Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 HARI-HARI KELABU
Kata itu jatuh di kepalanya bagai batu ke dalam kolam, dan riak-riaknya menjalar ke belakang—ke semua hari Minggu, semua makan siang keluarga, semua senyum Mahendra, semua panggilan "putri kecil" yang pernah ia ucapkan.
Apakah semuanya cuma sandiwara? Sudah berapa lama Mahendra merencanakan ini? Berapa banyak makan malam yang ia habiskan bersama mereka sementara ia menganyam jaring yang kini mencekik ayahnya?
Maya ingin menuruni tangga. Ingin berlari ke arah ayahnya, memeluknya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi kedua kakinya tak menurut. Kakinya terpaku ke lantai kayu berpelitur, tertambat oleh beban tak kasat mata yang menghimpit dadanya dan membuatnya sulit bernapas.
Ibunya justru bergerak. Ratna menuruni beberapa anak tangga terakhir dua-dua sekaligus—sesuatu yang tak pernah Maya lihat sebelumnya—lalu berdiri tegak di hadapan para polisi, tangannya gemetar tapi dagunya terangkat.
"Ini pasti keliru," kata Ratna, dan suaranya terdengar asing, seakan bukan suaranya sendiri. "Suami saya tidak melakukan hal ilegal apa pun. Laki-laki itu... Mahendra... dia pembohong."
"Bu," jawab polisi itu, dengan kesabaran tak berujung khas orang yang terbiasa mendengar bantahan, "Anda harus membahasnya dengan hakim. Sekarang, tolong menyingkir."
Bramantyo tak melawan sedikit pun. Ia membiarkan tangannya diborgol, membiarkan hak-haknya dibacakan, membiarkan dirinya digiring keluar dari rumahnya sendiri seakan ia seorang penjahat.
Namun sebelum melewati ambang pintu, ia menoleh ke arah Maya. Bibirnya membentuk satu kata, hanya satu, yang Maya baca sebelum sempat mendengarnya:
"Maafkan Papa."
Lalu ia pergi.
Pintu tertutup dengan bunyi berat yang teredam. Kepala pelayan masih berdiri di sana, mematung, tak tahu harus berbuat apa. Noda kopi terus melebar di lantai marmer.
Dan Maya Adiwangsa, gadis kesayangan ayahnya, putri kecil keluarga Adiwangsa, hanya bisa menatap ruang kosong tempat ayahnya tadi berdiri, dengan kata "maafkan Papa" bergema di kepalanya bagai sebuah vonis.
Waktu itu hari Minggu.
Tak ada bank yang buka sampai Senin.
Tapi ketika Senin tiba, hari itu membawa serta badai yang akan meluluhlantakkan segalanya.
* * *
Dua puluh empat jam pertama terhapus dengan sendirinya.
Begitu kata orang-orang yang pernah kehilangan segalanya. Katanya, ingatan sengaja padam untuk melindungi mereka; otak memutus semua kamera pengawas di dalam diri karena tak sanggup merekam kengerian sebesar itu.
Maya tak tahu apakah itu benar. Yang ia tahu, ada hal-hal yang tak bisa ia lupakan, sekeras apa pun ia mencoba. Serpihan-serpihan. Pecahan kaca yang menancap di benaknya dan menolak keluar.
Ia ingat tangis ibunya di kantor polisi. Bukan tangis indah seperti di film, dengan air mata sempurna yang meluncur di pipi mulus.
Itu tangis yang buruk, tercabik, sebinatang. Ratna Adiwangsa, perempuan yang tak pernah meninggikan suara, yang menata jamuan amal dengan keanggunan seorang ratu, ambruk di kursi plastik ruang tunggu dan menangis dengan mulut menganga dan hidung meler, tak peduli siapa pun yang melihat. Maya memeluknya. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Tak pernah sekali pun ia harus menenangkan ibunya.
Selama ini selalu sebaliknya.
Ia ingat pengacara keluarga—laki-laki berjas mahal dengan senyum palsu bernama Wisnu Halim—mengucapkan kalimat yang terdengar seperti vonis:
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Bu Ratna. Buktinya terlalu kuat. Mahendra sudah menyerahkan dokumen, saksi, catatan pembukuan... Semuanya menunjuk ke Bramantyo. Saya tidak bisa melawan itu. Setidaknya belum bisa sekarang."
Mahendra. Nama itu menggema di kepala Maya bagai letusan tembakan. Pamannya. Laki-laki yang menghadiahinya seekor kuda poni saat ia berusia delapan tahun. Yang mengajaknya bersepeda keliling taman ketika ayahnya sedang ke luar kota untuk urusan bisnis.
Yang selalu memanggilnya "putri kecil" dengan suara hangat dan kebapakan itu. Semuanya dusta. Setiap senyum, setiap pelukan, setiap "Om sayang kamu, Nak". Topeng. Semuanya topeng.
Ia ingat tatapan ayahnya saat diborgol. Bramantyo Adiwangsa, laki-laki yang telah membangun sebuah kerajaan, sang patriark, tiang yang tak tergoyahkan, direduksi menjadi seorang laki-laki berborgol di ruang tamu rumahnya sendiri.
Jubah rumahnya kusut. Tangannya, yang pernah menandatangani kontrak-kontrak bernilai miliaran, kini terkunci oleh baja dingin. Lalu, tepat sebelum ia digiring pergi, Bramantyo menoleh. Menatap putrinya dari balik bahu. Matanya—mata yang sama dengan yang Maya lihat di cermin setiap pagi—dipenuhi sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya di sana: kekalahan.
Bibirnya membentuk satu kata. Hanya satu. Maya membacanya sebelum mendengarnya, karena itulah kata yang paling ia benci saat itu, kata yang paling tak ingin ia dengar, kata yang terdengar seperti penyerahan diri, seperti kekalahan, seperti perpisahan.
Maafkan Papa.
Maya ingin berteriak bahwa ia tak memaafkannya. Bahwa ia tak bisa memaafkannya karena telah meninggalkan mereka sendirian, karena tak melihat pengkhianatan yang mendidih di dalam darahnya sendiri, karena telah memercayai orang yang keliru. Tapi kata-kata itu tak keluar.
Semuanya tersangkut di kerongkongannya, bagai duri, dan yang bisa ia lakukan hanyalah menyaksikan pintu tertutup di belakang punggung ayahnya.
* * *
Malam itu mereka tidur di rumah. Mereka belum tahu bahwa rumah itu pun akan hilang dari tangan mereka.
Kediaman keluarga Adiwangsa, yang di siang hari adalah sebuah monumen kejayaan, di malam hari berubah menjadi museum kehampaan. Lampu-lampu tak dinyalakan.
Kepala pelayan, bingung dan ketakutan, bertanya apakah mereka memerlukan sesuatu sebelum ia pulang. Ratna tak menjawab. Maya menggeleng. Lalu tinggallah mereka berdua saja.
Maya tak bisa tidur. Ia duduk di ranjang ibunya, punggung bersandar pada kepala ranjang kayu berukir, mendengarkan napas Ratna yang tersendat-sendat.
Ibunya tertidur karena kelelahan semata, tapi tidurnya gelisah, penuh sentakan, penuh rintihan kecil yang lolos dari bibirnya yang terkatup.
Maya memikirkan ayahnya, di suatu sel entah di mana, di suatu tahanan entah di mana. Apakah ayahnya kedinginan? Sudahkah ia diberi makan? Apakah ia sendirian? Kata "maafkan Papa" masih terus menggema di kepalanya bagai lonceng yang retak.
Ketika matahari menyelinap masuk lewat celah-celah kerai, Maya tahu bahwa tak akan ada lagi yang sama seperti dulu.