Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25, KEPUTUSAN DI KABUT

Hari berikutnya, kabut Morgh perlahan menipis, menyisakan udara yang jernih namun tetap sejuk. Persekutuan kini bertambah kuat — Oakhaven, Thalyn, Solis, dan Morgh berdiri bersama. Namun Zhoo tahu, kekuatan ini belum cukup untuk mengalahkan Veyra secara langsung. Mereka butuh waktu untuk bersiap, butuh tempat untuk menyatukan pasukan, dan butuh rencana yang lebih besar dari sekadar pertempuran di medan terbuka.

Mereka berkumpul di ruang bawah tanah istana batu Morgh — tempat yang hangat dan diterangi lampu minyak yang temaram. Di sana, para pemimpin dari setiap kerajaan berkumpul untuk merencanakan langkah selanjutnya.

"Vereon tidak akan menunggu kita siap," kata Arvin, memulai pembicaraan dengan wajah serius. "Dia tahu semakin lama kita bersatu, semakin kuat kita. Dia akan menyerang secepat mungkin — kemungkinan besar sebelum musim dingin berakhir."

"Pasukan kita lebih sedikit," kata Raja Kaelen dari Thalyn, yang datang sendiri untuk pertemuan ini. "Tapi kita memiliki keunggulan lain — kita mengenal tanah ini, kita memiliki rakyat di pihak kita, dan kita memiliki Morgh yang bisa menyembunyikan pergerakan kita dari mata-mata musuh."

"Dan kita memiliki Lirael yang diam-diam mendukung kita," tambah Kapten Mara. "Meskipun Ratu Seren belum berani menyatakan perang secara terbuka, para kapten kapal dan pedagang diam-diam mengirimkan makanan, obat-obatan, dan senjata ke tempat-tempat yang kita tentukan. Hanya masalah waktu sebelum rakyat Lirael memaksa ratu untuk berpihak sepenuhnya."

Zhoo mendengarkan semuanya dengan saksama, namun di dalam hatinya ada kekhawatiran lain. Ia berpikir tentang Ryn, tentang surat segel hitam itu, tentang keraguan yang terlihat di mata penjaga gerbang itu.

"Sebelum kita membahas pertempuran," kata Zhoo berdiri, menarik perhatian semua orang. "Ada hal lain yang harus kita selesaikan dulu. Selama ada keraguan di antara kita, selama ada rahasia yang disembunyikan, pedang kita tidak akan pernah tajam sepenuhnya."

Ia berjalan ke arah pintu masuk ruangan, tempat Ryn berdiri diam menjaga. Semua mata mengikuti Zhoo.

"Ryn," panggil Zhoo pelan namun jelas. "Kau datang ke sini bukan hanya karena kau diperintah untuk menjaga gerbang. Kau datang untuk sesuatu yang lain. Bukan untuk Morgh — tapi untuk seseorang di luar sini. Untuk Vereon, atau untuk seseorang yang bekerja untuknya."

Keheningan menyelimuti ruangan. Para pemimpin kerajaan saling berpandangan, tangan mereka bergerak mendekati gagang senjata. Ryn tidak bergerak, namun bahunya yang tegak perlahan merosot, seolah beban berat baru saja jatuh dari pundaknya.

"Kau tahu sejak kapan?" tanya Ryn pelan, suaranya bergetar.

"Sejak pertama kali kita bertemu," jawab Zhoo jujur. "Matamu terlalu penuh keraguan untuk seseorang yang hanya menjalankan tugas. Dan tatapanmu saat mendengar nama Vereon — bukan tatapan musuh, tapi tatapan orang yang berhutang sesuatu yang tidak bisa dibayar."

Ryn menghela napas panjang, lalu perlahan mengeluarkan kertas bersegel hitam dari jubahnya dan meletakkannya di meja di tengah ruangan.

"Aku dikirim oleh Paman Vereon bertahun-tahun yang lalu," ucap Ryn pelan namun tegas. "Sebelum kalian semua lahir. Dia menyelamatkan hidupku saat aku masih kecil, dan aku berjanji padanya — hidupku miliknya. Aku dikirim ke Morgh untuk menjadi matanya, untuk melaporkan setiap pergerakan, setiap rencana. Dan hari ini... hari ini aku harus melaporkan bahwa persekutuan ini nyata, dan bahwa kalian berencana melawan."

"Dan mengapa kau belum melakukannya?" tanya Raja Kaelen dingin.

"Karena selama ini aku berpikir bahwa aku berhutang pada Vereon," jawab Ryn menatap Zhoo. "Tapi saat melihat kalian — saat melihat Zhoo yang bahkan tidak mengenaliku mau mempercayai orang asing, saat melihat kalian bersatu bukan karena takut tapi karena pilihan — aku menyadari sesuatu. Hutang nyawa bisa dibayar. Tapi kesetiaan kepada kebenaran... itu tidak bisa dijual atau dibeli dengan apa pun."

Ryn berlutut di depan semua orang, kepalanya tertunduk.

"Aku belum mengirim laporan apa pun. Dan aku tidak akan mengirimnya. Aku siap menerima hukuman apa pun yang kalian tentukan — pengusiran, penjara, atau kematian. Aku hanya meminta satu hal — jangan biarkan kesalahanku merusak persekutuan ini. Karena ini satu-satunya harapan yang pernah ada untuk benua ini."

Suasana hening lagi. Elara menatap Zhoo, menunggu keputusannya. Raja Kaelen dan Ratu Lyra saling berpandangan. Kael menatap Ryn dengan tatapan yang penuh pengertian — karena ia tahu rasanya terjebak di antara kewajiban dan hati.

Zhoo berjalan mendekati Ryn, lalu berlutut di depannya, menyentuh bahu orang itu agar bangkit berdiri.

"Kau tidak perlu berlutut kepada kami," kata Zhoo lembut namun tegas. "Kau sudah memilih jalanmu. Dan pilihan itu — untuk berhenti menyembunyikan kebenaran — jauh lebih berharga daripada kesetiaan yang dipaksakan oleh hutang atau rasa takut."

"Kau tidak menghukumku?" tanya Ryn tak percaya.

"Kita tidak bisa membangun dunia baru dengan cara lama — dengan membalas dendam dan menghukum setiap kesalahan masa lalu," jawab Zhoo. "Kita semua pernah salah. Kita semua pernah takut. Yang penting bukanlah siapa kita dulu — tapi siapa kita memilih untuk menjadi mulai hari ini."

Zhoo mengambil kertas bersegel hitam itu, lalu merobeknya menjadi dua bagian di depan semua orang.

"Vereon tidak lagi memiliki kekuasaan atasmu, Ryn. Mulai hari ini, kau bebas — bebas untuk memilih ke mana hatimu membawamu. Dan jika kau bersedia... kami membutuhkan seseorang yang tahu cara berpikir seperti musuh kita. Seseorang yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain."

Ryn menatap Zhoo dengan mata berkaca-kaca, lalu perlahan mengangguk. "Aku akan melayani kalian dengan seluruh hidupku. Dan aku akan menjadi mata kalian di tempat yang kalian tidak bisa jangkau."

Saat itu, pintu ruangan terbuka tiba-tiba. Seorang prajurit Morgh berlari masuk dengan wajah pucat karena ketakutan.

"Berita buruk!" serunya terengah-engah. "Pasukan Veyra bergerak! Mereka tidak menunggu musim dingin berakhir! Mereka bergerak sekarang — menuju ke sini! Dan jumlah mereka... jumlah mereka lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya!"

Zhoo berdiri tegak, merasakan beban terberatnya jatuh tepat di pundaknya. Pertempuran yang mereka takutkan sudah di depan pintu. Dan kali ini, tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

"Maka kita menyambut mereka di sini," kata Zhoo perlahan namun tegas, suaranya bergema di seluruh ruangan batu. "Di tanah Morgh, di tanah yang melindungi kita, di tanah yang kini menjadi rumah kita bersama. Kita tidak akan lari lagi. Kita tidak akan bersembunyi lagi. Hari ini, kita berdiri sebagai satu bangsa — bukan tujuh kerajaan yang terpisah, tapi satu Benua Est yang bebas!"

Teriakan persetujuan meledak dari setiap orang di ruangan itu — raja, ratu, prajurit, dan orang biasa. Perbedaan dilupakan, luka masa lalu dimaafkan. Semua orang tahu bahwa pertempuran yang akan datang adalah pertempuran terbesar dalam sejarah benua itu. Dan meskipun mereka takut, mereka tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!