Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Nyonya Kirana yang semula hendak duduk langsung menoleh tajam. Alisnya terangkat tinggi mendengar ucapan putranya.
“Menjadi mama mertua?” ulangnya memastikan, lalu menatap Sultan dari ujung kepala hingga kaki. “Maksudnya... kamu mau menikah?”
Sultan terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Pemuda itu kemudian duduk santai di sofa, wajahnya masih dihiasi senyum yang sulit disembunyikan.
“Belum, Ma. Tapi, nggak akan lama lagi. Yang penting sekarang dia sudah menjadi kekasihku terlebih dulu,” jawabnya serius.
Nyonya Kirana yang merasa penasaran dengan kisah cinta putra semata wayangnya segera mengambil tempat duduk di sebelah Sultan. Wajahnya tampak berbinar. “Kamu yang nembak dia? Kapan...? Kok, nggak cerita sama mama?”
“Baru hari ini,” jawab Sultan santai. “Sebenarnya sih, bukan aku yang nembak dia, tapi dia sendiri yang minta aku supaya jadi kekasih pura-pura di ulangtahun pernikahan emas eyangnya..."
"Terus kamu mau?" tanya Nyonya Kirana tak sabar.
"Ya nggak lah, Ma. Aku kan, sudah suka sama dia dari lama," tukas Sultan. "Lagian emang aku cowok apaan? Masa ganteng maksimal gini cuma jadi kekasih pura-pura?"
Nyonya Kirana langsung memukul pelan lengan putranya. "Ck...dasar narsis..."
Sultan tertawa kecil, kemudian menceritakan bagaimana akhirnya gadis pujaannya itu menjadi kekasih beneran bukan cuma pura-pura.
“Hahhh...astaga!" Nyonya Kirana membelalakkan mata sembari menutup mulutnya tak percaya. Anak yang ia besarkan penuh kasih sayang ternyata bisa juga berbuat licik. "Jadi, kamu menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menekan gadis itu agar mau menjadi kekasihmu?"
Sultan mengusap lengannya. “Ya gimana lagi, Ma. Kata orang kesempatan kan, belum tentu datang dua kali, makanya aku nggak mau menyia-nyiakannya. Lagipula dia sendiri yang menawarkan aku boleh minta apa saja asal mau membantunya."
“Lalu siapa gadis yang beruntung itu?” Jiwa kepo Nyonya Kirana langsung meronta.
Senyum Sultan semakin lebar. Bayangan wajah cantik nan manis Kahiyang seketika terlintas dalam pikirannya. “Namanya Kahiyang Batari.”
“Kahiyang Batari?” Nyonya Kirana mengulang nama itu, “Namanya bagus sekali. Apa dia sangat cantik sampai kamu rela menyembunyikan identitasmu demi dekat dengannya?”
"Iya, Ma. Dia sangat berbeda dengan gadis lain," jawab Sultan.
Ingatannya kembali ke beberapa bulan silam, di mana kala itu dirinya melakukan kunjungan ke kantor cabang. Jika kebanyakan para wanita berlomba-lomba ingin menarik perhatiannya, tetapi ada seorang yang hanya menundukkan kepala seolah tak terusik kehadirannya.
“Wah...! Mama jadi nggak sabar pengin ketemu dengannya," seru Nyonya Kirana antusias.
"Kapan kira-kira kamu mau mengenalkannya sama Mama?” tanyanya kemudian.
Sultan terdiam berpikir. Dia sebenarnya sudah membayangkan momen ketika Kahiyang berdiri di hadapan keluarganya sebagai perempuan yang dia cintai. Namun, masih terlalu dini untuk membawanya pulang.
“Pelan-pelan, Ma. Kami baru saja mau mulai. Dia juga tahunya aku Rafa bukan Sultan.”
“Justru karena itu mama merasa harus kenal sama dia.” Nyonya Kirana bersikeras.
Sultan menggeleng geli. “Mama ini kenapa malah lebih semangat daripada anaknya, sih?”
“Ya jelas! Selama ini kamu selalu menolak gadis-gadis yang ingin mama kenalkan. Tiba-tiba sekarang bilang sudah punya kekasih, masa mama harus diam saja?”
Mendengar itu, Sultan tersenyum hangat. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. “Tenang saja, Ma. Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, suatu hari nanti aku pasti membawa Kahiyang dan memperkenalkan pada Mama sama Papa. Kalian pasti akan menyukainya."
Nyonya Kirana tersenyum lebar mendengar keyakinan putranya, lalu kembali menyenggol lengan Sultan pelan. "Hmm, kalau sampai mama sama papa menyukainya, berarti dia memang gadis yang luar biasa."
"Benar, Ma..." ucap Sultan lembut sambil menatap ibunya penuh harap. "Tapi tolong... untuk sementara waktu, Mama jangan terburu-buru menceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk Papa. Biar aku yang sampaikan pada waktu yang tepat."
Nyonya Kirana mengangguk mantap, sepenuhnya mengerti. "Tenang saja, itu rahasia kita berdua. Mama akan mengunci mulut rapat-rapat."
Sultan tersenyum lega mendengarnya. Hatinya terasa jauh lebih ringan setelah akhirnya berbagi cerita dengan orang yang paling dia percaya. Namun, di balik senyum itu, benak pemuda itu kembali melayang — memikirkan bagaimana reaksi Kahiyang kelak ketika mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
"Kamu ini... kenapa tiba-tiba malah termenung begitu?" Nyonya Kirana menyadari perubahan raut wajah putranya, lalu menyentuh punggung tangan Sultan dengan lembut. "Ada yang kamu khawatirkan?"
Sultan menghela napas panjang, lalu menatap ibunya kembali. "Sedikit, Ma. Aku hanya... takut dia marah besar kalau nanti tahu selama ini aku menyembunyikan identitas asliku darinya. Bagaimana kalau dia merasa aku menipunya?"
Wajah Nyonya Kirana ikut berubah serius. Ia merenung sejenak, lalu kembali bersuara lembut tetapi menyiratkan ketegasan. "Kalau dia gadis sebaik dan sebijak yang kamu ceritakan, mama yakin dia akan mengerti. Niatmu menyembunyikan nama besar keluarga kita bukan untuk menipu, melainkan agar dia mengenalmu apa adanya — sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai 'Sultan Rafsanjani'. Jelaskan itu padanya dengan tulus. Kasih dia waktu untuk memahami."
Kata-kata ibunya seakan menjadi penenang bagi hati Sultan. Perlahan beban berat di pikirannya seakan terangkat. Pemuda itu tersenyum tulus, menatap ibunya penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Ma. Kata-kata Mama menenangkan sekali."
"Sama-sama, Sayang. Mama hanya ingin melihatmu bahagia," jawab Nyonya Kirana sambil tersenyum hangat, lalu berdiri perlahan. "Sudah dulu ya, Mama mau membuat teh hangat untuk papamu, sebentar lagi pasti pulang. Kamu pergi lah sana ke kamarmu lalu mandi, ini sudah hampir petang. Ingat, jangan terlalu banyak berpikir."
"Iya, Ma," jawab Sultan sambil ikut tersenyum dan menatap punggung ibunya yang beranjak pergi..
.
.
.
Suasana makan malam, di rumah Kahiyang terasa hangat. Walaupun hanya hidangan sederhana tetapi sangat nikmat apabila dinikmati dengan rasa syukur. Kahiyang duduk tenang sambil sesekali menyuap nasi ke mulutnya dari piring di hadapannya.
Bu Arimbi menatap Kahiyang seolah ada yang ditanyakan. Ia melirik sejenak ke arah Pak Andika, lalu kembali pada putri sulungnya.
"Ayang..." panggilnya lembut penuh perhatian. "Apa kamu sudah....?"
"Sudah, Ma," sahut Kahiyang cepat seakan sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh ibunya.
Netra Bu Arimbi seketika membelalak sempurna Wajahnya berseri-seri mendengar pengakuan itu.
"Benarkah?" serunya antusias. "Lalu siapa dia?"
Kahiyang menatap ibunya sambil tersenyum tipis. "Namanya Rafa. Dia rekan kerjaku di kantor."
"Rekan kerjamu...?" gumam ibu memastikan, lalu mengangguk seakan mencoba membayangkan sosok pemuda itu. "Apa dia benar-benar bisa diajak kerja sama?"
"Iya, Ma," jawabnya perlahan. "Tapi dia maunya jadi kekasih beneran, nggak mau hanya pura-pura," imbuhnya malu-malu.
Diam-diam Bu Arimbi tersenyum samar, matanya menatap Kahiyang penuh kelembutan.
"Kalau begitu berarti hatinya tulus kepadamu, Ay. Dia tak ingin bermain-main dengan perasaanmu. Itu pertanda yang sangat baik," ucapnya pelan, hatinya bergetar penuh haru.
Pak Andika tersenyum lebar, lalu mengusap punggung tangan putrinya penuh kasih sayang. "Syukurlah. Kalau begitu, papa ikut bahagia. Semoga dia memang orang yang tepat untuk menemani hari-harimu ke depan."
Kahiyang mengangguk kepalanya tertunduk, menyembunyikan pipinya yang terasa sedikit hangat. Hatinya terasa jauh lebih tenang setelah berbagi cerita dengan orangtuanya.
Malam itu, benih-benih harapan mulai tumbuh di hati Kahiyang semoga keputusannya menerima Rafa sebagai kekasih, kelak tidak akan mengecewakan siapa pun, terutama dirinya sendiri.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭