Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
“Ya, tidak ada yang bisa memisahkan kita,” bisik Cindy mengulangi kalimat Damian, seolah-olah kata-kata itu adalah mantra yang menyegel takdir mereka berdua. Ia menyandarkan dahinya di dada Damian, mendengarkan kesunyian dari balik tulang rusuk pria itu yang anehnya justru terasa seperti tempat paling aman di dunia baginya saat ini.
Damian memeluknya erat, melingkarkan kedua lengan besarnya di sekeliling tubuh mungil Cindy, menenggelamkan gadis itu dalam dekapan dingin yang protektif. Mata birunya menatap lurus ke arah jendela ruang tamu, menembus kaca yang mulai berembun tipis, memandang ke arah halaman belakang di mana kegelapan perlahan mulai merayap meski hari belum terlampau sore.
“Damian,” panggil Cindy pelan, suaranya agak meredam karena wajahnya terbenam di kemeja rajut pria itu.
“Ya, mijn liefde? Ada apa?” sahut Damian, menyelipkan panggilan bahasa Belanda yang terdengar begitu lembut sekaligus asing di telinga Cindy.
Cindy mendongak, alisnya bertaut kecil karena penasaran. “Artinya apa?”
Damian tersenyum tipis, jemarinya merapikan beberapa helai rambut Cindy yang berantakan akibat ciuman mereka tadi. “Artinya... cintaku. Bahasa dari tempat saya dibesarkan.”
Wajah Cindy kembali merona merah, ia menyembunyikan senyumnya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. “Kamu ini jago banget ya bikin jantung orang mau copot. Oh ya, Damian... aku mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan marah, ya?”
“Saya tidak akan pernah bisa marah kepadamu, Cindy. Tanyalah,” jawab Damian, nadanya begitu tenang dan datar, namun tatapannya tak lepas dari wajah gadis di pangkuannya.
“Soal keluargamu yang ada di Belanda... apa kamu benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi di sana? Maksudku, sepupu, atau paman, atau... mantan kekasih mungkin?” Cindy menaikkan sebelah alisnya, mencoba menyelidiki dengan nada bercanda, meskipun ada sedikit rasa ingin tahu yang murni di dalam hatinya.
Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Damian di rambut Cindy sempat terhenti selama satu detik. Tatapan matanya yang sebiru samudra mendadak berubah sedingin es, sedalam jurang maut, sebelum akhirnya melunak kembali dengan sangat rapi.
“Tidak ada, Cindy. Semuanya sudah lama... tiada,” jawab Damian dengan penekanan yang agak berat pada kata terakhir. “Keluarga saya sudah habis di masa lalu. Dan saya tidak pernah memiliki kekasih di sana. Jiwa saya baru menemukan pasangannya yang tepat... saat saya mengetuk pintu rumah ini dan melihat matamu.”
Cindy tertegun mendengar jawaban yang begitu dalam. Rasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu Damian yang tampaknya kelam langsung merayapi hatinya. Ia menggenggam tangan pucat Damian yang berada di pipinya, berusaha memberikan kehangatan dari telapak tangannya sendiri.
“Maaf ya, aku gak bermaksud membuatmu sedih atau ingat masa lalu,” ujar Cindy tulus. “Sekarang kamu punya aku. Meskipun rumah ini besar dan kadang terasa sepi, kita bisa mengisinya bersama-sama. Kamu bisa main ke sini kapan saja kamu mau.”
Damian menatap jemari hangat Cindy yang membungkus tangan dinginnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk kurva lebar yang penuh arti. “Saya akan memegang kata-katamu, Cindy. Saya akan berada di sini... lebih sering dari yang kamu bayangkan.”
Cindy tersenyum lega, lalu melirik jam dinding kuno peninggalan ayahnya yang berdentang pelan di sudut ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul tiga sore.
“Ah, aku sampai lupa belum membersihkan dapur,” kata Cindy sambil mencoba bangkit dari pangkuan Damian. “Mangkuk soto kita tadi belum dicuci, dan sisa kuahnya harus kupindahkan ke wadah kecil sebelum dingin.”
Namun, alih-alih melepaskannya, tangan Damian di pinggang Cindy justru menahannya sedikit lebih lama. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup ujung hidung rubah milik Cindy dengan gemas hingga gadis itu memekik pelan karena ujung hidungnya mendadak terasa sedingin es.
“Biarkan saja dulu. Saya bisa membantumu nanti,” bisik Damian, menolak untuk berjauhan dari sumber kehangatan hidup yang kini telah sepenuhnya menjadi miliknya.
Cindy hanya bisa pasrah dan terkekeh geli, kembali menyamankan posisinya bersandar pada tubuh kaku Damian. Di luar sana, langit di atas kompleks rumah kolonial itu mendadak bergulung mendung, menghalangi cahaya matahari sore secara prematur. Angin Muson timur kembali bersiul lambat melewati ventilasi udara, membawa aroma bunga kenanga yang semakin pekat, mengunci kedua sejoli itu dalam keheningan int** yang tak kasat mata.
»»»»
Damian terlihat membantu Cindy membereskan dapur, “kita seperti pasangan suami istri saja hehehe, saling membantu di dapur.“ suara Cindy mendominasi.
Damian yang sedang memegang sebuah mangkuk porselen putih berisi sisa kuah soto terhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Cindy, menatap lekat-lekat gadis itu yang sedang sibuk mengelap permukaan meja dapur dengan kain lap bermotif kotak-kotak.
Mendengar gurauan polos tentang kalimat suami istri itu, kurva senyuman Damian perlahan melebar, sangat rapi dan menawan. “Suami istri, hmm?” sahut Damian dengan suara seraknya yang berat. Ia meletakkan mangkuk itu ke dalam wastafel tanpa menimbulkan suara dentingan sedikit pun, seolah tangannya tidak memiliki beban massa. “Jika itu maumu, saya sama sekali tidak keberatan. Bukankah dari awal kita memang sudah ditakdirkan untuk berbagi atap yang sama?”
Cindy yang sedang membungkuk mengelap meja langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya yang seputih susu seketika merona merah padam sampai ke leher. Ia melempar kain lapnya ke meja dengan salah tingkah. “Ih, Damian! Kamu ini kalau menjawab suka kelewatan bercandanya. Menikah saja belum, masa sudah bahas berbagi atap!”
Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekati Cindy. Dua langkah lebar tanpa suara kaki yang menapak, dan tiba-tiba tubuh tingginya yang besar sudah mengurung Cindy di depan wastafel dapur. Hawa dingin yang familier langsung menyelimuti punggung Cindy, membuat gadis itu reflek menahan napasnya sejenak.
“Saya tidak sedang bercanda, Cindy,” bisik Damian tepat di atas kepala Cindy. Ia mengulurkan kedua tangan pucatnya dari belakang tubuh Cindy, meraih spons pencuci piring dan mulai menyalakan keran air. “Bagi saya, kata-kata adalah janji yang mengikat. Ketika kamu menerima saya di rumah ini, kamu sudah membuka seluruh hidupmu untuk saya.”
Cindy menelan ludah, merasakan sensasi menggelitik sekaligus meremang di tengkuknya saat punggungnya menempel pada dada kaku Damian yang sedingin es. Namun anehnya, ketakutan rasionalnya benar-benar telah tumpas oleh rasa cinta yang telanjur mendalam.
“Kamu ini romantis tapi agak maksa ya,” gumam Cindy pelan, mencoba menutupi debaran jantungnya yang menggila. Ia membalikkan tubuhnya dengan susah payah di dalam kukungan lengan Damian, hingga kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat mengikis kewarasan. Cindy mendongak, menatap mata biru Damian yang sedalam samudra.
“Tapi... terima kasih ya sudah mau bantu cuci piring. Jarang-jarang ada pria asing tampan yang mau mengotori tangannya dengan sabun cuci di dapur perempuan.”
Damian menunduk, menatap jemari Cindy yang tanpa sadar memegang ujung kemeja rajutnya lagi. “Apapun untukmu, mijn liefde. Selama itu bisa membuatmu tetap berada di sisi saya.”
Cindy tersenyum manis, manik mata rubahnya berbinar penuh binar asmara yang murni. “Oh ya, Damian. Besok sore Mahen mau ke sini lagi. Dia bilang mau membawakan martabak manis kesukaanku sebagai perayaan karena video kemarin tembus ratusan ribu views.” Cindy menjeda kalimatnya, memperhatikan ekspresi Damian yang seketika berubah datar saat nama Mahen disebut. “Kamu... besok sore mau bergabung tidak? Aku bisa pesankan porsi khusus yang tidak terlalu manis untukmu. Biar kamu gak ngerasa bising lagi.”
Damian menghentikan gerakan tangannya yang sedang membilas mangkuk terakhir. Air keran yang mengalir dingin di atas kulitnya terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan hawa pekat yang mendadak keluar dari tubuhnya sendiri. Ruang dapur yang tadinya hangat karena uap soto, mendadak drop beberapa derajat.
“Pria itu lagi,” ucap Damian datar, suaranya terdengar begitu berat dan berwibawa, jauh dari kesan lembut beberapa detik lalu. “Apakah dia tidak memiliki pekerjaan lain selain mengunjungi rumahmu, Cindy?”
“Loh, kan dia editor videoku, Damian,” sahut Cindy agak bingung dengan reaksi sensitif kekasih barunya itu. “Lagipula dia sahabatku sejak lama. Dia cuma mau merayakan kesuksesan kerja keras kami saja.”
Damian mematikan keran air dengan ketukan yang tegas. Ia mengeringkan tangannya yang pucat pada kain kering, lalu menangkup kedua sisi wajah Cindy dengan telapak tangannya yang sedingin salju, memaksa gadis itu untuk hanya menatap ke dalam matanya yang kini memancarkan kegelapan obsesif yang kuat.
“Dengarkan saya, Cindy,” bisik Damian, wajahnya mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. “Saya tidak suka ada pria lain yang menatapmu dengan cara yang sama seperti saya menatapmu. Rumah ini adalah tempat saya, dan tempatmu. Kehadirannya... mengganggu harmoni yang sedang kita bangun.”
Cindy tertegun, bulu kuduknya meremang hebat mendengarkan nada posesif yang begitu pekat dari Damian. Namun, bukannya merasa terancam, jiwanya yang mendamba perlindungan justru merasa begitu diinginkan oleh pria di depannya ini.
“Damian... kamu cemburu ya?” tanya Cindy lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan di antara deru angin sore yang mulai bersiul melewati celah jendela dapur.
Damian tidak menyangkal. Ia justru memiringkan wajahnya dan mengecup bibir Cindy dengan lum*t*n singkat namun penuh penekanan yang mutlak, seolah sedang menstempel kepemilikannya sebelum malam benar-benar menjemput mereka.
Di luar jendela dapur, langit sore yang keperakan mendadak tertutup oleh kabut tipis yang datang dari arah rawa belakang. Wangi pekat bunga kenanga kembali menyeruak masuk, bercampur dengan aroma mint dari napas Damian, mengunci mereka berdua dalam dunia gaib yang perlahan-lahan memisahkan Cindy dari realita manusia hidup di luar sana.