Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Papa dan Mama yang sejak tadi berdiri di belakang tidak kuasa menahan haru.
Mama melangkah mendekat, lalu ikut merengkuh tubuh Alena dalam pelukan hangat seorang ibu, sementara Papa menepuk pundak Baskara penuh bangga, menyalurkan rasa syukur yang luar biasa atas ketulusan sang menantu.
"Nak Baskara, terima kasih," ucap Papa dengan suara bergetar, matanya ikut berkaca-kaca melihat kebahagiaan putrinya.
"Kamu benar-benar menepati lebih dari apa yang pernah kamu janjikan pada kami."
Baskara tersenyum tulus sambil menggeleng pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, Pa. Ini sudah kewajiban saya sebagai suami untuk membahagiakan Alena dan membuat mimpi-mimpi kecilnya hidup kembali."
Alena melepaskan pelukan mamanya, lalu menatap suaminya lekat-lekat dengan senyuman paling indah yang pernah Baskara lihat.
Tanpa ragu, Alena berjinjit sedikit untuk mengalungkan kedua tangannya di leher Baskara, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami sambil menyalurkan seluruh rasa cinta dan terima kasih yang teramat besar.
"Aku benar-benar suami paling beruntung di dunia ini," bisik Baskara seraya mengeratkan pelukannya, mengecup pelipis Alena penuh takzim di hadapan keluarga kecil mereka yang kini kembali utuh dan dipenuhi cahaya kehangatan.
Suasana haru itu perlahan mencair ketika Tanti datang dengan nampan kecil berisi beberapa potong croissant hangat dan secangkir teh chamomile khusus untuk ibu hamil.
"Ehem, maaf mengganggu momen romantisnya, Tuan dan Nyonya Bos," goda Tanti riang dengan mata yang masih berbinar basah.
"Tapi croissant perdana dari oven baru kita ini sudah matang. Silakan dicicipi dulu sebelum nanti kita resmi buka untuk umum!"
Tawa renyah kontan pecah di ruangan lantai dua itu.
Suasana canggung, ketakutan masa lalu, dan bayang-bayang kelam yang sempat menghantui kini benar-benar telah sirna, menyisakan tawa bahagia, aroma mentega yang menggiurkan, dan sebuah awal lembaran baru yang jauh lebih cerah bagi keluarga kecil Baskara dan Alena.
Hari grand opening Toko Roti Alena berjalan dengan sukses besar yang bahkan melampaui ekspektasi mereka.
Begitu pintu kaca utama dibuka untuk umum, antusiasme warga sekitar langsung tumpah ruah.
Aroma harum mentega dan pastry yang baru dipanggang menguar di udara, menarik perhatian siapa saja yang melintas di kawasan tersebut.
Di lantai dasar, etalase-etalase kristal yang tadinya penuh dengan aneka roti dan kue basah kini tampak ludes dalam waktu singkat.
Tanti bersama kedua karyawan sigap melayani para pembeli yang datang silih berganti, sementara di lantai dua, area kafe indoor yang nyaman tampak dipadati oleh para pengunjung yang ingin menikmati waktu santai.
Alena, yang duduk di salah satu sudut meja lantai dua didampingi oleh Baskara, tak henti-hentinya menebar senyum bahagia.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat langsung bagaimana para pelanggan menikmati setiap gigitan roti buatannya dengan ekspresi penuh kepuasan.
Seorang ibu muda bersama anaknya yang duduk di dekat jendela tampak tersenyum lebar sambil memuji kelembutan Pizza buatan toko roti Alena.
Sementara di meja sebelah, sekelompok pegawai kantoran memuji varian sourdough dan roti isi daging dengan isian yang melimpah.
Baskara yang duduk di sampingnya merangkul pundak sang istri, ikut memperhatikan pemandangan yang mengharukan itu.
Ia bisa melihat kilat kebahagiaan dan kebanggaan yang terpancar jelas di mata Alena—kilat semangat yang sempat padam karena insiden kelam di masa lalu, kini hidup kembali jauh lebih benderang.
"Lihat itu, Sayang," bisik Baskara lembut sambil menunjuk ke arah barisan pengunjung yang sedang mengantre di kasir.
"Kerja kerasmu, ketulusan tanganmu, dan mimpimu, semuanya kini terbayar lunas. Roti buatanmu benar-benar disukai banyak orang."
Alena menoleh, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta.
Ia meletakkan cangkir teh hangatnya, lalu menggenggam erat tangan Baskara di atas meja.
"Ini semua tidak akan mungkin terjadi kalau bukan karena kamu, Bas," balas Alena dengan suara bergetar haru.
"Kamu yang menjaga mimpiku tetap hidup, bahkan saat aku sendiri hampir menyerah."
Baskara tersenyum hangat, lalu mengecup sekilas puncak kepala istrinya.
Di tengah keramaian toko roti yang dipenuhi gelak tawa dan obrolan para pelanggan, hati kecil keduanya merasa begitu damai, menyadari bahwa badai terberat dalam hidup mereka telah berlalu, digantikan oleh manisnya masa depan yang tengah mereka ukir bersama sang buah hati.
Suasana hangat dan riuh kebahagiaan di toko roti mendadak terasa hening ketika sesosok pria berjas rapi melangkah masuk dengan napas sedikit memburu.
Kenan, langsung menghampiri meja tempat Baskara dan Alena duduk bersama kedua orang tua mereka.
Wajah Kenan tampak tegang. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu langsung ke telinga Baskara.
Namun, kesunyian mendadak di sekitar mereka membuat suara Kenan tetap terdengar jelas oleh Alena dan yang lainnya.
"Tuan Baskara, ada kabar darurat," ucap Kenan dengan nada tertahan.
"Pihak kepolisian baru saja menghubungi saya. Ibu Anda, baru saja mengalami serangan jantung mendadak di dalam tahanan penjara dan sekarang dilarikan ke rumah sakit terdekat."
Mendengar kabar tersebut, suasana di meja itu seketika menegang.
Baskara membelalak kaget, dan rahangnya mengeras seketika.
Berita tentang wanita yang telah melahirkannya—yang baru saja ia putuskan untuk diputus hubungan karena segala perbuatan jahatnya pada Alena—mendadak datang membawa gelombang rasa bersalah dan dilema yang pekat di dada.
Alena, yang melihat ekspresi syok di wajah suaminya, perlahan melepaskan genggaman tangannya.
Meski wanita paruh baya itu pernah hampir menghancurkan hidup dan kehamilannya, hati nurani Alena sebagai sesama manusia, terlebih sebagai seorang istri, tidak tega melihat suaminya dilanda kebimbangan hebat.
Alena meraih tangan Baskara yang gemetar, mengusapnya lembut dengan penuh ketulusan.
"Bas," panggil Alena pelan dengan suara yang menenangkan.
"Bagaimanapun juga, beliau adalah mamamu. Datanglah, lihat kondisi beliau."
Baskara menoleh, menatap lekat manik mata istrinya dengan sorot penuh beban.
Ada rasa enggan, namun ada pula panggilan nurani yang tidak bisa ia abaikan.
Baskara menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sang istri dengan ragu.
"Kamu, ikut?" tanya Baskara pelan, memastikan kondisi istrinya yang tengah hamil lima bulan.
Tanpa ragu sedikit pun, Alena menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia tersenyum tipis, menyalurkan kekuatan dan dukungan penuh pada suaminya di saat-saat paling pelik sekalipun.
"Aku ikut, Bas. Kita pergi sekarang," jawab Alena tegas, membuktikan bahwa di balik kelembutannya, ia adalah tempat bersandar paling kokoh bagi Baskara.
Baskara segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Alena meminta suaminya untuk menenangkan diri saat menyetir.
Dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit.
Baskara mendorong pintu ruang resusitasi dengan langkah berat.
Aroma obat-obatan dan mesin penunjang kehidupan langsung menyergap indra penciumannya.
Di atas ranjang rumah sakit yang dikelilingi oleh peralatan medis berbunyi monoton, sosok wanita paruh baya berambut mulai memutih itu terbaring tak berdaya. Wajahnya pucat pasi, nyaris tanpa warna.
Mendengar derap langkah kaki, perlahan kelopak mata wanita itu terbuka.
Pandangannya yang sayu dan melemah berputar di ruangan itu, hingga akhirnya jatuh tepat pada sosok pria jangkung yang berdiri di samping ranjangnya.
Bibir wanita itu bergetar samar, mencoba mengeja sebuah nama dengan sisa-sisa tenaga yang amat tipis.
"Bas," panggilnya lirih, nyaris tak terdengar di atas suara monitor detak jantung.
Pertahanan terakhir di dada Baskara hancur seketika.
Tanpa memikirkan lagi segala luka, kebencian, dan kepahitan masa lalu, ia langsung melangkah maju.
Baskara menjatuhkan lututnya di sisi ranjang, lalu meraih tangan kurus sang mama yang terasa begitu dingin, menggenggamnya erat-erat di dalam kedua telapak tangannya yang hangat.
Wanita itu menatap putranya dengan sorot mata yang dipenuhi air mata penyesalan yang teramat dalam.
"Bas, mama minta maaf." bisiknya tersengal-sengal, napasnya terdengar memburu dan berat.
"Kalau selama ini, mama jahat sama kamu, dan Alena."
Bulir-bulir air mata yang sejak tadi ditahan Baskara akhirnya tumpah begitu saja.
Pria yang dikenal dingin, tegas, dan tak pernah gentar menghadapi musuh bisnis mana pun itu kini menangis tersedu-sedu di hadapan wanita yang telah melahirkannya.
Isakan tertahan lolos dari bibirnya saat ia mendekatkan tangan sang mama ke pipinya yang basah.
"Iya, Ma. Bas maafkan. Bas sudah maafkan semuanya," jawab Baskara dengan suara parau, berusaha menahan pecahan di dadanya.
"Mama istirahat ya, jangan bicara apa-apa dulu."
Mendengar kata-kata maaf dan pengampunan dari anak yang selama ini ia sakiti, garis wajah wanita itu perlahan tampak lebih tenang.
Senyuman tipis dan damai terukir di bibirnya yang pucat. Ia menarik napas terakhirnya dalam-dalam—sebuah helaan napas yang terasa begitu panjang.
Garis pada monitor elektrokardiogram di samping ranjang tiba-tiba melurus, memancarkan bunyi panjang yang konstan.
Tangan sang mama yang tadinya menggenggam lemah perlahan melemas, terkulai jatuh di atas selimut.
Mama memejamkan matanya untuk selamanya, meninggalkan dunia yang penuh dengan penyesalan, kebencian, dan luka, membawa serta ketenangan abadi di hembusan napas terakhirnya.
Di ruangan yang mendadak terasa begitu sunyi itu, Baskara masih menggenggam erat tangan mamanya yang kini mulai mendingin.
Ia menundukkan kepala di tepi ranjang, membiarkan air matanya membasahi punggung tangan sang ibu, membiarkan waktu berhenti sejenak untuk meratapi akhir dari sebuah hubungan darah yang diwarnai badai, namun ditutup dengan pengampunan yang tulus.
akhirny setelah badai bertubi2 dtg ,,
Alena dn keluarga kecil ny bahagia ,,
makasih buat ceritany kak ,,
semangat buat karya selanjutny yx kak
semoga km juga cepat pulih ,,
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭