Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Pernikahan Pura-Pura, Kata Siapa?

Pagi datang dengan kabut tebal dan percakapan yang tak bisa dihindari.

Anindya turun ke ruang keluarga sebelum pukul tujuh. Wajahnya pucat, matanya sembap. Pisau buah sudah tidak ada, tetapi bayangan darah di karpet masih mengikutinya.

Wisnu menunggu sendirian dengan dua cangkir teh.

"Arya di mana?" tanya Anindya.

"Di bangunan penerima. Perawat mengganti perbannya satu jam lalu. Enam jahitan, tidak mengenai tendon."

Anindya menutup mata sesaat. "Saya melukainya."

"Kau sedang panik."

"Itu bukan alasan."

"Bukan. Tapi juga bukan alasan untuk menghukum diri tanpa mencari pertolongan."

Wisnu mendorong teh ke arahnya. Ia tidak bertanya apa yang terjadi pada masa lalu. Sikap itu membuat Anindya mengerti dari mana Arya belajar menahan pertanyaan.

"Dia tidak marah?" tanyanya.

"Arya lebih sering marah pada dirinya sendiri daripada orang yang ia lindungi. Itu kebiasaan buruk sejak kecil."

Anindya mengangkat kepala.

Wisnu memandang kabut di luar jendela. "Ia lahir di luar pernikahan. Banyak orang di keluarga menganggap keberadaannya kesalahan. Ketika masih kecil, setiap kali bicara terlalu keras atau bertanya tentang ibunya, hukuman datang. Eyang dulu jauh lebih keras daripada sekarang."

"Hukuman seperti apa?"

"Bentakan. Pukulan. Dikunci di kamar. Cukup untuk mengajarinya menyembunyikan pikiran di balik wajah bodoh."

Jari Anindya mengencang di cangkir. "Dan Anda membiarkan?"

Wisnu menerima tuduhan itu tanpa membela diri. "Saya gagal berada di sisinya. Itu utang yang tidak bisa dibayar dengan kartu atau saham."

"Tadi malam dia sengaja bicara karena mabuk?"

"Tidak. Ia hanya memakai anggur sebagai tameng agar keluarga menganggapnya ceroboh. Isi kalimatnya sadar. Arya sudah terlalu lama menahan hak untuk bersuara."

Suara langkah datang dari koridor. Arya masuk dengan lengan kiri dibalut perban bersih. Ia berhenti ketika melihat Anindya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

Anindya berdiri. "Seharusnya saya yang bertanya."

"Saya masih punya dua tangan."

"Arya, tentang semalam..."

"Nanti."

Nada suaranya tidak menolak, hanya memindahkan percakapan ke waktu yang lebih aman.

Pintu utama terbuka. Eyang Hardiman masuk ditemani kepala rumah tangga. Di belakangnya, dua anggota keluarga membawa kabar yang tampaknya sudah beredar: Arya tidur terpisah pada malam pertemuan keluarga.

"Duduk," kata Eyang.

Tak seorang pun membantah.

Eyang memandang perban Arya. "Apa yang terjadi?"

"Tergores saat memindahkan barang," jawab Arya.

"Di kamar pengantin?"

Arya tidak menjawab.

Tatapan Eyang beralih kepada Anindya. "Kalian tinggal terpisah sejak menikah. Semalam cucu saya keluar dari kamar dengan darah di lengan. Saya ingin jawaban jujur. Apakah pernikahan ini hanya pura-pura?"

Udara di ruang keluarga menegang.

Jika kontrak tiga tahun terbuka, Ratri dapat memakai isu itu untuk menggugat legitimasi perwalian saham dan menekan PE. Anindya membuka mulut, tetapi Wisnu lebih dulu bicara.

"Tidak, Bapak."

Eyang menatap putranya. "Saya tidak bertanya kepadamu."

"Tapi saya yang mengatur pertemuan mereka. Arya dan Anindya sudah dijodohkan secara keluarga sejak beberapa tahun lalu. Kasus Bramantyo hanya mempercepat jadwal."

Anindya menahan ekspresi. Kebohongan itu disampaikan Wisnu tanpa satu jeda.

"Kenapa tidak pernah dibicarakan?" tanya Eyang.

"Karena Arya menolak pulang, dan Anindya fokus membangun PE. Kami menunggu sampai keduanya siap."

"Mereka tampak sangat tidak siap."

"Pernikahan muda mana yang langsung rapi?"

Eyang menatap cincin di tangan Anindya. "Kalau perjodohan itu lama, mengapa keluarga Prawira tidak pernah mengirim pemberitahuan kepada saya?"

Wisnu belum sempat menjawab ketika Anindya berkata, "Karena saya yang meminta hubungan itu tidak diumumkan."

Semua mata beralih kepadanya.

"Karier saya dibangun di industri yang hidup dari gosip," lanjut Anindya. "Begitu nama Adiwangsa dikaitkan dengan saya, setiap keberhasilan akan dianggap hadiah keluarga. Saya ingin PE berdiri dengan hasil sendiri."

Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi cukup dekat dengan wataknya hingga terdengar meyakinkan.

Eyang mengetuk kepala tongkat. "Dan sekarang?"

"Sekarang pernikahan telah tercatat. Saya tidak menyembunyikannya. Tetapi urusan kamar tetap bukan bahan rapat keluarga."

Arya meliriknya. Kalimat terakhir sangat berani untuk ditujukan kepada Eyang, sekaligus tepat. Anindya tidak hanya mengikuti kebohongan Wisnu; ia memberi kebohongan itu tulang dan alasan yang bisa bertahan.

Senyum kecil muncul di wajah Eyang. "Setidaknya pilihan Wisnu tidak mudah ditekan."

Eyang menoleh kepada Arya. "Benar?"

Arya mengangkat lengan yang sehat. "Kalau saya bilang kami sangat mesra, Eyang juga tidak akan percaya."

"Jawab."

"Kami menikah secara sah. Kami sedang belajar hidup bersama. Tidak ada pihak lain yang berhak mengatur isi kamar kami."

Anindya ikut bicara. "Saya memilih menjalankan pernikahan ini, Eyang. Masalah semalam adalah urusan pribadi kami dan tidak mengubah komitmen hukum atau tanggung jawab terhadap PE."

Jawaban mereka tidak mengaku cinta, tetapi cukup seragam untuk menutup celah.

Eyang menyandarkan tongkat. "Kalau begitu berhenti membuat keluarga bergosip. Arya, kendalikan sifatmu. Anindya, jangan biarkan suamimu berkeliaran seperti bujangan. Saya ingin mendengar kabar cicit sebelum rambut saya habis memutih."

Anindya menunduk agar wajahnya tidak terlihat. Arya batuk kecil.

Eyang melanjutkan, "Dulu satu perempuan sudah membuat rumah ini kacau karena Wisnu bersikeras membawanya masuk. Saya melarang, dan akibatnya tetap panjang sampai hari ini. Saya tidak ingin sejarah berulang."

Wisnu membeku. Jari yang memegang cangkir berhenti.

"Bapak tidak perlu membawa masa lalu ke sini," katanya.

Nada Eyang mendadak dingin. "Masa lalu masuk sendiri ketika anakmu kembali."

Hanya sesaat. Kemudian ia berdiri dan wajah kakek yang tenang kembali. "Sarapanlah. Saya tidak mau persoalan ini dibahas orang luar."

Setelah Eyang pergi, Wisnu juga meninggalkan ruangan tanpa menyentuh tehnya. Arya memandang punggungnya, menyimpan perubahan kecil tadi.

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, Bara menyetir. Arya duduk di belakang bersama Anindya. Perban di lengannya terlihat di bawah lengan kemeja yang digulung.

"Saya akan mengganti biaya perawatan," kata Anindya.

"Perusahaan asuransi pernikahan kita belum ada."

"Jangan bercanda. Kita perlu bicara dengan dokter. Bukan hanya saya. Anda juga seharusnya marah."

"Saya marah pada diri sendiri karena bergerak tanpa izin."

"Anda tidak tahu."

"Sekarang saya tahu. Itu cukup untuk mengubah tindakan berikutnya."

Anindya menatap tangannya. "Kita ini hanya pasangan di atas kertas. Tidak layak Anda melindungi saya seperti tadi malam."

Arya melihat hujan tipis di jendela. "Kamu berdiri di depan Bu Wulan untuk saya. Kamu membela saya di meja keluarga. Kalau saya pergi saat kamu ketakutan, itu bukan batas. Itu pengecut."

"Tetap saja semuanya palsu."

Mobil hening beberapa saat. Bara fokus ke jalan dan tidak sekali pun melihat kaca spion.

Arya akhirnya berkata, "Siapa yang bilang palsu?"

Anindya menoleh.

Namun Arya tetap memandang keluar jendela, seolah kalimat itu tidak baru saja mengubah udara di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!