Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak Delapan Lantai

Meja kerja Madoc di lantai eksekutif punya satu dinding kaca besar yang menghadap ke arah lift, dan sejak Senin pagi kembali dari Bandung, dia sudah tiga kali kepergok oleh dirinya sendiri sedang menatap ke arah yang salah.

Bukan menatap lift. Menatap lebih jauh dari itu—ke arah panel indikator lantai di dinding seberang, yang menunjukkan angka dua puluh tiga setiap kali lift bergerak turun, tempat yang sekarang terasa jauh lebih jauh dari yang seharusnya, padahal cuma delapan lantai bedanya.

Dia menggeleng pelan, memaksa dirinya kembali fokus ke laporan kuartal kedua yang harus dia review sebelum rapat board minggu depan. Angka-angka di layar terasa lebih sulit dicerna dari biasanya, pikirannya terus melayang ke hal-hal yang tidak seharusnya relevan dengan proyeksi finansial—cara Gwen menghitung mobil di jalan tol yang macet, cara dia panik kecil waktu ditanya level pedas di warung nasi, cara dia menyandarkan kepala ke jendela mobil dalam diam yang nyaman.

Retreat itu sudah selesai tiga hari lalu. Semuanya sudah kembali normal—jadwal rapat, laporan mingguan, rutinitas kantor yang sama seperti sebelum mereka berangkat ke Bandung. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata yang tepat, seperti ruangan yang kehilangan satu elemen kecil tapi cukup penting untuk membuat semuanya terasa kurang lengkap.

---

Rapat progress Meridian Senin sore berjalan seperti biasa—Gwen menyampaikan laporan dengan gaya khasnya, singkat dan padat, tanpa basa-basi berlebihan.

"Konstruksi lokasi kedua on track," katanya, menunjuk slide yang sudah dia siapkan. "Approval izin lokasi ketiga juga udah keluar minggu lalu, lebih cepet dari estimasi. Timeline keseluruhan masih sesuai target."

Madoc mendengarkan, mencatat sesuatu di notesnya, tapi ada bagian dari dirinya yang menunggu sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dari sekadar update angka dan timeline. Dia menemukan dirinya berharap ada jeda percakapan yang lebih personal, seperti yang biasa terjadi selama retreat, di mana obrolan bisa berpindah dari data proyek ke hal-hal yang lebih sederhana, lebih manusiawi.

Tapi rapat ini beda. Ini rapat progress biasa, di ruang kaca lantai lima belas, dengan tiga anggota tim lain yang juga hadir, dan Gwen kembali ke mode profesional penuh seperti sebelum mereka berangkat ke Bandung—efisien, fokus, tanpa jeda untuk hal-hal di luar konteks kerja.

"Ada pertanyaan, Pak?" tanya Gwen, setelah menyelesaikan laporannya.

Madoc mengumpulkan pikirannya kembali. "Enggak. Semuanya jelas."

"Baik, Pak. Kalau gitu, saya lanjut kerjain revisi budget buat lokasi ketiga."

Dia menutup laptopnya, berdiri, keluar ruangan bersama dua anggota tim lain, kembali ke rutinitasnya di lantai bawah tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Madoc menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan, merasakan sesuatu yang aneh menjalar di dadanya—rasa kehilangan kecil untuk sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dia pahami sendiri.

---

Bagi Gwen, Bandung sudah jadi kenangan yang menyenangkan, tapi tidak lebih dari itu—pengalaman kerja yang berharga, kesempatan belajar strategi baru dari diskusi kelompok, momen santai yang menyegarkan setelah minggu-minggu kerja intens. Dia mengingat perjalanan pulang di tengah hujan, obrolan di warung nasi, insiden lucu waktu Madoc kebingungan pesan makanan, tapi semuanya tersimpan sebagai kenangan kerja yang baik, bukan sesuatu yang dia rindukan secara khusus.

Begitu kembali ke Jakarta, ritmenya langsung kembali normal—bangun pagi, kerja sampai sore, kadang lembur kalau ada deadline mendesak, lalu pulang ke apartemen untuk istirahat atau main catur sendirian sambil menonton video strategi di YouTube.

"Gimana Bandung kemarin?" tanya Nadya, Rabu malam, waktu mereka masak bareng seperti biasa.

"Seru," kata Gwen, mengaduk tumisan di wajan. "Belajar banyak soal strategi ekspansi. Ada insiden lucu juga, Pak Kane sempet bingung pesen makanan di warung kaki lima."

"Serius? CEO bingung pesen nasi campur?"

"Iya, katanya jarang makan di tempat kayak gitu. Lucu banget liatnya."

Nadya tersenyum, mengamati Gwen dengan seksama sambil terus mengiris sayuran. "Kalian jalan berdua?"

"Enggak, rame-rame sama tim. Cuma kebetulan duduk sebelahan aja."

"Kebetulan lagi," gumam Nadya, lebih ke diri sendiri, tapi cukup keras untuk didengar Gwen.

"Apa?"

"Gak, gak apa-apa." Nadya mengibaskan tangan, memilih untuk tidak mendorong topik itu lebih jauh malam ini—dia sudah cukup sering mencoba, dan hasilnya selalu sama: Gwen akan menjelaskan semuanya dengan logika yang masuk akal, sepenuhnya buta terhadap kemungkinan lain yang lebih jelas terlihat bagi orang di luar situasi itu.

Gwen melanjutkan memasak, sepenuhnya tidak menyadari bahwa cerita ringan yang baru dia bagikan barusan sudah cukup untuk membuat sahabatnya menambahkan satu lagi catatan ke daftar bukti yang sudah cukup panjang.

---

Elias sudah menghafal jadwal harian bosnya sampai ke detail terkecil, tapi minggu ini, dia menemukan satu pola baru yang belum pernah muncul sebelumnya.

Ruangan Madoc punya dinding kaca yang menghadap ke area kerja terbuka lantai eksekutif, cukup transparan untuk melihat siapa saja yang lewat di lorong luar. Tapi yang membuat Elias penasaran bukan itu—melainkan cara Madoc, di sela-sela pekerjaannya, sering berhenti sebentar, menatap ke arah jendela besar di sisi lain ruangan yang menghadap ke bawah, ke arah gedung yang sama tapi lantai yang jauh berbeda.

"Bapak lagi liatin apa?" tanya Elias, Kamis siang, waktu dia masuk membawa dokumen yang perlu ditandatangani.

Madoc tersentak sedikit, seperti baru sadar sedang melamun. "Gak ada apa-apa. Cuma mikir."

"Mikirin apa?"

"Proyeksi kuartal kedua."

Elias meletakkan dokumen di meja, tidak sepenuhnya percaya jawaban itu, tapi memilih untuk tidak membantah langsung. "Bapak dari tadi liatin jendela, bukan laptop."

"Kadang mikir lebih jernih kalau liat pemandangan."

"Pemandangan apa? Yang keliatan dari sini cuma atap gedung sebelah."

Madoc tidak menjawab, kembali fokus ke laptopnya dengan cepat, seolah ingin mengakhiri percakapan itu sebelum berkembang lebih jauh.

Elias keluar ruangan, tapi berhenti sebentar di lorong, melirik ke arah jendela besar itu dari luar—mencoba memahami apa yang sebenarnya dilihat bosnya dari sudut itu. Yang dia temukan cuma pemandangan biasa, gedung-gedung sekitar, langit Jakarta yang berkabut polusi seperti biasa.

Tapi kemudian dia sadar, arah pandang itu, kalau ditarik garis lurus ke bawah, mengarah persis ke jendela besar lantai dua puluh tiga—lantai operasional, tempat meja Gwen berada di sudut, menghadap keluar.

Elias berdiri diam sejenak, memikirkan ulang semua yang baru saja dia lihat.

Delapan lantai, pikirnya, menahan senyum sambil berjalan kembali ke mejanya sendiri. Dan dia masih aja nyari cara buat liat ke arah situ.

---

Sore itu, Madoc menemukan dirinya sendiri membuka aplikasi kalender kerja, mencari alasan apa pun yang bisa membawanya turun ke lantai dua puluh tiga—rapat mendadak, cek progress, apa saja. Tapi jadwalnya sudah cukup padat minggu ini, dan tidak ada celah yang masuk akal untuk dijadikan alasan tanpa terlihat mencolok.

Dia menutup kalendernya, menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit ruangan.

Empat hari sejak mereka kembali dari Bandung, dan dia baru sadar betapa dia sudah terbiasa dengan kedekatan yang tercipta selama tiga hari itu—duduk berdampingan di rapat, makan bersama tanpa canggung, obrolan yang mengalir natural tanpa perlu dipikirkan dulu. Sekarang, kembali ke rutinitas normal, jarak delapan lantai itu terasa jauh lebih jauh dari yang seharusnya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu selain menahannya sendirian di balik meja kerjanya, menatap keluar jendela ke arah yang tidak akan pernah cukup dekat untuk benar-benar melihat apa yang dia cari.

Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan internal kantor, mengetik sesuatu ke kolom chat dengan Gwen—progress lokasi ketiga gimana—lalu menghapusnya lagi sebelum sempat terkirim, karena dia baru saja mendapat laporan itu di rapat Senin lalu, dan mengirim pertanyaan yang sama cuma akan terlihat aneh.

Dia meletakkan ponselnya kembali ke meja, menghela napas panjang, dan mencoba fokus kembali ke laporan kuartal kedua yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali dari paragraf yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!