Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

After Days

Beberapa hari setelah kepergian sang Ratu, kehidupan di Istana Hikari kembali berjalan dengan rutinitas yang menuntut ketegasan mutlak. Sesuai dengan titah Sang Raja, Putri Miyura kini mulai mengambil alih sebagian besar tugas kenegaraan yang sebelumnya dipegang oleh mendiang ibunya.

​Di setiap langkahnya, Aragoto selalu setia mengawal dan berdiri di belakang sang ratu muda. Kehadiran Aragoto yang selalu melekat ke mana pun Miyura pergi sempat menjadi bahan gunjingan di kalangan para bangsawan istana yang konservatif.

​Suatu sore, di koridor utama istana saat para bangsawan berpapasan dengan mereka, seorang menteri senior melirik sinis ke arah Aragoto lalu berbisik cukup keras kepada rekan di sebelah kanannya, "Lihatlah anak pelayan itu... ia menempel terus seperti bayangan kemana pun Yang Mulia Ratu melangkah. Sungguh tidak tahu tempat, bagaikan duri dalam daging di lingkaran bangsawan."

​Mendengar sindiran tajam tersebut, Aragoto sedikit menundukkan kepalanya, menjaga ekspresi wajahnya tetap datar. Namun, sebelum Aragoto sempat merespons atau mengambil tindakan, Miyura menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah para bangsawan itu dengan dagu terangkat dan senyuman dingin yang mematikan.

​"Menjaga tempat?" suara Miyura menggema tajam di koridor marmer, membuat para bangsawan seketika menunduk ketakutan. Miyura melangkah anggun mendekati mereka, lalu melanjutkan dengan nada santai namun penuh ancaman. "Kalian tampaknya terlalu sibuk mengurusi bayanganku daripada urusan kerajaan kalian sendiri. Ingat, dia adalah pelayan pribadiku. Siapa pun yang berani menyindirnya lagi di hadapanku, berarti ia sedang mempertanyakan keputusan sang penguasa tahta. Paham?"

​Para bangsawan itu langsung membungkuk dalam-dalam dengan tubuh gemetar. "K-kami mengerti, Yang Mulia Ratu! Mohon ampun atas lancang mulut kami!" seru mereka buru-buru, lalu melangkah pergi tergesa-gesa menghindari kemarahan sang ratu.

​Miyura mendengus kecil, lalu kembali melirik Aragoto di belakangnya. "Jangan dengarkan mereka, Aragoto. Anjing-anjing tua itu memang suka menggonggong tanpa alasan."

​"Baik, Yang Mulia," jawab Aragoto tenang, mengikuti langkah tuannya kembali.

​Tidak lama berselang setelah Sang Raja resmi menyerahkan tugas-tugas administratif Ratu kepada Miyura, suasana berubah drastis di balik pintu kamar pribadi sang putri.

​Tumpukan berkas dokumen kenegaraan, gulungan peta wilayah, dan laporan keuangan kerajaan memenuhi meja kerja kayu jati yang besar. Miyura duduk di kursinya dengan kepala bersandar pada tangannya, menatap tumpukan kertas itu dengan mata melotot malas.

​Aragoto berdiri di samping meja, dengan sabar mulai memilah berkas-berkas tersebut dan membukanya satu persatu untuk menjelaskan kepada Miyura.

​"Yang Mulia, dokumen pertama yang harus Anda selesaikan malam ini adalah laporan logistik pangan dari wilayah timur, dilanjutkan dengan perpanjangan aliansi perdagangan," jelas Aragoto dengan nada formal sambil meletakkan dokumen di hadapan Miyura.

​Miyura langsung mengeluh manja, menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil mengerucutkan bibirnya. "Oh, demi Tuhan, Aragoto! Dokumen-dokumen ini tebal sekali! Kenapa urusan negara ini merepotkan sekali? Rasanya kepalaku mau pecah membacanya," rengek Miyura dengan nada anak-anak, mengibas-ngibaskan tangannya malas.

​Aragoto menatap tuannya dengan tatapan datar yang menyiratkan rasa jenuh sekaligus geli. "Anda adalah Ratu sekarang, Yang Mulia. Mengeluh tidak akan membuat tumpukan kertas ini berkurang sedikit pun. Jika Anda menyelesaikannya sekarang, Anda bisa beristirahat lebih cepat."

​Miyura mendongak, menatap Aragoto dengan mata berbinar jahil. Ia terkekeh ringan, sebuah tawa manja yang langsung mencairkan suasana kaku di ruangan itu. "Kau ini galak sekali, Aragoto. Padahal aku hanya ingin bermanja-manja sebentar dengan pelayanku tersayang."

​Miyura menatap wajah Aragoto yang masih mempertahankan ekspresi lurus dan datarnya, lalu ia terkikik pelan sambil menggoda. "Ayolah, jangan pasang wajah sedatar itu terus. Coba tertawa sedikit bersamaku. Kalau kau terus serius begitu, nanti wajah mudamu cepat keriput!"

​Mendengar godaan itu, pertahanan Aragoto akhirnya runtuh. Wajah pemuda itu mendadak merona tipis karena malu diperlakukan santai seperti itu oleh sang ratu. Ia memalingkan wajahnya sejenak untuk menyembunyikan salah tingkahnya, lalu menghela napas sebelum akhirnya terkekeh pelan dengan malu-malu.

​"Anda ini... ada-ada saja, Yang Mulia," ucap Aragoto malu-malu, menggaruk pelan belakang lehernya yang tidak gatal.

​Miyura tertawa puas melihat Aragoto yang salah tingkah, merasa bahwa di balik dinginnya benteng istana Hikari, kehadiran pemuda berwajah mirip dengannya itu adalah satu-satunya hal yang paling menyenangkan di dunia ini.

Hari-hari berlalu membawa perubahan besar dalam dinamika hubungan di dalam istana. Seiring berjalannya waktu, dinding pembatas antara Ratu dan pelayannya perlahan runtuh. Miyura, yang dulunya dikenal dingin dan arogan kepada semua orang, kini jauh lebih terbuka kepada Aragoto. Sikapnya berubah drastis, memperlakukan Aragoto layaknya seorang adik perempuan yang manja kepada kakak laki-lakinya—selalu mencari perhatian, mengeluh dengan nada manja, dan bersandar pada kenyamanan yang diberikan oleh sang pelayan setia.

​Di sisi lain, para pelayan senior di dapur istana—termasuk Nyonya Martha dan Julian—yang sering melihat kedekatan tak biasa itu mulai merasakan kelegaan tersendiri di tengah ketegangan hidup di istana.

​Suatu sore, saat jam istirahat dapur, Martha dan Julian duduk bersandar di meja kayu sambil memperhatikan dari kejauhan bayangan Miyura yang sedang tertawa ceria bersama Aragoto di koridor luar.

​"Kau melihatnya, Julian?" bisik Martha pelan dengan senyuman haru di wajahnya. "Miyura sekarang jauh lebih lembut pada Aragoto. Cara ia bersikap... sungguh mirip seperti adik yang bermanja kepada kakaknya."

​Julian mengangguk pelan, menyesap teh hangat dari cangkirnya. "Aku melihatnya, Martha. Hatiku merasa sedikit lega. Setidaknya, di balik semua aturan kejam istana ini, mereka berdua bisa saling menemukan kehangatan tanpa harus tahu betapa pahitnya takdir yang memisahkan mereka."

​Martha menghela napas panjang, namun sorot matanya menyiratkan kilatan harapan yang rapuh. "Mungkin... suatu hari nanti, takdir akan menuntun mereka. Mungkin suatu hari nanti mereka akan saling mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah saudara kembar sejati."

​Mendengar perkataan itu, ekspresi Julian berubah serius. Ia meletakkan cangkirnya perlahan ke atas meja, lalu menatap Martha dengan pandangan memperingatkan.

​"Jangan terlalu berharap banyak, Martha," ucap Julian dengan suara berat dan berhati-hati. "Kita memang lega melihat mereka dekat. Tapi jangan lupakan satu hal yang selama ini kita abaikan karena tertutupi oleh senyuman manis sang Ratu."

​Martha menoleh, mengerutkan keningnya cemas. "Apa maksudmu, Julian?"

​Julian mendekatkan tubuhnya, merendahkan suaranya agar tidak didengar oleh pelayan lain. "Kau tahu betul bagaimana darah yang mengalir di dalam diri Miyura. Ia adalah anak kandung dari Raja dan Ratu yang mendoktrinnya dengan kekuasaan mutlak. Meskipun ia bersikap manis pada Aragoto sekarang, Miyura tidak sepenuhnya baik."

​Julian melanjutkan dengan nada dingin yang penuh pengalaman hidup di istana tiran itu. "Sifat kejam dan egois mendiang Raja dan Ratu tertanam kuat di jiwanya. Jika suatu saat nanti ada hal yang mengancam kekuasaannya, atau jika ia merasa dikhianati... sisi gelap itu akan bangkit. Dan aku takut, kedekatannya dengan Aragoto justru bisa menjadi bumerang yang paling menghancurkan jika rahasia ini terbongkar di waktu yang salah."

​Martha tertegun, darahnya terasa mendadak dingin mendengar peringatan rasional dari rekan sesama pelayannya itu. Ia kembali menatap ke arah koridor, tempat tawa Miyura dan Aragoto masih terdengar riang.

​Martha menggenggam erat ujung kain celemeknya, hatinya kembali diselimuti rasa cemas yang mendalam. Ia hanya bisa berdoa dalam diam agar kehangatan semu itu tidak berubah menjadi malapetaka besar bagi Aragoto di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!