Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kosong

Satu minggu setelah kepergian Laras, Raka masih belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya. Ia mulai kehilangan nafsu makan, jarang bicara di rumah, dan lebih sering mengurung diri di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terasa menyakitkan baginya.

"Raka, kamu belum makan dari semalam," kata seorang pembantu rumah tangga, mengetuk pintu kamarnya pelan. "Ibu nyuruh saya bawain sarapan."

"Taruh aja di luar," jawab Raka datar, tanpa membuka pintu.

Ibu Retno, yang mendengar percakapan itu dari lorong, berdiri sejenak di depan pintu kamar putranya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya melihat kondisi Raka yang begitu terpuruk, meski ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini akan berlalu.

"Raka," panggilnya, mengetuk pintu. "Ibu mau bicara sebentar."

Tidak ada jawaban dari dalam. Ibu Retno menghela napas, lalu membuka pintu perlahan meski tidak dikunci. Ia mendapati Raka duduk di lantai, punggung bersandar ke tepi ranjang, matanya kosong menatap ke arah jendela yang tirainya tertutup.

"Kamu nggak bisa terus-terusan begini," kata Ibu Retno, suaranya melembut, meski tetap ada nada yang berusaha mengarahkan.

"Ma keluar aja," jawab Raka pelan, tanpa menoleh. "Aku nggak mau bicara sama siapa-siapa."

"Raka, Ibu tau kamu lagi sedih. Tapi hidup harus jalan terus. Ada banyak hal yang lebih penting menunggu kamu—perusahaan, masa depan kamu—"

"Ibu pikir aku peduli soal perusahaan sekarang?" Raka akhirnya menoleh, matanya merah dan sembab, penuh amarah yang tertahan. "Orang yang aku sayang ilang tanpa jejak, dan Ibu masih sempet-sempetnya ngomongin perusahaan?"

Ibu Retno terdiam sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Ibu tau ini berat buat kamu. Tapi mungkin, ini memang jalan terbaik. Mungkin gadis itu sendiri sadar—"

"Berhenti, Ma," potong Raka, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku udah bilang, aku nggak mau bahas ini sama Ibu."

Ibu Retno akhirnya memilih diam, mengangguk pelan sebelum keluar dari kamar itu, meninggalkan Raka sendirian dengan kehampaan yang semakin dalam. Di balik pintu yang tertutup, wanita itu berdiri sejenak, menatap pintu kamar putranya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara lega karena rencananya berhasil, namun juga sedikit gelisah melihat dampak yang jauh lebih besar dari yang ia perkirakan.

Waktu terus berjalan, namun kekosongan yang dirasakan Raka tidak juga memudar. Ia kembali bekerja setelah dipaksa ayahnya, namun semangatnya jauh berbeda dari sebelumnya. Ia menjadi lebih pendiam, lebih dingin terhadap orang-orang di sekitarnya, seolah membangun tembok tebal untuk melindungi diri dari rasa sakit yang masih menganga.

Teman-temannya di kantor mulai memperhatikan perubahan itu.

"Lo kenapa sih akhir-akhir ini?" tanya salah satu rekan kerjanya suatu siang, saat mereka makan siang bersama. "Biasanya lo yang paling rame di antara kita, sekarang diem mulu."

"Nggak ada apa-apa," jawab Raka singkat, tidak berniat menjelaskan lebih jauh.

"Ini gara-gara cewek itu, ya? Yang katanya ilang tiba-tiba?"

Raka menatap tajam rekan kerjanya itu, membuat orang tersebut segera meminta maaf dan mengalihkan pembicaraan. Namun pertanyaan itu terus terngiang di kepala Raka sepanjang hari, membuka kembali luka yang belum sepenuhnya mengering.

Malam harinya, Raka duduk sendirian di kamarnya, menatap layar ponsel yang masih menyimpan foto-foto kebersamaannya dengan Laras. Ia menggulir satu per satu, mengingat setiap momen—tawa mereka di kedai kopi, pelukan hangat di taman, janji-janji yang diucapkan dengan penuh keyakinan.

Kenapa kamu pergi tanpa bilang apa-apa, Laras? batinnya, dadanya sesak menahan tangis yang sudah lama tidak lagi mengalir, seolah air matanya sendiri sudah kering karena terlalu sering ia tumpahkan dalam diam.

Ia mencoba mencari alasan, mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda. Namun semakin lama ia berpikir, semakin besar pula rasa sakit yang berubah menjadi kemarahan—kemarahan pada Laras yang dianggapnya pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan atau berjuang bersama, dan kemarahan pada dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi orang yang ia cintai.

Kalau kamu emang sayang sama aku, pikirnya pahit, kenapa kamu nggak coba bertahan? Kenapa kamu pergi semudah itu, seolah semua yang kita bangun nggak ada artinya?

Pikiran-pikiran itu terus berputar, perlahan membentuk sebuah keyakinan baru dalam dirinya—keyakinan bahwa mungkin Laras memang tidak pernah benar-benar mencintainya sedalam yang ia kira, bahwa kepergian itu adalah bukti nyata bahwa cinta itu terlalu rapuh untuk bertahan menghadapi tekanan sekecil apa pun.

Beberapa bulan berlalu, dan perlahan Raka mulai membangun kembali kehidupannya, meski dengan cara yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan, mengambil alih tanggung jawab yang lebih besar di perusahaan keluarganya, seolah kesibukan bisa menjadi pelarian dari kenangan yang masih menghantuinya.

Ibu Retno memperhatikan perubahan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia lega melihat putranya kembali fokus pada tanggung jawabnya. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang tumbuh melihat bagaimana Raka berubah menjadi pribadi yang jauh lebih dingin, lebih tertutup, bahkan terhadap dirinya sendiri.

"Kamu keliatan lebih sibuk sekarang," kata Ibu Retno suatu malam, saat mereka makan malam berdua—sesuatu yang jarang terjadi sejak insiden beberapa bulan lalu.

"Ada banyak proyek yang harus aku selesaikan," jawab Raka datar, tanpa mengangkat pandangan dari piringnya.

"Ibu seneng lihat kamu udah bisa move on."

Raka mengangkat wajahnya sejenak, menatap ibunya dengan tatapan yang dingin, jauh berbeda dari cara ia biasa menatap wanita itu. "Move on? Ibu pikir aku move on karena aku sibuk kerja?"

"Raka—"

"Aku nggak move on, Ma," potongnya tegas. "Aku cuma belajar buat nggak peduli lagi. Ada bedanya."

Ibu Retno terdiam, tidak menemukan kata-kata untuk membalas pernyataan itu. Ia menatap putranya yang kini duduk dengan sikap yang begitu asing baginya—bukan lagi Raka yang penuh semangat dan idealisme, melainkan sosok yang dingin, penuh perhitungan, seolah kehilangan sebagian besar kehangatan yang dulu menjadi bagian dari dirinya.

Malam itu, setelah makan malam yang canggung tersebut, Raka kembali ke kamarnya, duduk di depan jendela sambil menatap kegelapan malam yang membentang luas di luar sana. Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto untuk terakhir kalinya, menatap wajah Laras yang tersenyum ceria dalam salah satu foto lama mereka.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menghapus seluruh foto itu, satu per satu, seolah dengan begitu ia bisa menghapus juga rasa sakit yang selama ini membebani hatinya. Namun semakin banyak foto yang terhapus, semakin ia sadar bahwa rasa sakit itu tidak akan hilang semudah menghapus data digital—rasa sakit itu sudah tertanam jauh lebih dalam, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh tombol hapus mana pun.

Ia menutup ponselnya, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, dan untuk pertama kalinya sejak kepergian Laras, Raka membiarkan dirinya menangis dalam diam—tangisan terakhir yang ia izinkan untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya bertekad untuk mengubur seluruh perasaan itu dalam-dalam, menggantikannya dengan sikap dingin dan tak peduli yang akan menjadi tameng barunya menghadapi dunia, tanpa menyadari bahwa tameng itu juga yang kelak akan menyakiti orang lain—termasuk Laras sendiri—ketika takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!