Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Lele Kuning Tanpa Tulang
"Ayo masuk atuh ke dalam... kalian pasti capek, kan? Perjalanan Jakarta-Sukabumi mah jauhnya sudah kayak nunggu kepastian dari mantan yang ternyata sudah sebar undangan nikah duluan," ajak Mimih ramah sambil terkekeh.
Setelah Reno menyalami tangan Mimih sampai menempelkannya ke dahi—demi mendapatkan restu dan siapa tahu bonus uang jajan—mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah panggung kayu yang terasa sangat adem itu.
Di ruang tamu, Apih Supardi sudah duduk manis di atas kursi rotan tua sambil menghisap cerutu kesayangannya. Gaya sang kakek sudah persis seperti bos mafia Italia versi kearifan lokal yang sedang menunggu laporan setoran bulanan dari anak buahnya di pasar induk.
"Apih..."
Reno segera menyalami tangan sang kakek dengan takzim. Ia berusaha menegakkan punggungnya, mencoba terlihat seperti seorang cucu berbakti yang punya masa depan cerah bersinar.
Apih Supardi menyimpan cerutunya di asbak, lalu menatap Reno tajam dari balik kepulan asap. "Gimana kabar kamu, Ren? Masih konsisten jadi beban keluarga?"
Reno langsung menyunggingkan cengiran kuda, mengeluarkan jurus andalannya: muka polos tanpa dosa. "Kalau fisik Reno Alhamdulillah sehat walafiat, Pih. Tapi... soal dompet ini, Reno lagi kena penyakit 'Kangker', Pih. Kantong Kering kronis stadium akhir. Sudah butuh donor saldo atau suntikan dana bansos secepatnya."
Apih menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Beliau meratapi nasib cucunya yang ketampanannya setinggi langit, tapi isi dompetnya sedalam Palung Mariana alias kosong melompong.
"Memangnya kamu masih belum dapat kerjaan juga sampai sekarang?"
"Belum, Pak! Dia mah masih setia jadi Pejabat, Pengangguran Jakarta Barat! Disuruh cari lowongan kerja di internet, malah lebih milih latihan rebahan gaya bebas di kasur sambil nungguin warisan turun!" sahut Rika cepat dengan nada mencibir yang luar biasa pedas.
Kalimat itu sukses memotong jalur Reno yang sebenarnya sudah siap-siap mau menyusun alasan kreatif bin halusinasi.
Reno hanya bisa memberengut kesal dengan bibir dimajukan lima senti. Rasanya jika bisa, ia ingin sekali mengirimkan surat pengunduran diri sebagai anak kandung Rika detik itu juga.
"Sudahlah Ren, yang sabar... Dunia ini memang keras, apalagi kalau isinya cuma Emak kamu doang," bela Mimih Ratih yang tidak tega melihat cucu kesayangannya di-roasting habis-habisan oleh ibunya sendiri sampai gosong.
"Iya, mendingan kalian berdua istirahat dulu sana ke atas!" perintah Apih Supardi.
Beliau merasa kasihan melihat Reno yang wujudnya sudah terlihat lelah lahir batin akibat menghadapi kenyataan hidup dan mulut pedas ibunya sendiri.
Mereka berdua kemudian menaiki tangga menuju lantai dua. Rika masuk ke dalam kamar lamanya, sementara Reno menempati kamar mendiang bibinya yang bernama Rita.
Kamar ini sebenarnya punya aura melankolis yang agak mencekam karena kenangan kelam masa lalu. Namun, bagi Reno yang tingkat mengantuknya sudah di ambang batas wajar, aura kasur kapuk yang empuk jauh lebih kuat dan magnetis daripada aura mistis mana pun di dunia ini. Reno langsung ambruk dan terkapar.
****
Waktu berlalu secepat kuota data internet yang habis akibat dipakai menonton video YouTube kualitas 4K. Jam dinding usang di ruang tengah kini sudah menunjukkan pukul dua siang.
Reno mendadak terbangun dari tidurnya. Tubuhnya gemetar dan dibanjiri keringat dingin. Bukan karena ia baru saja mendapat mimpi buruk bertemu mantan kekasih, melainkan karena isi perutnya mendadak melakukan aksi demo anarkis massal.
Rasa mulas yang luar biasa hebat memilin-milin lambungnya. Tanpa pikir panjang, Reno langsung melakukan lari maraton menuruni tangga kayu menuju ke arah dapur, tempat di mana satu-satunya kamar mandi di rumah itu berada.
"Lagi ngapain, Mih?" tanya Reno sambil meringis menahan sakit.
Wajah tampannya kini sudah pucat pasi, menahan gejolak dahsyat di dalam perutnya yang sudah berada di level Super Saiyan Blue.
"Oh, ini... Mimih lagi mau bikin bakwan jagung buat camilan sore kita nanti," jawab Mimih dengan santai sambil asyik mengaduk adonan tepung di dalam baskom.
Reno mengangguk lemas sambil kedua tangannya memegangi perut bagian bawah. "Mama di mana, Mih? Reno buru-buru banget nih, darurat!"
"Mama kamu baru aja masuk ke kamar mandi itu. Katanya dia mau simulasi jadi putri duyung. Kalau mandi pasti lama banget, sampai sisiknya tumbuh baru dia keluar."
Mata Reno langsung melotot sempurna. "Aduh, gawat kuadrat, Mih! Reno sudah nggak kuat lagi! Ini muatannya sudah sampai di depan pintu gerbang, sebentar lagi mau jebol!"
Mimih Ratih seketika ikut panik setelah melihat warna wajah cucunya yang perlahan-lahan berubah drastis menjadi hijau lumut busuk.
"Waduh... kalau kamu nunggu Mama kamu keluar mah, keburu 'meledak' di celana dan bikin polusi udara skala nasional di rumah ini, Ren!"
"Terus Reno harus gimana dong, Mih? Masa Reno harus pasrah pada takdir?"
"Kamu pergi buang airnya di sungai belakang rumah aja, Ren! Di sana lebih natural, mengusung konsep back to nature. Udaranya sangat segar, pemandangannya juga indah estetis!" saran Mimih dengan wajah polos tanpa beban seolah tanpa dosa.
Reno seketika ternganga lebar. "Hah?! Boker di sungai? Gila aja, Mih! Visual selevel Yeonjun begini masa harus nongkrong jinjit di pinggir kali kayak adegan di film-film zaman penjajahan Belanda? Kalau ada warga yang lihat gimana? Reputasi Reno sebagai cowok keren di media sosial bakal tamat dan hancur!"
"Gak usah gengsi dan malu, Ren! Jam-jam segini mah warga desa lagi pada sibuk kerja di kebun atas. Paling cuma ikan-ikan di air yang lihat. Anggap aja kamu lagi memberikan bantuan pangan gratis tanpa pungutan biaya buat ekosistem ikan di sana," rayu Mimih meyakinkan.
Karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi dan terus melakukan tendangan penalti bertubi-tubi, Reno akhirnya menyerah kalah pada keadaan.
Dengan langkah seribu dan kecepatan penuh, ia berlari kencang ke arah belakang rumah menuju ke tepian sungai.
"Apes banget dah ah... mimpi apa gue semalam bisa sampai terdampar dan boker di sungai begini," gerutunya kesal.
Sambil menengok ke kanan dan kiri, ia melorotkan celana jogger-nya dan segera mengambil posisi berjongkok di balik semak-semak lebat di pinggir sungai.
Reno akhirnya menuntaskan panggilan alam tersebut dengan perasaan yang campur aduk antara lega luar biasa, sekaligus merasa hina sehina-hinanya sebagai manusia modern.
Namun nahas, Reno tidak menyadari satu hal. Sekitar 20 meter di arah hilir sungai, seorang pemuda lokal bernama Hengki sedang duduk diam di atas batu kali.
Hengki punya ciri fisik berkulit gelap hasil tanning matahari alami, rambut keriting padat, dan tingkat kesabaran setebal kamus bahasa asing. Tangan kanannya sedang memegang joran pancing dengan penuh harapan.
"Ck! Ini ikan-ikan pada mudik ke laut apa gimana ya? Dari pagi buta sampai siang begini nggak ada satu pun yang nyangkut di umpan," keluh Hengki sendirian.
Ia sebenarnya tadi berniat memasang 'Bubu' (perangkap ikan tradisional), tetapi malah tergoda untuk memancing santai terlebih dahulu.
Tiba-tiba, ujung joran pancing milik Hengki melengkung hebat ke bawah! Hampir saja patah menjadi dua bagian.
"Alhamdulillah! Akhirnya! Ini tarikannya berat banget, pasti Ikan Kakap Monster penunggu sungai ini!" seru Hengki kegirangan dengan mata berbinar.
Ia mulai menggulung reel pancingnya dengan semangat membara yang membumbung tinggi. Sensasi beratnya sungguh meyakinkan, rasanya persis seperti sedang menarik beban hidup yang tak kunjung usai.
Namun, begitu benda misterius yang mengait di ujung benang itu terangkat dan muncul ke permukaan air...
Hengki mendadak terdiam seribu bahasa. Matanya membelalak lebar, hampir saja copot dari rongganya. Bukan kilauan sisik perak indah yang ia lihat, melainkan sebuah benda berbentuk memanjang berwarna kuning kecokelatan yang menempel dengan sangat estetik, artistik, dan dramatis di mata kailnya.
"Kurang asem beneran..." gumam Hengki dengan ekspresi wajah yang mendadak rata dan kaku kayak aspal jalan tol.
"Kirain teh dapet ikan kakap piala presiden, eh... ternyata malah dapet Lele Kuning Tanpa Tulang yang nyangkut di kail. Siapa sih manusia biadab yang ngirim paket 'bom' organik sembarangan jam segini?!"