Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 16
Adam, yang baru saja tiba di kantor perusahaannya dalam kondisi kepalanya hampir pecah, meremas kemudi mobilnya dengan kasar. Wajahnya yang pucat pasi memancarkan kekesalan mendalam. Tatapan dingin Angkasa, pria berkuasa yang baru saja campur tangan di lobi kantor tadi masih membayangi pikirannya, membuat keringat dingin tak henti menetes di pelipisnya.
Adam baru tahu kalau istrinya, Senja bekerja di prusahaan milik Angkasa. Selama ini dia memang tahu kalau Senja seorang Sarjana. Namun dia tidak tahu kalau Senja bisa bekerja di perusahaan sebesar ini dan bahkan dalam waktu tiga bulan dia bisa begitu di percaya oleh Angkasa.
"Sial... Aku tak pernah tahu kalau Senja memiliki kemampuan Analis yang cukup bagus hingga bisa bekerja di perusahaan Angkasa. Jika saja aku tahu maka aku akan memintanya bekerja di perusahaan!"
"Ah sial! Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu aku dan Senja bercerai? Apalagi selama ini mereka begitu menyukai Senja. Bahkan membenci Arum karena kejadian Arum yang meninggalkan aku saat kami akan menikah. Dan Senja sangat pintar mencari perhatian mereka semua! Bagaimana ini? Kenapa pula Arum malah nekad mengirimkan semua foto dan Video kami!"
Ponselnya kembali bergetar. Nama "Arum" tertera di layar. Saat menerima panggilan itu Arum terlihat kesal dan mengancamnya.
Dengan helaan napas berat dan perasaan amat malas, Adam menggeser tombol hijau lalu memutar arah mobilnya menuju apartemen Arum. Pria itu sudah tidak punya daya lagi untuk berdebat melalui telepon, namun rengekan manja wanita itu di seberang sana memaksanya untuk datang. Cinta Adam memang terlalu besar untuk Arum, walau dia juga mulai menyukai dan nyaman dengan Senja. Tapi, baginya Arum adalah cintanya, terlepas dari apapun yang terjadi pada Arum, dengan segala kekurangannya. Arum mengatakan dia pernah menjadi korban kekerasan sek-su-al. Makanya dia memutuskan untuk kabur karena takut Adam tak menerimanya. Itulah alasan yang di gunakan Arum saat mereka pertama kali berhubungan tiga bulan lalu.
Begitu pintu unit apartemen terbuka, Arum langsung menyambutnya dengan wajah ditekuk dan napas memburu.
"Kamu dari mana saja sih, Mas?! Kenapa teleponku tidak diangkat-angkat?" rengek Arum manja seraya berkacak pinggang, langsung menghadang Adam di depan pintu masuk.
"Aku sendirian di sini nungguin kamu! Jangan bilang kalau kamu khawatir karena wanita itu pergi dari rumah. Lagian kamu juga sudah mentalak dia kan?"
Adam melangkah masuk tanpa melepas sepatunya, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa kulit. Wajahnya kelam, tak ada sedikit pun kehangatan yang biasanya ia perlihatkan pada kekasih gelapnya itu. Kepalanya benar-benar pusing. Dari pagi dia bahkan tak fokus bekerja karena mencari tahu tempat bekerja Senja. Dia tak tahu apa-apa tentang Senja sedikitpun. Padahal dia sendiri yang mengajak Senja untuk menikah dengannya menggantikan Arum.
"Aku mencari Senja, aku harus bicara dengannya. Aku tak mau kalau orang tuaku tahu lebih dahulu masalah ini," potong Adam dingin dengan suara serak.
Arum membeku di tempat. Wajah cantiknya yang tadinya penuh tumpuan emosi mendadak berubah agak tegang, meski ia berusaha menutupinya dengan dengusan remeh.
"Apaan sih kamu, Mas! Jangan bilang kamu cinta sama dia!"
Adam tegak terduduk, menatap Arum dengan mata memerah menahan amarah yang menumpuk sejak siang tadi.
"Senja mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama hari ini! Dia membawa bukti lengkap!" desis Adam, suaranya bergetar menahan geram.
"Foto-foto kita di ranjang, video di dalam mobil... semuanya ada di tangan dia!"
Arum menyilangkan kakinya, berpura-pura santai seraya merapikan kuku-kukunya. Seolah ketakutan dan kekalutan yang di rasakan Adam saat ini tak ada artinya.
"Ya baguslah kalau begitu. Bukannya itu yang kita mau dari awal? Dia sadar diri dan pergi dari kehidupanmu tanpa perlu kamu yang minta? Lagian kenapa kamu malah ketakutan begitu? Keluarga kamu itu hanya kehasut aja sama dia, nanti juga mereka akan menyukai aku lagi seperti dulu. Udahlah, jangan terlalu memikirkan hal itu, sekarang kamu mending buat proses perceraiannya lebih cepa. Apalagi kamu juga sudah mentalak dia kan? Apa lagi yang kamu pusingin sih? Justru kita bisa lebih bebas kan? Tak perlu banyak alasan untuk cepat pulang!"
Adam mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bangkit berdiri, melangkah lebar mendekati Arum hingga wanita itu mundur satu langkah. Arum sangat egois, padahal selama ini dia mengatakan butuh waktu, apalagi kalau kedua orang tuanya tahu bagaimana cara dia menceraikan Senja. Karena mereka dari awal sudah mewanti-wanti dirinya saat memilih Senja.
"Kenapa kamu malah mengirim foto dan video itu ke dia, Arum?! Hah?!" bentak Adam, suaranya menggelegar di dalam ruangan apartemen yang sepi.
"Kamu pikir kamu cerdik?! Kamu menghancurkan semuanya!"
"Mas! Jaga bicaramu ya!" balas Arum berteriak, matanya menyalang.
"Aku capek dituntut jadi wanita tersembunyi! Kamu bilang pernikahanmu dengan Senja cuma formalitas! Tapi kamu tidak pernah berani ceraikan dia!"
"Aku butuh Senja untuk menjaga citraku di depan keluarga dan investor, Arum! Kamu tahu betul itu!" Adam mencengkeram kedua bahu Arum dengan kuat.
"Gara-gara ulah bodohmu mengirim bukti-bukti itu, Senja bawa dokumen itu ke kantor Pengadilan Agama! Dan tadi di lobi, Pak Angkasa, CEO besar tempat Senja bekerja sampai turun tangan mengambil amplop itu dari tanganku!"
Arum terhenyak. Pegangan tangan Adam di bahunya terlepas saat Arum terpaku mendengarkan nama yang tak asing baginya. Bagaimana mungkin Senja bekerja di kantor Angkasa? Jangan sampai Senja membocorkan semua fakta perselingkuhannya dengan Adam kepada Angkasa. Arum tiba-tiba ketakutan, dia tak mengira akan membuat semuanya kacau seperti ini.
"Maksudmu... Pak Angkasa?" bisik Arum, matanya membelalak kaget.
"Iya! Pak Angkasa!" seru Adam penuh nada putus asa.
"Dia bahkan mengancam akan membatalkan semua proyek investasi perusahaanku kalau aku membuat keributan di gedungnya! Sekarang perusahaanku terancam hancur, Arum! Kamu dan ulah implusifmu ini benar-benar menghancurkan hidupku! Aku harus bagaimana sekarang, Arum?"