Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Menolak untuk pertama kali

Suara dentingan halus antara sendok dan piring porselen berulang kali memecah keheningan di meja makan.

Di ruangan bernuansa mewah itu, Zidan, Humaira, serta Rendra dan Elisa—kedua orang tua Zidan—duduk mengelilingi meja, menikmati sarapan.

Humaira menyendok makanannya secara perlahan, berusaha mengabaikan sekeliling.

Zidan, pria itu tetap memancarkan aura tenang dan berwibawa, seperti masalah yang baru saja mereka bahas di kamar tadi sudah tidak dipikirkan lagi.

Saat hidangan di piring mereka semua hampir habis, Elisa meletakkan alat makan dengan ketukan halus, lalu menyandarkan punggung ke kursi porselen. Mata wanita paruh baya itu beralih, memandang tepat ke arah sang putra.

"Zidan," panggil Elisa. "Apa kamu sudah mendengar kabar kalau Melodi sudah pulang?"

Zidan tidak langsung menjawab. Pria 32 tahun itu meletakkan garpunya dengan gerakan amat teratur, sebelum akhirnya mengangguk.

"Sudah, Bunda," jawab Zidan singkat. Dia tidak bercerita kalau dia bahkan sudah bertemu melodi semalam dirumah sakit.

Elisa melipat kedua tangannya di atas meja, menatap putranya tanpa berkedip. "Jadi, bagaimana selanjutnya?"

"Maksud Bunda, bagaimana selanjutnya dalam hal apa? Pernikahan Zidan dan Melodi sudah resmi batal sejak wanita itu tidak datang, Elisa. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan tentang 'bagaimana selanjutnya'." Ternyata yang menjawab pertanyaan Elisa adalah suaminya Rendra.

Elisa mendengkus tipis, jelas tidak puas dengan interupsi suaminya. Tatapannya kini makin menyengat, melemparkan rasa tidak sukanya secara terbuka tanpa memedulikan presensi Humaira yang duduk diam di sana.

"Tapi, Mas... seharusnya dari awal Zidan itu menikah dengan Melodi," potong Elisa. "Bukan dengan Humaira,"

Kalimat itu keluar begitu saja, sama sekali tak menjaga perasaan Humaira yang posisinya istri sahnya Zidan.

Sebuah senyum miris lagi-lagi terbit di bibir Humaira. Ucapan menyakitkan sang ibu mertua sama sekali tidak mengejutkannya, justru makin menegaskan. Di rumah ini, ia tak pernah diharapkan.

Keputusannya menyodorkan surat cerai kepada Zidan pagi tadi sudah tepat.

"Elisa! Bahkan menantumu masih duduk di sini dan kau bicara seperti itu? Kau pikir dia ini cuma tunggul kayu yang tidak punya perasaan?" tegur Rendra, matanya menatap tajam ke arah sang istri.

Lagi-lagi wanita paruh baya itu mendengus pelan, seolah teguran suaminya tak berarti apa-apa. Elisa justru makin memajukan duduknya, menatap Rendra dengan binar yang tak bisa disembunyikan.

"Mas, aku baru saja dapat kabar dari Kak Ratih. Ternyata Melodi itu mengalami kecelakaan sehari sebelum hari pernikahan Zidan dengannya! Itu alasannya kenapa Melodi tidak datang saat itu, Mas. Dia punya alasan!"

Rendra menghela napas menghadapi sikap istrinya. Sorot matanya memancarkan ketegasan seorang pria dewasa yang enggan terbawa emosi mentah.

"Kalau memang benar seperti itu kejadiannya, yang berlalu biarkan berlalu, Elisa," sahut Rendra tenang dan bijak.

"Zidan sudah menikah sekarang. Humaira juga manusia yang punya hati. Sekalipun awal perjalanan mereka hanya karena status istri pengganti, tidak seharusnya kita menghakimi atau memperlakukannya sesuka hati. Daripada kita yang berspekulasi, seharusnya tanya dulu pada Humaira... apa dia mau bercerai atau tidak. Begitupun dengan Zidan."

Mendengar ide suaminya, Elisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang menantu. Tidak ada kelembutan di matanya, hanya tuntutan.

"Bagaimana, Humaira? Kamu mau, kan, bercerai dari Zidan?" tanya Elisa langsung tanpa basa-basi.

Humaira mendongak pelan. Tidak ada riak kemarahan atau tangisan dramatis di wajahnya. Dengan ketenangan yang justru mengintimidasi, ia menatap lurus ke arah ibu mertuanya.

"Tentu saja, Bunda," jawab gadis itu mantap. "Sesuai yang Bunda inginkan."

Elisa tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan sebuah argumen besar. Ia kembali menatap suaminya dengan ekspresi penuh kemenangan.

"Nah, itu dia! Dia sendiri tidak masalah. Lalu tunggu apa lagi, Mas?"

Rendra lalu memindahkan tatapannya kepada putra sulungnya yang sejak tadi hanya diam membisu di samping Humaira.

"Bagaimana denganmu, Zidan?" tanya Rendra, menuntut kepastian. "Apa kau mau bercerai dengan istrimu?"

Zidan tidak langsung menjawab. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, merapikan lengan kemejanya dengan gerakan yang tenang—gerakan khas yang biasa ia tunjukkan saat menyembunyikan gestur penolakan.

"Jadwalku sangat padat di rumah sakit, Ayah," jawab Zidan singkat, suaranya terdengar datar. "Aku belum punya waktu untuk mengurus hal-hal seperti itu. Nanti saja kita bahas lagi." Tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun di meja makan, Zidan menggeser kursinya dan berdiri.

"Aku sudah selesai sarapan," pungkasnya dingin, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang makan yang tiba-tiba kaku.

Humaira hanya memerhatikan punggung pria itu yang makin menjauh. Tak ada yang tahu apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran Zidan.

Namun satu hal yang makin jelas di mata Humaira: setiap kali topik perceraian mereka diangkat ke permukaan, Zidan selalu punya seribu cara untuk menghindar.

‘Dia tidak berniat mengikatku di sisinya, kan? Lalu bagaimana dengan Tante Melodi? Kalau dia berniat menikahinya, secara hukum aku sama Tante tidak bisa dimadu, karena kami ponakan kandung’ bisik Humaira dalam hati mengingat sikap Zidan yang sangat mencurigakan baginya.

Ia memoles raut wajahnya agar tetap tampak tenang sebelum menggeser kursi. "Ayah, Bunda, Humaira juga pamit berangkat ke rumah sakit."

Rendra tersenyum hangat, menatap menantunya dengan binar penuh empati. "Iya, Nak. Hati-hati di jalan."

Elisa hanya mengangguk singkat tanpa menoleh sedikit pun.

Tentu saja Humaira tahu kalau ibu mertuanya itu tidak terlalu menyukainya. Bagi Elisa, status Humaira yang hanya orang biasa sangat bertolak belakang dengan saudara-saudara ibunya yang berasal dari keluarga terpandang.

Belum lagi status ibunya yang dicap sebagai wanita gagal dan simpanan pejabat, secara otomatis melekat padanya.

Humaira melangkah keluar, menyusuri pelataran rumah yang megah. Namun, tepat di depan teras, langkahnya terhenti. Mobil Zidan masih terparkir, dan pria itu berdiri di samping pintu kemudi, menunggunya

"Berangkatlah denganku ke rumah sakit," ujar Zidan singkat saat melihat keberadaannya.

Humaira mengulas senyum tipis—sebuah topeng yang biasa ia pakai untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

"Tidak usah, Dokter. Saya pakai sepeda motor saya saja." Tolaknya halus.

Zidan menatapnya tajam, "Aku memerintahkanmu."

"Sekali ini saja, izinkan saya menolak," potong Humaira tak tergoyahkan. Tanpa menunggu balasan, ia melangkah melintasi Zidan menuju tempat sepeda motornya terparkir.

Zidan menatap punggung Humaira yang menjauh.

‘Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran gadis itu? Apa begitu tidak sukanya dia padaku? Sejak hari pertama pernikahan, wajahnya selalu dingin dan datar. Apa dia sangat membenci pernikahan ini?’ batin Zidan, menyisakan tanda tanya besar dalam hatinya.

_____

Angin kencang menerpa wajah Humaira saat sepeda motornya melaju menembus jalanan pagi. Hembusan angin itu seolah bersekongkol untuk menerbangkan setiap tetesan bening yang merembes keluar dari sudut matanya.

Ia mempererat genggamannya pada stang motor, berpacu bersama gelombang trauma yang tak pernah benar-benar memudar dari ingatannya.

Sakit.

Berada di posisinya sama sekali bukan pilihan. Ia hanya seorang gadis malang yang tak pernah mencicipi keberuntungan seperti gadis-gadis pada umumnya.

Dicap sebagai anak dari istri simpanan, ditolak oleh keluarga besar, dan kini terjebak dalam pusaran pernikahan formalitas yang makin menguras jiwa.

Perlahan, jemarinya bergerak turun, mengusap lembut perut ratanya.

‘Aku sudah dicap sebagai anak haram oleh dunia ini... lalu bagaimana nasib anak ini nanti?’ bisik Humaira dalam hati, air matanya semakin deras menetes. ‘Dia tidak minta diundang ke dunia ini... tapi dialah yang akan menanggung takdir buruk ini bersamaku.’

Aku ingin tidur, tidur panjang. Agar saat membuka mata, semua ini hanya mimpi. Lanjutnya membatin.

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!