Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Puas Sang Penulis dan Balas Dendam Subuh

Begitu suara decitan pintu utama penthouse tertutup rapat di lantai empat puluh, menyisakan keheningan malam yang pekat, ketahanan diri Reina akhirnya runtuh sepenuhnya.

Gadis itu tidak lagi bisa menahan diri. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king-size yang empuk, membenamkan wajahnya ke dalam bantal sambil tertawa terpingkal-pingkal sejadi-jadinya. Suara tawanya menggema memenuhi kamar tidur utama yang megah itu, lepas tanpa beban. Seluruh rasa gugup, ketegangan malam pengantin, dan rasa canggung yang sempat menyelimuti dirinya seketika menguap, digantikan oleh rasa geli yang teramat sangat.

"Ya ampun... hahahaha! Ampun, perutku sakit banget!" igau Reina di sela-sela tawanya yang meledak-ledak. Ia berguling ke kiri dan ke kanan, memeluk guling putih dengan erat sambil terus terkekeh geli.

Bayangan wajah Jino West—pria paling dingin, paling angkuh, dan paling berkuasa di dunia bisnis metropolitant—yang mendadak harus memasang muka masam, merajuk seperti anak kecil, dan terpaksa ngibrit pergi ke kantor di tengah malam gara-gara hacker iseng benar-benar menjadi hiburan terbaik tahun ini.

Karma instan buat Tuan Muda yang hobi ngomel, batin Reina sambil menyeka air mata karena terlalu kencang tertawa.

Setelah puas meluapkan tawanya selama beberapa menit hingga napasnya sedikit tersengal, Reina bangkit dari posisi berbaringnya. Ia merapikan gaun tidur satin putihnya yang sedikit kusut, lalu melangkah turun dari tempat tidur. Suasana hening di dalam penthouse yang luas kini terasa sangat lapang.

Alih-alih kembali tidur atau merasa kesal karena malam pertamanya gagal total, otak kreatif Reina justru langsung mendadak encer. Insting penulis novel wuxianya bergolak hebat. Ia berjalan mendekati meja kerjanya di sudut ruangan, menyalakan layar laptop yang masih terbuka dengan draf naskah Gadis desa dan Lima Pangeran Tsundere.

Jemarinya dengan lincah langsung menari di atas papan ketik, membuka bab baru yang terinspirasi langsung dari kejadian barusan. Di dalam cerita fiktifnya, ia menuliskan adegan kocak di mana sang pangeran kesayangan yang terkenal kejam dan arogan tiba-tiba diserang oleh "pasukan siluman tikus" tepat di malam pernikahannya, hingga sang pangeran harus lari terkencing-kencing meninggalkan sang permaisuri demi menyelamatkan kerajaan.

"Hihihi, rasain nih. Biar pembacaku tahu kalau pangeran agung juga bisa kena azab lembur dadakan," gumam Reina geli sendiri sambil mengetik cepat, senyuman puas terukir di bibirnya.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi ketika deru mesin mobil mewah memasuki area parkir khusus penthouse.

Di lantai dasar gedung utama tadi, pertempuran siber antara tim IT West Corporation yang dipimpin langsung oleh Jino dan kelompok hacker sisa anak buah Nathaniel berlangsung sangat sengit. Dengan keahlian tingkat dewa dan kepala yang dipenuhi amarah membara karena malam pertamanya digagalkan, Jino hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk melacak alamat IP para pelaku, membekukan seluruh akses mereka, dan menyerahkan koordinat lokasinya ke pihak kepolisian khusus.

Kini, Jino melangkah keluar dari lift pribadi lantai empat puluh dengan langkah gontai namun penuh aura kelelahan yang nyata. Jas kerjanya sudah disampirkan di lengan kiri, kemeja hitamnya sedikit kusut di bagian kerah, dan rambut hitamnya tampak berantakan karena sering ia usap kasar akibat stres.

Pria itu membuka pintu utama penthouse dengan kunci cadangannya, bersiap menghadapi suasana sunyi dan kenyataan pahit bahwa malam pengantin impiannya telah hancur lebur.

Begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang tengah, ia mendapati lampu meja kecil masih menyala remang-remang. Tidak ada tanda-tanda kegelapan atau kesedihan seperti yang ia bayangkan. Sebaliknya, aroma harum teh chamomile dan suara ketikan papan ketik laptop terdengar sayup-sayup dari arah sudut ruangan.

Jino mengerutkan keningnya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor menuju kamar tidur utama, dan di sanalah ia mendapati istrinya—sang gadis desa yang paling dicintainya—sedang duduk bersila di atas karpet beludru sambil mengetik serius di depan laptop, dengan semangkuk keripik kentang di sampingnya.

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Reina mendongakkan kepalanya. Begitu ia melihat sosok Jino berdiri di ambang pintu dengan wajah kelelahan, rambut berantakan, dan tatapan tajam nan melas, Reina lagi-lagi nyaris tertawa. Ia mati-matian menggigit bibir bawahnya untuk menahan ledakan tawa yang kembali mendesak ingin keluar.

Jino menyandarkan bahunya pada kusen pintu, melipat kedua tangan di dada, lalu menatap Reina dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara sebal, gemas, dan lelah jadi satu.

"Puas?" suara Jino terdengar serak dan berat, sarat akan kelelahan setelah semalaman berjibaku dengan layar komputer. "Kau menertawakanku sedari tadi, ya?"

Reina menutup layar laptopnya pelan. Ia bangkit berdiri, berjalan mendekati suaminya dengan senyuman paling manis yang ia miliki. Tangannya terulur merapikan kerah kemeja Jino yang berantakan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata kelam pria itu.

"Mana mungkin aku menertawakan suamiku sendiri, Tuan West?" kilah Reina dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat polos. "Aku kan tadi sedang mendoakanmu agar server kantormu selamat sentosa."

Jino mendengus pelan, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik pinggang Reina hingga tubuh gadis itu menempel erat ke dadanya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Reina, menghirup aroma vanila yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf kepenatannya.

"Server kantorku selamat," bisik Jino pasrah di telinga Reina. "Tapi harga diriku sebagai pengantin baru benar-benar hancur lebur berkat malam ini."

Reina tertawa kecil, melingkarkan kedua tangannya di leher Jino, lalu mengecup sekilas rahang tegas suaminya. "Sudah, jangan ngambek gitu. Masih ada malam-malam berikutnya, Tuan Muda. Lagian, siapa suruh punya musuh yang hobinya merusak momen romantis?"

Jino mendesah berat, namun bibirnya perlahan ikut melengkung membentuk senyuman tipis. Ia mengeratkan pelukannya, mengangkat tubuh Reina dengan mudah, dan membawanya menuju ranjang.

"Kalau begitu, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk mengganggu kita kali ini," bisik Jino tepat di bibir Reina sebelum menyatukan dunia mereka kembali dalam kehangatan subuh yang menenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!