Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Seleksi Penerjemah

Tiga minggu setelah PKKMB berakhir, kampus kembali ke ritme normal. Pada saat yang sama, BINUS membuka seleksi Program Magang Penerjemahan bersama Lingua Prima.

Pengumuman itu langsung ramai dibicarakan karena peserta terpilih akan terlibat dalam proyek nyata, mendapat bimbingan profesional, dan berpeluang magang penuh setelah lulus.

Keira membantu panitia menempelkan tata tertib di Gedung Anggrek 3. Ia berhenti ketika melihat satu nama di daftar peserta.

Reynard Hartono.

"Kamu mendaftar?" tanyanya saat menemukan Reynard di koridor.

"Iya."

"Program ini biasanya diikuti mahasiswa tingkat atas."

"Di syarat tertulis semua angkatan boleh."

"Tapi kamu Computer Science."

"Proyeknya butuh penerjemah teknologi."

Keira menyipitkan mata. "Kamu ingin masuk karena aku?"

Reynard mendekat dan berbisik, "Aku ingin bekerja di tempat yang membuat pacarku bangga."

"Jawaban diplomatis."

"Aku juga ingin punya alasan bertemu lebih sering."

"Itu baru jujur."

Hari tes tertulis, ruang kelas penuh oleh mahasiswa yang membawa kamus dan alat tulis. Beberapa peserta melirik Reynard karena kartu pesertanya menunjukkan angkatan pertama.

"Anak baru ikut juga?"

"Mungkin cuma mencoba pengalaman."

Reynard tidak menanggapi. Ia duduk di baris tengah dan memeriksa pulpennya.

Seorang perempuan berkuncir rapi mengambil kursi di sebelahnya. Keira mengenalinya dari acara Nexera: Melissa Lim, mahasiswa Software Engineering yang dulu berkali-kali mencoba mendekati Reynard setelah penghargaan.

"Reynard, kita bertemu lagi," sapanya cerah.

"Hai."

"Aku sengaja memilih bagian teknologi. Kalau nanti ada yang sulit, boleh diskusi denganmu?"

"Setelah tes, diskusi kelompok lewat forum resmi saja."

Senyum Melissa kaku sesaat. "Kamu selalu serius."

"Tes akan mulai."

Di baris belakang, Denis Tandiono mengeluh soal tingkat kesulitan contoh soal. Begitu lembar ujian dibagikan, ia beberapa kali memiringkan kepala ke arah jawaban peserta di sebelahnya.

Pengawas mengetuk mejanya. "Saudara Denis, pandangan ke lembar sendiri. Sekali lagi saya beri catatan pelanggaran."

Denis duduk tegak dengan wajah merah. Beberapa mahasiswa menahan tawa.

Tes berlangsung dua jam. Peserta diminta menerjemahkan kontrak layanan perangkat lunak, surel bisnis, dan artikel populer tentang keamanan data. Reynard bekerja tenang. Ia memberi tanda pada istilah yang memiliki lebih dari satu makna, lalu memeriksa konteks sebelum memilih padanan.

Di bagian akhir, mereka harus menulis alasan di balik tiga pilihan istilah. Banyak peserta tampak terkejut karena soal itu menguji penalaran, bukan sekadar kosakata. Reynard mengisi ruang jawaban sampai penuh, lalu membaca kembali dari awal.

Denis mengangkat tangan. "Pak, boleh pakai kamus di ponsel?"

"Tata tertib sudah menyatakan hanya kamus cetak," jawab pengawas.

"Tapi istilah ini terlalu teknis."

"Semua peserta mendapat soal yang sama."

Denis menjatuhkan pulpen ke meja dengan kesal. Saat pengawas berbalik, matanya kembali bergerak ke kertas tetangga. Teguran kedua membuat nomor pesertanya dicatat.

Reynard tidak pernah menoleh. Bagi dirinya, bahasa teknologi bukan wilayah asing. Ia memahami fungsi sistemnya, lalu mencari kalimat Indonesia yang bisa dimengerti klien tanpa menghilangkan ketepatan. Itulah alasan ia selesai dengan waktu untuk memeriksa dua kali.

Melissa selesai beberapa menit setelahnya. Denis terus menghapus jawaban sampai pengawas mengumumkan waktu habis.

Di luar kelas, Melissa mengejar Reynard. "Bagian kontraknya sulit, ya?"

"Lumayan."

"Aku memilih kerahasiaan untuk confidentiality. Kamu?"

"Sama."

"Berarti peluang kita bagus." Ia tersenyum. "Mau minum kopi sambil membahas soal?"

"Maaf, aku ada janji."

Reynard berjalan menuju tangga. Di lantai bawah, Keira menunggunya dengan dua botol air. Mereka tidak berpegangan tangan karena kampus ramai, tetapi senyum yang mereka tukar cukup membuat Melissa berhenti di atas tangga.

Seminggu kemudian, hasil tes diumumkan melalui portal dan papan kampus. Reynard berada di peringkat pertama. Melissa kedua. Denis tidak lolos.

Kerumunan langsung ribut.

"Mahasiswa baru mengalahkan senior?"

"Nilainya hampir sempurna."

"Dia memang pemenang Nexera, kan?"

Pak Denny berdiri dekat papan dan menjelaskan bahwa seluruh naskah telah dinilai dua pemeriksa tanpa melihat nama peserta. Penjelasan itu membuat sebagian besar bisik-bisik berhenti.

"Peringkat pertama bukan hadiah karena angkatan," katanya. "Nilai tertinggi tetap nilai tertinggi. Semua lembar dan rubrik kami simpan untuk audit program."

Reynard menerima ucapan selamat tanpa pamer. Ketika seorang senior bertanya cara belajarnya, ia justru membahas pentingnya memahami bidang sumber sebelum menerjemahkan istilah. Beberapa mahasiswa mulai mencatat.

Denis berdiri di sisi luar kerumunan. Namanya bahkan tidak masuk daftar cadangan. Setiap tepuk tangan untuk Reynard membuat bibirnya semakin mengeras.

Melissa mendatangi Reynard di depan papan. "Selamat. Mulai sekarang aku harus banyak belajar dari senior."

"Kita satu angkatan," jawab Reynard.

"Senior dalam kemampuan." Melissa tertawa dan menyentuh lengannya ringan.

Reynard mundur satu langkah. "Selamat juga untuk peringkat kedua."

Ia lalu pergi menjawab telepon Keira. Di ujung koridor, Denis memotret daftar hasil dengan wajah gelap. Ia mengunggahnya ke lingkaran pertemanan terbatas, menulis bahwa hasil seleksi pasti sudah diatur sejak awal.

Malam itu Keira menyiapkan makan malam di 8B meski Reynard baru bisa pulang dari asrama setelah kegiatan. Di meja ada ayam panggang, sup jagung, dan kue kecil dengan tulisan Selamat, Peringkat Satu.

Saat Reynard menelepon lewat video, Keira mengarahkan kamera ke meja.

"Kapan kamu masak semua itu?"

"Sepulang kelas. Sayangnya juaranya nggak ada di sini."

"Aku bisa pulang sekarang."

"Besok kamu ada kelas pagi."

"Makanannya lebih penting."

"Atau orang yang memasaknya?"

Reynard tersenyum. "Keduanya, tapi orangnya jauh lebih penting."

Keira memotong kue sambil tertawa. "Kalau proyeknya mulai, anak baru, siap-siap. Kelompok penerjemah mungkin berada di bawah pengawasanku."

"Aku siap diperintah setiap hari."

"Jangan menggoda atasannya."

"Setelah jam kerja boleh?"

"Kita lihat kinerjamu dulu."

Mereka terus berbicara tanpa mengetahui percakapan lain sedang terjadi di tempat berbeda.

Keira akhirnya menaruh satu porsi ayam di kotak makanan. "Aku simpan untuk akhir pekan."

"Aku akan datang Jumat malam."

"Sabtu saja. Istirahat dulu."

"Kalau Jumat, aku bisa sarapan bersamamu Sabtu pagi."

"Kamu mencari celah."

"Selalu."

Keira memotret kue yang sudah terpotong dan mengirimkannya. Reynard memasang foto itu sebagai latar percakapan mereka. Keduanya tertawa, terlalu sibuk merayakan pencapaian yang memang diperoleh dengan adil untuk membayangkan bahwa nilai tersebut sebentar lagi akan dipakai sebagai bahan tuduhan.

Di lorong kampus yang sudah sepi, Melissa berdiri membaca unggahan Denis dari akun yang tidak mencantumkan nama asli. Senyum ramah di wajahnya menghilang. Ia membuka daftar kontak, menemukan nomor Denis yang pernah ditambahkan dari grup kegiatan, lalu mengetik pesan pertama.

Aku mungkin tahu sesuatu tentang hasil seleksi itu.

Jarinya berhenti di tombol kirim. Tatapannya mengarah ke ujung lorong tempat Reynard tadi meninggalkannya demi menerima telepon.

Kemudian ia menekan tombol tersebut perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!