Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:84.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.

Usai makan malam, Gultom duduk di ruang kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas yang dibawanya pulang. Di atas mejanya, kotak obat tersusun rapi.

Ninis masuk membawa segelas air putih. "Pak, sudah waktunya minum obat."

Gultom mengangguk. "Nanti."

Ninis meletakkan gelas di meja. "Akhir-akhir ini Nona terus yang mengingatkan Bapak minum obat."

"Iya." Gultom menjawab sambil membuka salah satu berkas.

Ninis tersenyum tipis. "Kalau begitu, biar saya saja yang urus obat Bapak kayak dulu."

Gultom mengangkat wajah.

Ninis buru-buru melanjutkan. "Nona sekarang sedang fokus olahraga dan mengatur pola makan. Saya takut kalau terlalu banyak mengurus Bapak, waktu istirahatnya malah kurang."

Ia tersenyum lembut. "Biar Nona fokus menurunkan berat badan. Urusan obat dan kebutuhan Bapak biar saya yang tangani."

Gultom belum sempat menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.

"Enggak perlu."

Ninis langsung menoleh.

Levia berdiri di ambang pintu. Tatapannya berpindah dari Ninis kepada ayahnya. "Aku bisa mengurus Ayahku sendiri."

Ninis tersenyum. "Aku cuma ingin bantuin, Nona."

"Aku tahu." Levia melangkah masuk. "Tapi ayahku biar jadi tanggung jawabku. Gak perlu ngerepotin kamu." Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup tegas.

Ninis terdiam.

Levia mengambil kotak obat di atas meja, lalu menyerahkannya kepada Gultom. "Obat yang ini diminum setelah makan."

Gultom menerima kotak itu. "Iya."

Levia kemudian menatap Ninis. "Kamu kerjain aja kerjaanmu."

Ninis menahan senyum. "Baik, Non." Ia menundukkan kepala. "Kalau begitu saya permisi."

Sebelum pergi, Ninis sempat melirik Gultom. Namun pria itu hanya mengangguk. Ninis pun keluar dan menutup pintu.

Begitu berada di lorong, senyum di wajahnya menghilang. "Levia bener-bener gak ngasih celah buatku."

Jarinya mengepal. Dulu Levia tidak pernah peduli dengan semua ini. Namun yang paling membuatnya kesal bukan ucapan Levia. Melainkan cara Gultom menerima perkataan putrinya tanpa membantah sedikit pun.

 

Di dalam ruang kerja, Gultom menatap putrinya. "Via."

"Iya, Yah?"

"Kamu ada masalah sama Ninis?"

Levia terdiam. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan muncul.

"Dulu kalian deket banget." Gultom mengernyit. "Tapi sejak kejadian di sungai kemarin... Ayah merasa hubungan kalian berubah."

Levia duduk di kursi di depan meja ayahnya. "Memang berubah."

Gultom mengangkat alisnya. "Kenapa?"

Levia menundukkan pandangan beberapa detik. "Karena aku baru sadar selama ini aku terlalu polos."

Gultom semakin bingung. "Maksud kamu?"

Levia menarik napas. "Ninis sebenarnya gak seperti yang selama ini aku kira."

Gultom mendengarkan.

"Dia memang selalu bicara lembut. Selalu terlihat peduli. Tapi justru itu yang membuat aku gak sadar kalau selama ini dia ngendaliin aku."

"Via..."

"Ayah ingat kenapa berat badanku terus naik?"

Gultom mengangguk perlahan. "Karena kamu suka makan."

"Itu benar." Levia tersenyum getir. "Tapi bukan cuma karena aku suka makan."

Ia mulai menceritakan semuanya. Tentang Ninis yang sering membawakan makanan manis. Tentang bagaimana setiap kali Levia berusaha diet, Ninis selalu mengatakan sedikit makanan tidak akan berpengaruh. Tentang minuman manis yang terus disodorkan.

Tentang bagaimana Ninis membuatnya merasa bahwa ia sedang dimanjakan, padahal kebiasaan itu justru membuat berat badannya semakin sulit turun.

Gultom mendengarkan tanpa menyela.

"Dan tadi..." lanjut Levia, "Ninis melakukan hal yang sama."

"Apa?"

"Dia bawain jus manis dan kue setelah aku olahraga."

Gultom mengerutkan kening.

"Dia bilang khawatir aku sakit karena terlalu keras berolahraga." Levia menatap ayahnya. "Tapi begitu aku nolak makanannya, dia malah datang ke sini dan ngomong hal yang sama pada Ayah."

Gultom terdiam. Perlahan, ekspresinya berubah, seolah ada sesuatu yang mulai ia hubungkan.

Levia melanjutkan. "Masih ada lagi."

"Apa?"

"Vandra."

Ekspresi Gultom langsung serius.

"Selama ini aku selalu berpikir semua ide buruk yang kulakukan terhadap Vandra berasal dari kepalaku sendiri." Levia menghela napas. "Ternyata gak semuanya. Beberapa saran Ninis yang mengarah ke sana."

"Seperti apa?"

"Dia yang nyaranin aku bertingkah posesif kalau Vandra deket sama perempuan lain." Levia menelan ludah. "Dia juga yang nyaranin aku mengancam bunuh diri tiap kali Vandra mau nyeraiin aku."

Mata Gultom melebar.

"Dan soal menjebak Vandra sampai akhirnya kami menikah..." Levia menggeleng pelan. "Itu juga bukan sepenuhnya ideku."

Ruangan mendadak terasa berat.

Gultom bersandar pada kursinya. "Jadi selama ini... Ninis yang memengaruhi kamu?"

Levia mengangguk. "Aku gak mau bilang semua kesalahanku adalah karena Ninis." Ia menatap ayahnya dengan jujur penuh kejujuran. "Aku tetep salah karena aku yang milih ngelakuin semuanya. Tapi sekarang setelah mengingat kembali satu per satu..."

Levia menarik napas. "...aku baru sadar betapa seringnya dia ngarahin aku ke keputusan yang akhirnya bikin hidupku makin buruk."

Gultom tidak langsung menjawab. Matanya jatuh pada meja kerjanya. Bertahun-tahun ia menganggap Ninis sebagai gadis yang baik.

Putri dari keluarga yang bekerja untuk mereka. Gadis yang selalu memperhatikan kesehatan dirinya, mengingatkan minum obat. Gadis yang selalu ada ketika Levia sibuk dengan urusannya sendiri.

Namun sekarang...

Semua kenangan itu terasa berbeda. Bukan karena tiba-tiba semuanya terbukti sebagai kebohongan. Melainkan karena untuk pertama kalinya Gultom mulai melihat kemungkinan bahwa perhatian Ninis selama ini memiliki maksud lain.

"Kenapa kamu baru cerita sekarang?"

Levia tersenyum kecil. "Karena aku baru menyadarinya sekarang." Ia menggenggam tangan ayahnya. "Dulu aku terlalu percaya."

Gultom mengusap tangan putrinya. "Dan Ayah juga terlalu percaya."

Levia menggeleng. "Jangan salahkan diri sendiri."

Gultom mengangkat wajah. "Ayah cuma terlalu sibuk melihat Ninis sebagai anak baik sampai gak sadar ada orang lain yang sedang memengaruhi putri Ayah."

Gultom kemudian menggenggam tangan putrinya. "Mulai sekarang, kalau ada sesuatu yang membuat kamu gak nyaman, bilang sama Ayah."

"Iya."

"Jangan simpan sendiri."

Levia mengangguk. "Iya, Yah."

Gultom menatap pintu yang tadi dilewati Ninis. Kali ini tatapannya tidak lagi sama. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan gadis yang selama ini begitu ia percaya.

Dan tanpa mereka sadari...

Di balik pintu yang tidak tertutup sempurna, seseorang berdiri beberapa meter dari sana.

Ninis.

Ia tidak mendengar seluruh percakapan. Namun beberapa potongan kalimat berhasil sampai ke telinganya.

"Ninis yang memengaruhi aku."

Langkah Ninis terhenti. Wajahnya perlahan berubah.

"Levia sudah tahu?"

Tangannya mengepal. "Kalau Pak Gultom sampai tahu semuanya... posisiku di rumah ini akan benar-benar berakhir."

 

...✨“Tidak semua orang yang selalu berada di sisi kita benar-benar berdiri untuk kita. Ada yang mendekat hanya agar lebih mudah mengarahkan langkah kita ke tempat yang mereka inginkan.”...

...“Kesalahan tetap menjadi tanggung jawab orang yang memilihnya, tetapi bukan berarti ia harus selamanya buta terhadap tangan yang selama ini diam-diam mengarahkannya.”✨...

.

To be continued

1
Septi Wijaya
status nya blm cere kan ya .. harusnya jgn bawa lelaki ke rumah...
Ma Em
Vandra hatinya sdh senang karena surat cerai blm di tanda tangan oleh Levia tapi Levia malah bilang kalau Vandra mau mengambil surat cerainya .
Uthie
selalu dibikin nagih terus baca kisah cerita mereka 😁👍👍
Ass Yfa
ya ampun..nyesek bngt..pulang jerumah istri yg buka pintu orang luar...maksutnya gimana..kalo Vandra nggk bisa mengelola emosi jelas mencak2,,,Via juga buasa aja...dia bukan Levia...mssalahnya dia Viviana..jadi rasa cinta iti tak pernah ada😭😭
Ass Yfa
ribet bngt sih Van..cintamu
Ass Yfa
kenapa harus Risa yg nelpon...berharap Levia....harusnya tiap kali Risa nrlpon tdk usah diangjt diabaikan saja...ters meners ngasih harapan ke Risa...Vandra sendiri tdk tegas
Anitha
Van jangan biarkan Levia tanda tangan surat cerai itu, ayo kamu ngomong jangan kelu gitu di depan Via...buktikan kalo kamu mesih mencintai Levia dan menginginkannya💪
mery harwati
Ini minum kopi online dulu lah pagi², agar kalian (Vandra, Andri & Levia) gak salah paham lagi, apapun akhir cerita ini, mau berpisah baik² mencari pasangan hidup masing² silahkan, mau dilanjut sebagai suami istri terserah, karena author yang punya alur ceritanya 😍
Wardi's
beuh berat vandra... berat..., hayo loh mau jawab apa .. mo ngomong apa..., jangan malu., akuin aja klo kamu mau batalin perceraian itu...
mery harwati
Sengaja alurnya dibuat Andri yang buka pintu saat Vandra berkunjung ke rumah Pak Gultom mertua Vandra, padahal ada Bu Sari ART di rumah Pak Gultom 😀
Apa iya Andri Mahesa sebagai tamu sekaligus rekan bisnis Brenda malah yang membukakan pintu saat ada tamu di rumah Pak Gultom? Sedangkan posisi Andri sendiri juga tamu 😂
Dan Pak Gultom sebagai tuan rumah tidak memperkenalkan Andri pada Vandra, kesannya dibuat agar salah paham antara Vandra, Andri & Levia 🤭
Anitha
setahun bertugas dan baru pulang ingin menemui istrinya,dan sampai rumah di sambut dengan adanya Andri yang nginep du rumah Levia...

panggilan kak Andri membuat Vandra membeku😄
Wardi's
pasti nyess bgt rasanya ya vandra.., yg sabar ya., anggap aja ujian atas perbuatanmu selama ini.. msh berhubungan sama risa pdhl blm cerai..
Wardi's
omegat gmn tuh rasanya vandra..., disaat sdh mulai menerima levia., tp ada pria lain yg nginap dirumahnya .
aku
terkesan plin plan. kmren bandingin sm si onoh yg bergelar dokter. klo skrg d blg ke via jd mkirnya org pasti krn via lbh sukses. 😌
Wardi's
nah loh.... pagi2 vandra d kejutkan ada andri nginep d rumah levia...
Anitha
kejutan untuk Vandra di saat pulang ke rumah Levia di sambut dengsn adanya Andrii yang nginep di rumah Levia...kamu jangan salah paham dulu ya Van..bersikaplah dengan bijak
asih
gimana reaksi vandra Nanti ketika DIA datang ke rumah via dan ternyata disana Ada andri hahaha
Ma Em
Apakah Levia akan kembali pada Vandra atau berjodoh dgn Andri Mahesa .
Kadek Sri
wah Vandra akan bertemu Levia
Puji Hastuti
jeng jeng jeng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!