Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Langit Hitam Ibu Kota
Hujan badai di pinggiran ibu kota turun semakin deras, seolah langit ikut menangisi nasib keluarga Zimmer. Di halaman depan rumah kumuh beratap seng itu, darah belasan pembunuh bayaran Kekaisaran Utara telah tersapu oleh air hujan.
Zain, Sang Jenderal Hantu, mengibaskan sisa darah dari belati kembarnya. Di sebelahnya, Clark, Sang Jenderal Penghancur, memutar lehernya yang kaku.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung selama beberapa tarikan napas.
Bulu kuduk Zain tiba-tiba meremang. Insting pembunuhnya yang telah diasah di ribuan medan perang berteriak memberikan peringatan. Udara malam yang dingin mendadak terasa hampa dan menyesakkan.
Dari balik bayang-bayang gang sempit dan reruntuhan bangunan kosong di sekeliling rumah itu, enam siluet melangkah keluar secara bersamaan. Mereka tidak mengenakan seragam taktis seperti pasukan yang baru saja dibantai, melainkan pakaian kasual yang basah kuyup oleh hujan seorang pria berjas rapi, seorang wanita bergaun merah, hingga seorang pria tua bertongkat.
Namun, aura yang memancar dari keenam orang itu sama pekatnya dengan maut itu sendiri.
"Kalian cukup berbakat untuk ukuran anjing penjaga," ucap pria berjas rapi itu, mencabut sepasang pedang pendek beraliran listrik yang persis seperti milik Sang Bayangan Pertama. "Sayangnya, Jenderal kalian salah perhitungan."
"Mereka adalah sisa The 7 Assassins," geram Clark, mencengkeram erat kapak tempurnya. Wajahnya yang biasanya meremehkan musuh kini berubah menjadi sangat tegang.
"Bayangan Pertama gagal menahan komandan kalian di kota. Itu artinya, kami tidak punya waktu untuk bermain-main," tambah wanita bergaun merah seraya mengeluarkan cambuk kawat baja yang berduri. "Kami butuh sumsum tulang belakang gadis itu sekarang juga!"
Tanpa aba-aba lebih lanjut, keenam pembunuh elit itu menerjang maju serentak.
Pertempuran yang terjadi kali ini berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Keenam Assassin itu bergerak dengan koordinasi telepati yang mengerikan. Wanita bergaun merah mencambuk kaki Clark, membuat pria raksasa itu tertahan, sementara dua Assassin lainnya menghujani Clark dengan tebasan mematikan. Di sisi lain, Zain harus bergerak melampaui batas kecepatan manusia untuk menangkis rentetan jarum beracun dan sabetan pedang listrik dari tiga musuh sekaligus.
Bentrokan logam dan percikan api menerangi malam. Pasukan Phantom mulai kewalahan.
Kekuatan mereka mungkin setara dalam duel satu lawan satu, namun menghadapi enam pembunuh level atas sekaligus adalah hal yang mustahil. Sebuah sabetan pedang berhasil menembus pertahanan Zain, merobek bahu kirinya hingga darah segar menyembur. Di saat yang sama, Clark dipaksa berlutut setelah punggungnya dihantam oleh godam baja milik salah satu musuh.
"Bertahanlah, Clark! Jangan biarkan mereka melewati pintu!" teriak Zain menahan sakit, memutar belatinya untuk memblokir serangan fatal yang mengarah ke leher sahabatnya.
Di dalam rumah, Mia memeluk ibunya erat-erat, sementara Thomas memegang sebuah pipa besi karatan dengan tangan bergetar. Suara ledakan dan jeritan dari luar terdengar seperti kiamat. Dinding rumah yang rapuh itu bergetar hebat.
BRAAAAK!
Pintu depan kayu yang lapuk itu akhirnya hancur berkeping-keping. Tubuh Zain terlempar ke dalam ruang tamu, menabrak meja kayu hingga hancur. Jenderal Hantu itu memuntahkan darah, berusaha bangkit namun kakinya lumpuh sementara akibat racun saraf musuh.
Pria berjas rapi salah satu Assassin melangkah masuk ke dalam rumah melewati Zain. Senyum kejam terlukis di wajahnya. Matanya langsung terkunci pada Mia yang berdiri mematung di sudut ruangan.
"Keturunan murni Keluarga Zimmer. Enzim penstabil Formula Somatik," bisik pembunuh itu. "Ikutlah denganku dengan tenang, Nona Kecil. Kau tidak akan merasakan sakit saat kami mengekstrak sumsummu."
Thomas menerjang maju dengan pipa besinya untuk melindungi putrinya. Namun, dengan satu jentikan jari, Assassin itu mematahkan lengan Thomas dan menendangnya hingga pria paruh baya itu pingsan terbentur dinding.
"Ayah!" jerit Mia histeris. Ia melangkah maju, namun insting bertahan hidupnya membeku saat Assassin itu mencengkeram lehernya dan mengangkatnya ke udara. Napas Mia tercekat. Udara seolah hilang dari paru-parunya.
"Sudah berakhir. Ghost of Karakum tidak akan pernah bisa menyelamatkanmu," tawa Assassin itu puas.
Tepat pada detik itu, suara gemuruh baling-baling yang memekakkan telinga merobek langit badai. Rumah kumuh itu bergetar hebat, bukan karena pertempuran, melainkan karena tekanan angin yang luar biasa dahsyat dari atas. Atap seng rumah itu terlepas dan terbang ke udara, digulung oleh angin puyuh buatan.
Sebuah helikopter tempur hitam pekat kelas militer melayang tepat di atas reruntuhan atap. Lampu sorot raksasa berkekuatan tinggi menyala, membutakan mata keenam Assassin di bawahnya.
Dari atas helikopter, tanpa menggunakan tali atau parasut, sesosok pria berpakaian serba hitam melompat turun menembus guyuran hujan deras.
BOOOM!
Pria itu mendarat di tengah ruang tamu yang hancur dengan kekuatan meteor, menciptakan kawah kecil di atas lantai semen. Gelombang kejut dari pendaratannya saja sudah cukup untuk mementalkan pria berjas yang mencekik Mia hingga pembunuh itu menabrak dinding dan melepaskan cengkeramannya.
Mia jatuh terbatuk-batuk, mencari udara. Saat ia mendongak menembus debu dan tirai hujan yang kini langsung mengguyur ruang tamu tanpa atap itu, matanya membelalak tak percaya.
Berdiri di hadapannya adalah Arthur Summers.
Namun, ini bukanlah dosen sejarah yang ramah, bukan pula pria santai yang menemaninya minum Earl Grey atau berbelanja barang antik. Pria yang berdiri di depannya saat ini mengenakan rompi taktis militer hitam, sabuk persenjataan penuh, dan mantel panjang yang berkibar diterpa angin helikopter. Lengan kirinya masih terbalut perban yang merembeskan darah, sisa pertarungannya di laboratorium.
Melihat Mia terbatuk dengan bekas cekikan merah di leher cantiknya, kewarasan Arthur menguap. Pada saat itu, wajah Arthur menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam.
"Arthur..." bisik Mia lirih, air matanya tumpah seketika. Perasaan takut dan haru bercampur aduk. Ia akhirnya melihat wujud asli dari pria yang diam-diam mencuri hatinya seorang dewa perang sejati.
Arthur tidak menoleh. Ia hanya melangkah mundur satu langkah, berdiri tepat di depan Mia, menjadikannya perisai tak tertembus.
"Zain. Clark," suara bariton Arthur menggelegar, mengatasi suara badai dan baling-baling helikopter.
"S-siap, Jenderal!" sahut Clark yang merangkak masuk dengan napas tersengal, membantu Zain berdiri.
"Bawa keluarga Zimmer ke helikopter sekarang. Obati luka kalian," perintah Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari enam pembunuh elit yang kini mengepungnya.
"T-tapi, Jenderal... mereka berenam—"
"Laksanakan perintahku!" bentak Arthur mutlak.
Zain dan Clark menelan ludah, segera memapah Thomas, Sarah, dan Mia menuju tangga darurat yang diturunkan oleh helikopter.
Saat Mia hendak naik ke tali penarik, ia menoleh ke arah Arthur. Pria itu berdiri sendirian, dikelilingi oleh enam iblis pencabut nyawa dari Utara. Hujan membasahi rambut Arthur, namun punggung pria itu terlihat sangat kokoh, seolah ia bisa menopang runtuhnya langit sekalipun.
"Arthur... berjanjilah padaku kau akan kembali," teriak Mia dengan suara serak, mengalahkan gemuruh badai.
Arthur memutar kepalanya sedikit. Tatapan buasnya mereda untuk sepersekian detik, digantikan oleh kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada wanita itu.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku padamu, Mia," jawab Arthur tenang.
Begitu helikopter perlahan naik dan membawa Mia menjauh dari zona pertempuran, Arthur kembali menatap lurus ke depan. Enam Assassin itu telah menyiapkan senjata mereka, memancarkan niat membunuh yang bisa membuat darah warga sipil biasa membeku.
Pria berjas yang tadi mencekik Mia menyeka darah dari sudut bibirnya. "Komandan Phantom rupanya datang sendiri untuk mengantarkan nyawanya."
Arthur memiringkan lehernya hingga terdengar bunyi tulang berderak. Ia mencabut sebuah belati militer taktis berwarna hitam pekat dari sabuknya. Seringai malaikat maut perlahan terbentuk di bibirnya.
"Kalian menyentuh orang-orangku. Kalian melukai Jenderalku. Dan kalian berani menaruh tangan kotor kalian di leher gadisku," bisik Arthur pelan, melepaskan aura membunuh yang sangat masif hingga tetesan hujan di sekitarnya seolah berhenti jatuh selama sedetik. "Malam ini... tidak akan ada dari kalian yang bisa melihat matahari terbit."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...