"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Malam di kawasan elite Manhattan belum terlalu larut. Cahaya lampu kota berkedip-kedip di bawah kegelapan langit New York, membiaskan pendar keemasan yang menembus kaca-kaca tebal sebuah penthouse mewah. Di dalam unit privat yang berdiri megah di lantai paling atas itu, tidak ada satu pun pengawal yang terlihat bersiaga.
Pemiliknya menyukai privasi mutlak saat berada di tempat persembunyiannya.
Pintu balkon kaca yang seharusnya terkunci dari dalam perlahan bergeser tanpa suara. Sebuah bayangan bergaun dan bersetelan serba hitam melangkah masuk dengan keanggunan yang tidak manusiawi—begitu tenang, tanpa jejak suara sedikit pun.
Rebelda Molloy baru saja keluar dari kamar mandi utama. Mengenakan bathrobe handuk putih yang terikat longgar di pinggangnya, rambut pirangnya yang basah terurai di bahu. Ia melangkah santai menuju meja rias untuk meraih botol serum perawatannya.
Namun, begitu pandangan matanya menyapu arah balkon kaca, wanita itu tersentak hebat.
"Huh!"
Botol kaca di tangannya terlepas dan jatuh di atas marmer.
Di balik pendar remang lampu penthouse, seorang wanita sedang bersandar santai pada tiang pembatas balkon. Ia membelakangi pemandangan malam New York, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyuman yang teramat sinis.
Wanita itu tidak mengenakan penutup wajah apa pun. Wajah cantiknya terpapar jelas di bawah pendar lampu—sebuah wajah yang sangat dikenal oleh Rebelda dari foto yang dikirimkan sahabatnya dari Maladewa.
"Kenapa?" suara bernada dingin dan khas itu terdengar berdesir membelah ruangan.
Wanita yang berdiri di sana adalah Pearl Glow Hurt.
Namun, ini bukanlah Glow yang selama ini dikenal dunia—bukan gadis kaya bergaun mahal yang hanya bisa berceloteh manja dan mengomeli hal-hal sepele.
Di balik penampilannya yang modis dan statusnya sebagai putri satu-satunya keluarga Hurt, Glow menyimpan rahasia besar yang bahkan tidak diketahui oleh ayahnya sendiri, Lucifer Hurt.
Sejak usianya baru menginjak dua puluh tiga tahun, sembari menjabat sebagai direktur di perusahaan keluarga, Glow telah direkrut dan bertugas sebagai agen polisi wanita junior bertalenta tinggi. Ia adalah ahli taktik dan pertarungan jarak dekat yang hanya akan diturunkan dalam misi-misi penangkapan gabungan tingkat tinggi dan sangat berbahaya bersama para seniornya.
Hari ini, kenyataan pahit menghantam Glow setelah ia meminta seniornya di kepolisian menyelidiki insiden penembakan di bandara.
Hasil analisis dan rekaman pelacakan menunjukkan fakta mengerikan: peluru tajam itu tidak pernah ditujukan untuk suaminya atau Angelina, melainkan tepat menyasar kepala Glow sendiri. Angelina hanyalah korban salah sasaran karena dorongan tubuhnya oleh Lean di detik terakhir.
Tidak bisa membiarkan orang yang mencoba membunuhnya dan melukai sahabatnya bebas begitu saja, Glow melacak koordinat pemilik nomor pelacak tersebut secara mandiri. Dan malam ini, ia datang sendiri untuk menagih penjelasan dari wanita asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
"Kau mau apa?!" bentak Rebelda, mencoba menguasai rasa terkejutnya meskipun hatinya gentar melihat ketenangan wanita di depannya. "Bagaimana bisa kau masuk ke dalam penthouse-ku?!"
Glow mendorong tubuhnya menjauh dari tiang balkon, melangkah pelan mendekati Rebelda dengan sorot mata cokelatnya yang menyipit tajam.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, Nona," ujar Glow datar namun penuh intimidasi. "Kenapa kau mengirim seorang penembak runduk untuk mencelakai sahabatku? Apa kau punya masalah denganku?"
Rebelda tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ego dan obsesinya yang tinggi membakar habis naluri kewaspadaannya.
Bukannya menjawab, Rebelda justru menyunggingkan senyum meremehkan. Ia melepaskan tali bathrobe-nya dengan kasar, membiarkan kain tebal itu jatuh ke lantai dan menyisakan tubuhnya yang hanya dibalut set pakaian dalam—bra dan celana dalam hitam.
"Masalah?" kekeh Rebelda sinis, melangkah maju dengan percaya diri untuk mengintimidasi Glow. "Kau tidak berhak bertanya padaku, Bitch!"
Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, Rebelda maju dan mengayunkan tamparan keras ke arah wajah Glow untuk menakut-nakutinya.
Namun, di luar dugaan Rebelda, refleks Glow bergerak secepat kilat. Glow menundukkan kepalanya tipis, menghindar dengan mudah, lalu melancarkan satu tendangan melingkar yang keras tepat mendarat di pinggang Rebelda.
DUK!
"AAAGH!"
Rebelda terhuyung ke samping, menabrak meja rias hingga barang-barang di atasnya berjatuhan. Matanya membelalak tak percaya mendapati kerasnya pukulan dan tendangan dari wanita yang ia kira hanya gadis manja tak berguna.
Kemarahan membuat Rebelda gelap mata. Ia membalikkan tubuhnya dan menerjang Glow kembali dengan pukulan kombinasi liar.
Pertarungan adu tinju jarak dekat pecah di tengah ruangan mewah itu. Suara benturan fisik, desahan napas berat, dan derak meja yang terdorong bergema memenuhi udara.
Rebelda ternyata memiliki dasar pertarungan yang lumayan, namun ketangkasan Glow sebagai polisi terlatih jauh berada di atasnya.
Meskipun begitu, sebuah pukulan balasan dari Rebelda sempat menyambar pipi kiri Glow, meninggalkan goresan memar tipis dan sudut bibir yang sedikit berdarah.
Glow menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu meluncurkan satu pukulan lurus yang amat presisi dan keras tepat ke arah wajah Rebelda.
BASH!
Pukulan telak itu serta-merta merobek sudut alis kiri Rebelda. Darah segar mengalir menutupi sebelah matanya. Rebelda jatuh terduduk di atas lantai marmer, memegangi lukanya yang berdenyut hebat.
Namun, di tengah rasa sakit dan wajahnya yang babak belur, Rebelda justru meledakkan tawa sinis yang sangat geli. Ia mendongak, menatap Glow dengan mata penuh obsesi yang salah mengartikan situasi.
"Ha... Ha! Rupanya kau hanya bodyguard baru!" desis Rebelda seraya menyapu darah di alisnya. "Aku sempat mengira kau adalah kekasih barunya! Ternyata kau cuma anjing penjaga berwajah cantik yang disewa untuk melindunginya!"
Dahi Glow berkerut tajam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud wanita ini.
Bodyguard? Kekasih siapa?
Rebelda sama sekali tidak menyebutkan nama siapa pun dalam igauannya.
Sebelum Glow sempat melangkah maju untuk memaksa wanita gila itu berbicara, dari arah pelataran bawah gedung penthouse, suara raungan mesin mobil sport yang teramat keras bergema menembus kaca balkon. Suara raungan mesin V12 bertekanan tinggi itu begitu khas—menggetarkan udara malam Manhattan.
Vrommmmmm...
Glow menghentikan langkahnya seketika. Naluri keagenannya berteriak bahwa area ini akan segera dipenuhi masalah yang jauh lebih besar. Merasa balasan babak belur yang ia berikan pada Rebelda sudah sepadan dengan luka tembak yang diterima Angelina, Glow memutuskan untuk menyelesaikannya malam ini.
Ia memutar tubuhnya, berlari cepat menuju balkon, dan melompati pagar pembatas tanpa ragu. Dengan teknik parkour terlatih, Glow mendarat mulus di teras unit penthouse kosong satu lantai di bawahnya.
Melalui pintu jendela yang terbuka sedikit, Glow menyelinap masuk ke dalam unit kosong tersebut. Namun, saat ia hendak melangkah menuju pintu keluar lantai bawah, matanya tak sengaja menatap ke arah gerbang utama penthouse di bawah sana melalui kaca jendela besar.
Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam legam baru saja menabrak palang besi gerbang dengan kecepatan tinggi hingga hancur berantakan.
Pintu pengemudi mobil bernilai puluhan juta dolar—sebuah hypercar edisi terbatas dunia yang hanya ada Lima unit di planet ini—terbuka lebar. Seorang pria bertubuh tegap melangkah keluar dari dalam mobil tersebut.
Glow membelalakkan matanya sempurna di balik kegelapan ruangan.
Pria yang keluar dari mobil sport itu mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit ternama Savile Row, memancarkan aura dominasi mutlak, kekuasaan, dan bahaya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dan rahang tegap serta perawakan sempurna itu... tidak mungkin salah.
Leander...? batin Glow menjerit terperanjat, napasnya tertahan sepenuhnya di tenggorokan.
Pria yang berdiri di bawah pendar lampu gerbang itu adalah suaminya. Namun, penampilan pria itu sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari pria bengkel berpakaian sederhana yang selalu ia lihat. Orion Leander berdiri di sana bagaikan seorang raja dari kegelapan.
Tak ingin tertangkap atau berpapasan di lokasi kejadian, Glow dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berlari menelusuri tangga darurat menuju area basement untuk melarikan diri.
Di dalam kepalanya, pertanyaan demi pertanyaan meledak hebat. Apakah Lean datang ke penthouse ini untuk menghukum wanita bernama Rebelda itu juga? Tapi... dari mana dia mendapatkan mobil sport mewah edisi terbatas itu? Kenapa pakaiannya bukan baju bengkel yang biasa aku belikan?
Glow melangkah terburu-buru menyeberangi area parkir basement yang sepi, berusaha mencerna semua keganjilan yang baru saja ia saksikan.
Namun, sebelum langkah kaki Glow berhasil menyentuh pintu keluar basement menuju jalan raya...
DUG!
Sebuah dentuman keras meremukkan keheningan malam. Tepat beberapa meter di samping mobil sport lain yang terparkir, sosok seorang gadis berpakaian seperti pelayan jatuh dari lantai atas gedung, menghantam kap mobil dengan tragis dan tak bernyawa seketika.
"Gasp!"
Glow tersentak pelan, menghentikan langkahnya secara refleks.
Darah segar mulai mengalir di atas kap mobil yang ringsek tersebut. Naluri polisinya memanggil Glow untuk menoleh ke atas dan memeriksa dari mana wanita itu dilemparkan.
Namun, akal sehat dan prinsip bertahan hidupnya di kota New York yang keras menahannya. Glow mengepalkan tangannya, memalingkan wajahnya rapat-rapat, lalu berpura-pura berjalan santai seolah-olah tidak tahu dan tidak melihat apa pun yang baru saja terjadi.
Ia melangkah terus menuju kegelapan jalanan kota New York, meninggalkan kompleks penthouse berdarah itu di belakangnya.
Entah dari mana pelayan itu jatuh... batin Glow seraya mengusap sudut bibirnya yang memar. Semoga suamiku datang ke penthouse ini hanya bersama rekan bengkelnya untuk berpura-pura menjadi adegan sok misterius seperti biasanya...
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍