itu berlindung. Pria itu mengulurkan tangan kanannya ke arah senjata di tangan Eva.

"Serahkan senjatanya, Evie," kata Dominic, suaranya tidak lagi dingin secara tajam, melainkan dipenuhi kelelahan yang sangat dalam dari seorang pemimpin yang dikepung oleh pengkhianatan dari segala arah. "Permainan petak sembunyi malam ini sudah berakhir."

Eva menatap tangan terulur Dominic, lalu melirik pistol di tangan kanan pria itu yang kini telah diturunkan ke samping paha.

Ia menyadari situasi taktisnya. Bertarung melawan Dominic dan selusin pengawal bersenjata di dalam ruang tertutup ini adalah tindakan bodoh. Lagipula, informasi yang ia dapatkan malam ini sudah lebih dari cukup, The Five Thorns digerakkan oleh seorang anggota internal berkuasa tinggi, dan dokumen manifes St. Jude 2012 adalah kunci utama yang ditakuti oleh dalang tersebut.

Eva perlahan menurunkan pistol Glock 19 yang dipegangnya, lalu meletakkannya di atas meja bersama dengan belati lima duri.

"Aku bukan musuhmu di ruangan ini, Dominic," bisik Eva pelan seraya menatap lurus ke dalam mata kelam pria di depannya.

Dominic meraih pergelangan tangan Eva, jemarinya melingkar dengan tekanan yang hangat namun pasti. Pria itu menatap Eva dari jarak dekat, mencari kejujuran di balik kelereng hazel yang begitu indah namun penuh misteri tersebut.

"Kita akan membuktikannya nanti, Nyonya Blackwood," sahut Dominic pelan. "Tapi untuk saat ini... kau kembali ke kamar."

...****************...

Fajar mulai membias di ufuk timur ketika Dominic menuntun Eva kembali ke lantai tiga kediaman utama.

Kabut pagi menggantung tebal di luar dinding kaca kamar mereka, membiaskan cahaya yang lembut di atas perabotan kayu tua. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka selama perjalanan kembali dari lorong bawah tanah.

Dominic mengunci pintu kamar utama kembali, lalu melangkah menuju meja kerjanya. Pria itu mengambil kotak kayu kecil berukir mawar yang tersimpan di dalam laci terkunci rapat, lalu membawanya ke meja tengah di hadapan sofa tempat Eva duduk.

Klak.

Dominic meletakkan kotak kayu itu di depan Eva.

"Apa ini?" tanya Eva seraya mengamati ukiran halus pada tutup kotak tersebut.

"Peti pribadi milik ibuku, Lady Vivienne," jawab Dominic datar seraya mendudukkan tubuhnya di sofa opposite. "Gareth tewas sebelum sempat membukanya. Dan pengkhianat di luar sana masih mengincar isi di dalamnya."

Eva menatap kotak tersebut dengan jantung yang berdesir pelan. "Kenapa kau memperlihatkannya padaku?"

Dominic menyandarkan punggungnya di sofa, menatap Eva dengan pandangan yang sulit diterjemahkan.

"Karena ibuku meninggalkan sebuah catatan sebelum ia tewas empat belas tahun lalu," kata Dominic pelan. "Catatan yang menyebutkan bahwa jika suatu hari nanti The Five Thorns bangkit kembali... orang yang akan membawa kunci penutupnya adalah seorang wanita yang memiliki mata hazel bersinar bagaikan mawar di tengah malam."

Eva terhenyak di tempatnya berdiri.

Pernyataan Dominic bagaikan sambaran petir di siang bolong. Lady Vivienne telah memprediksi kedatangan seorang wanita bermata hazel empat belas tahun sebelum Eva melangkah masuk ke dalam manor ini.

Apakah pembunuhan kedua wanita itu empat belas tahun lalu merupakan bagian dari satu konspirasi besar yang sama?

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!