Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Omongan Tetangga

Bu Lina tidak bertanya berapa lama aku akan tinggal.

Ia hanya mengambil ransel dari bahuku, menunjuk kamar kecil di belakang ruang keluarga, lalu berkata, "Seprai bersih ada di lemari. Makan dulu sebelum mandi."

Pak Bambang menggeser beberapa kardus dari kamar itu. Rangga membawa kipas dari kamarnya sendiri. Tak ada rapat keluarga untuk memutuskan apakah aku pantas diterima.

Malam pertama, aku tidur hampir delapan jam tanpa terbangun karena suara pintu.

Paginya baru kuketahui kamar kecil itu biasa dipakai menyimpan persediaan warung. Rangga memindahkan tiga rak ke kamarnya sendiri dan tidur berdesakan dengan kardus kerupuk.

"Kenapa nggak bilang?" tanyaku.

"Kalau kubilang, kamu pasti memilih tidur di kursi."

"Aku bisa cari kos harian."

Pak Bambang yang sedang mengenakan jaket pengemudi menoleh dari meja. "Simpan uangmu untuk uang muka kos. Di sini bukan hotel, jadi tidak ada tagihan."

Bu Lina menyodorkan piring nasi kepadaku. "Kalau merasa nggak enak, bantu catat pesanan saat warung ramai. Tapi jangan sok rajin sampai mengambil semua kerjaan."

Aku hampir menangis karena bahkan bantuan di rumah itu memiliki batas yang sehat. Mereka memberiku ruang tanpa mengubahnya menjadi utang yang kelak ditagih lewat kepatuhan.

Rangga meletakkan kunci cadangan di meja. "Kunci pintu kalau mau tidur. Kami ketuk dulu."

Aku menggenggam kunci itu. Murah, ringan, tanpa batu mulia. Namun nilainya terasa lebih besar daripada perhiasan mana pun yang pernah dipaksakan ke tanganku.

Hari-hari berikutnya, aku membantu warung pada jam makan siang dan mengirim lamaran kerja dari meja kecil di kamar. Bu Lina selalu mengetuk. Rangga menjaga jarak ketika aku terlihat tegang. Pak Bambang mengantar ke minimarket tanpa meminta penjelasan.

Untuk pertama kalinya, tinggal di rumah orang lain justru membuatku merasa memiliki pintu sendiri.

Tiga hari kemudian, Tania mengirim tangkapan layar dari akun gosip lingkungan Bandung. Unggahannya tidak menyebut nama lengkap, tetapi foto pagar rumah kami terlihat jelas.

Putri kedua keluarga terpandang mengganggu calon suami kakak, lalu kabur ke rumah lelaki lain setelah kebohongannya terbongkar.

Komentar di bawahnya lebih buruk. Seseorang menulis bahwa aku memang sering pulang bersama Rangga. Yang lain menyebutku tidak tahu malu. Ada yang mengaku mendengar aku merusak perhiasan mahal karena iri.

Tanganku dingin memegang ponsel.

Tania menelepon. "Aku bisa laporkan akunnya. Kirim tautannya ke teman-teman juga."

"Jangan balas komentar. Nanti tambah ramai."

"Kar, mereka pakai fotomu dari acara kampus."

Aku melihat lebih teliti. Wajahku buram, tetapi tetap bisa dikenali orang dekat. Seseorang telah menyerahkan informasi, foto, dan versi cerita yang sengaja dibuat menjijikkan.

"Simpan tangkapan layarnya," kataku. "Sama nama akun yang unggah pertama."

"Sudah. Aku kirim ke surelmu."

Setelah telepon berakhir, suara ribut terdengar dari depan warung.

Rangga sedang berhadapan dengan dua pemuda dan seorang ibu yang memegang kantong belanja.

"Kalau nggak tahu ceritanya, jangan bawa nama Sekar," katanya.

"Kami cuma bilang yang beredar," jawab si ibu. "Katanya dia sendiri mengaku bohong."

"Beredar bukan berarti benar."

"Kamu membela karena sekarang dia tinggal di rumahmu?"

Rahang Rangga mengeras. "Dia tinggal bersama keluargaku. Bukan dengan aku. Dan apa pun yang terjadi, bukan urusan Ibu menjual ceritanya ke akun gosip."

Bu Lina keluar membawa sendok sayur. "Kalau mau beli rawon, antre. Kalau mau beli gosip, cari warung lain."

Mereka pergi sambil menggerutu.

Rangga masuk ke halaman belakang. Ia baru melihatku setelah pintu ditutup.

"Kamu dengar?"

"Satu gang dengar."

"Maaf."

"Kenapa kamu minta maaf?"

Ia menyisir rambut dengan tangan, menahan marah. "Karena aku mau memukul orang, tapi Ibu keluar duluan."

"Syukurlah Bu Lina cepat."

"Aku serius." Ia duduk di seberangku. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu nggak harus cerita semua. Cuma bilang, ada yang perlu kubantu atau nggak."

Aku menatap ponsel. Di layar, orang asing sedang membicarakan tubuh dan niatku seperti milik umum.

"Aku mengatakan sesuatu tentang Damar," kataku pelan. "Lalu aku menariknya kembali."

"Karena itu bohong?"

Aku tidak menjawab.

Rangga menunggu beberapa detik. "Atau karena mereka membuatmu bilang itu bohong?"

Mataku panas. Ia membaca jawaban dari wajahku dan tidak bertanya lagi.

Pintu belakang terbuka. Seorang laki-laki tinggi masuk dengan tas medis di bahu. Mas Bara baru pulang dari giliran kerja di rumah sakit. Wajahnya lelah, tetapi pandangannya langsung menangkap suasana.

"Ada masalah?"

"Gosip," jawab Rangga.

Mas Bara mencuci tangan, lalu melihat tangkapan layar yang kusodorkan. "Simpan alamat tautan, waktu unggah, nama akun, dan semua pesan ancaman. Jangan hanya screenshot yang bisa kehilangan konteks."

"Untuk apa?"

"Kalau nanti perlu melapor atau meminta konten diturunkan, kamu punya catatan." Ia menatapku tenang. "Kalau ada kejadian lain sebelum ini, simpan juga. Pesan, foto, catatan medis, apa pun. Jangan menunggu sampai semua orang percaya baru mulai mengumpulkan bukti."

Rangga melirikku, tetapi tetap diam.

Aku teringat bungkusan teh, foto gelang, catatan kebetulan, dan laci yang kutinggalkan di rumah.

"Kalau aku sudah terlambat?" tanyaku.

"Mulai dari yang masih ada."

Mas Bara mengambil air minum lalu masuk untuk tidur. Nasihatnya tertinggal di halaman kecil bersama suara kipas dan aroma rawon dari dapur.

Selama ini aku mengumpulkan catatan agar tidak meragukan diri sendiri.

Sekarang aku mulai memahami bahwa suatu hari, catatan itu mungkin menjadi cara membuat orang lain berhenti meragukanku.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!