Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan yang tak disadari

Senin pagi datang dengan suasana yang berbeda bagi Laras. Ia berjalan menuju kantor dengan langkah yang lebih ringan, senyum kecil sesekali terukir di wajahnya saat mengingat kembali makan malam yang menyenangkan bersama Bagas akhir pekan lalu.

"Kamu keliatan seneng banget pagi ini," sapa Rina, rekan kerjanya, begitu Laras tiba di mejanya.

"Ada kabar baik?"

"Nggak ada apa-apa kok," Laras tersenyum, mencoba menyembunyikan kebahagiaan yang jelas terpancar dari wajahnya.

"Cuma tidur cukup aja akhir pekan ini."

Rina mengangkat alis, tidak sepenuhnya percaya, namun memilih untuk tidak mendesak lebih jauh.

"Ya sudah, kalau gitu. Eh, ngomong-ngomong, tadi Pak Bayu nyariin kamu. Katanya ada tugas baru dari lantai atas."

Kalimat itu langsung membuat suasana hati Laras sedikit menurun, teringat kembali pada pola yang selalu berulang setiap kali ia merasa bahagia. Namun kali ini, ia bertekad untuk tidak membiarkan hal itu memengaruhi kebahagiaannya terlalu dalam.

Ia menuju meja Pak Bayu, mendapati atasannya itu sedang sibuk dengan setumpuk dokumen. "Pak, katanya ada tugas baru untuk saya?"

"Oh, iya, Laras," Pak Bayu mendongak, menyerahkan sebuah map tipis.

"Ini cuma laporan rutin bulanan, nggak ada yang mendesak. Kamu bisa kerjakan sesuai jadwal biasa."

Laras menerima map itu dengan perasaan lega, ternyata bukan tugas mendadak yang biasa diberikan Raka dengan alasan yang dibuat-buat. Ia kembali ke mejanya, memulai pekerjaan hari itu dengan suasana hati yang jauh lebih tenang.

Sementara itu, di lantai dua puluh tiga, Raka duduk di ruang kerjanya, mencoba fokus pada tumpukan dokumen yang menanti untuk ditandatangani. Namun pikirannya terus melayang pada bayangan Laras yang tampak begitu bahagia setiap kali menerima pesan dari ponselnya—sesuatu yang ia perhatikan secara tidak sengaja beberapa hari terakhir melalui laporan kamera pengawas kantor yang sebenarnya tidak seharusnya ia perhatikan sedetail itu.

"Pak Raka," suara sekretarisnya, Bu Yanti, memecah lamunannya.

"Ada laporan evaluasi kinerja karyawan untuk kuartal ini. Apakah Bapak ingin melihatnya sekarang?"

"Taruh saja di meja," jawab Raka singkat, kembali fokus pada layar laptopnya meski pikirannya masih jauh dari pekerjaan.

Bu Yanti menaruh dokumen itu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak.

"Pak, boleh saya bicara sesuatu yang mungkin di luar tugas saya?"

Raka mengangkat wajahnya, sedikit heran dengan permintaan yang tidak biasa itu.

"Apa?"

"Saya sudah bekerja dengan Bapak cukup lama," Bu Yanti memulai dengan hati-hati,

"dan saya perhatikan, akhir-akhir ini Bapak terlihat lebih... tegang, terutama kalau berhubungan dengan divisi pemasaran. Apa ada masalah yang bisa saya bantu?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan kepekaan sekretarisnya.

"Nggak ada masalah apa-apa. Cuma banyak pekerjaan aja."

"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi,"

Bu Yanti mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Sepeninggal Bu Yanti, Raka menyandarkan punggungnya ke kursi, menutup mata sejenak. Kata-kata sekretarisnya itu, meski sederhana, cukup untuk membuatnya menyadari bahwa perubahan sikapnya selama beberapa bulan terakhir sudah mulai terlihat oleh orang-orang di sekitarnya, sesuatu yang seharusnya membuatnya lebih berhati-hati dalam mengendalikan emosi.

Siang harinya, Raka menerima telepon dari ibunya, mengabarkan bahwa keluarga Hartono kembali mengundang untuk makan malam bersama—kali ini dengan alasan yang lebih spesifik, membahas kemungkinan pertunangan resmi antara Raka dan Melati.

"Ma, aku belum siap buat bahas pertunangan," kata Raka, nada suaranya menunjukkan keberatan yang jelas.

"Raka, umur kamu udah nggak muda lagi. Melati juga udah menunjukkan kesabaran yang luar biasa selama ini. Ibu rasa udah waktunya kamu ambil keputusan."

"Ma, aku nggak bisa maksa perasaan yang emang belum ada."

"Perasaan bisa tumbuh seiring waktu, Raka. Yang penting kalian saling menghormati dan punya visi yang sama untuk masa depan."

Ibu Retno melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.

"Ibu minta kamu datang makan malam minggu depan. Setidaknya, dengarkan dulu apa yang ingin dibicarakan."

Raka menghela napas panjang, merasa terjebak antara kewajiban sebagai anak dan keinginannya sendiri yang semakin hari semakin jelas mengarah pada satu nama yang selama ini ia coba sangkal keberadaannya dalam hatinya.

"Baik, Ma. Aku akan datang," jawabnya akhirnya, meski dengan berat hati.

Setelah menutup telepon, Raka duduk termenung, pikirannya dipenuhi kebingungan yang semakin kompleks. Di satu sisi, tekanan dari keluarganya untuk segera menikah dengan Melati semakin kuat. Di sisi lain, kehadiran Bagas dalam kehidupan Laras semakin nyata, mengancam kesempatan yang mungkin masih tersisa baginya untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.

Sore harinya, ketika Raka melintasi area kerja divisi pemasaran dalam perjalanan menuju ruang rapat, ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara Laras dan Rina yang sedang beristirahat sejenak di meja kerja mereka.

"Jadi gimana makan malamnya kemarin?" tanya Rina, penasaran.

"Menyenangkan banget," jawab Laras, senyum lebar terukir di wajahnya.

"Bagas orangnya perhatian, sopan, dan yang paling penting, dia bikin aku ngerasa dihargai."

"Wah, kedengerannya serius nih. Kamu udah mulai suka sama dia?"

Laras terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada yang lebih pelan namun penuh keyakinan.

"Aku rasa iya, Rin. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku ngerasa bisa buka hati lagi tanpa takut disakiti."

Percakapan itu, meski tidak sepenuhnya terdengar jelas, cukup untuk membuat dada Raka terasa sesak. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menghindari untuk mendengar lebih jauh, namun kata-kata itu sudah cukup untuk terus terngiang di kepalanya sepanjang sisa hari itu.

Malam itu, sepulang kerja, Raka duduk sendirian di apartemennya, menatap kosong ke arah dinding sambil memikirkan segala hal yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir. Kemarahan yang selama ini menjadi tameng utamanya perlahan mulai tergantikan oleh perasaan lain yang jauh lebih menyakitkan—penyesalan yang mulai tumbuh, menyadari bahwa caranya memperlakukan Laras selama ini mungkin telah mendorong gadis itu semakin jauh, tepat ke pelukan orang lain yang jauh lebih pantas mendapatkan kepercayaannya.

Apa aku udah terlambat? pikirnya, sebuah pertanyaan yang terus menghantuinya tanpa jawaban pasti. Apa aku harus terus diem, atau harus coba cari tau kebenaran yang sebenarnya sebelum semuanya benar-benar hilang?

Pertanyaan itu, meski belum menemukan jawaban yang jelas, menjadi benih kecil yang mulai tumbuh dalam dirinya—benih keberanian yang, jika ia biarkan berkembang, mungkin akan mendorongnya untuk akhirnya mencari kebenaran yang selama lima tahun terakhir sengaja ia hindari, meski waktu yang tersisa untuk memperbaiki kesalahannya mungkin sudah semakin menipis seiring dengan semakin dekatnya hubungan antara Laras dan Bagas yang terus berkembang tanpa hambatan berarti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!