Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Hari-hari setelah percakapan dengan Haris berjalan sedikit berbeda bagi Indri. Ia masih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dokter memintanya mengurangi aktivitas, sementara Haris terus memastikan putrinya tidak memaksakan diri.
Namun bukan hanya Haris yang berubah. Cinta mulai memberikan perhatian lebih kepada Indri. Sejak mendengar percakapan Indri dan Haris beberapa hari sebelumnya, Cinta akhirnya mengetahui rahasia yang selama ini disimpan adiknya.
Indri sedang mengandung anak Evan. Dan kehamilan itu bukan berawal dari kisah cinta yang sederhana. Ada dendam. Ada luka. Ada masa lalu yang belum selesai.
Cinta tidak pernah menyangka kehidupan Indri menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah terlihat dari luar. Namun sebagai seorang wanita yang pernah merasakan kehamilan dan melahirkan, Cinta tahu satu hal. Indri membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa aman, bukan seseorang yang terus mengingatkan kesalahannya.
Karena itu, Cinta tidak banyak bertanya. Ia justru mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Pagi itu, Indri baru saja duduk di meja makan ketika Cinta meletakkan semangkuk bubur di hadapannya.
“Ini apa?” tanya Indri.
“Bubur Ayam.”
Indri menatap kakaknya dengan heran. “Kakak tumben buatin aku bubur.”
Cinta duduk di seberangnya. “Kondisi badan kamu masih belum sepenuhnya pulih. Disamping itu Ibu hamil juga butuh asupan yang tinggi, dan mungkin bubur ayam ini bisa sedikit meredakan rasa tidak enak diperutmu.”
Indri langsung terdiam. Tangannya yang hendak mengambil sendok berhenti di udara. “Kakak... sudah tahu?”
Cinta mengangguk. “Sudah.”
“Sejak kapan?”
“Aku tidak sengaja mendengar percakapan kamu dengan Papa.”
Wajah Indri berubah. Ia menundukkan kepala. “Maaf.”
Cinta mengernyit. “Kenapa minta maaf?”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya dari Kakak.”
“Aku tahu.” Cinta tersenyum lembut.
Indri menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
Cinta mengambil sendok. Meletakkan di dalam mangkuk lalu mendorong mangkuk itu sedikit lebih dekat dihadapan Indri. “Makanlah. Tidak usah banyak berpikir. Sekarang yang terpenting adalah kondisi kamu dan bayimu baik-baik saja.”
Indri tertawa kecil di tengah rasa harunya. “Kakak seperti Papa.”
“Memang harus begitu.” Cinta tersenyum. “Dulu waktu aku hamil Brian, aku juga tidak selalu tahu apa yang tubuhku butuhkan. Kadang ingin makanan tertentu, kadang tidak tahan dengan bau tertentu, kadang tiba-tiba sedih tanpa alasan.”
Indri hanya mendengarkan.
Cinta kemudian menyentuh tangan Indri. “Yang penting sekarang, kamu jangan terlalu banyak memikirkan masalah.”
Indri menunduk. “Sulit.”
“Aku tahu.” Cinta tidak memaksa. “Makanya biarkan kami yang membantumu.”
Air mata Indri jatuh. “Kak...”
Cinta memeluknya. “Tidak usah menangis.”
“Aku merasa bersalah. Aku sudah membuat banyak kesalahan.”
“Semua orang pernah salah.”
“Tapi—”
“Indri.” Cinta menatap matanya. “Anakmu tidak bersalah.” Kalimat itu membuat Indri terdiam. “Jangan biarkan kesalahan orang dewasa membuatmu mengambil keputusan yang akan kamu sesali.”
Indri memejamkan mata. Ia tahu Cinta benar.
Sejak hari itu, perhatian Cinta semakin terasa. Ia mulai mengatur makanan Indri. Ketika mengetahui adiknya tidak menyukai makanan tertentu, Cinta menggantinya dengan makanan yang lebih ringan. Ketika Indri terlihat murung, Cinta mengajaknya berbicara.
Bahkan Laura kecil sering dilibatkan untuk membuat suasana rumah lebih menyenangkan.
“Tante, ayo main!” Laura kecil menarik tangan Indri.
“Main apa?”
“Masak-masakan.”
Indri tersenyum. “Baiklah.”
Mereka kemudian duduk di lantai. Laura kecil memberikan mainan piring dan gelas.
“Tante harus makan.”
Indri pura-pura menyuapkan makanan mainan. “Enak.”
Laura kecil tertawa. Cinta yang melihat dari sofa ikut tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Indri merasa rumah itu kembali menjadi tempat yang menenangkan. Namun di balik perhatian tersebut, rasa bersalah tetap tinggal.
Setiap kali Cinta memberinya makanan, Indri teringat bahwa kakaknya tidak tahu seluruh kebenaran. Cinta tidak tahu bahwa Indri pernah merencanakan kematian Evan.
Cinta hanya tahu tentang dendam Evan dan kehamilan yang terjadi di tengah hubungan penuh luka tersebut. Indri belum sanggup menceritakan semuanya.
***
Beberapa hari kemudian...
Bel rumah berbunyi.
Cinta yang sedang berada di dapur segera membuka pintu.
Ia mengernyit melihat seorang laki-laki asing berdiri di depan rumah.
“Maaf, Anda cari siapa?”
Laki-laki itu tersenyum sopan. “Maaf mengganggu. Saya Riko, karyawan di Haris Group.”
“Oh, ada keperluan apa, ya?”
“Saya ingin menjenguk Bu Indri. Bagaimana keadaannya sekarang?”
Cinta memandangnya sejenak.
“Indri sudah cukup baik, tapi masih butuh istirahat. Dia ada di ruang tengah. Silahkan masuk.”
“Terima kasih.” Riko masuk.
Indri yang sedang duduk membaca buku langsung terkejut melihatnya. “Riko?”
“Sudah beberapa hari Ibu tidak masuk kantor.” Riko duduk setelah dipersilakan. “Saya khawatir.”
Indri tersenyum kecil. “Aku hanya perlu istirahat.”
Riko menatapnya. Ia terdiam beberapa saat, kemudian pandangannya turun sesaat ke arah perut Indri. “Saya boleh bertanya sesuatu?”
Indri menatapnya. “Mau tanya apa?”
“Siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas kehamilan Bu Indri?”
Suasana mendadak hening. Indri mengalihkan pandangan. “Maaf, aku tidak bisa menjawab.”
Riko mengangguk. “Saya mengerti.” Namun dari ekspresinya, jelas ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Riko menatap Indri lebih lama. “Apakah dia meninggalkan Ibu?”
Indri tetap diam. Tapi Riko tidak mau menyerah.
“Apakah dia tidak mau bertanggung jawab?”
Indri menggigit bibir. “Riko, aku tidak ingin membicarakan masalah pribadi.”
“Baik.” Riko menarik napas. “Saya tidak akan memaksa.” Ia menunduk sejenak. Namun kemudian mengangkat wajah.
“Kalau begitu, izinkan saya mengatakan sesuatu.”
Indri menatapnya.
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Riko berbicara perlahan. “Saya juga tidak tahu siapa ayah bayi itu.”
Indri masih diam.
“Tapi saya tahu Ibu sedang menghadapi sesuatu yang berat.” Riko menggenggam kedua tangannya. “Kalau Ibu membutuhkan seseorang yang berdiri di samping Ibu, saya bersedia.”
Indri mengernyit. “Maksudmu?”
Riko menarik napas dalam. “Saya bersedia menjadi ayah untuk bayi itu.”
Indri membeku.
“Saya tahu tawaran ini tiba-tiba.”
“Riko, kamu tahu apa yang kamu katakan?”
“Saya tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.” Nada suara Indri meninggi. “Kamu bahkan tidak tahu siapa ayah kandung anak ini.”
“Saya tidak perlu tahu untuk membantu Ibu.”
Indri menatapnya tak percaya.
Riko melanjutkan dengan tenang. “Saya tidak meminta Ibu mencintai saya. Saya juga tidak meminta Ibu melupakan masa lalu. Saya hanya tidak ingin melihat Ibu menghadapi semuanya sendirian.”
Indri menelan ludah. Dadanya berdebar. Tawaran itu terlalu besar. Terlalu tiba-tiba. Dan terlalu sulit diterima. “Kenapa kamu mau melakukan itu?”
Riko menatap Indri. “Karena saya peduli kepada Ibu.”
Indri tidak mampu menjawab.
Cinta yang sejak tadi berada di dapur tidak sengaja mendengar sebagian percakapan itu. Ia berhenti melangkah. Namun tidak masuk. Ia memilih memberikan ruang kepada keduanya.
Di ruang tengah, Indri masih terpaku. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan seseorang akan menawarkan diri untuk menjadi ayah bagi anak yang bahkan bukan darah dagingnya.
Namun di dalam hatinya, muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah tawaran Riko adalah jalan keluar? Atau justru akan menciptakan masalah baru?
Indri menunduk. Tangannya kembali menyentuh perutnya. Anak ini membutuhkan ayah. Tetapi bukan sekadar seseorang yang bersedia memakai namanya sebagai ayah. Anak ini membutuhkan seseorang yang benar-benar mampu mencintainya. Dan Indri tidak tahu apakah Riko benar-benar mampu melakukan itu.
“Riko...”
“Ya?”
“Aku belum bisa menjawab.”
Riko mengangguk. “Saya tidak meminta jawabannya sekarang.” Ia berdiri. “Bu Indri bisa pikirkan baik-baik.”
Riko berjalan menuju pintu. Sebelum pergi, ia menoleh. “Dan apa pun keputusan Ibu, saya tetap akan menghormatinya.”
Pintu tertutup. Indri masih duduk tanpa bergerak.
Cinta kemudian perlahan menghampirinya. “Kamu baik-baik saja?”
Indri menggeleng pelan. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Cinta duduk di sampingnya. “Tidak perlu menjawab hari ini.”
Indri menatap kakaknya. “Menurut Kakak, aku harus bagaimana?”
Cinta tersenyum tipis. “Jangan mengambil keputusan karena takut sendirian.” Tangannya menggenggam tangan Indri. “Pikirkan apa yang terbaik untukmu dan bayimu.”
Indri kembali menunduk. Di satu sisi, ada tawaran Riko. Di sisi lain, ada masa lalu Evan yang belum selesai. Dan di dalam dirinya, ada seorang bayi yang sama sekali tidak mengerti mengapa orang dewasa di sekelilingnya begitu rumit.
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔