"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbahaya!
Adara menggandeng erat jemari kecil Lucian dan Lucky, bergegas menyusuri koridor kapal sesuai petunjuk tim penyelamat. Langkah kakinya dipercepat hingga hampir berlari.
“Ayo, kita harus cepat sebelum adik kalian ketakutan di sana,” gumam Adara dengan raut wajah cemas.
Namun, dering ponsel yang nyaring tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Siapa, Mom?” Lucky melepaskan genggaman tangannya, mendongak menatap Adara.
Adara merogoh tasnya dan melirik layar ponsel yang menampilkan nama Rosa.
“Nenek, ya?” tebak Lucian datar.
“Benar. Nenek kalian meminta laporan penyelesaian target.” Adara mengangguk singkat. Tanpa menunda waktu, jemarinya bergerak lincah mengirimkan seluruh bukti perselingkuhan target ke nomor tersebut. Setelah tugas usai, ia kembali menyimpan ponselnya dan meraih tangan kedua putranya.
“Ayo bergegas. Kita jemput adik kalian, lalu segera tinggalkan tempat ini.”
Tuhan, tolong lindungi putriku. Dia sangat polos dan baik hati, aku takut dia dimanfaatkan oleh orang berhati licik, doa Adara dalam hati.
Namun, saat mereka tiba di depan ruang perawatan Luvia, pintu dalam keadaan terbuka lebar. Ruangan itu kosong melompong. Hanya tersisa sisa-sisa aroma lembut khas putri kecilnya dan…
Deg!
Pupil mata Adara terkikis tajam. Hidungnya menangkap jejak aroma asing yang amat familiar, aroma yang seketika membangkitkan ingatan tentang pria yang ditolongnya lima tahun lalu.
“Mommy, ada apa? Kenapa diam?” tanya Lucky bingung melihat ibunya terpaku.
“Mom, tidak ada orang di sini. Luvia tidak ada,” ujar Lucian seraya menyapu pandangan ke seluruh penjuru kamar yang sunyi.
“Mommy... apa adik sudah...” Suara Lucky bergetar, air mata mulai menggenang.
Adara berlutut menarik tubuh mungil Lucky ke dalam pelukan erat. “Tidak apa-apa, Sayang. Adikmu pasti baik-baik saja. Mungkin dia sedang pergi mencari donat di luar,” hibur Adara lembut seraya mengusap air mata di pipi putranya.
“Tapi seharusnya Luvia menunggu di sini, Mom,” potong Lucian sambil menunjuk ranjang pasien yang rapi.
“Kalau saja Nenek di sini, kita pasti bisa lacak posisi Luvia,” keluh Lucky dengan nada penuh penyesalan.
Kata ‘lacak’ itu bagaikan petir yang menyambar kesadaran Adara. Ia menepuk dahi, merogoh tablet khusus dari tasnya. Ia hampir lupa bahwa kalung yang dikenakan Luvia telah dipasangi chip pelacak tingkat tinggi!
Layar tablet menyala terang. Titik merah berkedip cepat di peta koordinat, masih berada di area kapal, tetapi bergerak lambat ke arah Utara.
Tanpa membuang waktu, Adara merangkul Lucian dan Lucky sekaligus, berniat langsung mengejar. Namun, sesosok pria berjas putih mendadak menghadang langkah mereka.
“Apakah Anda... Ibu dari anak bernama Luvia?” tanya dokter tersebut, matanya memindai dua bocah mungil yang kini menatapnya penuh kewaspadaan.
“Benar, Dok! Saya ibunya! Di mana putri saya? Apakah dia terluka? Apa yang terjadi padanya?” cecar Adara bertubi-tubi tanpa memberi jeda.
Dokter itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan aura intimidatif dari wanita di hadapannya. “Nyonya, harap tenang. Putrimu saat ini berada dalam pengawasan Tuan Besar CEO Winston. Karena peralatan medis di kapal ini terbatas, Tuan Winston memutuskan membawanya ke rumah sakit pusat di daratan untuk pemeriksaan menyeluruh demi mengantisipasi luka dalam.”
Adara bernapas lega. Namun, detik berikutnya, ia teringat perkataan tim penyelamat sebelumnya yang menyebutkan Luvia dibawa oleh ayahnya.
Apakah pria yang menghabiskan malam bersamaku lima tahun lalu adalah salah satu bawahan CEO Winston?
Punggung Adara terasa dingin.
Keluarga Winston terkenal arogan, kejam, dan mendominasi di ibu kota Jakarta. Rumor tentang kekejaman mereka sudah tidak asing lagi di dunia agen rahasia. Selama ini Adara selalu menghindari berurusan dengan lingkaran kekuasaan semacam itu, tetapi siapa sangka takdir justru menyeretnya kembali.
Di sisi lain, Lucian dan Lucky saling melempar pandangan. Pancaran mata kedua bocah itu berkilat penuh rasa ingin tahu terhadap sosok ‘CEO Winston’ yang misterius ini.
“Jika Anda ingin bertemu dengan putri Anda, sebaiknya Anda menjaga sikap di hadapan Tuan Winston dan segera datang ke Jakarta,” tambah Dokter itu memberi saran.
Sebelum Adara sempat membalas, Lucian yang memiliki pendengaran sangat tajam mendadak menunjuk ke arah jendela luar.
“Mommy, suara baling-baling helikopter!”
“Luvia pasti dibawa pergi lewat udara!” seru Lucky panik.
Dokter itu hanya tersenyum tipis, lalu pergi tanpa banyak bicara. Adara tidak membuang waktu lagi, ia segera menggendong kedua putranya dan berlari menuju lantai utama.
Di bawah gemerlap lampu kapal malam itu, sebuah helikopter tampak membumbung tinggi, membelah kegelapan malam menuju arah kota.
“Mommy, lihat!” Tunjuk Lucian.
“LUVIA!” teriak Adara namun suaranya tertelan oleh gemuruh mesin helikopter yang kian menjauh.
“Mommy...” Lucky akhirnya menumpahkan air matanya.
“Lucky, hapus air matamu. Jangan menangis terus, tidak malu?” tegur Lucian. Meski bicaranya dingin, matanya memancarkan rasa khawatir.
“Mom, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Lucian menatap raut wajah ibunya yang mendingin.
Adara mengepalkan jemarinya, matanya menyipit menatap helikopter yang kini hanya tersisa berupa titik cahaya di langit.
“Satu-satunya jalan adalah mengikuti permainan CEO Winston. Kita menyusul ke Jakarta.”
“Mommy serius mau balik ke tempat itu? Tapi di sana sangat berbahaya!” ucap Lucky cemas.
Adara menunduk, mengusap kepala kedua putranya dengan tatapan penuh keyakinan.
“Selama kalian bersama Mommy, tidak akan ada yang berani menyentuh kita. Jangan takut pada siapa pun. Tunjukkan pada mereka, anak-anakku bukanlah orang yang mudah ditindas.”
Raut ragu di wajah Lucian dan Lucky seketika sirna, berganti dengan binar ketegasan.
“Baik, Mommy. Kami mengerti!”
“Bagus. Ayo kita pulang dan hubungi Nenek Rosa untuk menyusun strategi!”
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu