Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Maaf Ila"
Gadis itu masih berlari di belakangku, terus terdiam. Mungkin memikirkan suatu cara. Hebat, kulihat keadaan tubuhnya masih segar setelah melawan pasukan sebelumnya. Aku bahkan terlihat tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan Ila sendirian.
“Aro” Ila memanggilku.
“ya?”
“Sepertinya kita tidak akan bebas dari kota ini. Kurasa sudah mentok, tidak ada jalan lagi”
“Ya, aku juga merasakannya” Aku setuju saja.
Ila berhenti. “Lalu, kenapa kita lari? Saat ini empat orang juga berhenti di atap gedung sana, dari tadi mengejar kita”
Aku ikut terdiam.
“Kita hanya bisa bertahan, sampai mati”
Aku mengerutkan dahi. “Tidak akan”
Ila menggeleng. “kamu jika masih menggunakan akal sehat, maka akan sengsara. Kita memang tidak salah, tapi mau bagaimana lagi? Keadaan sekarang menawarkan dua pilihan, pertama menyerah dan mati sebagai korban, itu juga tidak akan ada siapa pun yang tahu jika kita adalah korban dari ironi hukum, aku adalah mutan dan kau pelindung mutan, itu adalah tuntutan pidana kita. Kedua, kita terus melawan sampai titik penghabisan, lagi pula jika berhasil memberi fakta pada hukum bahwa kekuatanku tidak akan membahayakan, kita tetap tidak dapat mengelak pada mahkamah tertinggi –majlis besar islam, aku takut perspektif orang-orang di sana tidak sama sepertimu, . aku bisa menjamin kau selamat, tapi aku...
“Ya aku paham” Aku memotong. “Bukankah dari awal –pas aku masih keliatan santrinya, aku berjanji akan membantumu sampai masalah ini berakhir”
“Tidak Aro” Ila memotong. “Kau tidak seharusnya terlibat dengan ini, kau- kau...
“Apa?” Aku menatap sayu gadis itu.
Tangan Ila mengepal, ekspresinya seakan gemas.
Anak itu berseru mengeluh. “Kenapa kau bisa setenang ini, apa yang kau pikirkan. Lihatlah aku, keluargaku rata dibunuh yang tersisa hanyalah aku. Mereka tampak memprioritaskan diriku. Tapi kamu siapa? A.. aku ga mau ada yang terbunuh lagi. Kamu ngerti perasaanku kan?”
“Kau takut ada yang terbunuh lagi karena membelamu?” Balasku.
Ila mengangguk. “Tepatnya aku tidak mau Aro ikut menyusul keluargaku. Karena... kurasa.. walau kita baru bertemu kemarin, kau sudah menjadi sosok yang menggantikan mereka”
Deg! Serasa ada sesuatu yang mencius di dalam dadaku.
Tapi... “Oh ya, aku lupa... sejak turun dari bis kita berpura-pura jadi kakak-adik kan?”
Ekspresi Ila berubah drastis, menjadi datar. “Dahlah, sepertinya kau memang tidak bisa di ajak dramatis”
“Gak ada di kamusku” Aku terbahak. “Biasa saja kali”
Ila tersenyum. “Terima kasih”
Aku berhenti terbahak. “Yaudah. Lagi pula katanya kamu mau jamin aku selamat”
Ila sedikit tersentak. “Kau milih opsi kedua?”
“Iya lahh. Kau saja yang terlalu meremehkanku” Merenggangkan tangan ke depan, berbunyi. Lanjut menggerakkan leher, kiri-kanan, berbunyi renyah.
Lorong gang lengang sejenak, hujan masih membungkus kota, deru membungkam. Ila tersenyum melihatku.
“Ekhem_” Tiba-tiba terdengar dehaman sesorang, memecah suasana.
Aku, Ila tertoleh ke sumber suara. Sedikit tercengang, ada pria dewasa di sini, kisaran tiga puluh tahunan. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana jeans coklat muda.
Sejak kapan? Bukankah dari tadi kami hanya berdua di sini.
Pria itu membakar rokok di mulutnya. Matanya terpenjam takzim. Sedetik, asap mengepul terkoyak air hujan. “Kenapa kau tidak pilih opsi pertama saja, nak Aro? Mati menyedihkan. Karena sudah pasti kalian berdua terbunuh kali ini”
Kami tidak membalas. Sebaliknya, justru bersiaga. Aura membunuh dari orang ini sangat kuat, tebukti dengan ucapannya barusan.
Pria di depan menghisap rokoknya lagi. Asap mengepul, matanya menatap tajam ke arah kami.
Tap! Sosoknya tiba-tiba menghilang.
Itu bukan teknik teleportasi, itu kcepatan yang luar biasa. Bersamaan Ila juga mendorong tubuhku. Aku sedikit tersentak, terjatuh.
Pria barusan tiba di belakang Ila, gadis itu memainkan sikunya. Tak! Ternyata dia menepis tangan pria tersebut. Gerakannya cepat sekali, aku bahkan tidak melihat pria itu melancarkan serangan.
Pria sedikit tercengang.
Ila memutar tubuh, serangan balasan. Pria di hadapannya siap menghalangi perut. Set, salah! dia ternyata beringsut ke belakang Pria.
Tinju siap menghantam.
GAP! Tangan Ila tertangkap.
Aku tidak tinggal diam, bagaiamana dia bisa? Pukulan Ila hampir tidak terlihat. Aku melesat, sama cepatnya. Tiba di depan pria, tinju melayang deras.
Set! Pria yang di lawan hanya memutar tubuh, pukulanku meleset. Bersamaan Ila juga di banting, aku di tendang, posisi belum ambruk. Sangat cepat gerakannya.
Aku berseru tertahan, terpental hampir sepuluh meter, berakhir menghantam tanah. Darah di mulutku keluar, sedikit tersedak.
Tertatih berdiri, perutku sakit sekali. Melihat ke tempat Pria, sial! Ila tersungkur di bawahnya. Dia mulai mengeluarkan belati dari saku celana.
Mataku segera bergerak kemana-mana, mencari sesuatu. Dapat, dua barang langsung ku lempar.
Balok panjang melesat, tepat ke arah Pria beberapa meter di sana. Sekejap aku mulai menghentakkan tubuh, meluncur di belakang balok.
Balok hampir menghantam Pria, itu bukan masalah serius, si Pria berkemeja hitam hanya menggeser tubuh, balok meleset seketika.
Gantian aku yang tiba di depan Pria. Dia siap menyambut seranganku. Aku menunduk cepat, kaki memperosok di atas genangan air, membawa tubuhku sedikit menjauh.
Berhembus, memutar tubuh, kembali menerjang Pria, siap melancarkan tinjuan selanjutnya.
Pria itu justru tersenyum “Bodoh!”
Aku juga balik tersenyum.
Brak!! Kepalanya terhunjam sesuatu. Sang pria terkejut, aku sebenarnya melempar dua balok tadi, satu lurus ke depan satu lagi dari atas.
Namun ini lebih dari cukup untuk membuatnya lengah.
Bug!! Tinjuku kuat menghantam wajah, orang itu berseru tertahan dan terpundur ke belakang. Hidungnya langsung memar berwarna merah, mengalirkan darah.
Orang menatap jeri ke arahku, sedikit terperanjat. Walau tubuhnya lebih besar dariku, mungkin aku bisa menandinginya.
“Kau!!” Pria kemeja hitam berkelebat, muncul cepat di hadapanku.
Tinju pertama melayang, aku tidak bisa melihatnya.
Tapi berhasil ku hindari, instingku juga kuat. Aku mencoba mundur.
Dua tinjuan melayang sekaligus. Satu berhasil menghindar, datu lagi tak sempat dan ku tangkis. Cepat sekali. Aku terpundur, pria itu juga semakin beringas maju. Menambah serangannya.
Satu-dua-tiga berhasil berhasil meleset, aku meliuk-liuk menghindar. Aku pun kehilangan fokus, tinjuannya secara kilat datang bertubi-tubi, aku coba tangkis. Tubuhku terus tersentak kanan dan kiri.
Brakk! Aku berseru tertahan. Kepalaku akhirnya terhunjam, aku terpental dan membentur dinding gedung.
Belum berakhir, tidak ada momen sedikitpun. Pria datang dan inggin menyerang lagi.
Tidak sempat menghindar, tapi kedua tanganku justru berhasil menangkap satu tangan Pria itu. Aku segera mencengkramnya kuat-kuat.
Tangan yang lain ikut main. Sial, aku lupa.
BUG!BUG!BUG!!BUG!! kepalaku mulai tertimpa banyak pukulan, cepat sekali.
Kakiku bergerak, mengincar belakang lutut Pria kemeja. Deg! Orang tersebut terhentak kebawah. Pukulannya terhenti, aku lanjut membalas. Menaikkan lutut sendiri. Brak! Sempurna mengenai janggut lawanku.
Sang Pria berseru.
Brak!! Lanjut meninju kepalanya ke samping.
Pertahannya berkurang drastis. Kaki kananku terulur, segera menghantam wajah. Tubuh orang di depanku segera terbanting ke bawah, mulut dan hidungya memuncratkan darah.
Baiklah, sekarang aku mulai tahu cara menemukan titik lemah lawanku ini.
Pria itu masih bangkit, terbatuk. Kembali menatap kesal ke arahku. “Sialan”
Aku terdiam, berdiri di depan Ila yang terbaring lemas, mulut gadis itu mengalirkan darah. Kembali fokus, menatap taam ke arah Pria kemeja hitam.
Aku perlahan mendekat, tidak melesat, aku dan Pria di depan hanya terpisah jarak tiga meter. Namun jika orang itu melesat lagi, aku harus bisa menebak serangan pertamanya.
Tas!!
Orang itu melesat, hampir menghilang.
Aku menguatkan semua panca indraku.
Grap! Muncul di sempingku. Langsung melancarkan pukulan. Aku bisa merasakannya, langsung beringsut menggeser posisi, berhasil ku hindari.
Sama seperti barusan, segera banyak tangan beringas mengincar kepalaku. Aku hanya meliuk-liuk sembari terus fokus dan sedikit mundur –menjaga jarak.
Brak!! Tetap saja ada yang harus ku tangkis. Aku melesat mundur. Namun itu kesalahan besarku, Pria di depanku ikut melesat.
Di saat aku masih beberapa senti di atas permukaan tanah, ia sudah di belakangku. Sial, aku tidak bisa melakukan sesuatu. Pukulannya bebas mengenai punggung, kuat sekali. Tubuhku tersentak hebat, segera ambruk di atas tanah, menggerang kesakitan.
Orang itu mengibaskan tangannya, sedikit mengeluh sakit. Menatapku sejenak, kemudian beranjak, mendekati Ila.
Punggungku sakit sekali, aku hampir tidak mampu bangkit. Hanya dapat menggerang sebal dan nyeri. Melihat Pria itu mulai mendekati Ila, mengambil lagi belati yang dia simpan di sakunya.
“Jangan!!” Aku berteriak serak.
Dengan kekuatan di tangan, aku mulai mencengkram tanah. Lanjut melempar tubuh, tepat ke arah Si pria kemeja hitam. BRAK!!
Orang tersebut terperanjat. Hampir terjatuh, ingin menyeimbangkan tubuh, aku langsung menarik kakinya hingga jatuh.
Pria tersebut berseru ikut terbanting, setengah terkejut.
Aku mengepal tinju kuat-kuat, ini kesempatan, mengumpulkan tenaga. Megincar tempurung lutut lawanku.
KRAK!!
“KYAAAAAARGGHHHH” Pria di depanku berteriak kencang sekali. Refleks mengibaskan belati.
Aku tidak bisa mengelak, wajaku tergores cukup dalam, darah segera menggaris di bawah kedua mata. Sang Pria ingin melintangkan belatinya lagi, tangan kananku masih bisa menahannya. Hahah, orang ini gampang terpancing panik, gerakannya mulai urak-urakan.
Aku mengepal tangan yang lain, tinju kuat meluncur.
Sementara di saat yang bersamaan, tiga orang tiba menghentak tanah, turun dari atap gedung –sepertinya. Satu orang segera menggerakkan senjatanya, aku jelas tidak sadar.
Bug! Tinjuku telak menghunjam keras wajah Pria kemeja hitam.
BRAK!!! Di detik yang sama pula, sebuah palu besar menghantam penuh tubuhku. Aku terpental puluhan meter jauhnya.
Berakhir ambruk di atas tanah. Nafasku sesak, tubuhku mati rasa, rasanya seperti terpisah semua. Menyisakan nyeri di kepala, darah banyak mengalir. Bagian itulah yang pertama kali terkena pukulan palu.
Perlahan kesadaranku memudar, aku sudah tidak bisa melakukan apa pun, berteriak kesal juga tidak, aku telah gagal.
“Maaf Ila”