Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 PERIH DALAM KEMISKINAN
Hari kedua, untuk pertama kali seumur hidupnya, ia belajar memakai mesin cuci.
Di kediaman Adiwangsa, pakaian dicuci oleh seorang pembantu rumah tangga bernama Sinta, yang tahu persis suhu apa yang tepat untuk tiap jenis kain, berapa banyak deterjen yang harus dituang, cara menjaga agar warnanya tak luntur.
Maya tak pernah perlu memikirkan itu. Pakaian begitu saja muncul bersih dan tersetrika rapi di lemarinya, seakan-akan disulap.
Kini, di hadapan mesin cuci gedung itu (mesin umum bertenaga koin yang berada di lantai bawah tanah, di samping pemanas air), Maya merasa seperti penjelajah di negeri asing.
Ia membaca petunjuknya. Membacanya sampai tiga kali. Dimasukkannya pakaian. Dituangnya deterjen. Dimasukkannya koin. Ditutupnya penutupnya. Mesin itu mulai meraung, bunyi ganas dan mengancam, seolah sedang menggilas batu, bukan mencuci kaus.
Setengah jam kemudian, ia mengeluarkan cuciannya.
Warnanya kelabu. Bukan kelabu seperti gajah atau abu. Kelabu seperti daki, seperti lumpur, seperti sesuatu yang seharusnya putih namun kini tampak kotor selamanya. Dan berbau apak. Bau pekat menyengat yang melekat di serat kain dan tak hilang bahkan diterpa angin.
Maya duduk di lantai bawah tanah, dikelilingi pakaian basah kelabu, lalu tertawa.
Bukan tawa gembira. Tawa getir, gugup, tawa orang yang telah jatuh begitu dalam sampai tak ada pilihan lain selain tertawa agar tak menangis.
Seorang tetangga yang turun untuk mencuci pakaiannya sendiri menatapnya dengan heran lalu berbalik pergi. Si pirang baru itu gila, pasti begitu pikirnya kemudian. Dan barangkali ia benar. Barangkali Maya memang sedikit gila. Barangkali itulah satu-satunya cara bertahan hidup dari semua ini.
* * *
Hari ketiga, ibunya mengalami serangan pertamanya.
Sampai saat itu, Ratna telah menjadi hantu. Ia bangun, duduk di ranjang, menatap televisi yang mati, lalu berbaring lagi.
Ia tak bicara. Tak makan. Tak menangis. Ia hanya ada, tersisa pada fungsi biologis yang paling minim, seperti tanaman yang enggan mati namun tak juga berani hidup.
Maya telah membawakannya makanan. Ratna tak makan. Ia membawakannya air. Ratna meminumnya seteguk demi seteguk, hampir sembunyi-sembunyi, seakan malu membutuhkan sesuatu yang sedasar itu.
Maya duduk di sisinya berjam-jam, menggenggam tangannya, mengajaknya bicara tentang hal-hal sepele (cuaca, tetangga, harga roti). Ratna tak menjawab.
Matanya yang bening, mata yang diwarisi Maya darinya, menatap satu titik di dinding, titik yang hanya bisa dilihatnya sendiri.
Sore itu, segalanya berubah.
Ratna sedang duduk di sofa, di depan televisi empat belas inci yang Maya sandarkan di atas kardus. Tak ada acara apa pun.
Hanya statis. Bunyi putih itu, cericit elektronik yang membuat gigi Maya ngilu. Tapi Ratna menatapnya seolah itulah film paling memukau di dunia.
Tiba-tiba, tangannya mulai bergetar. Awalnya cuma sedikit. Lalu getar itu merambat ke lengannya, ke bahunya, ke seluruh tubuhnya.
Kukunya, yang panjang dan terawat (satu-satunya sisa kehidupan lamanya), menancap di lengan Maya dengan kekuatan yang tak diduga gadis itu dimiliki ibunya. Kemudian, mulut Ratna terbuka. Terbuka seperti luka menganga, seperti jurang, dan dari sana tak keluar suara apa pun.
Jeritan bisu.
"Mama," ucap Maya, ngeri. "Mama, tarik napas."
Tapi Ratna tak bisa. Udara lolos dari tubuhnya seperti air lewat celah jari, seperti pasir dalam jam pasir yang pecah.
Dadanya naik-turun dalam gerakan kacau tak berpola, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Matanya membelalak terlalu lebar.
Bagian putih matanya memerah. Ia tampak seperti orang kerasukan, seorang perempuan yang bertarung melawan iblis tak kasatmata.
Maya tak tahu harus berbuat apa. Belum pernah ada seorang pun yang mengalami serangan kecemasan di depannya.
Dalam pelajaran pertolongan pertama, di sekolah swasta tempatnya dulu bersekolah, tak pernah diajarkan cara menghentikan kepanikan yang melahap hidup-hidup orang yang mengalaminya.
"Mama," ulangnya, kali ini dengan suara patah. "Mama, ini aku. Ini Maya. Mama di rumah. Mama aman."
Tapi Ratna tak mendengarnya. Atau mungkin mendengar, hanya saja tak mampu menjawab.
Tubuhnya berperang melawan dirinya sendiri, dan lawannya tak kenal ampun.
Maya menekan nomor darurat. Telepon berdering. Dan berdering. Dan berdering. Sambil menunggu, sambil mendengar nada tunggu yang terdengar bagai ejekan itu, Maya menatap dompet kosong di atas meja.
Kartu kredit terakhir, sudah diblokir. Lembar uang terakhir, habis untuk pindahan. Rekening bank, dibekukan. Uang tunai, tinggal recehan di dasar saku.
Kalau ia dibawa ke rumah sakit, pikirnya dengan kejernihan yang membekukan darah, siapa yang membayar ambulansnya?
Ia memutuskan sambungan.
Ia sendiri tak begitu paham mengapa. Jarinya bergerak sendiri, menekan tombol merah, dan panggilan itu terputus. Nada tunggu berhenti. Keheningan yang menyusul terasa memekakkan.
Maya meletakkan telepon, berlutut di depan ibunya, dan menangkup wajah Ratna dengan kedua tangan. Pipi Ratna basah dan panas.
Tak ada air mata. Hanya keringat. Atau mungkin ada air mata, bercampur keringat, dan mustahil dibedakan.
"Tarik napas bareng aku, Mama," ucap Maya sambil menarik napas berlebihan. "Lihat. Begini. Tarik. Buang. Tarik. Buang."
Tak berhasil pada percobaan pertama. Tidak juga yang kedua. Tidak juga yang ketiga.
Tapi pada percobaan keempat, Ratna menirukan gerakannya. Sebuah tarikan napas gemetar, tersendat, seolah tiap embusan udara adalah bata yang dipikul di bahunya. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi.
Sepuluh menit kemudian, getaran itu reda.
Ratna berhenti melawan. Tubuhnya menyerah, ambruk ke depan, dan Maya menyangganya. Ibunya jauh lebih ringan dari yang ia ingat. Jauh lebih ringan. Hari-hari tanpa makan telah menyusutkannya menjadi tulang berbalut kulit, menjadi seekor burung dengan sayap patah.
Ratna tertidur. Bukan tidur nyenyak, melainkan tidur letih, ketaksadaran orang yang telah menguras seluruh tenaganya dalam pertempuran batin. Ia bernapas. Setidaknya ia bernapas.
Maya membaringkannya di sofa, menyelimutinya, lalu duduk di lantai, punggungnya bersandar di lengan sofa. Televisi masih menyala, memenuhi ruangan dengan statis putihnya.
Gang di luar sunyi. Untuk sekali ini, tak ada yang membuang sampah.
Maya menangis dalam diam.
Ia tak menangis karena uang. Itu terlalu sederhana. Terlalu mudah.
Ia menangis karena tak tahu cara menyelamatkan siapa pun.
Ia menangis karena ibunya perlahan-lahan sekarat, sementara ia tak punya sarana untuk menghentikannya.
Ia menangis karena ayahnya berada di dalam sel, sendirian dan ketakutan, sedangkan ia tak bisa berbuat apa pun untuknya. Ia menangis karena dunia tiba-tiba menjelma tempat yang bengis, penuh pintu tertutup dan tangan-tangan kosong, sementara ia tak siap menapakinya.
Ia menangis sampai tak ada lagi air mata. Ia menangis sampai matanya perih dan tenggorokannya kering.
Lalu, ketika ia tak sanggup lagi menangis, ia menyeka wajahnya dengan ujung kausnya, bangkit dari lantai, dan pergi ke dapur.
Makan malam harus disiapkan.
Tak ada orang lain yang akan melakukannya.