Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Langkah kaki Silas Hawthorne menggema kuat menghentak marmer Aula Utama Istana Blackwood.

Bunyi ketukan sol sepatu kulitnya yang tegas bersahut-sahutan dengan heningnya pagi, memancarkan aura dominasi yang tak dapat digoyahkan oleh gertakan apa pun.

Di samping taipan medis terpandang itu, melangkah seorang wanita berparas anggun dengan balutan gaun wol halus berwarna krem—Eleanor Hawthorne. Tatapan mata Eleanor teduh, memancarkan kedewasaan jiwa dan ketenangan yang meredam riak kegelisahan di sekitarnya.

Kedatangan pasangan dari keluarga terpandang tersebut memancarkan wibawa yang begitu pekat, hingga para pengawal kerajaan refleks menundukkan kepala penuh hormat.

Di tengah aula, Raja Alistair dan Ratu Baxeena telah berdiri menyambut mereka di sisi meja bundar persidangan keluarga. Wajah sang Raja tampak kaku dan sarat akan penyesalan, sementara Ratu Baxeena berdiri rapat di sisinya dengan jemari saling bertautan erat.

Tak lama berselang, derap langkah lain terdengar mendekat. Arthur melangkah masuk menyusuri lorong aula, disusul oleh Snow yang berjalan di sampingnya. Pria tegap berseragam militer itu tampak melangkah sangat dekat di belakang Snow, seolah ketakutan setengah mati jika jarak di antara mereka merenggang walau hanya seujung kuku.

Namun, atmosfer hangat yang baru saja hendak terbangun mendadak sirna seketika. Ketegangan di ruangan itu melonjak naik ke tingkat yang membakar sewaktu sepasang mata tajam milik Silas Hawthorne tertuju lurus pada leher Snow.

Di balik kerah gaun sederhananya yang sedikit melorot sewaktu ia menunduk, terlihat jelas deretan rona kemerahan yang pekat. Bercak-bercak ruam kepemilikan itu begitu kentara, mencolok, dan gamblang menempel di kulit mulus sang putri—bukan bekas gigitan serangga atau gatal biasa, melainkan jejak percintaan panas yang ditanamkan secara berani dan liar tanpa henti sepanjang malam.

Urat-urat di rahang Silas menegang keras hingga membentuk garis tajam di paras senjanya. Matanya membelalak dipenuhi amarah yang membakar. Ayah mana yang sanggup menahan ledakan emosi sewaktu menyaksikan putri kandungnya ditandai secara ugal-ugalan seperti itu sebelum sempat diresmikan di atas altar pernikahan yang sah?

Silas memalingkan wajahnya lambat-lambat ke arah Raja Alistair. Napasnya memburu berat, membakar udara hening di antara dua pria berpengaruh tersebut.

Dengan intonasi suara yang begitu dingin, dalam, namun tetap menjaga tatanan penghormatan tinggi, Silas berkata, "Yang Mulia Raja Alistair... izinkan saya atas nama seorang ayah untuk memukul putra Anda."

Raja Alistair menatap ke arah Arthur yang berdiri membisu dengan luka robek yang masih segar di bibirnya. Sang Raja mengangguk pelan tanpa keraguan sedikit pun. "Silakan, Silas. Hantam dia. Dia memang pantas mendapatkannya."

BUGH!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, sebuah pukulan mentah penuh tenaga dari Silas melayang telak menghantam pipi kanan Arthur. Kecepatan dan daya hancur pukulan itu membuat kepala Pangeran Utama Blackwood tersentak hebat ke samping, melangkah mundur dua tapak untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Darah segar yang baru saja mengering di sudut bibirnya kembali pecah dan menetes membasahi kerah kemejanya.

Namun, Arthur tidak mengaduh. Ia tidak membalas, tidak memprotes, bahkan tidak berusaha menangkis. Pria tegap itu kembali menegakkan posisinya, berdiri tegap membusungkan dada di hadapan Silas dengan sorot mata pasrah yang menerima segala konsekuensi.

"Daddy mengirimmu menempuh pendidikan tinggi di Harvard University Medical School dengan harapan kau menjadi seorang dokter hebat yang membanggakan nama keluarga!" desis Silas dengan nada suara yang bergetar hebat, napasnya memburu dan sepasang matanya berkaca-kaca sewaktu beralih menatap Snow. "Tapi bagaimana bisa kau justru berakhir menyusup di Istana Blackwood sebagai seorang Ibu Susu, Snow?! Bahkan kau mengandung dan melahirkan di tempat asing tanpa sepatah kata pun menyapa telingaku?!"

Snow menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemari lentiknya meremas kain gaunnya sendiri hingga kusut.

Bibirnya terkunci rapat, tak sanggup merangkai sepatah kata pembelaan diri. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya sewaktu melihat raut kekecewaan, kepedihan, dan kerinduan yang bertumpuk di wajah ayah kandungnya.

Wanita itu hanya bisa membisu, menahan gejolak air mata yang merebak membendung di pelupuk matanya.

Di saat keheningan yang mencekam dan menyiksa itu menguasai seluruh penjuru aula, Eleanor Hawthorne perlahan melangkah memotong jarak.

Wanita anggun yang merupakan ibu tiri Snow itu tidak memancarkan sekelumit pun rasa kecemburuan, dendam, atau kebencian atas fakta bahwa Snow adalah putri dari hubungan masa lalu suaminya. Sebaliknya, sepasang mata Eleanor justru memancarkan kehangatan dan kasih sayang yang teramat mendalam.

Eleanor merengkuh tubuh Snow ke dalam pelukannya. Ia merangkul putri dari wanita lain itu dengan amat erat, hangat, dan lembut, menyalurkan kedamaian yang seketika meruntuhkan pertahanan dingin Snow.

"Pasti berat sekali berada di posisimu selama ini, Sayang..." bisik Eleanor begitu lembut tepat di dekat telinga Snow. Jemari lentiknya mengelus penuh kasih rambut panjang Snow yang kini bergetar menahan isak tangis. "Kau telah menanggung duka, kesendirian, dan beban yang terlalu berat sendirian di balik dinding-dinding dingin ini. Cukup, NAK... semuanya sudah berakhir. Ayo... pertemukan Mommy dengan cucu Mommy, pertemukan kami dengan Pangeran mungil itu."

Isakan Snow yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah dalam dekapan hangat Eleanor. Ia menyandarkan kepalanya di bahu ibu tirinya, mengecap rasa memiliki dari sebuah keluarga yang utuh untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam samudera dendam.

Di sudut ruangan, Ratu Baxeena menyaksikan pemandangan mengharukan tersebut dengan seulas senyuman tipis nan syahdu yang terukir di paras agungnya.

Ratu Baxeena merasa kagum luar biasa pada sosok Eleanor.

Sang Ratu tak pernah membayangkan akan menyaksikan seorang istri sah yang begitu bijak, berjiwa besar, dan berhati emas—mampu menerima dan mengasihi putri dari hubungan gelap suaminya di masa lalu dengan ketulusan murni tanpa syarat.

°°°

Setelah ketegangan di aula utama mereda dan pembicaraan mengenai restu serta tanggal pernikahan disepakati oleh kedua keluarga besar, suasana di koridor Istana Blackwood mendadak berubah drastis secara ajaib. Perubahan tersebut berpusat penuh pada tingkah laku salah satu penghuninya.

Pangeran Benedictus Arthur Blackwood—sang komandan militer yang ditakuti di medan pertempuran, pria tegap yang biasanya bersikap kaku, angkuh, dan tak tersentuh—kini tampak seperti sosok pria yang kehilangan setengah kesadarannya akibat mabuk cinta yang teramat parah.

Pria tegap berseragam itu berjalan menempel tepat di belakang Snow ke mana pun wanita itu melangkah. Jarak di antara mereka tak pernah lebih dari sepuluh sentimeter. Pandangan mata kelam Arthur tak pernah terlepas sedikit pun dari setiap pergerakan tubuh Snow, seolah-olah dunia di sekitarnya telah lenyap dan hanya menyisakan figur wanita itu.

"Hati-hati, Honey... ubin marmer di depanmu ini sedikit licin," gumam Arthur tiba-tiba dengan raut wajah yang begitu polos, matanya menatap intens ke arah lantai dengan tingkat kewaspadaan yang berlebihan dan konyol.

Snow menghentikan langkah kakinya seketika, menoleh ke belakang dengan tatapan datar dan alis yang bertaut heran. "Ini karpet sutra tebal bertumpuk tiga, Arthur. Di mana letak licinnya?"

"A-ah... iya, maksudku kalau-kalau kaki indahmu tersandung oleh serat kainnya yang halus," balas Arthur cepat tanpa kedipan mata, memasang wajah polos tanpa dosa yang teramat ajaib.

Di sepanjang dinding koridor, para pengawal kerajaan yang berbaris tegap harus mengepalkan tangan dan menggigit bibir rapat-rapat demi menahan tawa yang hampir meledak di dada mereka.

Muka mereka memerah menahan geli. Para prajurit istana seolah tak percaya bahwa pria yang sedang berjalan membungkuk dan mengekor pasrah di belakang pelayan cantik itu adalah Pangeran Utama mereka yang terkenal kejam, tegas, dan tak kenal ampun.

Arthur seakan mendadak menjelma menjadi sosok pria budak cinta alias 'bucin' tingkat akut, yang rela membuang seluruh gengsi dan bertingkah konyol hanya demi memastikan wanita terkasihnya merasa aman dan tidak menjauh walau hanya sejengkal.

Snow hanya mampu menghela napas panjang melihat tingkah absurd pria yang kini berstatus sebagai calon suaminya tersebut. Namun, jauh di balik tatapan matanya yang berpura-pura dingin dan jengkel, secercah kehangatan yang telah bertahun-tahun membeku di dasar jiwanya perlahan-lahan mulai mekar dan bersemi kembali.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!