Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Tidak Asing
Pintu lift terbuka perlahan. Azmira melangkah keluar bersama William dan beberapa anggota tim medis lainnya. Seorang staf Mahardika Group berjalan di depan mereka untuk menunjukkan ruangan yang telah disiapkan.
"Untuk pemeriksaan, ruangan sebelah kanan sudah kami siapkan, Dok."
"Baik, terima kasih," jawab Azmira.
Ia mempercepat langkah untuk menyusul rombongan. Namun di saat yang sama, dari arah berlawanan seseorang berjalan cukup terburu-buru juga, karena kurang adanya ketidakhatian tiba-tiba saja tubuh wanita itu menabrak Azmira.
Bruk!
Tubuh Azmira bertabrakan dengan perempuan itu.
"Ah..."
Beberapa berkas yang dibawanya hampir terjatuh. Tubuhnya pun kehilangan keseimbangan namun tiba-tiba...
"Dokter!"
William yang berjalan tidak jauh darinya segera meraih lengan Azmira. Tubuh perempuan itu akhirnya kembali tegak, tidak pernah ia sangka sebelumnya jika pria itu akan setanggap dan secepat ini menangkap tubuhnya.
Azmira mengembuskan napas lega, tanpa disuruh pun ia langsung mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Pak Wiliam kali ini anda menyelamatkan dokumenku," ucapnya pelan.
William masih memegang lengannya beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya.
"Hati-hati."
"Iya."
Azmira kemudian menoleh kepada perempuan yang tadi ditabraknya, ia sedikit terheran saat melihat perempuan itu rasanya seperti tidak asing, tapi ingatannya masih belum sepenuhnya sadar.
"Maaf, saya tadi tidak melihat."
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju kepada William. Kemudian kepada tangan pria itu yang baru saja melepaskan lengan Azmira.
"William?"
William menoleh. "Shiren."
Shiren tersenyum tipis. "Kamu di sini?"
"Aku sedang bekerja sama dengan perusahaan bokapmu," sahut Wiliam.
Shiren melirik Azmira sekilas, tidak hanya Azmira saja yang merasa tidak asing, begitu juga dengan perempuan ini. Shiren pun mulai menelisik kembali wajah perempuan itu.
"Seperti pernah bertemu tapi di mana," gumam Shiren dalam hati.
Shiren pun mulai menoleh ke arah Wiliam laku bertanya dengan nada datarnya. "Dokter baru?"
William menggeleng. "Dokter Azmira. Dia dari rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan."
Azmira tersenyum sopan. "Azmira Shafitri."
Shiren hanya mengangguk. "Shiren."
Mereka saling berjabat tangan singkat, dari sini keduanya semakin yakin jika waktu pernah mempertemukan mereka, meskipun masih sama-sama lupa akan pertemuan. Namun sebelum percakapan berlanjut, salah seorang perawat memanggil Azmira.
"Dokter, pasien pertama sudah siap."
Azmira mengangguk. "Saya permisi dulu."
William juga mengangguk seolah mempersilahkan perempuan itu untuk melangkah. "Silakan."
Azmira kemudian berjalan mengikuti perawat. Sementara Shiren masih memperhatikan punggung perempuan itu sampai menghilang di balik pintu.
"Dia dokter?"
William mengangguk. "Iya."
"Temanmu?"
William tersenyum kecil. "Baru kenal."
Shiren menghela napas lega tanpa sadar, entah kenapa seperti ada yang tidak tenang di dasar hatinya jika melihat Wiliam dekat dengan perempuan baru.
Melihat respon Shiren, William langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Shiren tersenyum. "Aku cuma bertanya."
Setelah tahu jawaban dari Shiren, William tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia kemudian melihat jam tangannya.
"Aku harus kembali," ucap Wiliam buru-buru.
"William."
Pria itu berhenti sejenak saat suara Shiren memanggilnya.
Seolah tak mau membuang waktu Shiren menatapnya tanpa ragu. "Nanti makan siang bersama?"
William menggeleng. "Sepertinya tidak bisa. Aku masih banyak pekerjaan."
Wajah Shiren sedikit berubah masam, entah kenapa penolakan ini seperti hal yang tidak biasa ia dapatkan.
"Selalu begitu."
William tertawa kecil. "Maaf."
Kemudian dengan langkah terburu-huru ia pergi menyusul Azmira yang mungkin sedang memeriksa pasien-pasiennya.
Shiren berdiri seorang diri. Tatapannya mengikuti William hingga pria itu menghilang. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Entah mengapa, kejadian sederhana tadi membuat hatinya tidak nyaman.
Bukan karena Azmira. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia melihat William memberikan perhatian kepada perempuan lain dengan cara yang berbeda. Dan Shiren tidak menyukai perasaan itu.
"Siapa perempuan yang berani mengusik ketenanganku itu," gumamnya dengan seringai di wajahnya.
☘️☘️☘️☘️
Pemeriksaan berjalan hingga menjelang sore.
Azmira beberapa kali harus berpindah ruangan. Sesekali ia bertemu William yang sibuk mengurus berbagai hal. Tidak ada kejadian besar setelah pertemuan dengan Shiren. Setidaknya sampai mereka selesai bekerja dan ketika Azmira sedang merapikan peralatan pemeriksaan, William menghampirinya.
"Dokter."
Azmira yang baru saja selesai menangani pasien terakhirnya langsung menoleh. "Iya?"
"Sudah selesai?"
"Hampir."
William melihat jam.
"Kalau begitu jangan terlalu lama. Kita harus kembali ke rumah sakit."
Azmira mengangguk. "Baik."
William hendak pergi ketika namun langkahnya terhenti saat Azmira mulai memanggil.
"Pak William."
"Ya?"
"Terima kasih tadi."
"Untuk apa?"
"Waktu saya hampir jatuh."
William tersenyum tipis. "Kalau saya tidak menangkap, mungkin sekarang Anda sudah terbaring di lantai."
Azmira mendengus. "Memangnya harus begitu cara Anda berterima kasih?"
"Saya cuma mengingatkan."
"Sudah. Sana kerja."
William terkekeh lalu pergi. Azmira menggeleng sambil tersenyum kecil. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Shiren melihat interaksi tersebut. Tangannya mengepal perlahan.
☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, Shiren pulang ke rumah dengan perasaan dongkol apalagi saat melihat senyum tulus Wiliam tadi seolah tidak ada keterpaksaan. Begitu memasuki ruang keluarga, ia mendapati Dika sedang duduk membaca beberapa dokumen.
"Papa."
Dika mengangkat wajah. "Iya Sayang?"
Shiren duduk di sampingnya. "Tadi Shiren ketemu William."
Dika kembali melihat dokumennya sebentar lalu keningnya berkerut. "Di mana?"
"Di kantor."
Dika mengangguk. "Dia sedang mengurus kerja sama dengan perusahaan Papa."
Shiren terdiam sebentar. Kemudian perempuan itu berkata. "Pa..."
"Hmm?"
"William dekat dengan seorang dokter."
Tangan Dika yang sedang membalik halaman berhenti seketika. Namun hanya sesaat karena baginya sang anak memang terlalu cemburu jika melihat Wiliam dekat dengan orang baru.
"Memangnya kenapa?"
"Entahlah."
Shiren memainkan ujung rambutnya. "Namanya Azmira."
Dika kembali menatap dokumen, namun beberapa detik kemudian alisnya bertaut, nama itu seolah tidak asing untuk dirinya, dan terasa begitu familiar.
"Azmira?"
"Iya."
"Siapa dia?"
"Dokter dari rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan kita."
Dika mengangguk. "Kalau begitu wajar."
Shiren mengerucutkan bibir. "Tapi tadi William menangkap dia."
Dika akhirnya menutup dokumennya mendadak. "Menangkap?"
"Iya. Dia hampir jatuh, karena bertabrakan denganku.
Dika menghela napas. "Shiren."
"Apa?"
"Jangan terlalu memikirkan hal kecil."
Shiren terdiam. Dika kemudian kembali membuka dokumennya.
"William sudah dewasa. Dia punya kehidupannya sendiri."
"Tapi aku suka dia, Pa."
Shiren menundukkan kepala. "Sejak dulu."
Dika menatap putrinya. Ia tahu perasaan Shiren kepada William bukan sesuatu yang baru. Namun ia juga tahu William tidak pernah memberikan harapan apa pun kepada putrinya.
"Kalau memang kamu menyukainya, jangan memaksanya."
Shiren mengangguk pelan. Tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak ingin menyerah. Sementara Dika kembali membaca dokumennya. Ia tidak tahu bahwa nama yang baru saja disebut putrinya...
Azmira Shafitri. Seorang anak yang kehadirannya tak pernah ia inginkan perlahan mulai mendekati kehidupannya.
Bersambung...
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡