Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Habisi Dia

Kota Kayan menyambut hujan dingin pertama pada awal musim barat.

Hujannya tidak deras. Gerimis lembut bercampur butiran es tipis, diterbangkan angin malam hingga menimbulkan bunyi gemerisik di jalan yang sepi.

Livia Prameswari tidak membawa jas hujan. Dengan satu tangan, ia menarik syal di lehernya untuk menutupi sebagian besar wajah, sementara tangan yang lain memutar gas motor listriknya sedikit lebih dalam.

Kota Kayan merupakan kota perbatasan yang cukup ramai di Kalimantan Utara. Namun di balik keramaian itu, kekacauan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Penembakan dan pembunuhan bukan kejadian langka.

Terlebih lagi di kawasan pabrik terbengkalai di pinggiran timur kota. Setiap kali pulang kerja melewati tempat itu, Livia selalu mendengar angin menderu di antara bangunan-bangunan rusak seperti suara ratapan.

Konon, mayat baru ditemukan di sana setiap beberapa bulan.

Cit!

Begitu melewati tikungan, sorot lampu putih yang menyilaukan memaksa Livia mengerem. Ia menyipitkan mata, berusaha melihat jalan di depannya.

Tak sampai lima belas meter dari tempatnya berhenti, sebuah jip militer berpenampilan garang terparkir di sisi jalan berbatu. Seorang pria berdiri santai dengan pinggul bersandar pada kap mobil.

Kemeja hitam membalut tubuhnya. Topi berlidah rendah menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang yang tegas dalam permainan cahaya dan bayangan.

Livia hendak memutar gas dan terus melaju ketika dua pria lain muncul dari belakang jip. Keduanya mengenakan jaket hitam seragam dan mengangkat sebuah karung cokelat tua, masing-masing memegang satu sisi.

Darah menetes dari bagian karung yang melendut karena beban. Cairan merah itu jatuh satu demi satu ke jalan yang memutih oleh butiran es.

Putih yang dingin. Merah yang menyala.

Jantung Livia menghantam tulang rusuknya dengan liar.

Sial. Apa yang paling ia takutkan benar-benar terjadi.

Karung itu jelas sangat berat. Setelah menatapnya selama beberapa detik, Livia akhirnya memahami apa yang sedang dilakukan ketiga orang tersebut.

Mereka sedang membuang mayat!

Pria bertopi yang berdiri di depan jip mengangkat satu tangan untuk menyentuh pinggiran topinya. Tatapannya beralih dan bertemu dengan mata Livia.

Sepasang mata biru pucat terlihat di bawah bayangan topi.

Dingin, dalam, dan tajam. Seperti mata serigala yang mengintai mangsanya di kegelapan—tenang, haus darah, dan seolah mampu menembus udara di antara mereka.

Hanya dengan satu tatapan, tubuh Livia menggigil beberapa kali.

Ia segera memalingkan muka. Tangan kanannya mencengkeram gas, lalu tanpa ragu ia memutar arah dan melaju sekencang-kencangnya.

Dari belakang terdengar tawa pendek penuh penghinaan. Suara itu dibawa angin dingin dan jatuh tepat ke telinganya.

Jari-jari Livia gemetar. Setang motornya ikut bergoyang, membuat roda depan kehilangan keseimbangan sesaat.

Kemudian—

Dor!

Peluru menggores permukaan bahunya. Rasa sakit yang tajam menyambar, membuat Livia menjerit sebelum jatuh bersama motornya di tepi jalan.

Tubuhnya terseret di atas kerikil dan meninggalkan jejak panjang.

Tembakan pria itu terlalu akurat. Kalau motornya tidak sempat oleng, peluru tersebut mungkin sudah menembus jantungnya.

Livia menggertakkan gigi, meringkuk kesakitan di tanah.

Di tengah malam yang sunyi, tiga pasang langkah kaki terdengar hampir bersamaan. Sepatu mereka menginjak kerikil dan lapisan es tipis dengan bunyi berderak yang membuat tengkuknya meremang.

Suara itu semakin dekat.

Langkah mereka mantap, sama sekali tidak terburu-buru.

Pria bertopi tadi seolah sudah yakin Livia tidak mungkin lolos. Ia tidak melepaskan tembakan kedua. Ia justru mendekat perlahan, menggunakan keheningan dan langkah kaki itu untuk menekan saraf Livia, membiarkannya merasakan maut datang sedikit demi sedikit.

Tiga bayangan memanjang di bawah sorot lampu mobil. Bayangan itu saling bertumpuk dan perlahan menelan tubuh mungil Livia.

Ketakutan yang luar biasa menerjangnya.

Ia tidak boleh diam di sana.

Livia bahkan tidak sempat memeriksa bahunya yang berlumuran darah. Ia hanya menarik syal lebih tinggi agar wajahnya semakin tertutup, menahan sakit, lalu menopang tubuhnya dengan kedua tangan.

Begitu berhasil berdiri, ia melesat masuk ke hutan kecil di sisi kanan jalan.

"Tuan Keenan?"

"Kejar."

Hanya satu kata. Datar dan dingin.

Livia bukan penduduk asli Kalimantan, tetapi ia telah dibesarkan di Kota Kayan sejak kecil. Ia mengenal setiap jalan, semak, dan lekuk tanah di kawasan itu jauh lebih baik daripada orang luar.

Ia juga cukup sering mendengar cerita tentang para penguasa kota. Mereka yang suka memamerkan kekuatan biasanya dipanggil "Bang", sedangkan yang bergerak diam-diam disebut "Bos".

Berbagai kelompok berpura-pura bersahabat di depan umum, tetapi diam-diam saling berebut wilayah. Mereka menjaga keseimbangan dan tidak ada yang berani menekan pihak lain sebelum perang terbuka benar-benar pecah.

Di kota seperti ini, hanya segelintir orang yang pantas dipanggil "Tuan" dengan nada penuh hormat.

Namun Livia tidak pernah mendengar nama Tuan Keenan.

Pria semuda itu berani menerima panggilan tersebut. Berarti hanya ada dua kemungkinan. Ia memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengendalikan Kota Kayan dan bergerak bebas di dunia legal maupun bawah tanah—atau ia hanyalah pendatang yang tidak tahu aturan.

Jika kemungkinan kedua yang benar, kesombongannya cepat atau lambat akan membuatnya ditelan hidup-hidup oleh kota iblis ini.

Pikiran Livia bekerja cepat sementara kakinya tidak pernah berhenti. Peta medan yang rumit tersimpan jelas di dalam kepalanya, dan malam ini pengetahuan itulah satu-satunya keunggulan yang ia miliki.

Ia berlari sekuat tenaga di antara pepohonan. Tubuhnya bergerak begitu hati-hati hingga hanya sedikit butiran air yang jatuh dari daun dan ranting yang tersenggol. Darah dari luka bahunya terserap mantel tebal, tidak menetes ke tanah dan meninggalkan jejak.

Livia dapat bergerak cepat, tetapi tiga pria yang mengejarnya tidak seberuntung itu. Mereka hanya bisa mengikuti bekas sepatu yang samar di tanah basah dan dipenuhi kerikil.

Jejak tersebut akhirnya membawa mereka ke tepi sebuah danau gelap.

Lalu menghilang.

Keenan Adiprana berdiri di tempat bekas langkah kaki itu berakhir. Matanya yang dingin menyapu permukaan danau, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

Tegar dan Reza berhenti di belakangnya. Setelah memeriksa sekeliling dan tidak menemukan siapa pun, keduanya mengernyit dan berbicara hampir bersamaan.

"Tuan Keenan, dia... berhasil kabur?"

Keenan tidak menjawab. Sikap diamnya sudah cukup menjadi pengakuan.

Tegar dan Reza saling pandang dengan wajah tidak percaya.

Mereka telah bertahun-tahun mengikuti Keenan. Orang yang mampu lolos dari bawah hidung pria itu dapat dihitung dengan jari.

Apalagi orang tersebut hanyalah seorang perempuan yang terluka.

Memang, tadi Keenan tidak langsung menembakkan peluru kedua. Mungkin ia sedang ingin bermain-main dengan mangsanya sehingga memberi perempuan itu kesempatan untuk lari.

Namun mereka telah mengejar tanpa berhenti. Bagaimana mungkin perempuan itu tiba-tiba lenyap begitu saja?

"Jangan-jangan dia hantu perempuan?" Tegar mendesis sambil mengusap tengkuk.

Reza langsung mengetuk keras kepalanya. "Hantu dari mana yang pergi kerja naik motor listrik?"

"Mana aku tahu? Zaman sudah maju. Barangkali hantu juga mau hemat ongkos."

Keduanya hampir mulai bertengkar ketika Keenan membuka mata yang sejak tadi menyipit tipis. Ia melirik mereka tanpa ekspresi.

Tekanan dingin yang memancar dari tubuhnya membuat Tegar dan Reza serentak menutup mulut dan berdiri tegak.

"Tuan Keenan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Reza dengan hati-hati. "Dia sudah melihat semuanya."

Keenan menyelipkan pistol ke pinggang belakang. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menjepitnya di bibir, lalu menyalakan ujungnya.

Asap tipis keluar perlahan dari hidung dan bibirnya.

Di balik kabut hujan, mata biru pucat itu memandang lampu-lampu Kota Kayan yang berkilauan di kejauhan.

Kota yang menarik.

Perempuan yang menarik.

Keenan tertawa pelan.

"Cari dia," katanya. "Lalu habisi dia."

"Baik, Tuan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!