hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 8
Saat langkah kaki Raja Draven mendarat di anak tangga terbawah, suasana seketika menjadi hening mematikan. Carmilla segera melangkah mendekat dengan senyum manis yang terukir di wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa kesal yang tadi sempat meledak. Tangannya terulur lembut, berniat menyentuh lengan kekar Raja, seolah ingin menunjukkan kedekatan istimewa yang ia miliki. Namun Raja Draven dengan tenang sedikit menggeser posisi tubuhnya, tanpa menoleh sedikit pun—gerakan yang begitu halus namun tegas, seketika membuat tangan Carmilla menggantung di udara tanpa sempat menyentuh sehelai kain pun. Wajah Carmilla memerah seketika, namun ia berusaha tetap tersenyum, meski matanya menyiratkan amarah yang tertahan.
Kepala Pelayan yang berdiri tak jauh dari sana segera melangkah maju, membungkuk hormat serendah mungkin, lalu berbicara dengan suara tertata:
"Tuanku... Ia adalah pelayan yang baru saja diterima bekerja di sini."
Belum sempat Raja membuka suaranya, Carmilla sudah lebih dulu melancarkan serangan kata-kata yang tajam dan menjatuhkan. Ia melirik Elizabeth sekilas dengan pandangan penuh penghinaan, lalu menatap Raja kembali sambil berkata dengan nada yang terdengar tulus namun penuh racun:
"Tuanku... Ketahuilah, wanita ini membawa aib ke dalam kediaman Tuanku. Ia memiliki anak di luar nikah , anak haram yang tak diketahui siapa ayahnya. Bagaimana mungkin seorang wanita murahan, yang tak tahu aturan dan melahirkan anak tanpa ayah, pantas melayani di tempat yang begitu mulia ini? Bukankah hal itu akan menodai kemuliaan Tuanku?"
Elizabeth yang masih berdiri di sana menunduk dalam-dalam. Kata-kata itu menghujam hatinya jauh lebih perih daripada cambuk atau pukulan. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata agar tak jatuh. Ia tak membela diri, tak menyela sedikit pun. Ia tahu, membela diri di hadapan mereka hanya akan memperburuk keadaan. Maka ia memilih diam . menelan semua hinaan itu dengan kepala tertunduk, seakan menerima segala tuduhan itu sebagai kenyataan yang harus ia tanggung.
Di sampingnya, Carmilla tersenyum sinis. Sudut bibirnya terangkat penuh kepuasan yang mengerikan. Ia menatap punggung Elizabeth yang tertunduk lemah dengan tatapan menang—seolah berkata: Lihatlah... Tak ada yang akan membelamu. Tak ada yang percaya padamu. Kau akan hancur dalam kehinaan yang kubuat sendiri.
Namun di balik keheningan yang menyesakkan itu, Raja Draven berdiri diam. Matanya yang merah menyala menatap lekat-lekat sosok wanita yang tertunduk itu. Hatinya bergetar hebat. Ia mendengar setiap kata hinaan yang keluar dari mulut Carmilla, namun yang menarik perhatiannya bukanlah tuduhan itu , melainkan keheningan wanita itu. Keheningan yang penuh ketabahan, keheningan yang menyembunyikan luka yang begitu dalam. Dan dalam hatinya, ia mulai menyadari satu hal: wanita yang dihina-hina ini... adalah wanita yang tak pernah bisa ia lupakan.
Di tengah keheningan yang mencekam dan senyum kemenangan yang belum sempat lenyap dari wajah Carmilla, tiba-tiba suara berat Raja Draven terdengar membelah suasana, seketika membuat semua orang terpaku dan menahan napas.
"Berapakah usia putramu?"
Pertanyaan itu begitu tenang, namun terdengar begitu tegas dan penuh wibawa, membuat udara di sekitar lorong itu seakan berhenti bergerak. Carmilla yang berdiri tak jauh dari sana seketika terbelalak. Matanya membola tak percaya, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada suara yang keluar. Ia sama sekali tak menyangka bahwa di tengah tuduhan yang begitu berat, sang Raja justru menanyakan hal yang demikian. Rasa heran bercampur cemas seketika menyergap hatinya . mengapa Tuanku menanyakan hal itu? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di balik pertanyaan sederhana itu?
Elizabeth pun tertegun sejenak. Ia perlahan mengangkat kepalanya sedikit, namun segera kembali menundukkan tubuhnya ke depan dengan penuh rasa hormat, suaranya terdengar lemah namun jelas dan tertata dengan sopan santun yang tulus:
"Empat tahun, Tuanku."
Jawaban itu begitu singkat, namun seketika menggetarkan seluruh jiwa Raja Draven. Matanya yang merah menyala menatap lekat-lekat wajah Elizabeth yang tertunduk itu, penuh tanda tanya yang kini berputar kian deras di dalam benaknya. Empat tahun... gumamnya dalam hati. Waktu itu... persis sama dengan saat ia bertemu Elizabeth di bawah sinar rembulan lima tahun lalu, dan pertemuan yang menghasilkan buah hati itu. Seribu pertanyaan melintas seketika di benaknya. Apakah anak itu... darah dagingnya? Apakah dugaan yang selama ini menyiksanya ternyata benar-benar nyata adanya?
Raja Draven masih menatap tajam ke arah Elizabeth, seakan berusaha menembus ke dalam jiwa wanita itu, mencari kepastian dari sepasang mata yang tak tampak namun terasa begitu dekat di hatinya. Ia teringat kembali pada sosok anak kecil yang berubah wujud dan mengeluarkan kekuatan luar biasa itu . kekuatan yang hanya dimiliki oleh keturunan bangsa vampir tertinggi. Dan kini... usia anak itu persis bertepatan dengan segala hal yang sempat ia lupakan.
Keheningan itu berlangsung cukup lama, menyesakkan dada setiap orang yang berdiri di sana. Raja perlahan melangkah mendekat selangkah, matanya tak beralih sedikit pun dari wajah Elizabeth, lalu dengan suara yang berwibawa namun terdengar sedikit bergetar, ia berucap:
"Ikuti aku."
Perintah itu ditujukan kepada Elizabeth. Singkat, padat, dan tak dapat dibantah sedikit pun.
Carmilla berdiri terpaku di tempatnya, wajahnya kini pucat pasi. Senyum kemenangan yang tadi merekah kini telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh rasa cemas yang luar biasa. Ia menatap Raja, lalu menatap Elizabeth bergantian, tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Mengapa Tuanku memerintahkan wanita yang baru saja ia hina demikian untuk mengikutinya? Dan ke mana mereka akan pergi? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalanya, namun ia tak berani bersuara sedikit pun.
Elizabeth sendiri terdiam bingung. Ia mendongak perlahan, menatap punggung Raja yang mulai berjalan menjauh. Hatinya berdebar kencan. antara rasa takut, heran, dan sebuah perasaan hangat yang tak mampu ia jelaskan. Tanpa menunda lebih lama lagi, ia pun melangkah pelan mengikuti di belakang sosok Raja itu, meninggalkan Carmilla yang berdiri mematung penuh kecemasan dan amarah yang tertahan di dada.
Elizabeth berjalan beberapa langkah di belakang Raja Draven, menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan menuruni lorong panjang yang sunyi itu. Langkah keduanya terdengar ber irama langkah Raja yang gagah dan mantap, disertai langkah Elizabeth yang pelan dan hati-hati, seakan takut salah melanggar. Punggung mereka tampak berjalan beriringan menjauh, perlahan menghilang di ujung lorong yang remang-remang, meninggalkan Carmilla yang berdiri terpaku sendirian di tempatnya.
Hening yang mencekam menyelimuti tempat itu. Carmilla menatap punggung mereka yang kian menjauh, matanya menyala merah padam menahan emosi yang meluap-luap. Napasnya memburu tak beraturan, dadanya naik turun menahan rasa cemburu sekaligus kekhawatiran yang luar biasa. Dalam hatinya, ia bergumam penuh kecemasan sekaligus ketakutan yang mulai merayap perlahan:
"Empat tahun... Usia anak itu empat tahun... Persis sama dengan usia anak yang selama ini dicari Tuanku... Anak yang memiliki darah emas, keturunan murni yang hampir punah..."
Carmilla menarik napas panjang, namun napas itu terasa sesak di dadanya. Ia mengepal kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, menahan rasa sakit agar tetap terjaga dari kenyataan yang mengerikan ini. Matanya tak lepas dari sosok Raja yang berjalan tenang di samping wanita itu, seakan ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan mereka berdua. Semakin lama ia menatap, semakin kuat keyakinan buruk yang menyergap hatinya.
"Darah emas pada bocah itu..." batinnya kembali bergumam, kali ini disertai getaran niat jahat yang perlahan mengeras. "Jika benar-benar anak haram itu adalah darah daging Tuanku... Jika wanita rendahan itulah wanita yang dicari-cari Tuanku selama ini... maka kedudukan Tuanku, kekuasaannya, dan seluruh masa depan kerajaan bisa berubah di tangan mereka..."
Carmilla mengangkat wajahnya perlahan, sepasang matanya kini memancarkan kilat kebencian yang mengerikan. Senyum miring yang dingin dan kejam perlahan terukir di bibirnya, seiring dengan tekad buruk yang telah bulat di hatinya.
"Jika anak itu miliknya..." bisiknya pelan namun penuh ketegasan yang mengancam, seakan bersumpah di hadapan langit. "Maka aku akan memusnahkan mereka berdua... Sebelum Tuanku menyadarinya... Sebelum siapa pun mengetahui kebenaran itu... Akan kubuang mereka ke dalam kegelapan selamanya. Tak akan kubiarkan siapa pun merebut kedudukan dan hati Tuanku dariku..."
Dengan hati yang penuh dendam dan rencana licik yang mulai tersusun, Carmilla berbalik perlahan, melangkah pergi ke arah yang berlawanan. Di matanya kini tak lagi tampak keraguan , hanya ada tekad untuk menghancurkan, sebelum semuanya terlambat.
Sesampainya di dalam ruangan yang begitu luas dan megah, Elizabeth terpaku mematung. Dinding-dindingnya berkilau dihiasi permata, rak-rak kayu jati tua memancarkan wangi harum, dan di sepanjang sisi ruangan tersusun rapi harta kekayaan yang melimpah ruah . kotak perhiasan terbuka memperlihatkan tumpukan emas, senjata berukir permata, hingga tumpukan kain sutra berwarna-warni yang berkilau memikat mata. Elizabeth tak berani melangkah sembarangan, merasa seakan dirinya terlalu rendah dan kotor berada di tempat sedemikian agung.
Raja Draven melangkah tenang menuju meja panjang di tengah ruangan, lalu memberi isyarat kepada dua pengawal yang berdiri menjaga pintu. Kedua pengawal itu segera maju membawa dua buah kotak kayu berukir emas yang tampak sangat mahal dan indah. Dengan penuh hormat, mereka meletakkannya di atas meja, lalu membuka tutupnya perlahan.
Sinar cahaya seketika memancar dari kotak pertama . sebuah kalung berhias berlian murni yang berkilauan luar biasa indahnya, seakan menyimpan secercah cahaya bintang di dalamnya. Sedangkan kotak kedua berisi seperangkat pakaian kecil yang dijahit dengan sangat rapi, terbuat dari kain sutra lembut berwarna keemasan, dihiasi renda halus dan benang emas yang membentuk pola sulur bunga yang anggun. Pakaian itu begitu indah dan lembut, seakan dibuat khusus untuk seorang putri kecil.
Raja Draven menatap kedua benda itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya lembut kepada Elizabeth. Suaranya terdengar hangat dan penuh perhatian yang tak biasa, berbeda jauh dengan wibawa yang menggetarkan hati di hadapan orang lain.
"Katanya... anakmu berusia empat tahun..." ucapnya pelan namun tegas. "Menurutmu, hadiah manakah yang paling disukai anak seusianya? Kalung yang berkilau terang... atau pakaian yang lembut dan indah ini?"
Elizabeth melirik sekilas kedua benda itu, lalu menundukkan wajahnya dengan senyum tipis yang tulus merekah di bibirnya. Ia membayangkan Leon yang selalu riang berlari ke sana kemari, rambutnya berkibar tertiup angin, dan wajahnya yang selalu tampak gembira saat mengenakan pakaian yang nyaman. Dengan suara lembut namun yakin, ia menjawab:
"Anakku... sangat suka berlari dan bermain di mana saja, Tuanku. Maka kiranya pakaian itu lebih cocok untuknya. Biarkan ia mengenakan keindahan itu sambil bermain dengan riang tanpa khawatir merusaknya."
Raja Draven tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Matanya memancarkan kehangatan yang samar, seakan jawaban itu telah ia duga sebelumnya. Ia mengangguk pelan, lalu berucap dengan nada yang begitu lembut namun penuh ketegasan yang tak dapat ditolak:
"Baiklah... Pakaian itu untuknya. Dan dengarkanlah... Bawalah anakmu ke sini besok pagi. Biarkan ia datang kemari. Aku... rindu melihat tingkah laku anak kecil yang riang. Aku ingin sekalian berlatih dan belajar di dekat anak seumur dia. Biarkan ia bermain di sini sepuas hatinya."
Mata Elizabeth seketika membelalak penuh kelegaan dan sukacita yang tak terlukiskan. Hatinya meloncat bahagia. Ia tak pernah membayangkan bahwa seorang Raja yang begitu agung dan berkuasa akan menyambut anaknya anak yang lahir tanpa ayah di sisinya . dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Air mata bahagia perlahan menggenang di pelupuk matanya. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada, membungkuk dalam penuh rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih, Tuanku..." ucapnya bergetar, suara penuh rasa haru yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Terima kasih atas kemurahan hati Tuanku... Anakku pasti akan sangat bahagia..."
Saat ia berjalan meninggalkan ruangan itu, langkahnya terasa ringan dan penuh sukacita. Namun di dalam hatinya, ia bergumam penuh harapan yang mulai tumbuh perlahan, menyatukan segala rasa rindu dan doa yang selama ini ia simpan sendiri:
"Apakah... ayah kandung Leon juga akan menyayanginya... seperti Raja yang begitu lembut menyayangi anak orang lain? Apakah suatu hari nanti... ayahnya akan hadir dan memeluknya seperti seorang ayah seharusnya...?"
Pengawal yang berdiri di dekat pintu segera menyerahkan kotak berisi pakaian indah itu ke tangan Elizabeth. Ia menerimanya dengan kedua tangan gemetar, mendekapnya erat di dada seakan itu adalah harta paling berharga di dunia. Perlahan ia berbalik dan melangkah keluar
Saat Elizabeth melangkah perlahan hendak meninggalkan ruangan itu, hati kecilnya masih berdebar penuh rasa syukur dan haru yang mendalam. Ia berjalan menunduk sedikit, berusaha menjaga sikap dan langkahnya, namun di tengah pergerakannya itu, seutas kalung yang selama ini tersembunyi di balik kerah pakaiannya terlepas tanpa sengaja.
Dengan suara halus namun nyata terdengar di keheningan ruangan, kalung itu jatuh bergulir pelan di atas lantai batu yang licin dan berkilau. Dan akhirnya... terjatuh ....