"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawasan Celine pada Calon Mama
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Hari ini kamu terus awasi Asyara.” Aksa berhenti di ambang kamar Celine, sambil memakai jam tangannya. “Laporkan semua kegiatannya pada papa. Jika ada yang aneh, seperti pusing atau mual langsung kabari papa, mengerti?”
Celine yang sedang menata rambutnya spontan berhenti, ia menoleh menatap Aksa bingung. “Hah? Ngawasin Asya? Ngapain pa? Asya mah udah besar, ngapain dijagain?”
“Lakukan saja Celine.”
Insting Celine langsung mengambil alih. Ia berdiri, menatap sang ayah dengan tatapan memicing curiga. Gadis itu melangkah memutari Aksa dengan tatapan yang menuntut. “Nggak, jelasin dulu sama aku. Kenapa papa suruh aku jagain Asya? Dia udah besar. Dan nggak perlu dijagain.”
“Celine—”
“Apa karena dia mahasiswa bimbingan papa?” tebak Celine.
Aksa menggeleng, “Bukan. Intinya lakukan saja apa yang papa perintahkan, jangan banyak bertanya.”
“Nggak bisa! Aku kepo! Ada hubungan apa papa sama Asya? Kenapa dia harus dijagain? Kenapa papa peduli?” tanya Celine beruntun, bibirnya mengerucut. Rasa ingin tahu di kepalanya seketika memuncak. “Pa, kenapa? Kasih tau aku.”
Aksa menghela nafas. Sifat keras kepalanya ternyata menurun dan justru semakin bertambah pada Celine. Ia menatap putri semata wayangnya itu serius. Menimang-nimang apakah ia harus mengatakan semuanya dengan sifat Celine yang gampang heboh begini?
“Janji terlebih dahulu, jangan ribut,” tegas Aksa.
Celine mengangguk tegas dengan membentuk dua jari di samping kepalanya. “Janji.”
Aksa menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuangnya pelan. Ia menatap Celine, menuntun putrinya itu duduk di tepi kasur gadis itu. “Sebelumnya papa minta maaf sama kamu. Papa tahu ini salah. Dan kamu boleh benci sama papa.”
Kening Celine mengerut mendengar hal itu. Dia bingung. Kenapa Aksa minta maaf? Kenapa dia harus membenci Aksa?
“Malam itu, di hotel, papa dan Asya terjebak dan kami melakukan hubungan itu.”
hening.
Celine terdiam. “A–apa?”
“Asya mabuk, dia terkena obat dan langsung memeluk papa. Dan, selanjutnya… kamu tau apa yang terjadi di antara kami,” jelas Aksa, “Papa sudah berniat untuk bertanggung jawab, tapi asyara menolak. Dia bilang dia tidak butuh tanggung jawab papa. Maka dari itu, kami membuat kesepakatan semalam.”
Aksa memegang tangan Celine. “Kalau dalam waktu dua bulan ini Asyara tidak hamil, maka dia ingin agar papa tidak menikahinya. Tapi jika sebaliknya, maka harus bertanggung jawab.”
Papa tidak bermaksud mengkhianati mama kamu, tapi—”
“Celine akan jaga Asyara,” potong Celine.
Celine mengulas senyum tipis. Gadis itu membalas genggaman tangan sang ayah. “Celine ngerti, pa. Dan Celine tau papa nggak bermaksud mengkhianati mama. Lagi pula… punya mama tiri dari sahabat sendiri, nggak terlalu buruk kayanya.” Celine tertawa kecil. “Papa jangan khawatir, Celine bakal jagain Asya… dan mungkin…dedek bayi—
—Kalau jadi,” bisik Celine terkekeh kecil.
Aksa mengulas senyum tipis. Ternyata ekspektasinya salah besar. Kenyataannya Celine bisa mengontrol diri dan tahu kapan dia harus bersikap. Ia membawa Celine ke dalam pelukannya. Mengusap surai putrinya itu sayang. Netranya menatap lurus ke depan. Senyum miring khasnya terbit. “Lihat bagaimana kamu akan mengelak, jika Celine sendiri yang mengawasi kamu Asyara.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Celine tertawa kecil di lorong kampus. Ia kembali mengingat cerita Aksa. Sedikit lucu rasanya, sahabatnya…akan menjadi ibu tirinya? Seorang Asyara yang galak, bar-bar dan pemberani itu akan menikah dan bersanding dengan papanya yang kaku?
Dan satu hal yang harus Celine akui. Ia sedikit lega. Setidaknya, ia sudah tahu baik-buruknya Asyara. Tidak seperti wanita-wanita yang datang dan mendekati papanya hanya demi harta dan status sosial. Di depan Aksa baik, namun jika bersamanya para wanita itu akan menunjukkan sifat asli mereka.
“Celine!”
Celine menoleh, mendapati Rayna yang berdiri melambai dengan senyum riang tak jauh darinya. Bukannya menghampiri, Rayna masih saja melambai membuat Celine menepuk jidatnya. “Sini! Ngapain masih di situ Ray!” gemas Celine.
Rayna berlari kecil. Gadis itu cengengesan menatap Rayna. Sangat berbeda jauh dari citra galaknya semalam dengan Raka. “Pagi Celine!!”
“Pagi, lo baru sampe Ray?” Rayna mengangguk kecil. Gadis itu masih tersenyum, membuat Celine menghela nafas.
Rayna Maharani Wijaya—putri bungsu keluarga wijaya. Polosnya? Jangan di tanya, galak memang…tapi kalau soal polos Rayna juaranya. Di keluarganya, Rayna adalah putri yang sangat dimanja dan disayang. Sejak bersama Celine dan Asyara-lah, dia baru sedikit berubah, meski… tetap polos.
“Di anter supir?” tanya Celine.
Rayna menggeleng. “Di anter abang. Aku–eh maksudnya gue, hari ini di anter sama bang Rayhan.
Celine mengangguk. Ia menatap Rayna. Smirk tipis. “Ray, mau bantuin gue nggak?”
“Bantuin ngapain?”
“Mulai hari ini kita jagain Asyara. Kita pantau semua kegiatannya. Apalagi dari si Raka-raka itu,” jawab Celine, “Gimana? Lo mau?”
“Jagain? Kenapa harus dijagain Cel? Asya kan udah besar, udah dewasa. Bisa jaga diri sendiri. Memangnya Asya anak kecil?” balas Rayna bingung, “Kamu–lo khawatir Asya diganggu Raka?”
Celine menghela nafas. Inilah dia Rayna yang sebenarnya. Cerewet dan banyak bertanya. Ia mengusap dadanya sabar. Memikirkan alasan apa yang harus berikan agar Rayna tidak bertanya lagi dan mau ikut dalam misi ‘Menjaga calon mamanya’.
“Ya… bener. Lo bener, kita jagain Asya dari Raka. Terus… terus dari Sena, iya. Soalnya mereka baru putus, ya kan? Takutnya Asya diganggu sama mereka? Gimana? Lo nggak kasian?”
“Heem, bener juga. Oke deh, gue mau!” balas Rayna ceria.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Lo pada kenapa sih? Gue cuma mau duduk kali, bukan mau jungkir balik!” kesal Asyara.
Sejak tadi, dua manusia freak ini sudah bersikap lain. Celine yang sibuk bertanya mengenai apakah hari ini Asyara ada merasakan sensasi ingin mual atau pusing. sementara Rayna, si polos tapi galak itu sibuk berjalan di depan memastikan tidak ada yang mengganggu Asyara.
Di sinilah mereka berada sekarang, kantin fakultas. Asyara duduk diapit oleh Celine di sebelah kanan dan Rayna di sebelah kiri. Bahkan Celine sudah memesan lebih dulu sebelum Asyara memesan.
“Stop. Kalian kenapa sih? Hari ini tuh kalian aneh banget! Gue ini bukan tahanan! Gue bisa jalan dengan bener dan gue nggak sakit!” tegas Asyara, “Jangan lebay, oke!”
Namun baru saja Asyara meneguk teh manisnya, ia tiba-tiba tersedak. “Uhuk..uhuk..”
“Lo mual? Pusing?”
“Yang mana yang sakit Sya? Kita ke dokter?”
Asyara menggeram kesal. “Celine! Rayna!”
“Kenapa?”
Asyara menutup wajahnya. Tertekan dengan kedua sahabatnya yang mendadak protektif padanya hari ini. “Gila. Semuanya gila.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...