Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kagum : 12

“Ibu tili gapapa kan?” si bungsu bertanya dengan nada perhatian, hilang sudah suara bossy nya.

Saniya menggeleng. “Tante baik-baik saja, mas Ardan. Mas Ardan juga gapapa kan? Gak kena air panas, kan?”

Pipi Ardan langsung bersemu kemerahan, dia menunduk seraya menutupi mulut, bersembunyi dari tatapan wanita yang berhasil membuatnya malu, enggan menjawab. “Aku dipanggil Mas? Hahaha ….”

Yarash yang gemas, mengusap rambut putranya sedikit keras sampai berantakan.

“Mas, aku berangkat dulu ya? Bus nya sudah dekat,” pamitnya. Ia maju ke samping pria memalingkan wajah dari sang putra.

“Kamu gak sarapan dulu?” Gerakannya spontanitas mengelus pucuk kepala Saniya yang mencium takzim punggung tangannya.

Suasana canggung seperti di dalam kamar tadi, kembali terasa meski hanya sesaat

“Disekolah saja, gak keburu, udah mepet banget waktunya.” Saniya menurunkan tangannya, menganggap balasan Yarash barusan bentuk memberi contoh keluarga harmonis ke anaknya.

“Tunggu sebentar, Mas ambilkan kotak makanan, kamu bawa bekal saja.” Gerakannya sudah termasuk kategori pria penuh perhatian ke istrinya, begitu natural.

Saniya Syamira terpaku dengan sorot mata meredup, batinnya pun membandingkan dengan kehidupannya sebelum menikah.

Saat-saat diabaikan, tak lagi pernah ditanya tentang keadaannya, hobi, tengah melakukan apa, ingin makan apa, bagaimana dengan hari dijalani. Kedua orang tuanya sibuk mengurus bisnis dan melimpahkan kasih sayang mereka ke Fauzia Serla.

Keberadaannya di rumah seperti benda mati yang tak perlu jaga perasaannya, dihujani perhatian.

Kedua wanita beda usia sama-sama memperhatikan pria yang sibuk memasukkan pancake ke dalam kotak bekal.

Dalam hati, Tatiana menggeram, merasa cemburu sebab perhatian ayahnya mulai terbagi ke ibu tiri. ‘Bener kata Mommy. Dia datang bukan untuk menambah kebahagiaan kami, tapi merebut Papi dariku!’

Rasa bersalah sempat menyelinap ke relung hatinya langsung sirna tak berbekas. Keengganan meminta maaf diperkuat oleh praduga tak berdasar.

Yarash menarik resleting tas bekal, lalu memberikan ke wanita yang matanya berkaca-kaca.

“Masih terasa sakit, ya? Kamu libur saja, kita periksa ke dokter —”

Saniya memotong kalimat suaminya. “Mulai baikan, Mas. Nanti sorean juga hilang, aku gapapa.”

“Terima kasih, bekalnya.” Diambilnya tas dalam genggaman tangan berurat menonjol pada bagian punggung tangan merambat ke lengan sampai siku.

“Aku berangkat dulu.” Dia pun berbalik badan, terbiasa berpamitan dengan cara paling cepat, takut mengganggu ketenangan pemilik rumah. Ternyata kebiasaannya dulu sewaktu masih di kediaman keluarga Hadi, terbawa sampai sini.

“Ardan, kak Tiana, salim ke mami Saniya!” titah kepala keluarga, enggan di bantah.

“Ibu tili sini!” Jarinya terbuka lalu menekuk.

Yarash menggendong putranya. “Lain kali biasakan kamu yang mendekati Mami. Ardan kan lebih muda, harus sopan ke orang tua.”

Ada yang tertohok oleh kalimat terdengar sindiran di telinganya. Wajah Tatiana pun bertambah muram, kekesalan menumpuk dalam hati.

“Belajal yang benel ya.” Ardan menjilat punggung tangan ibunya. “Pahit lasanya.”

“Ardan jangan nakal di rumah, kasihan mbak Suci kewalahan jagain kamu.” Untuk pertama kalinya Saniya mengelus rambut halus balita masih dalam gendongan ayahnya.

“Aku ndak nakal cuma banyak akal,” sahutnya mengikuti kalimat sering terucap dari bibir ayahnya.

Saniya dan Yarash sama-sama tertawa kecil, mereka saling pandang lalu berlomba-lomba siapa lebih cepat memalingkan muka.

“Dada mas Ardan.” Wajah Saniya maju, bibirnya mencium pipi bulat sedikit berminyak.

Reaksi kedua pria tersebut sangat berbeda. Efek dari kedekatan tanpa jarak berhasil menghantarkan gelenyar hangat.

Ardan mengelap bekas ciuman singgah di pipi, tetapi matanya tidak berani memandang sang ibu tiri. Dia langsung memeluk leher ayahnya seraya tersenyum sampai barisan gigi kecil nan rapi terlihat. Kakinya menendang-nendang perut keras papinya.

Sementara Yarash, dapat mencium aroma lembut bunga Lili, seolah wangi parfum Saniya menempel pada kulitnya. Bayangan perut halus, lembut, berputar-putar di kepalanya, langsung saja dienyahkan dengan bergeleng.

“Tiana!” perintahnya mencoba menenangkan si bungsu yang bergerak kegirangan.

Gadis berseragam sekolah menengah pertama, setengah hati berdiri, lalu meremas sedikit kuat jemari Saniya, sangat tidak ikhlas menempelkan tangan halus pada keningnya.

“Semoga harimu menyenangkan, perasaan tetap nyaman, Tatiana. Lolos dari pantauan mata manusia, bukan berarti luput dari pengamatan yang maha kuasa,” bisikan Saniya nyaris seperti suara hembusan angin lembut

Tatiana terperanjat, kehilangan rona merah pada wajahnya. Detak jantung pun kacau, dia mendongak, seketika tubuhnya langsung menegang.

Pancaran mata Saniya tetap tenang, tetapi ada sinar kemenangan di sana, seakan dia baru saja meringkus seorang penjahat.

Ya, sebelum kejadian cepat tadi, dia sempat menangkap pergerakan kaki terulur, namun tidak bisa mencegah. Setelah kekacauan teratasi, pikiran kembali jernih, barulah disadarinya jika Tatiana sengaja mau menjegal langkahnya.

Saniya menarik lebih dulu tangannya, lalu berjalan anggun seraya menenteng tas bekal, dan menggendong tas pada bahu.

Bus jemputan sekolah sudah tiba bersamaan dengan Saniya keluar dari dalam rumah. Dia berjalan sedikit jauh melewati halaman ditanami pohon pinang hias, bunga asoka dipangkas rapi dan dibentuk tingkat.

“Miss! Miss!”

“Bu gulu sayang!”

“Mama … mamaku!”

Seruan dari dalam bus jemputan yang kacanya digeser terbuka, memperlihat wajah-wajah antusias anak-anak istimewa memanggil sosok wanita tersenyum sumringah.

“Miss … aku lindu!” seorang anak laki-laki berumur 8 tahunan, tidak dapat dicegah gerakannya oleh guru pengawas, dia turun dari dalam mobil, berlari memasuki gerbang yang pintunya dibuka separuh.

“Miss!”

Saniya meletakkan tas bekal di tepian pembatas paving blok dengan taman. Kakinya sedikit melebar, agar keseimbangan tubuh tetap terjaga, antisipasi menahan terjangan salah satu murid kesayangannya. Lentera hidupnya.

Benar saja … anak laki-laki tadi menabrakkan badan sekuat tenaganya. Hampir mereka terjatuh, tetapi Saniya bisa bertahan. Pun, menahan perih masih terasa nyeri pada perut.

Anak-anak lainnya berteriak iri, sibuk mau keluar dari dalam bus agar bisa ikut memeluk guru kesayangan mereka.

“Kok dia peluk-peluk ibu tili, Pi?” ternyata Ardan menyaksikan interaksi hangat itu, dia dan ayahnya berdiri di teras.

“Papi!” Dicubitnya pipi sang ayah yang terkagum-kagum memandang tak berkedip.

“Ya, Nak?”

“Dia kok peluk ibu tili?!” suaranya sarat kecemburuan.

Yarash mengeratkan gendongan, lalu memberi pengertian seraya tatapan tetap memandangi Saniya yang sudah jalan sambil merangkul pundak anak laki-laki setinggi ketiaknya.

“Mami kan guru yang sangat disukai muridnya, jadi ya dipeluk tanda mereka menyayangi mami Saniya,” ucapnya pelan.

“Aku mau sekolah! Sekalang!”

.

.

Bersambung.

1
bibuk Hannan & Afnan
ndadak tanya ke Mbah google dulu bunga ylang-ylang jebule kenanga toh 😄😄😄😄
bunga kenanga kan pdhl identik dgn berbau mistis
bibuk Hannan & Afnan
Saniya kamu menderita sedari kecil sakit rasanya jd kamu 😭😭😭
bibuk Hannan & Afnan
🤦🤣🤣🤣🤣🤣
maaf 🙏 ya Tatiana aku ketawa diatas sakitmu 😄😄😄 soalnya gak kuat sama polae Ardan
bibuk Hannan & Afnan
tersebut miring maksudnya tersenyum miring mungkin ya thor
Priskha
dasar ibu gendheng, gak hbs pikir aq sm jln pikirannya tuch nenek sihir....
bibuk Hannan & Afnan
ini pasti ulah Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
trauma pasca kecelakaan wkt kecil umur 8 th ternyata belum hilang meski sudah 18 tahun silam kejadiannya,
bibuk Hannan & Afnan
si kompor bleduk ini Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
😱😱😱 si colo harganya bikin nahan napas 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
aku juga ikutan syok nahan nafas Saniya 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
warna bola matanya mirip artis India Rani Mukherjee ya mas Yash,🤭
bibuk Hannan & Afnan
👍👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhir cerita yang mengharukan dan membahagiakan.👍
Baca marathon ceritanya sampe ga terasa sudah akhir bab.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Huss Huuss sana jauh jauh para Hama, jangan ganggu lebahagiaan keluarga Yarash - Saniya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga apa² Titania yang penting kamu sudah berusaha keras untuk jadi lebih baik dan mendapatkan nilai bagus jadi tetap semangat untuk terus melangkah maju.
Penyesalan emang datangnya di belakang karna kalau duluan pendafyaran.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Baguslah KENA SEMUA para murid² toxic bukan hanya Titania saja yang rugi.👍
bibuk Hannan & Afnan
kecelakaan dr usia 8 th hingga skrg sudah dewasa usia 26 th trauma masih ada tp orang tua abai, duh kebangetan orang tuanya Saniya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Iyalah datang saja sebagai tamu, bawa kado seadanya, ga usah lagi di pikirkan antara enak ga enak toh itu jauh lebih baik Saniya jadi kamu ga harus ikut beban mereka.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Yarash saingan terbesarmu yang mampu mengalahkan mu merebut perhatian Saniya bukan laki² lain di luar sana tapi si Bodel gemol anakmu sendiri./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
SKAK MATT sampe mampus si Jena./Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!