Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Udara sejuk dari air conditioner sama sekali tak mampu meredam gelombang panas yang membakar tubuh Clara dan Alexio. Suasana di dalam kamar mewah nomor 408 itu mendadak terasa sesak dan mendesak. Reaksi obat perangsang yang mengalir di pembuluh darah Clara bekerja jauh lebih ganas dari perkiraan.
Kesadarannya perlahan hanyut, membuat seluruh benteng pertahanan diri yang ia bangun runtuh tanpa sisa.
Di hadapannya berdiri Alexio, pria asing bergaris wajah tegas yang sama-sama tersudut oleh jebakan licik. Bagi Clara yang penglihatannya mulai kabur, pria ini adalah satu-satunya pelampiasan yang nyata, satu-satunya penawar untuk memadamkan api yang membakar habis akal sehatnya.
Tanpa membuang waktu, jemari mungil Clara yang gemetar terulur, mencengkeram kuat tengkuk Alexio. Ia menarik tubuh tinggi tegap itu hingga tak ada lagi jarak yang tersisa, lalu mendaratkan bibirnya secara mendadak di atas bibir Alexio. Ciuman itu liar, terburu-buru, dan sarat akan permohonan pertolongan yang amat sangat.
Alexio tersentak hebat, tubuhnya membeku seketika. Sisa naluri mewaspadai ancaman berteriak agar ia mendorong wanita ini menjauh. Namun, aroma manis alami tubuh Clara serta kehangatan kulit halusnya bagaikan bensin yang menyiram gejolak hawa nafsu Alexio yang sejak tadi ditahannya.
Di luar kendali logika, bukannya menjauh, cengkeraman tangan Alexio justru mengencang. Jantungnya bergemuruh hebat, ikut terhanyut menelusuri setiap sentuhan impulsif wanita asing di pelukannya.
Di balik sisa kesadarannya yang kian menipis, batin Clara menjerit histeris. "Sialan … Clara, kau tidak tahu malu! Bagaimana bisa kau melakukan hal semurah ini pada pria asing?! Sadar, Clara … sadar!"
Ciuman itu terlepas sejenak. Napas keduanya memburu, bersahut-sahutan di udara yang kian panas. Kelopak mata Clara terasa seberat timah, pipinya memerah merona. Dengan sorot mata basah yang berkaca-kaca, ia menatap kabur paras tampan di depannya sebelum bersuara parau memecah keheningan.
"Bantu aku … kumohon bantu aku … aku sudah tidak tahan lagi … rasanya seperti ada api yang membakar tubuhku …" keluh Clara di sela desahan napas yang terputus-putus, berusaha sekuat tenaga menggenggam sisa kewarasannya yang tinggal seutas benang rapuh.
Alexio terdiam sepersekian detik. Tatapan mata abu-abunya menelusuri wajah Clara, begitu polos, namun tampak amat menggoda di bawah pengaruh zat kimia itu. Di dalam dirinya sendiri, tatanan kendali diri Alexio sudah hancur total.
Seulas senyum miring, penuh pesona sekaligus bahaya, terukir di bibirnya. Tangan kekarnya yang hangat terangkat, mengusap lembut helai rambut yang menutupi dahi Clara.
"Baiklah, Nona. Aku akan membantumu melewati malam ini," bisik Alexio tepat di ceruk telinga Clara dengan suara berat yang dalam. "Tapi ingat baik-baik... jangan pernah menyesali apa pun yang terjadi setelah ini."
Tanpa membuang detik, Alexio melingkarkan satu tangannya ke balik lutut Clara dan satu lagi di pinggang rampingnya. Ia mengangkat tubuh ringan itu ke udara seolah tak berbeban, lalu melangkah lebar menuju ranjang berukuran king-size beralaskan seprai sutra putih. Dengan gerakan lembut namun sarat gairah yang meluap, ia menjatuhkan tubuh mereka bersamaan.
Suara gesekan kain terdengar samar, lalu perlahan tenggelam dalam keheningan malam yang panjang, di mana dua orang asing terikat erat oleh takdir tak terduga, hingga fajar perlahan menyelinap di celah tirai.
****
****
Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk, menyinari seluruh sudut kamar. Clara menjadi orang pertama yang terbangun. Kepalanya berdenyut pening, namun sensasi terbakar yang menyiksanya semalam telah sirna sepenuhnya—berganti dengan rasa ngilu ringan yang menjalar di persendian tubuh.
Gerakan kecilnya terhenti seketika saat menyadari sebuah lengan kokoh melingkari perutnya erat dari belakang, menahannya agar tak beranjak.
Jantung Clara berdesir hebat. Tubuhnya menegang kaku. Kilasan memori semalam berputar cepat bagai rekaman ulang yang menghantam kesadarannya. Wajah Clara seketika memerah padam hingga ke leher. Rasa malu yang membuncah bersatu dengan kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri. Ia telah menyerahkan mahkota terberharganya pada pria yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati, Clara menggeser lengan kekar yang memeluknya. Ia memundurkan tubuh, melangkah dengan telanjang kaki ke atas lantai marmer yang dingin, lalu bergegas mengumpulkan sisa-sisa pakaiannya yang berserakan.
Dengan tangan gemetar, ia mengenakan kembali pakaian itu untuk menutupi jejak malam kelamnya. Ia bahkan tak berani menoleh sedikit pun ke arah pria yang masih terlelap di atas kasur, rasa malunya terlalu besar untuk sekadar menatap wajah sang pemuda.
Saat hendak melangkah keluar, mata Clara menangkap sebuah notebook kecil dan pena di sudut meja. Ia melangkah mendekat, menggoreskan pesan singkat dengan tulisan tangan yang rapi namun tergesa. Setelah selesai, ia melipatnya dan meletakkannya tepat di atas nakas.
Di ambang pintu, langkah Clara terhenti. Pandangannya jatuh pada jas hitam mahal yang tergeletak di lantai, jas yang terlepas saat ia menarik pria itu masuk secara paksa semalam.
Sebuah ide melintas cepat. Clara memungut jas tersebut, memakaikannya ke tubuh mungilnya, lalu menarik kerah tinggi jas itu hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Ini adalah langkah cerdik untuk menyamarkan identitas dari pantauan kamera CCTV di koridor hotel. Tak lama kemudian, sosoknya lenyap di balik pintu lift yang tertutup rapat.
****
****
Beberapa saat setelah kepergian Clara, kelopak mata Alexio perlahan terbuka. Kesadarannya pulih sepenuhnya dengan cepat. Ia langsung duduk tegak di tepi kasur, memijat pangkal hidungnya untuk mengusir sisa kantuk. Rekaman kejadian semalam berputar jernih di kepalanya: pertemuan kacau di koridor, keberanian gadis itu, dan kehangatan yang menguasai mereka.
Matanya yang tajam memindai sekeliling. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
"Ke mana gadis kecil itu?" gumam Alexio pelan, suaranya berat dan bergema di kamar yang sepi. Ia bangkit dan memeriksa kamar mandi, namun ruangan itu pun hampa.
Alexio mendengkus pelan, mengibaskan bahunya santai. "Apa yang kau harapkan, Xio? Biarkan saja dia pergi, toh dia sendiri yang menyodorkan dirinya," gumamnya menetralkan pikiran, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk segar kembali.
Sepuluh menit kemudian, Alexio keluar dengan rambut basah yang tersisir rapi dan pakaian yang telah terpasang sempurna. Saat hendak meraih ponsel pintar di atas nakas, pandangannya terhenti pada kain seprai putih yang tersingkap kusut. Di tengah-tengahnya, terdapat bercak merah kering yang samar namun jelas.
Seulas senyum tipis yang penuh arti terukir di bibir Alexio. Sorot mata abu-abunya menyiratkan rasa puas yang mendalam. Gadis asing yang menghabiskan malam dengannya ternyata benar-benar masih suci dan belum tersentuh siapa pun. Tanpa ragu, Alexio menarik seprai itu hingga terlepas, meremasnya menjadi gulungan, dan membuangnya ke tempat sampah—memastikan tidak ada bukti pribadi yang bisa diakses orang lain.
Saat kembali mengambil ponselnya, jemarinya tak sengaja menyentuh selembar kertas terlipat rapi di sebelah benda pipih tersebut. Alexio mengambilnya, membuka lipatan kertas itu, dan membaca baris demi baris tulisan di dalamnya:
> *Selamat pagi! Siapa pun kamu, terima kasih sudah menolongku keluar dari siksaan obat sialan itu. Aku janji, aku tidak akan menuntut atau meminta pertanggungjawaban apa pun darimu setelah ini. Anggap saja apa yang terjadi antara kita semalam tidak pernah terjadi, dan kita adalah dua orang asing yang berjalan berlawanan arah. Selamat tinggal.* >
Alexio membaca pesan itu berulang kali. Bukannya kesal, seringai di wajah tampannya justru terukir makin lebar. Ia melipat kembali kertas itu dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku dalam jasnya.
"Orang asing, katamu?" gumam Alexio pelan, sorot mata abu-abunya mendadak berkilat tajam dan penuh obsesi. "Kau pikir semudah itu menghapus jejak setelah memberikan segalanya padaku, Nona?"
Alexio melangkah menuju jendela glass-wall yang menampilkan pemandangan kota Jenewa di pagi hari.
"Berlarilah sejauh yang kau bisa. Tapi ingat satu hal ... dengan seluruh kekuasaan yang kupunya, menemukanmu hanyalah masalah waktu. Dan saat hari itu tiba, kupastikan kau tidak akan pernah bisa lari lagi."
Bersambung ....
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥