Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.
Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan
Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Warisan Naga Sembilan Langit
*Apa yang terjadi?*
Qin Yuchen sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian ia paham maksud kicauan Burung Roh Jiwa. Sebuah tanda peringatan muncul, hampir bersamaan cahaya saber menyambar dari kedalaman gua, melesat ke arahnya.
Mata Qin Yuchen mengeras dingin. Tubuhnya mundur cepat, pedang panjangnya menangkis cahaya itu. Namun naluri dan pengalamannya berkata: ini takkan berhenti dengan satu tangkisan saja.
Saat mundur, pedangnya berputar cepat, bayangan pedang berterbangan ke segala arah diiringi dentingan logam. Menghadapi serangan bertubi-tubi ini, Qin Yuchen melepaskan Niat Pedang hampir setiap tiga sabetan. Namun cahaya saber dari kedalaman gua tak kunjung habis, terus datang satu demi satu — masing-masing membawa kekuatan besar yang memaksanya mengerahkan seluruh kemampuan.
Ia terus terdesak mundur, hingga sejauh seratus meter, barulah ia melepaskan Niat Pedang Tiga Titik penuh, menghancurkan cahaya saber itu sepenuhnya.
Serangan berikutnya tiba-tiba lenyap.
Qin Yuchen tetap waspada, memegang pedangnya horizontal di dada, siaga penuh. *Apakah ujian ini sudah selesai?*
"Lumayan," terdengar sebuah suara. "Kultivasimu memang belum tinggi, tapi pemahamanmu tentang Niat Saber cukup baik, meski baru tahap awal."
Suara itu seperti berasal dari kedalaman gua, tapi juga terasa langsung bergema di dalam pikirannya. Qin Yuchen segera menyadari: ini transmisi Jiwa, langsung menyentuh benaknya. Pemiliknya sudah lama tiada — yang tersisa hanya jejak jiwanya, sebuah bacaan yang masih bertahan.
*Ha!* Qin Yuchen tertawa geli dalam hati. Baru Prajurit Jiwa Tingkat Tiga, tapi sudah memahami Niat Pedang dan Niat Saber Tiga Titik sekaligus — hanya dianggap "lumayan"?
"Orang tua ini, nada bicaramu sungguh sombong," gumamnya. "Siapa Anda sebenarnya?" tanyanya acuh tak acuh.
"Aku mengaktifkan Wu Soul di usia sembilan tahun. Pada tahun dua ratus delapan puluh ribu, aku menembus Alam Kaisar Jiwa. Seharusnya aku sudah mencapai puncak Kaisar Jiwa, lalu Naik ke Alam Atas menjadi Dewa Langit. Namun aku terluka oleh musuh, dan tewas di sini. Tak kusangka, aku, Naga Sembilan Langit, jenius tak tertandingi dengan segala keahlian unikku, justru tak punya penerus. Karena kau ditakdirkan memasuki gua ini dan telah lolos beberapa ujian, aku ingin menganugerahkan kesempatan ini padamu. Bagaimana kalau kau menjadi muridku, mewarisi seluruh warisanku?"
*Seorang Kaisar Jiwa benar-benar ingin menjadikanku muridnya?*
Qin Yuchen tertawa terbahak-bahak, lalu menggeleng tegas. "Menjadi murid, tidak mungkin. Berikan saja kesempatan ini pada orang lain yang lebih pantas."
Naga Sembilan Langit terkejut bukan main. Tak pernah terbayang tawaran ini akan ditolak! Ia adalah jenius sejati — seandainya tak binasa, ia mungkin sudah menembus Alam Kaisar Jiwa, bahkan naik menjadi Dewa Langit dari Alam Atas. Kini seorang murid kecil dari sekte tak berarti di Gurun Perbatasan Barat berani menolak mengakuinya sebagai guru?
Ia terdiam tercengang. Sudah ratusan tahun lenyap, kekuatan jejak jiwa ini pun tinggal sedikit. Menunggu seseorang datang saja sudah sulit, dan orang ini malah menolak tanpa mengikuti skenario yang seharusnya.
"Uhuk, mungkin tadi aku belum menjelaskan dengan cukup jelas," lanjut suara itu. "Teknik Kultivasi yang kukultivasi adalah yang tertinggi di seluruh Benua Bela Diri Jiwa kita — Tingkat Suci. Kalau kau mengakuiku sebagai gurumu, akan kuwariskan—"
"Tidak," potong Qin Yuchen lagi sebelum kalimat itu selesai. Dalam hati ia merajuk, *Aku sudah menguasai Teknik Kultivasi Tingkat Dewa terbaik. Teknik Tingkat Suci-mu saja tak kuinginkan, sekalipun kau berikan cuma-cuma.*
Naga Sembilan Langit kembali tercengang.
"Aku tidak tertarik pada Teknik Kultivasi maupun Keterampilan Jiwa," lanjut Qin Yuchen. "Tapi kalau ada Harta Karun Roh atau Senjata Jiwa bagus, boleh saja — utamanya yang bisa mempercepat peningkatan realm kultivasi. Tentu saja, aku tak mau menerima cuma-cuma. Kalau ada keinginan yang belum terkabul, mungkin bisa kubantu mewujudkannya."
Kata-kata itu hampir membuat gumpalan jiwa Naga Sembilan Langit lenyap seketika karena murka. *Bocah ini... kalau benar-benar jadi muridku, pasti akan membuatku begitu marah sampai bangkit dari alam baka!*
*Kalau tak mau jadi murid, ya sudah! Memangnya aku sangat butuh dirimu, bajingan kecil!*
Setelah beberapa saat, Naga Sembilan Langit akhirnya tenang kembali.
---
Sesaat kemudian, Qin Yuchen tiba di bagian terdalam gua yang terang benderang. Dindingnya dipenuhi kristal berpendar seukuran kepalan tangan. Ruangan ini jauh berbeda dari lorong sempit sebelumnya — luas, dihiasi mural dan patung, meja-kursi batu, bahkan teko dan cangkir teh lengkap. Dua ruangan berukir dan sebuah mata air jernih mengalir dari sudut barat laut.
Qin Yuchen menghampiri mata air itu, meminum beberapa teguk. Rasanya manis segar, dan begitu masuk ke perutnya, gumpalan Kekuatan Jiwa biru muncul — ternyata ini Mata Air Roh.
Setelah berkeliling, ia melangkah menuju platform tengah. Di dinding batu di atasnya terlukis seorang pemuda tampan berwibawa — kemungkinan potret Naga Sembilan Langit sendiri. Di bawahnya, sebuah kotak giok kuno tergeletak, hampir pasti berisi relik peninggalannya.
Hati Qin Yuchen dipenuhi kegembiraan melihat kotak itu — perjalanan ini tidak sia-sia. Peninggalan seorang jenius sekaliber Naga Sembilan Langit pasti luar biasa.
Baru saja ia melangkah naik ke platform, sesosok figur diproyeksikan dari dinding batu, muncul di hadapannya. Qin Yuchen terkejut sesaat, lalu segera sadar — ini proyeksi Jiwa. Pemuda tampan yang muncul memang Naga Sembilan Langit sendiri.
Begitu proyeksi itu muncul, matanya langsung menatap Qin Yuchen. Qin Yuchen menatap balik dengan tenang, melihat bintang-bintang raksasa berkilau di mata sosok itu.
Melihat Qin Yuchen sama sekali tak gentar, mulut Naga Sembilan Langit berkedut sesaat. Sedetik kemudian, matanya berubah — cahaya seperti bintang memancar keluar.
Seketika, jiwa Qin Yuchen bergetar hebat, kepalanya seolah akan meledak. Sejumlah besar informasi membanjiri masuk!
*Sialan, orang ini!* Qin Yuchen terkejut, jatuh tersungkur ke tanah. Ia segera mengaktifkan Seni Dewa Naga Kacau, menjaga secercah kejernihan dalam pikirannya dengan sekuat tenaga.
Entah berapa lama berlalu — mungkin satu-dua jam, mungkin hanya belasan tarikan napas. Kesadarannya perlahan pulih. Seluruh meridian, tulang, dan ototnya terasa nyeri luar biasa — ini Kekuatan Jiwa, dalam jumlah sangat besar.
Tanpa menunda, ia kembali menjalankan Seni Dewa Naga Kacau. *Krak, krak, krak!* Seluruh tulang dan ototnya berbunyi seperti petasan. Ia menghela napas panjang, senyum cerah terpancar di wajahnya.
Ia kini Prajurit Jiwa Tingkat Tujuh!
Tepat saat itu, gelombang cahaya biru samar berkelebat di benaknya. Dua Teknik Kultivasi dan satu Keterampilan Jiwa muncul: "Seni Mantra Naga", "Seperti Mimpi Seperti Ilusi", dan Keterampilan Jiwa "Pendakian Awan Tangga".
"'Seni Mantra Naga' adalah Teknik Kultivasi leluhur Klan Naga," terdengar suara Naga Sembilan Langit untuk terakhir kalinya. "Jika kau berjodoh, kembalikan lah teknik ini ke Klan Naga suatu hari nanti. Teknik dan Keterampilan Jiwa lainnya adalah ciptaanku sendiri, Nak. Terserah kau mau menerimanya atau tidak, aku sudah mewariskannya. Mau dikultivasi atau disebarluaskan, itu urusanmu. Hahaha!"
Bersamaan dengan tiga tawa riang terakhir itu, gumpalan Jiwa Naga Sembilan Langit benar-benar lenyap.