"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: PUNCAK ES DAN AMBANG PENEROBOSAN
Langkah kaki Xue Qingyue terhenti di persimpangan lorong batu kristal yang membeku. Ia membalikkan tubuhnya yang anggun, menatap Mo Xie dengan sepasang mata biru esnya yang jernih namun tenang.
"Lebih baik kau gunakan puncak es milikku untuk mengasingkan diri," ujar Xue Qingyue, suaranya terdengar jernih memecah kesunyian lorong. "Di sana, kerapatan Qi spiritual dua kali lipat lebih murni daripada puncak milik murid-murid lainnya."
Mo Xie menyipitkan mata kirinya yang memancarkan pendar biru gletser redup. Sebagai praktisi di ranah Mortal yang bercita-cita menembus batas menuju ranah Awakened, penawaran tersebut adalah sebuah kesempatan yang tak mungkin ia tolak. Lingkungan dengan konsentrasi Qi yang padat adalah kunci utama untuk menstabilkan benturan dua energi ekstrem di dalam tubuhnya.
"Terima kasih. Kalau begitu, aku mengandalkanmu," sahut Mo Xie dengan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kesungguhan.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Xue Qingyue memimpin jalan menuju Aula Perbendaharaan Sekte Es Abadi.
Di balik pintu kristal raksasa yang dijaga oleh segel-segel kuno, penanggung jawab perbendaharaan menyerahkan seribu kristal es murni atas instruksi langsung Ketua Agung. Kristal-kristal berbentuk segi delapan itu memancarkan pendar biru yang dingin dan murni, memuntahkan hawa esensi yang begitu pekat. Dengan satu kibasan tangan, Mo Xie memasukkan seluruh seribu kristal es tersebut ke dalam cincin ruang yang melingkar di jarinya.
Setelah urusan perbendaharaan selesai, keduanya bergerak meninggalkan bangunan utama sekte, melayang ringan menembus kabut salju menuju wilayah puncak pribadi milik Xue Qingyue.
Puncak es milik Xue Qingyue berdiri megah, terpisah dari pemukiman murid lainnya oleh lautan awan yang membeku. Di tempat ini, angin tidak mengamuk liar, melainkan berembus tenang membawa pasokan Qi spiritual murni yang begitu dingin dan menenangkan jiwa.
Di tengah puncak tersebut, berdiri sebuah gua meditas bertatahkan batu kristal es alami.
"Di sini kau bisa fokus sepenuhnya untuk mengejar kenaikan ranahmu. Tidak akan ada satu pun yang berani mengganggumu di tempat ini," ucap Xue Qingyue saat mereka menapakkan kaki di depan ambang pintu gua.
Sebelum Mo Xie sempat melangkah masuk, Xue Qingyue mengibaskan lengan jubah perak-birunya.
WUUUSH!
Cahaya biru berkilau meledak pelan di udara. Sebanyak lima ratus kristal es murni tambahan memancar keluar dari cincin ruang milik Xue Qingyue, melayang rapat di hadapan pemuda itu.
"Ambil ini. Anggap saja sebagai balasan atas kontribusimu di perbatasan selatan tadi," ujar Xue Qingyue datar, meski ada kehangatan yang tersirat samar di balik tatapan matanya. "Bila kau memerlukan sesuatu, aku berada di bangunan utama puncak ini, tidak jauh dari sini."
Mo Xie menatap lima ratus kristal es tambahan di depannya, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah anggun praktisi wanita itu.
Tepat sebelum Xue Qingyue berbalik dan menghilang melintasi kabut es, Mo Xie menyunggingkan senyum tulus dari bibirnya.
"Terima kasih, Xue Qingyue."
Xue Qingyue tidak menjawab, namun sudut bibirnya sedikit terangkat sebelum tubuhnya meluncur anggun menembus kabut malam, menyisakan Mo Xie sendirian di depan pintu tempat pertapaannya.
DENTUM!
Pintu batu kristal es gua menutup rapat, mengisolasi ruangan dalam dari dunia luar secara mutlak.
Mo Xie melangkah ke tengah ruangan yang sunyi, menduduki sebuah batu es datar yang memancarkan hawa dingin alami. Ia mengibaskan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, memanggil keluar seluruh seribu lima ratus kristal es murni dari dalam cincin ruangnya.
PRANG! PRANG!
Ribuan kristal es berbentuk segi delapan itu jatuh mengelilingi tubuh Mo Xie, membentuk lingkaran sempurna yang menyalakan pendar cahaya biru menyilaukan. Hawa esensi spiritual yang teramat padat seketika meluap, memenuhin ruangan gua hingga membentuk pusaran uap beku yang mengalir mengitari raga Mo Xie.
Mo Xie menarik napas dalam-dalam, menghirup pasokan energi murni tersebut hingga memenuhi rongga dadanya.
Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, melipat kaki, dan menyilangkan tangan di depan Dantian.
WUUUUUSH!
Di dalam kegelapan kesadarannya, Inti Es Abadi di mata kirinya berdenyut hebat, memancarkan Hukum Es murni yang menyebar ke seluruh sirkulasi darah. Di saat yang sama, tanda Pedang Kehampaan di pergelangan tangan kanannya mulai memanas, memuntahkan benang-benang Qi Kegelapan yang liar.
Namun, kali ini Mo Xie tidak membiarkan kedua kekuatan itu saling melumat secara brutal. Dengan dukungan seribu lima ratus kristal es murni yang mulai meleleh dan terserap masuk ke dalam pori-pori kulitnya, Mo Xie memandu aliran energi tersebut untuk menempa Dantian fananya secara paksa.
Esensi kristal es bertindak sebagai jembatan yang kokoh, menjinakkan keliaran Qi Kegelapan dan menyatukannya dengan keheningan Hukum Es.
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan Mo Xie di dalam gua pertapaan ini sebelum pintu penerobosan ranah benar-benar terbuka lebar. Namun satu hal yang pasti—di dalam kegelapan batinnya yang sarat akan dendam dan ambisi, Mo Xie sangat yakin bahwa kali ini, ia akan berhasil melampaui batas fana dan menapakkan kakinya di ranah Awakened.
Hari-hari mulai berlalu dalam keheningan mutlak. Di dalam ruangan gua yang terisolasi dari dunia luar, Mo Xie terus memusatkan seluruh kesadarannya untuk memadatkan fondasi Dantian fananya. Konsentrasi Qi spiritual di puncak milik Xue Qingyue yang dua kali lipat lebih pekat, dipadu dengan lelehan energi murni dari seribu lima ratus kristal es, menciptakan pusaran daya hancur dan pemulihan secara bersamaan di dalam sirkulasi darahnya.
Setiap kali Qi Kegelapan dari Pedang Kehampaan mencoba mengamuk di lengan kanannya, Hukum Es murni dari kristal-kristal tersebut—yang dipandu oleh pendar Inti Es Abadi di mata kirinya—seketika menekan dan melumat keliaran tersebut menjadi embun energi yang patuh.
Waktu terus mengalir tanpa ampun. Dari hitungan hari berganti menjadi hitungan minggu, bulan, hingga tanpa terasa waktu telah melampaui satu tahun penuh.
Satu per satu kristal es murni di sekeliling tempat duduk Mo Xie meleleh dan kehilangan pendar cahayanya. Ribuan kristal yang tadinya menumpuk kini mulai menyusut drastis, hingga hanya tersisa beberapa ratus kristal saja yang masih menyala redup di atas batu.
Seiring dengan kian padatnya sirkulasi Qi di dalam dadanya, keheningan pertapaan panjang itu mulai meretakkan dinding kesadaran Mo Xie.
Kilas balik ingatan yang selama ini terkunci rapat di balik kabut misteri perlahan-lahan mulai menunjukkan bentuknya.
Di balik kegelapan meditasinya, Inti Es Abadi di mata kirinya berdenyut pasif, beresonansi secara misterius dengan tanda Pedang Kehampaan di pergelangan tangan kanannya. Kedua Artefak Surgawi itu bertindak bagaikan kunci dan gembok kuno yang membuka pintu sejarah jiwanya yang terputus.
Kilas-kilas pecahan memori berhamburan liar di dalam benak Mo Xie:
Ia melihat bayangan masa lalu yang begitu jernih... langit Benua Tianlan yang belum retak, hamparan lembah yang hijau, dan sosok Yurou, kekasihnya yang tersenyum lembut di bawah naungan dedaunan emas. Namun gambaran indah itu seketika hancur berkeping-keping saat Bencana Langit besar melanda. Langit robek memuntahkan cairan ungu-kemerahan, bumi terbelah menjadi benua melayang, dan tangan Yurou memudar menjadi serpihan abu keemasan di dalam genggamannya yang sia-sia.
Kesadaran Mo Xie bergetar hebat di tengah pertapaannya. Air mata dingin mengalir samar dari balik pelupuk matanya yang tertutup.
Kini, puzzle ingatan yang melingkupinya selama ini akhirnya menyatu menjadi sebuah kenyataan pahit yang utuh.
Ia tidak sekadar kehilangan ingatan secara acak. Ternyata, jiwanya telah tersegel rapat di dalam heningnya waktu selama lima ratus tahun lamanya!
Kehancuran Benua Tianlan, runtuhnya peradaban kuno, serta peristiwa tragis saat Yurou terenggut dari sisinya... seluruh malapetaka itu bukanlah kejadian baru beberapa hari atau beberapa tahun lalu, melainkan tragedi kelam yang telah berlalu lima abad yang lalu.
Mo Xie menarik napasnya dengan kasar saat matanya mendadak terbuka lebar!
BOOOOOOM!!!
Pendar biru gletser dari mata kirinya meledak menyilaukan, berbenturan secara brutal dengan gejolak Qi Kegelapan pekat yang membubung tinggi dari lengan kanannya. Sisa-sisa ratusan kristal es di sekelilingnya hancur berkeping-keping seketika, melebur menjadi gelombang kejut esensi yang tersedot masuk seluruhnya ke dalam Dantian Mo Xie!
Ambisi, rasa kehilangan, dan kepastian sejarah lima ratus tahun itu bersatu memicu ledakan energi yang dahsyat di dalam raganya.
Fondasi ranah Mortal miliknya telah hancur sepenuhnya,