**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Aku Pulang
Tiara benar-benar tidak memberi Laras ruang pada hari berikutnya.
Ia ikut ke UI lagi, duduk di sudut kantor Bu Ratna sambil bermain ponsel, tetapi selalu mengangkat wajah setiap kali Laras menerima pesan. Ketika Bram mengirim satu foto kopi dengan tulisan `kapan pulang?`, Laras langsung mematikan layar.
“Siapa?” tanya Tiara.
“Bu Ratna kirim revisi.”
Bu Ratna yang duduk tidak jauh dari sana melirik, tetapi tidak membongkar kebohongan itu.
Menjelang siang, Laras menyerahkan hasil terjemahan tahap pertama. Bu Ratna memeriksa beberapa halaman, lalu mengeluarkan perjanjian kerahasiaan.
“Data wawancara berikutnya lebih sensitif,” jelasnya. “Kamu boleh bawa pulang, tetapi hanya simpan di laptop pribadi. Jangan kirim lewat aplikasi sembarangan.”
Laras membaca setiap pasal sebelum menandatangani. “Kalau saya mengerjakan dari Kebumen, boleh, Bu?”
Tiara langsung menoleh.
Bu Ratna melepas kacamata. “Kamu mau pulang?”
“Mungkin. Pekerjaannya tetap selesai sesuai tenggat.”
“Boleh. Kita rapat lewat video. Tapi kalau ingin serius kembali menjadi penerjemah, Jakarta memberi lebih banyak peluang.”
“Saya tahu.”
“Pikirkan baik-baik. Jangan mengambil keputusan hanya karena takut.”
Laras menandatangani halaman terakhir. Ia bukan hanya takut. Ia sedang tinggal di rumah sahabatnya sambil menginginkan suami sahabat itu. Pergi adalah satu-satunya keputusan yang masih tampak benar.
Setelah pekerjaan selesai, Tiara masuk toilet. Laras keluar gedung membawa map, berniat menunggu di bangku. Sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke lorong samping yang tertutup pepohonan.
“Bram!”
Laki-laki itu berdiri terlalu dekat. “Kenapa dari tadi nggak balas?”
“Tiara sama aku.”
“Aku tahu. Mobilnya ada di parkiran.”
“Kalau tahu, kenapa datang?”
“Karena kamu menghindar.”
Laras melihat ke arah gedung. “Dia bisa keluar kapan saja.”
Bram menahan bahunya. “Tenang. Aku urus.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena aku memang akan urus.”
Laras ingin mengatakan bahwa besok pagi ia pulang. Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi wajah Bram membuatnya kehilangan keberanian.
“Aku harus kembali sebelum Tiara cari.”
“Laras.”
Ia berhenti.
“Jangan pergi tanpa bilang.”
Seolah Bram bisa membaca keputusan di wajahnya.
Laras menatap tangannya yang masih di bahu. “Lepas dulu.”
Bram melepaskan. Laras berjalan kembali tanpa menjanjikan apa pun.
Tiara sudah menunggu di depan lift dengan tangan terlipat. “Dari mana?”
“Cari minum.”
“Lama banget.”
Laras mengangkat botol yang sempat dibelinya dari mesin otomatis. “Antre.”
Mata Tiara bergerak ke lorong tempat Bram tadi berdiri. Untung laki-laki itu sudah pergi.
Dalam perjalanan pulang, Tiara terus membicarakan rencana akhir pekan. Ia ingin mengajak Laras brunch, mencoba klinik kecantikan, lalu belanja. Laras mengiyakan semuanya sambil memandang keluar jendela.
“Lo jangan pulang dulu,” kata Tiara. “Apartemen lebih enak kalau ada lo. Bram juga jadi makan teratur.”
Laras menoleh. Tiara mengatakannya tanpa curiga, bahkan dengan rasa terima kasih.
“Kalau aku harus pulang karena kerjaan?”
“Kerjain dari sini. Tadi Bu Ratna bilang bisa, kan?”
“Aku pikirkan.”
Tiara meraih tangannya. “Jangan bikin gue kesepian lagi.”
Laras menggenggam balik tangan itu. Keputusan untuk pergi terasa seperti satu-satunya bentuk persahabatan yang masih bisa ia berikan.
Malam itu ia memasukkan pakaian ke koper setelah apartemen sunyi. Gaun putih, kacamata, topi, parfum, dan seluruh barang pemberian Bram ikut dikemas. Meninggalkannya akan membuat Tiara bertanya. Membawanya terasa seperti membawa bukti kesalahan.
Beberapa kali Laras berhenti ketika mendengar langkah di lorong. Ia takut Bram masuk dan mendapati koper terbuka. Ia juga takut laki-laki itu tidak datang sama sekali.
Pintu kamar utama tetap tertutup.
Laras melipat kaus tidur pemberian Tiara, menaruhnya paling atas, lalu duduk di lantai. Dua perempuan telah memberinya banyak barang di rumah itu. Yang satu menganggapnya sahabat miskin yang perlu ditolong. Yang lain membuatnya merasa menjadi perempuan paling berharga.
Keduanya sama-sama alasan ia harus pergi.
Foto Polaroid diselipkan di antara halaman buku. Foto rumah contoh tetap di dompet.
Menjelang Subuh, Laras memasak sup ayam dan menghangatkan nasi. Ia menaruh sarapan di meja, satu mangkuk untuk Tiara dan satu mangkuk besar untuk Bram. Tidak ada wajah saus tomat kali ini.
Ia memesan mobil menuju stasiun, lalu mengeluarkan koper saat lorong masih sepi. Ponselnya bergetar. Pesan Bram.
`Sudah bangun?`
Laras tidak menjawab.
Di dalam mobil, ia mengetik dua kata.
`Aku pulang.`
Pesan itu tidak langsung dikirim. Laras menatapnya sampai mobil memasuki jalan utama, lalu menekan layar dan mematikan ponsel.
Untuk perjalanan kembali, ia membeli kursi kelas eksekutif. Harganya membuat tangan sempat ragu, tetapi kali ini Laras tidak memilih yang termurah. Ia membutuhkan ruang untuk membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan Bu Ratna.
Petugas kereta menawarkan minuman. Laras memilih air dingin tanpa lebih dulu bertanya harga. Gerakan kecil itu membuatnya terdiam setelah petugas pergi. Beberapa hari lalu ia mengembalikan botol tujuh ribu. Kini ia tahu masih ada saldo yang cukup, ada pembayaran proyek berikutnya, dan ada kemampuan yang bisa menghasilkan lebih banyak.
Uang Bram bukan kebebasannya. Namun uang itu telah memberinya waktu untuk membangun kebebasan sendiri.
Sepanjang jalan menuju Kebumen, dokumen terjemahan memenuhi layar. Laras bekerja setiap kali bayangan Bram tidak menyusup ke pikirannya.
Ia tiba sore hari dan langsung mendatangi kantor lama. Rekan-rekannya terdiam melihat Laras masuk dengan pakaian Jakarta, kacamata baru, dan koper di tangan.
“Mbak Laras habis liburan?” seseorang bertanya.
“Bukan.” Laras meletakkan surat di meja atasannya. “Saya mau mengundurkan diri.”
“Mendadak sekali.”
“Saya dapat pekerjaan penerjemahan. Saya tetap selesaikan serah terima hari ini dan besok.”
Atasannya membaca surat itu. “Sesuai aturan, pengunduran diri perlu masa pemberitahuan.”
“Saya mengerti. Saya siap menyelesaikan masa transisi dan dokumen dari rumah. Tapi saya nggak akan menarik keputusan ini.”
Nada Laras tidak keras, hanya tidak lagi meminta izin untuk hidupnya sendiri. Atasannya akhirnya mengangguk dan memanggil staf administrasi untuk membicarakan jadwal serah terima.
Seorang rekan mendekat ketika Laras keluar dari ruangan. “Mbak benar-benar mau jadi penerjemah?”
“Iya.”
“Berani banget.”
Laras memandang surat yang sudah diterima. “Aku terlambat berani.”
Beberapa kepala muncul dari balik kubikel. Dulu tak seorang pun memperhatikan ketika Laras datang dengan pakaian kusam dan wajah lelah. Sekarang mereka menatap seolah perempuan yang pulang dari Jakarta adalah orang berbeda.
Laras tidak menunduk lagi.
Di Jakarta, Bram pulang setelah sekolah dan langsung melihat dua mangkuk sup di meja. Mangkuk Laras tidak ada.
Pintu kamar tamu terbuka. Lemari kosong. Koper, pouch makeup, bahkan sandal murah Laras sudah hilang.
Baru saat itu ia memeriksa ponsel.
`Aku pulang.`
Bram menelepon. Sekali, dua kali, lima kali.
Nama Laras terus memenuhi layar, tetapi hanya nada tunggu yang kembali kepadanya.
Tak satu pun dijawab.