Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. SIUMAN
Hari berganti hari dalam keheningan yang mencekam di Kediaman Duke Dravenhart. Sudah hampir empat hari penuh Virelia terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang utama. Luka tusuk di perut kirinya membutuhkan perawatan intensif, dan racun pelumpuh yang sempat merusak sistem sarafnya memaksa tubuh sang ketua pembunuh bayaran itu beristirahat total.
Selama kurun waktu tersebut, Kael benar-benar mengabdikan seluruh waktunya untuk sang istri. Panglima perang itu meninggalkan semua urusan rapat militer di tangan Julian, menolak meninggalkan kamar, dan secara bergantian bersama tabib memantau setiap embusan napas Virelia tanpa henti.
Hingga pada siang hari di hari kelima, sebuah keajaiban kecil terjadi.
Jemari tangan kanan Virelia yang terkulai lemas di atas selimut mendadak bergerak pelan. Bulu mata lentiknya bergetar hebat, dan perlahan-lahan, kelopak mata itu terbuka, menampakkan sepasang manik mata yang sayu.
Kael, yang sejak tadi duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan istrinya, langsung menegakkan tubuhnya dengan napas tercekat.
"Virelia?" panggil Kael dengan suara bergetar, matanya membelalak tak percaya.
Gadis itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu temaram di dalam kamar. Tenggorokannya terasa sangat kering, dan kepalanya berdenyut berat.
Melihat istrinya benar-benar sadar, gelombang kebahagiaan yang luar biasa membuncah di dada Kael. Tanpa membuang waktu, ia menoleh ke arah pintu kamar dan berteriak memanggil staf puri.
"Elaine! Cepat panggil tabib ke sini! Sekarang!" perintah Kael dengan suara lantang penuh antusias.
Di luar pintu, Elaine yang sedang berjaga bersama pelayan lain langsung bersorak kencang.
"Baik, Yang Mulia! Panggilkan Tabib! Yang Mulia Duchess sudah sadar!"
Di dalam kamar, Kael kembali memusatkan seluruh perhatiannya kepada Virelia. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menggenggam kedua tangan Virelia dengan sangat hati-hati, seolah takut gadis itu akan rapuh jika disentuh terlalu kuat.
"Virelia, kau bisa mendengarku? Apa ada yang sakit? Bagian mana yang terasa tidak nyaman?" tanya Kael bertubi-tubi, suaranya sarat akan kelegaan yang mendalam.
Virelia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Otaknya yang masih dipenuhi kabut obat bius dan efek sisa racun bekerja sangat lambat untuk mencerna situasi. Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata Kael, pakaian suaminya yang belum diganti selama berhari-hari, dan binar mata sendu yang tampak di pelupuk mata sang panglima perang.
Beberapa saat lamanya ia terdiam dalam keheningan yang panjang, sebelum akhirnya bibirnya yang pucat bergerak pelan.
"Kael?" bisik Virelia dengan suara parau, serak, dan begitu lemah.
Mendengar nama itu disebut dengan suara lirih, senyuman paling lebar dan paling tulus yang pernah menghiasi wajah Kael akhirnya terukir sempurna. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, dengan sangat lembut mengelus helaian rambut pirang Virelia yang berserakan di atas bantal.
"Iya, ini aku. Aku di sini, Virelia. Kau aman sekarang. Semuanya sudah baik-baik saja," jawab Kael penuh kasih sayang, mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
Virelia mengerjap pelan, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum dunianya menjadi gelap gulita di gang sempit malam itu.
"Apa ... apa yang terjadi?" tanya Virelia terbata-bata, napasnya masih sedikit pendek. "Aku ... aku ingat aku disergap di pelabuhan ... lalu aku lari ke ibu kota ...," lanjutnya ragu.
Kael menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya dengan suara tenang.
"Kau diserang oleh unit pembunuh bayaran rahasia suruhan Raja Lucien. Kau terluka parah di perut kiri, dan racun pelumpuh hampir menghentikan jantungmu. Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di sebuah gang di ibu kota, lalu membawamu pulang ke puri ini," kata Kael, rahangnya sedikit mengeras saat menyebut nama sang raja.
Mendengar penjelasan itu, mata Virelia membelalak kaget. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dia menemukanku di gang? Kalau begitu, dia pasti melihatku terluka parah setelah bertarung sebagai Raven! batin Virelia panik.
Virelia menatap Kael dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus cemas. Ia berusaha menarik tangannya, namun Kael menggenggamnya semakin erat.
"Kael ... sejak ... sejak kapan kau tahu?" panggil Virelia lirih, menelan ludahnya susah payah.
"Tahu apa?" tanya Kael balik dengan sebelah alis terangkat, menatap istrinya lekat-lekat.
"Tahu kalau aku tidak gila," jawab Virelia jujur dengan suara bergetar kecil, menyerah pada kebohongan yang selama ini ia bangun.
Kael mengangguk mantap. "Aku tahu."
"Sejak kapan kau tahu kalau aku hanya bersandiwara?" tanya Virelia agak panik.
Kael terkekeh kecil, sebuah tawa ringan yang terdengar begitu hangat di tengah suasana kamar yang tegang.
"Dua minggu lalu," jawab Kael tanpa ragu.
Kening Virelia berkerut dalam, alisnya bertaut. "Dua minggu lalu? Malam pertama saat aku menyusup lewat jendela puri?"
"Tepat sekali," angguk Kael tenang. "Gerakanmu saat melompati tembok pembatas puri terlalu sempurna untuk ukuran seorang wanita yang hobi memakan lilin aromaterapi dan melempar vas bunga. Dan caramu melumpuhkan pembunuh bayaran di kamarmu beberapa waktu lalu semakin memperjelas semuanya," jelasnya.
Virelia terperangah. Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata. Ia menatap pria di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Kau ... kau sudah tahu selama itu?! Kau tahu aku bukan wanita gila, kau tahu aku menyusup ke luar puri setiap malam, tapi ... tapi kenapa kau membiarkanku?! Kenapa kau tidak melaporkanku ke istana atau menghukumku?!" seru Virelia protes dengan suaranya yang serak, matanya melotot tajam.
Kael tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya sekali lagi, merapikan rambut Virelia dengan penuh kelembutan, lalu mendekatkan wajahnya hingga kening mereka hampir bersentuhan.
"Karena aku ingin melihat sampai di mana batas kemampuanmu bersandiwara, Ratu Awan. Aku ingin melihat bagaimana caramu menipu satu kerajaan penuh, termasuk suamimu sendiri," ujar Kael lembut, suaranya terdengar begitu memabukkan di telinga Virelia.
Virelia merona merah padam hingga ke pangkal telinganya. Ia membuang mukanya ke samping, merasa kesal sekaligus salah tingkah luar biasa.
"Kau mempermainkanku. Kau menikmati saat-saat aku harus berteriak pada dinding dan berpura-pura takut pada cacing tanah, kan?!" gerutu Virelia pelan dengan bibir mengerucut sebal.
"Yah, harus diakui, aktingmu sangat luar biasa menghibur di sela-sela kesibukanku memikirkan strategi militer. Meskipun ... aku sama sekali tidak menikmati bagian di mana kau pulang dengan bersimbah darah dan hampir mati di pelukanku," goda Kael jenaka, mencubit pelan hidung mancung Virelia.
Namun, sesaat kemudian, ekspresi Kael kembali melembut, dan sorot matanya berubah menjadi sangat serius.
Virelia terdiam. Ia menatap manik mata biru Kael yang memancarkan ketulusan dan sisa-sisa ketakutan yang mendalam. Gadis itu tahu betul, pria di hadapannya ini telah memertaruhkan segalanya, bahkan menyembunyikan identitas asli Virelia dari raja hanya demi melindunginya.
"Kael ... maafkan aku," bisik Virelia tulus, suaranya bergetar pelan. "Aku tidak bermaksud menipumu ... tapi aku harus melakukannya untuk kelompokku, untuk menghancurkan rezim raja tiran itu-"
"Sssshh ..." Kael meletakkan jari telunjuknya di bibir Virelia, menghentikan kalimat gadis itu. "Jangan bicara soal revolusi atau politik sekarang. Fokus saja pada pemulihan tubuhmu. Soal Raja Lucien dan istana biarkan aku yang mengurusnya," lanjutnya.
Sebelum Virelia sempat membuka mulutnya untuk bertanya lebih jauh tentang apa maksud perkataan Kael barusan, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati pintu kamar.
KRIEK
Pintu terbuka lebar, dan tabib istana bersama Elaine buru-buru masuk ke dalam kamar dengan napas tersengal-sengal membawa kotak peralatan medis.
"Yang Mulia Duchess sudah sadar?!" seru tabib tua itu terkejut sekaligus lega, langsung bergegas mendekati ranjang, mengakhiri percakapan privat antara sang suami dan istri.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣