Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — Darah di Bahu Fadil
Rumah Sakit Karangrejo bukan rumah sakit seperti di Jakarta yang ada di drama Korea dengan gedung putih dan lampu terang.
Ini hanya Puskesmas rawat inap yang catnya sudah mengelupas, hanya ada dua dokter jaga, dan bau karbolnya menyengat. Satu-satunya IGD adalah ruangan 4x4 meter dengan satu bed besi yang spreinya sudah lusuh.
Fadil dibaringkan di bed besi itu dengan napas terengah-engah. Perban di bahunya yang tadi hanya rembes darah, kini sudah merah semua. Darah menetes ke lantai.
Dilla yang menggendong Arif, tidak diperbolehkan masuk oleh perawat karena Arif anak kecil. Dilla menitipkan Arif pada Laras di luar, lalu masuk dan langsung memegang tangan Fadil yang dingin.
"Mas... Mas... bangun, Mas..."
Dokter jaga, dokter tua dengan kacamata tebal, membuka perban Fadil dengan gunting karatan.
Luka di bahu Fadil bukan luka pukulan biasa. Luka itu sobek karena paku karatan dari papan lantai yang ia cabut dengan tangan kosong tadi di rumah petak Larasati. Paku itu menancap dalam saat ia menarik papan ketiga — papan yang menutupi kotak besi akta 70%.
"Infeksi," kata dokter itu pelan. "Paku karatan. Darahnya banyak keluar, plus infeksi sudah naik. Harus transfusi dan jahit. Tapi stok darah O di sini kosong. Harus ambil ke RSUD Karawang, 1 jam perjalanan."
Dilla langsung pucat. Golongan darah Fadil O. Golongan darah Dilla A. Tidak cocok.
"Saya O!" Jatmiko yang baru masuk langsung angkat tangan. "Saya O! Ambil darah saya, Dok!"
Mahendra yang berdiri di belakang Jatmiko dengan kotak besi masih di pelukannya, juga angkat tangan dengan gemetar. "Saya juga O... tapi... saya sudah tua... 68 tahun..."
Azam yang berdiri di pintu IGD, langsung menelepon seseorang dengan suara tegas yang tidak pernah dipakai Azam selama ini di Karangrejo.
"Halo, Dirut RS Mitra Glodok? Ini Azam Wiratama. Saya butuh 2 kantong darah O dan dokter bedah sekarang ke Puskesmas Karangrejo. Saya bayar helikopter kalau perlu. Ya, sekarang!"
Semua orang di IGD menoleh ke Azam. Azam yang selama ini hanya jadi pria misterius dengan kontrak 20 juta, kini menunjukkan kuasa chaebol-nya yang sebenarnya.
Fadil yang setengah sadar, membuka matanya pelan dan melihat Dilla menangis di sampingnya.
"Sayang... jangan nangis..." bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Mas cuma... kotor... bukan mati..."
Dilla langsung memeluk tangan Fadil yang dingin dan mencium punggung tangannya yang penuh luka dan kapalan karena kerja kuli.
"Mas jangan ngomong gitu... Mas janji mau benerin genteng kontrakan kita... Mas janji mau bagi 70% itu buat warga..."
Fadil tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan menahan nyeri.
"Mas inget... waktu Ibu Larasati tulis... bagi untuk orang miskin kontrakan... Mas langsung mikir... kita kan orang miskin kontrakan itu... jadi... kita bagi ke diri kita sendiri juga boleh ya..."
Kalimat itu membuat Dilla yang tadinya menangis kencang, tertawa kecil di tengah tangisnya. Itulah Fadil. Bahkan saat hampir pingsan karena kehabisan darah, masih sempat bercanda miskin.
Di luar IGD, di bangku kayu tunggu yang reot, Arif duduk di pangkuan Bu Ratih. Arif tidak menangis lagi, tapi matanya kosong menatap pintu IGD tempat ayahnya dirawat.
Sekar duduk di samping Bu Ratih, mengusap punggung Arif dengan pelan.
"Arif... Ayah tidak apa-apa ya... Ayah cuma tidur..." kata Sekar dengan suara yang lembut, suara yang tidak pernah dipakai Sekar sebelumnya — suara seorang kakak.
Arif menoleh ke Sekar. "Kak Sekar... yang culik Arif kemarin... om jahat... dia bilang... kalau Arif nangis... Ibu akan datang bawa buku hitam... jadi Arif sengaja nangis keras... biar Ibu datang..."
Sekar langsung memeluk Arif dengan erat. Dadanya sesak mendengar anak 5 tahun harus berpikir secerdas itu untuk memanggil ibunya.
"Maafkan Kak Sekar ya, Arif... Kak Sekar yang kasih tahu om jahat itu rumah aman Ibu..."
Arif menggeleng polos. "Tidak apa-apa... Kak Sekar kan sudah tolong Arif kasih kertas ke Ibu lewat jendela..."
Di pojok bangku tunggu, Mahendra dan Jatmiko duduk berdampingan, masih memeluk kotak besi berisi akta asli 70% itu bergantian seperti memeluk bayi.
Jatmiko menatap Mahendra yang sejak tadi tidak lepas dari kotak besi itu.
"Mah... kamu... kamu hidup tanpa KTP 28 tahun... gimana caranya?"
Mahendra tersenyum pahit dan membuka dompetnya yang lusuh. Di dalamnya tidak ada KTP. Hanya ada foto Larasati yang sudah kuning, foto Dilla bayi yang baru ia dapat dari Bu Ratih minggu lalu, dan karcis parkir.
"Aku jadi pemulung di Glodok, Jatmiko. Tidur di bawah jembatan. Kalau ditanya KTP, aku bilang hilang. Polisi kasihan, kasih 20 ribu. 28 tahun aku hidup seperti itu... karena aku takut kalau aku buat KTP baru, keluarga Wiratama lacak aku dan bunuh Larasati dan Dilla..."
Jatmiko menunduk. Sahabatnya yang dulu pemilik 70% Wiratama Group, hidup jadi pemulung 28 tahun demi anaknya.
"Aku yang salah, Mah... aku yang nikahi Larasati tanpa tahu dia masih cinta kamu..."
Mahendra menggeleng dan memegang bahu Jatmiko.
"Kamu tidak salah, Jatmiko. Kamu selamatkan Larasati dan Dilla. Kalau bukan kamu yang nikahi Larasati waktu itu, Ayahanda Wiratama akan jodohkan Larasati dengan Bagaskara. Dan Dilla akan jadi anak Bagaskara. Kamu pahlawan, bukan pengkhianat."
Dua pria tua itu berpelukan di bangku kayu tunggu Puskesmas yang reot itu, di depan perawat-perawat yang bingung melihat dua kakek berpelukan sambil memeluk kotak besi berkarat.
Pranoto yang sejak tadi mondar-mandir di depan IGD dengan akta asli di tangan, akhirnya masuk ke IGD dan berbisik pada Dilla yang masih memegang tangan Fadil.
"Dilla... akta ini asli... tapi ada satu masalah besar..."
Dilla menoleh dengan mata sembab.
"Untuk balikkan nama 70% ini ke kamu sebagai ahli waris Mahendra... Mahendra harus dihidupkan dulu status hukumnya di Pengadilan Negeri. Dia harus sidang pembatalan akta kematian. Butuh 3 saksi hidup yang lihat Mahendra masih hidup 28 tahun terakhir. Butuh..."
"Butuh saya, Bu Ratih, dan Suryanto," potong suara dari pintu IGD.
Semua menoleh. Suryanto berdiri di pintu IGD dengan tangan diborgol borgol plastik oleh polisi yang tadi bawa Nenek Suri. Wajahnya babak belur karena dipukul dua pria suruhan Bagaskara di Glodok tadi.
"Saya saksi. Saya lihat Mahendra hidup. Saya yang antar makanan ke kolong jembatan Glodok tiap minggu atas suruhan Pranoto, tanpa tahu yang saya antar itu Mahendra," kata Suryanto dengan suara serak.
Polisi yang memborgol Suryanto mengangguk. "Tahanan ini minta dibawa ke sini. Katanya mau jadi saksi untuk hidupkan status Pak Mahendra."
Mahendra menatap Suryanto — orang yang sekap Jatmiko 11 tahun, yang culik Arif kemarin — dengan tatapan yang tidak marah.
"Suryanto... kenapa...?"
Suryanto menunduk. "Karena tadi di ruko... Nenek Suri mau bakar ruko dengan Dilla dan Arif di dalamnya. Saya baru sadar... selama 28 tahun saya setia pada keluarga yang mau bakar cucu buyutnya sendiri demi uang. Saya tidak mau mati jadi anjing penjaga keluarga itu."
Dilla yang mendengar itu, berjalan mendekati Suryanto dengan Arif yang masih digendong Laras.
"Om Suryanto... Arif maafkan Om..." kata Arif pelan.
Suryanto yang mendengar anak 5 tahun memaafkannya, langsung berlutut di lantai Puskesmas yang kotor dan menangis kencang seperti anak kecil.
"Maafkan Om, Arif... Om jahat..."
Suasana di Puskesmas kecil itu pecah. Bu Ratih memeluk Sekar. Sekar memeluk Arif. Jatmiko memeluk Mahendra. Azam memeluk Laras yang ketakutan. Dan Dilla memeluk Fadil yang masih setengah sadar di bed besi.
Di tengah pelukan itu, dokter jaga keluar dari gudang obat dengan 2 kantong darah O yang baru datang dari RSUD Karawang dengan motor.
"Darah O datang! Siapa yang mau donor?"
Jatmiko langsung maju. "Saya!"
Satu jam kemudian, darah Jatmiko mengalir ke tubuh Fadil. Fadil yang tadinya pucat, perlahan mulai merah lagi pipinya.
Dilla duduk di samping bed Fadil, memegang tangan Fadil yang sudah dijahit dan diperban baru, sambil membaca lagi buku tulis kecil Larasati di pangkuannya, halaman ketiga:
Dilla, kalau kamu sudah jadi ibu, kamu akan tahu... cinta itu bukan soal 20 juta per bulan. Cinta itu soal siapa yang mau donor darah O untuk suamimu saat stok darah kosong. Siapa yang mau cabut papan lantai dengan tangan kosong sampai berdarah demi surat warisanmu. Itu cinta. Bukan kontrak.
Dilla membaca itu sambil menatap Jatmiko yang sedang donor darah untuk Fadil — ayah yang membesarkannya donor untuk suaminya — dan menatap Fadil yang berdarah demi akta warisannya — suami yang miskin donor tenaga untuk masa depannya.
Air matanya jatuh ke buku tulis ibunya.
"Ibu... aku sudah tahu sekarang... apa itu cinta..."
Di luar IGD, Azam menatap Dilla dan Fadil yang berpelukan di bed besi itu dari jendela kaca. Sekar berdiri di samping Azam, tanpa diminta, menggenggam tangan Azam dengan pelan.
"Pak Azam... tidak apa-apa?" bisik Sekar.
Azam tersenyum tipis, senyum yang untuk pertama kalinya tidak dingin, tapi ikhlas.
"Tidak apa-apa, Sekar. Kontrak 20 juta itu sudah selesai. Sekarang kontrak baru yang mulai... kontrak untuk jaga mereka dari jauh."
Di bangku tunggu, Mahendra membuka kotak besi itu lagi dan menatap akta asli 70% itu. 70% yang ia kejar 28 tahun, yang buat ia jadi pemulung, yang buat Larasati mati, yang buat Jatmiko disekap 11 tahun, yang buat Dilla diculik.
Ia menatap Dilla yang memeluk Fadil dan Arif.
Ia tahu, 70% itu tidak akan ia ambil lagi. Ia akan kasih semua ke Dilla, dan Dilla akan bagi-bagi ke orang kontrakan seperti pesan Larasati.
Karena untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, Mahendra merasa kaya — bukan karena 70% saham — tapi karena di Puskesmas reot ini, ia punya cucu yang panggil dia Kakek, punya anak yang panggil dia Ayah, dan punya sahabat yang donor darah untuk menantunya.
Bersambung...