Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejelasan Dari Sebuah Kesalah Pahaman

Mobil SUV hitam milik Vino membelah jalanan sore kota Surabaya dengan tenang. Di jok belakang, Keyra telah tertidur pulas memeluk maket rumah kayu buatan Vino. Di samping kemudi, Yunita menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela dengan rileks.

Vino sesekali melirik spion tengah, memastikannya aman, sebelum mengalihkan pandangan ke jalanan di depannya.

"Yun," panggil Vino pelan, meluruhkan sisa-sisa kekikukan saat menghadapi Om Haris tadi siang.

Yunita menoleh. "Ya, Vin?"

"Mbak Vita beneran ada urusan mendadak soal bahan butik?" tanya Vino datar, tanpa mengalihkan pandangan dari lampu lalu lintas yang memerah.

Yunita sempat tertegun sejenak. Ia menggeser posisi duduknya agak serba salah. "Ya... katanya sih gitu, Vin. Ada kain impor yang baru masuk dan harus dicek sendiri."

Vino menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kecerdasan dan kepekaan rasa. "Kamu nggak jago bohong, Yun. Sejak SMA, kalau kamu menutupi sesuatu, jemarimu selalu mengetuk-ngetuk paha."

Yunita seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas paha. Ia mendesah pasrah, menyadahi bahwa sahabat seangkatannya ini telah tumbuh menjadi pria yang terlalu jeli untuk dibohongi.

"Aku minta tolong luangkan waktu sebentar habis mengantar Keyra nanti," lanjut Vino tenang. "Ada hal penting yang harus kita luruskan."

Satu jam kemudian, usai mengantarkan Keyra yang tertidur langsung ke kamarnya tanpa sempat bertemu Evita yang mengurung diri di lantai atas, Vino dan Yunita duduk berhadapan di sudut sebuah kedai teh tradisional yang tenang di kawasan Gubeng.

Dua cangkir teh hangat asapnya membumbung tipis di antara mereka. Suasana kedai yang remang dan sepi memberikan privasi yang cukup.

Yunita menyeruput tehnya perlahan, lalu menatap Vino. "Mau bicarain soal apa, Vin? Serius banget kelihatannya."

Vino meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan keramik dengan ketukan halus. Ia menatap langsung ke manik mata Yunita, tatapan seorang pria dewasa yang tegas, jujur, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk area abu-abu.

"Soal ucapan Om Haris dan Tante Manda tadi siang di teras," ujar Vino tanpa berbelit-belit.

Yunita terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Oh, soal itu? Alah, kamu seperti nggak tahu Papa saja. Namanya juga pensiunan polisi, kalau lihat anak muda mapan dikit langsung dipas-pasin. Mama juga suka gitu. Lagian... kamu tadi pasrah banget disandingin sama aku."

Vino tidak ikut tertawa. Raut wajahnya tetap tenang, berwibawa, dan sangat bersahaja.

"Aku diam tadi karena menghormati Om Haris dan Tante Manda di rumah mereka sendiri, Yun," kata Vino mantap. "Tapi di sini, di depanmu sebagai sahabatku, aku harus menegaskan garis batasnya."

Yunita menghentikan tawa kecilnya. Ia membetulkan posisi duduknya, mendengarkan dengan seksama.

"Yun," panggil Vino dengan nada suara yang sangat lembut namun memiliki bobot ketegasan yang mutlak. "Kamu adalah sahabat terbaikku. Kamu yang menyelamatkanku di masa-masa paling gelap sewaktu 18 tahun, kamu adik kelas di kampus yang selalu mendukungku, dan kamu sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri."

Vino jeda sejenak, mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Tapi aku tidak ingin ada kesalahpahaman sedikit pun, baik di antara kita, di mata orang tuamu, atau di pikiran Mbak Vita. Ruang di hatiku secara romantis, sejak aku berusia delapan belas tahun sampai detik ini aku berdiri sebagai Lelaki Dewasa, tidak pernah bergeser satu milimeter pun. Ruang itu murni milik Mbak Vita."

Kata-kata itu meluncur dengan begitu jernih. Tidak ada nada ragu, tidak ada paksaan. Hanya sebuah penegasan cinta yang telah diuji oleh waktu dan jarak.

Yunita menatap Vino cukup lama. Tidak ada raut tersinggung atau kecewa di wajah dokter muda berusia 23 tahun itu. Sebaliknya, senyum tulus dan kebanggaan murni merekah di bibirnya.

"Kamu beneran pria sejati ya, Vin," bisik Yunita seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Jujur, aku lega banget kamu bicarakan ini secara langsung."

"Aku cuma nggak mau menyakiti siapa pun dengan membiarkan asumsi liar berkembang," sahut Vino santai, melipat kedua tangannya di atas meja. "Aku tahu orang tuamu melihat kita sepadan, sama-sama dua puluh tiga tahun, kamu calon dokter, aku arsitek. Tapi pernikahan atau cinta bukan soal hitung-hitungan matematis di atas kertas."

"Aku tahu, Vin," potong Yunita cepat. "Dan jujur... aku sendiri sama sekali udah nggak pernah punya perasaan romantis sama kamu. Kamu itu sudah seperti abang sekaligus sahabat berjuangku. Kalau Papa sama Mama berpikiran gitu, itu cuma pikiran orang tua zaman dulu yang lihat anak mudanya dekat."

"Bagus kalau gitu," Vino menyunggingkan senyum lega. "Berarti kita clear."

"Tapi masalahmu bukan di aku atau orang tuaku, Vin," ujar Yunita mendadak serius. Ia memajukan badannya ke depan meja. "Masalah utamamu ada di Mbak Vita sendiri."

Vino menyipitkan mata. "Maksudmu?"

Yunita mendesah pelan. "Kamu tahu kenapa Mbak Vita mendadak beralasan sibuk dan menyuruhku menggantikannya ikut main sore ini?"

Vino terdiam, menunggu.

"Mbak Vita minder, Vin," ungkap Yunita jujur. "Tadi siang, waktu kamu datang bawa maket kayu dan bicara soal aset perusahaanmu... Mbak Vita memperhatikanmu dari lantai atas. Dia menatap dirinya yang berusia tiga puluh lima tahun, janda beranak satu, punya trauma masa lalu... lalu melihat kamu yang baru dua puluh tiga tahun tapi sudah sukses luar biasa di Jogja."

Vino tertegun. Garis rahangnya mengetat. "Mbak Vita mikir sejauh itu?"

"Bukan cuma sejauh itu, Vin. Dia merasa kalian sudah terbalik cerminnya," jelas Yunita pelan. "Dulu kamu yang merasa tidak layak mendampingi dia karena kamu cuma anak sekolah tanpa masa depan pasti. Sekarang? Dia yang merasa nggak pantas membebanimu dengan status dan usianya. Ditambah tadi Papa sama Mama puji-puji kamu di depan kita... Mbak Vita makin yakin kalau kamu lebih cocok sama aku."

Keheningan melingkupi meja mereka selama beberapa saat. Informasi itu menghantam dada Vino cukup telak. Ia tidak menyangka pencapaian dan keberhasilannya yang berniat ia tunjukkan untuk memberi rasa aman, justru ditangkap sebagai benteng intimidasi oleh wanita yang dicintainya.

Vino mengepalkan tangannya di atas meja, lalu menghembuskan napas panjang. Sisi kaku 18 tahunnya meluruh sepenuhnya, menyisakan kedewasaan jiwa seorang pria yang siap bertarung demi cintanya.

"Mbak Vita salah besar kalau berpikir begitu," bisik Vino dengan suara rendah yang amat dalam. "Aku membangun Lazuardi Design bukan untuk memamerkan harta atau mencari wanita yang sepadan di atas kertas. Aku membangun semua ini cuma buat satu alasan, supaya sewaktu aku kembali menatap mata Mbak Vita, tidak ada lagi orang yang bisa memandang rendah kami."

Yunita tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca melihat keteguhan sahabatnya. "Kalau begitu, buktikan ke dia, Vin. Runtuhkan bentengnya. Mbak Vita itu trauma dan merasa tidak berharga setelah kegagalan pernikahannya yang dulu. Dia butuh diyakinkan kalau cintamu itu tidak memandang status janda atau selisih umur dua belas tahun."

Vino mendongak, menatap Yunita dengan binar mata yang penuh keyakinan murni.

"Aku bakal runtuhkan benteng itu, Yun," tegas Vino mantap. "Satu per satu."

Yunita mengangguk lega, mengangkat cangkir tehnya ke udara. "Demi masa depanmu sama Mbakku. Aku ada di belakangmu."

Vino menyentuhkan cangkir tehnya ke cangkir Yunita dengan denting halus. Di bawah temaram lampu kedai teh malam itu, kesalahpahaman telah dibersihkan.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!