Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hitam di Balik Gerbang Klan Feng
Malam yang tadinya diwarnai ketegangan konyol akibat perdebatan tiga pangeran mendadak berubah drastis menjadi sunyi mencekam. Setelah ancaman mutlak dari Xia Qinglan berhasil memaksa Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen untuk duduk diam dalam keheningan, suasana di dalam rumah menjadi begitu senyap hingga suara desau angin malam di luar jendela terdengar begitu nyaring.
Qinglan memilih mengundurkan diri lebih awal ke kamarnya, membiarkan ketiga pria itu merenungi tindakan kekanak-kanakan mereka di ruang tamu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Gu Yichen, yang duduk bersidekap di dekat jendela dengan mata setengah terpejam, tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Ia melirik sekilas ke arah Feng Huang yang sedang duduk melamun di sudut ruangan. Sebagai seorang mantan pengawal bayangan yang memiliki jaringan informasi rahasia luas di berbagai wilayah, telinga dan insting Gu Yichen jauh lebih tajam daripada orang biasa. Ia baru saja menangkap desas-desus kelam yang dibawa oleh angin malam dari arah perbatasan utara.
Gu Yichen mengubah posisinya, menegakkan tubuhnya, lalu melayangkan pandangan lurus yang menusuk ke arah Feng Huang. Suaranya terdengar berat, dingin, dan memecah keheningan malam tanpa aba-aba.
“Feng Huang,” panggil Gu Yichen pelan namun tegas.
Feng Huang, yang tadinya sedang menatap kosong ke arah mangkuk tehnya, mengangkat kepala. Alisnya berkerut sinis menatap si pengawal kaku berambut hitam-hijau itu. “Ada apa lagi, si kaku? Apakah kau ingin mencari gara-gara lagi malam ini?” tanyanya ketus.
Gu Yichen tidak terpancing emosi. Wajah datarnya justru semakin mengeras, menyembunyikan sebuah beban informasi berat yang baru saja ia pastikan kebenarannya.
“Ada rumor mengerikan yang baru saja kudengar melalui jalur bayangan,” ucap Gu Yichen serius. “Kediaman utama Klan Feng di ibukota utara saat ini tengah melangsungkan upacara pemakaman besar-besaran... untukmu.”
Seketika itu juga, udara di dalam ruangan seolah membeku.
Feng Huang terperanjat dari duduknya. Kursi kayu yang ia tempati bergeser kasar hingga menimbulkan suara decitan nyaring di lantai. Matanya yang merah membelalak lebar, menatap Gu Yichen dengan tatapan tak percaya, seakan-akan ia baru saja mendengar lelucon paling biadab di dunia.
“Pemakaman... untukku?” suara Feng Huang tercekat di tenggorokan, terdengar bergetar hebat. “Jangan berbicara sembarangan, Gu Yichen! Aku masih duduk hidup-hidup di hadapanmu! Bagaimana mungkin kediamanku sendiri mengadakan upacara kematian untuk pewaris utamanya?”
Mingye, yang sedari tadi menyimak perdebatan mereka dalam diam, ikut menegakkan tubuhnya. Ekspresi wajahnya yang biasanya santai kini berubah serius. Ia tahu betul betapa kejamnya intrik politik di dalam lingkaran keluarga istana dan klan bangsawan besar.
Gu Yichen berdiri perlahan dari kursinya, melangkah mendekati Feng Huang dengan langkah pasti. “Aku tidak sedang berkelakar, Pangeran Feng. Kabar itu nyata. Bendera duka berwarna putih kini telah berkibar di seluruh penjuru gerbang kediaman Klan Feng. Mereka menyatakan kepada seluruh kekaisaran bahwa pewaris sah mereka tewas dalam insiden penyerangan di hutan perbatasan.”
Kata-kata itu menghantam kesadaran Feng Huang bagaikan sambaran petir di siang bolong. Lututnya terasa lemas seketika. Ia terhuyung mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu di belakangnya.
Bagi dunia luar, bagi istana, dan bahkan bagi keluarganya sendiri, Feng Huang kini secara resmi telah dianggap mati.
“Ular-ular licik itu...” desis Feng Huang penuh kebencian, kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan darah segar nyaris menetes dari telapak tangannya yang menahan amarah luar biasa. “Kakak sulungku... atau pamanku... Pasti mereka dalang di balik semua ini! Mereka sengaja menyebarkan berita kematianku agar kedudukan pewaris jatuh ke tangan mereka tanpa perlawanan!”
Kemarahan, rasa pengkhianatan, dan luka mendalam karena dibuang oleh keluarganya sendiri bergemuruh hebat di dalam dada Feng Huang. Napasnya memburu, dan sirkulasi tenaga dalam di tubuhnya mulai bergejolak tak terkendali, memancarkan hawa panas kemerahan yang membakar udara sekitar.
Mingye bangkit berdiri, menepuk bahu Feng Huang pelan—sebuah gestur langka yang menunjukkan rasa solidaritas di antara sesama korban intrik istana. “Tenangkan dirimu, Feng Huang. Jika kau kehilangan kendali sekarang, rencana busuk mereka justru akan berhasil sepenuhnya. Mereka ingin kau mati, dan jika kau menunjukkan diri dalam kondisi emosi seperti ini, kau hanya akan masuk ke dalam perangkap kematian yang mereka buat.”
Gu Yichen mengangguk setuju. “Mingye benar. Berita kematian palsu ini disebarkan agar kau bergerak gegabah kembali ke ibukota tanpa persiapan. Begitu kau menampakkan diri, mereka akan menghabisimu secara sah atas tuduhan sebagai penyusup atau hantu gentayangan.”
Di tengah kekacauan emosi yang melanda Feng Huang, pintu kamar utama perlahan terbuka.
Xia Qinglan melangkah keluar dari kamarnya. Gadis itu mengenakan jubah tidur sederhana, namun sorot matanya sangat tajam, menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak tidur dan mendengarkan setiap patah kata percakapan mereka dari balik pintu.
Qinglan berjalan mendekati lingkaran ketiga pangeran tersebut. Langkah kakinya tenang, tanpa keraguan sedikit pun. Ia berhenti tepat di hadapan Feng Huang yang masih terduduk lemas bersandar di dinding dengan tatapan kosong penuh amarah.
Tanpa berkata apa-apa, Qinglan mengangkat tangannya dan menepuk pipi Feng Huang pelan namun cukup tegas untuk menyadarkan pemuda itu dari lamunan gelapnya.
“Sadarilah, A-Feng,” suara Qinglan terdengar lembut namun tegas menusuk hingga ke lubuk hati paling dalam. “Mereka menganggapmu mati di atas kertas? Bagus. Jadikan kematian palsu itu sebagai keunggulanmu. Di dunia persilatan dan intrik istana, orang mati memiliki kebebasan bergerak yang jauh lebih besar daripada orang yang hidup.”
Feng Huang mendongak, menatap ke dalam sepasang mata jernih Qinglan. Air mata kemarahan yang tadinya hampir tumpah di pelupuk matanya perlahan surut, digantikan oleh kilatan tekad baja yang baru.
“Kau benar, Lanlan...” bisik Feng Huang parau, perlahan menegakkan kembali tubuhnya. “Jika mereka sangat ingin melihatku mati, maka aku akan membiarkan mereka hidup dalam ketakutan sampai suatu hari nanti aku kembali ke istana untuk menagih nyawa mereka satu per satu.”
Mingye dan Gu Yichen saling berpandangan, menyadari bahwa permainan mematikan baru saja dimulai. Di bawah atap rumah Xia Qinglan, tiga pangeran yang dibuang oleh takdir itu kini bersatu, siap menyusun strategi di atas abu kematian palsu sang pangeran berambut merah.