"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 - bermuka 2
Perumahan mewah yang sudah di siapkan oleh rizki untuk hana wanita yang dia cintainya.
Gimana kamu suka ngga?
suka banget bagus banget sayang.hana
Bagus deh yang penting kamu suka.
iya sayang aku jadi makin cinta deh sambil memeluk rizki.
hana yang memandangi akhirnya gue dapat rumah mewah impian gue benar kata mama kita harus memanfaatkan laki laki bodoh itu agar tunduk pada kita. Sebentar lagi aku jadi nonya rizki aku lah pasanganya nanti hana yang mebayangkan kalo dia menikah dengan rizki
Perumahan mewah yang luas dan megah itu berdiri gagah, sudah disiapkan Rizki khusus untuk Hana — wanita yang ia kira dicintainya.
"Gimana? Kamu suka nggak?" tanya Rizki lembut, menatap Hana yang tampak takjub melihat kemewahan itu.
"Suka banget! Bagus banget, sayang!" seru Hana dengan mata berbinar bahagia.
"Bagus deh... yang penting kamu suka," jawab Rizki lega, tersenyum melihat wanitanya senang.
"Iya, sayang... aku jadi makin cinta sama kamu," ucap Hana manja sambil memeluk erat lengan Rizki, namun di balik pelukan itu, senyumnya bukan tulus karena cinta — melainkan karena kemenangan yang ia rasa semakin dekat.
Saat Rizki melihat ke arah lain, Hana menatap seluruh ruangan itu dengan tatapan penuh kemenangan. "Akhirnya... gue dapet rumah mewah impian gue! Benar kata Mama, kita harus pandai memanfaatkan laki-laki bodoh ini biar dia tunduk sama kita. Sebentar lagi aku bakal jadi Nyonya Rizki . Akulah pasangan resminya, dan semua harta ini akan jadi milikku sepenuhnya," batinnya penuh ambisi, membayangkan pernikahan mewah dan kekayaan yang tak lagi terbatas.
"Oh ya, sudah malam. Kalau gitu aku pulang ya. Kamu masuklah," ucap Rizki pelan, suaranya terdengar lelah.
Hana mengerutkan kening sedikit, berusaha tetap tersenyum manis. "Kamu nggak mau mampir dulu, sayang?"
"Enggak usah, Hana. Sudah malam, aku nggak enak kalau terlalu lama di sini," tolak Rizki lembut namun tegas.
"Baik deh, sayang..." jawab Hana meski hatinya kesal. "Hati-hati ya!"
"Iya, sayang."
Rizki segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan perumahan mewah itu. Di dalam hatinya, ia merasa semakin gelisah. Sesuatu terasa tidak beres — sikap Hana, keinginannya yang terus-menerus meminta ini dan itu, ketulusan yang tak lagi ia rasakan. Pikirannya tanpa sadar kembali melayang pada sosok lain — Indah. Wanita yang selalu tulus, rendah hati, dan tidak pernah meminta apa-apa darinya. Semakin ia menjauh dari Hana, semakin ia sadar siapa yang sebenarnya mengisi hatinya.
Hana berdiri di ruang tengah yang luas itu, menatap sekeliling dengan mata berbinar penuh kemenangan. Sentuhan tangannya menyusuri dinding mewah itu, tak bisa menyembunyikan rasa bangga sekaligus keserakahannya.
"Rumah ini besar banget... beda jauh banget sama rumahku yang dulu sempit dan kumuh. Akhirnya aku bisa hidup seperti ini," batinnya penuh kepuasan. "Aku bakal jadi Nyonya di sini. Rizki... aku nggak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun. Selagi kamu percaya dan mencintaiku, akan kumanfaatkan semuanya demi keuntunganku. Hartamu, namamu, kekayaanmu... semuanya akan jadi milikku. Dan dengan semua ini, aku bisa membuktikan pada Mama — dendam itu sudah terbalaskan. Kita bisa hidup mewah dan tinggi seperti yang dulu pernah dirampas dari kita."
Ia tersenyum licik, seakan melihat masa depan yang penuh kemewahan dan kekuasaan di ujung jari-jarinya. Tak sedikit pun ada rasa bersalah atau cinta tulus di hatinya — yang ada hanya ambisi, balas dendam, dan keinginan untuk menguasai segalanya.
Hana tertawa puas sendirian di ruangan yang luas itu, suaranya penuh kemenangan dan penghinaan.
"Bodoh banget sih kamu, Rizki... Aku itu cuma memanfaatkan kamu, tapi kamu begitu percaya padaku! Hahaha!"
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang — seseorang yang selama ini ia sembunyikan dari Rizki.
"Halo... sayang? Kamu ke sini ya, sekarang," ucapnya dengan nada lembut dan penuh rayuan, berbeda jauh dari sikapnya pada Rizki.
"Aku sudah kirim lokasi, sayang. Segera datang ya."
"Siap, sayang... aku ke sana sekarang," jawab suara laki-laki di seberang sana dengan nada tak sabar.
Hana tersenyum nakal, matanya berbinar penuh nafsu. "Iya... aku sudah kangen banget sama kamu. Pengen berduaan saja sama kamu."
"Tunggu aku ya, sayang... aku bakal memuaskanmu malam ini."
Ia meletakkan ponselnya, berjalan menuju sofa dengan langkah ringan, seakan tidak ada beban sedikit pun. Rumah yang dibelikan Rizki dengan tulus untuknya, justru akan ia gunakan untuk berselingkuh dengan pria lain. Rizki yang mencintainya dengan tulus, tidak tahu bahwa ia sedang dikhianati begitu dalam, bahkan di rumah yang ia berikan sendiri.
Rizki melangkah masuk ke rumah dan menemukan ibunya, Maya, sedang duduk di ruang tamu seakan sedang menunggunya.
"Mama belum tidur?" tanyanya lembut.
Tante Maya menatapnya tajam namun penuh kekhawatiran. "Kamu habis dari mana aja, Rizki?"
"Aku mengantar Hana pulang, Ma," jawab Rizki pelan.
"Kenapa sih kamu kecintaan banget sama Hana?" tanya ibunya tak puas.
"Mama udah deh... jangan bahas itu lagi," tolak Rizki pelan, berusaha menghindari perdebatan.
"Kamu harus tahu sifatnya seperti apa. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, Rizki," ucap Tante Maya tegas.
"Mama gak boleh dong menilai Hana seperti itu," bela Rizki.
"Mama tahu yang terbaik untuk kamu. Mama punya firasat kalau dia tidak baik sama kamu," tegas ibunya.
"Itu hanya perasaan Mama saja. Gak boleh berpikir begitu," jawab Rizki mulai tak sabar.
"Dia sama ibunya itu sama, Rizki. Sifat itu turunan, tidak bisa diubah," ucap ibunya Maya dengan yakin.
"Ma... Rizki gak mau bahas lagi. Rizki mau istirahat," Rizki langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya, menutup pembicaraan itu.
Maya hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung putranya. "Anak ini... susah banget kalau dikasih tahu," gumamnya cemas, berharap putranya tidak akan menyesal nanti.
Maya menghela napas panjang, duduk kembali di sofa sambil menatap pintu yang baru saja ditutup putranya. Hatinya penuh kegelisahan sekaligus kekesalan.
"Apa sebenarnya yang membuat Rizki begitu mencintai Hana? Apa yang dia lihat dari wanita itu? Padahal jelas sekali... Hana hanya memanfaatkan kebaikan dan ketulusan Rizki saja. Dia tidak benar-benar mencintai putraku," batinnya bergetar cemas. "Tapi anak ini... susah banget sekali kalau dinasihati. Selalu menutup telinga. Ya Tuhan... semoga dia tidak terluka terlalu dalam saat kebenaran itu terungkap nanti."
Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan ketidaktulusan Hana dari jauh. Tatapan mata wanita itu, cara bicaranya, semuanya terasa dibuat-buat. Namun Rizki terlalu buta oleh perasaannya sendiri — atau mungkin oleh rasa berhutang budi yang ditanamkan Hana selama ini. Maya hanya bisa berdoa, berharap putranya sadar sebelum semuanya terlambat.
Di dalam kamarnya, Rizki mengambil ponselnya dan menekan nomor Hana.
"Sayang, aku sudah ada di rumah," tulisnya singkat, lalu menunggu pesan itu dibalas. Namun tak ada jawaban. Ia mencoba menelepon, tapi tak kunjung diangkat. "Kok tumben ya? Biasanya langsung diangkat," gumamnya bingung.
Sementara itu, di rumah mewah itu, Hana sedang terbuai dalam pelukan pria lain — Rio. Ponselnya berdering di samping kasur, mengganggu momen mereka.
"Ada apa, sayang?" tanya Rio tanpa berhenti mencium leher Hana.
"Sebentar... itu Rizki yang menelepon," jawab Hana terengah-engah, lalu menekan tombol angkat.
Rio justru semakin liar, ciumannya makin dalam dan tak memberi jeda. Hana menahan napas, berusaha tetap tenang.
"Halo? Rizki?"
"Kamu sedang apa? Kok di belakangmu ada suara aneh?" tanya Rizki dari seberang, curiga.
"Tidak apa-apa, Rizki... itu cuma suara televisi saja," jawab Hana berbohong dengan cepat, matanya terpejam menikmati sentuhan Rio.
"Oh... baiklah kalau begitu," jawab Rizki, walau keraguannya tak hilang begitu saja.
Belum sempat Rizki menutup pembicaraan, Rio makin meningkatkan permainannya di atas ranjang. Hana terlena, tak lagi peduli pada panggilan itu.
"Ah... pelan-pelan, Rio... aku sedang bicara sama Rizki..." protesnya pelan, tapi suaranya justru terdengar mendesah halus.
"Lagian dia ganggu banget... kita sedang berduaan," bisik Rio tak peduli.
Hana pun benar-benar terbuai. Ia langsung menutup telepon tanpa pamit, melempar ponsel ke pinggir kasur, dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Rio. Rizki — pria yang memberinya rumah, harta, dan kasih sayang — kini dikhianati di rumah yang ia berikan sendiri.