"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 28
Setelah hari itu, Oza dan Trisna kembali pada pekerjaan masing-masing. Trisna juga tidak membahas tentang Alya. Ia merasa cukup tentang Oza yang ternyata bukan memikirkan Rhea.
Namun sekarang ada yang berbeda dari diri mereka. Kehidupan kantor yang tadinya tenang, kini menjadi sedikit terusik dengan sosok Rhea. Di berbagai kesempatan, pasti mereka akan bertatap muka dengan Rhea.
Setiap kali bertemu, Oza maupun Trisna akan bersikap kikuk. Meski mereka mencoba tenang, namun tetap saja terlihat seperti salah tingkah. Padahal Rhea sangat tenang menghadapi mereka. Rhea yang mudah beradaptasi, langsung mendapat atensi dari para karyawan. Rhea menjadi air penyejuk diantara panasnya lahar panas Nayaka dan senyum tegas penuh arti dari Tono.
"Bu Rhea, apa nggak merinding kalau lagi kerja serius sama Pak Bos dan pak Tono, aura Pak Bos kan duingin banget," ucap salah satu karyawan.
Saat ini Rhea tertahan di rungan staf HRD. Dia baru saja bertemu dengan Anita.
"Ya merinding sih, tapi pada dasarnya Pak Nayaka itu baik. Beliau memang tegas aja," jawab Rhea dengan senyum lebarnya.
Setelah berbincang sejenak, Rhea pamit untuk kembali ke ruangannya. namun saat hendak masuk ke lift, ia bertemu dengan Haidar.
Haidar yang memang supel dan ramah, menyapa Rhea bak seperti teman lama. Entah apa yang tengah mereka bincangkan, namun Rhea bisa tertawa lepas.
Pemandangan itu, ternyata ditangkap oleh beberapa pasang mata. Salah satunya adalah Oza. Wajah Oza nampak mengeras, tangannya juga mengepal dengan erat. Dari kejauhan saja bisa dilihat bahwa Oza tidak menyukai interaksi tersebut.
Berbeda dengan satu pasang mata lainnya. Ia menerbitkan seringai. Fokusnya bukan pada Rhea, tapi pada ekspresi Oza.
"Ada apa Bos?"
"Nggak ada apa-apa. Lihat orang itu, bukannya cukup lucu."
Tono mengerutkan alisnya. Awalnya dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan atasannya. Tapi setelah melihat ke arah mata Nayaka melihat, Tono pun paham.
"Apa Pak Bos memiliki dugaan yang sama dengan ku? bahwa mereka dulunya punya hubungan?"
Nayaka hanya menyunggingkan senyum, lalu melangkah menuju lift.
"Rhe, udah ketemu Anita nya?"
"Oh sudah Pak. Ini mau kembali ke atas."
Rhea langsung menundukkan kepalanya. Sedangkan Haidar menyapa bos pusat yang ada di depannya.
"Selamat siang Pak Nayaka, Pak Tono."
Nayaka menganggukkan kepala, sedangkan Tono menjawab sapaan dari Haidar.
"Kalian udah kenal lama ya?"
"Oh tidak kok Pak Tono, saya baru tahu Bu Rhea ya saat kerja di sini kok. Hanya saja dulu saya pernah melihat Bu Rhea di suatu tempat. Dunia kecil sekali soalnya."
Rhea memiringkan kepalanya mendengar perkataan Haidar. Dia mencoba mengingat, namun tak pernah melihat sosok Haidar sebelumnya.
"Oh ya, dimana Pak Haidar pernah melihat saya?" Rhea merasa penasaran. Pasalnya yang dia pernah lihat di kantor ini ya hanya dua orang itu saja,
"Di pantai, Bu Rhea. Waktu itu Bu Rhea sedang bersama seseorang."
Aaah
Rhea tersenyum kecut. Ternyata waktu itu ada yang melihat. Wajah Rhea menjadi datar, namun hanya sekian detik ia sudah bisa mengubah ekspresi wajahnya lagi.
"Benar ya, dunia sangat sempit sekali,' jawab Rhea.
Nayaka tidak berkata apapun, ia hanya menggerakkan jarinya saat pintu lift terbuka. Tono dan Rhea yang paham segera masuk ke lift mengikuti pos mereka.
Suasana yang ada di dalam lift menjadi sedikit sunyi. Bahkan hembusan nafas jadi terdengar jelas.
"Apa yang kamu lakuin di pantai?"
Eh?
Rhea tersentak, dia ingin menatap Nayaka namun urung dan kembali melihat ke bawah.
"Hanya sesuatu yang tidak penting Pak. Sudah berlalu lama juga."
Rhea mengusap tangannya sendiri. Ia tersenyum kecut ketika ingatan tentang cincin yang melingkar di jarinya itu kembali.
Wanita itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman.
"Bagus, yang lalu cukup dilupakan dan tak perlu dikenang. Jadilah orang yang kuat berdiri di kaki mu sendiri."
"Baik Pak, terimakasih."
tring
Pintu lift terbuka, Nayaka keluar lebih dulu dan langsung masuk ke ruangannya. Sedangkan Rhea bersama Tono masuk ke ruangan mereka berdua.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Setengah jam berlalu, Tono mendapat panggilan dari Nayaka.
"Kita dipanggil ke ruangan Bos."
"Siap Pak."
Hal seperti ini sudah sangat biasa, jadi Rhea sudah siap jika dibutuhkan kapanpun oleh Nayaka.
Klak
Pintu ruangan Nayaka ternyata sudah terbuka. Nafas Rhea sedikit tertahan saat melihat dua orang yang dikenalnya ada di sana. Namun itu hanya sebentar, dia kembali tenang berjalan mendekat ke tempat Nayaka berada.
"Ada yang Bapak perlukan?" tanya Tono.
"Kalian berdua duduk dulu. Setelah ini ada yang mau aku omongin. Tapi lebih dulu aku harus menyelesaikan soal ini dulu. Oza dan Trisna, bagaiman progres promosi ke negara tetangga kita."
Tono dan Rhea tentu menurut. Keduanya duduk di sofa, mereka saling berbincang pelan. Dan sesekali bercanda.
Sedangkan suasana serius tengah meliputi Oza dan Trisna karena berhadapan dengan Nayaka. Sebenarnya di sini yang lebih berdebar itu Trisna, karena belum pernah dirinya berhadapan langsung dengan Nayaka. Dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya ikut dipanggil sekarang.
Selama Oza menjelaskan, Trisna hanya diam. Sesekali dia melirik ke arah Rhea. Matanya sejenak bertemu dengan mata Rhea, tapi Rhea dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Sombong banget," ucap Trisna dalam hati.
Nayaka memberi beberapa catatan kecil kepada Oza. Dan perkataan Nayaka selanjutnya cukup mengejutkan Oza.
"Untuk promosi, apa saja yang ada di dalamnya, beritahu Rhea. Lakukan secara detail, biar Rhea yang mengubahnya dalam bahasa yang diperlukan. Jika Rhea berkata harus diubah maka segera ubah. Jangan protes, dan jangan menyangkal."
Di bawah meja tangan Oza mengepal erat. Namun wajahnya tetap tenang.
Rhea yang dipanggil oleh Nayaka segera bangun dari posisi duduknya. Ia berdiri di sisi kiri Nayaka, karena memang disitulah posisinya.
"Rhea, kamu ikut ke bagian pemasaran. Jadilah wakilku di sana untuk alih bahasa atas rancangan pemasaran dari mereka."
"Baik Pak."
Ketiganya pamit undur diri. Oza dan Trisna berjalan lebih dulu, sedangkan Rhea berada di belakang mereka.
Saat pintu ruangan Nayaka tertutup kembali, Tono langsung beranjak. Dan berdiri di depan Nayaka sambil menepuk meja.
"Kenapa melakukan itu ke Rhea, Bos. Kalau Bos benar tahu tentang mereka, seharusnya Bos tidak melakukan hal seperti itu."
"Sttt brisik kamu Ton."
Tono mengerutkan alisnya, lalu menghembuskan nafasnya kasar. Dia menatap tajam ke arah Nayaka yang tengah menyeringai.
"Sebenarnya apa yang Bos lakukan?"
TBC
dpt laki yg bner menghargai mlh gk mau di akui istri sdng dng oza smp mau bunuh diri.
🤣🤣. woman Mang bgitu.
Rhea ga berhasil kekejar eeh yg kau dapat hanya penyesalan mendalam, lu kira kamu guanteng bangett gitu sampe2 mikir Rhea msh mau sm kamu?? percaya diri kali kau 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭