Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masa Lalu

Suasana sore di Hani’s Atelier terasa begitu tenang. Mentari Surabaya yang mulai temaram membiaskan cahaya keemasan menerobos kaca depan butik. Evita sedang berdiri di dekat meja kasir, merapikan beberapa nota transaksi bulanan. Di sudut meja, wadah bekal stainless steel milik Vino sudah tercuci bersih dan mengilap, siap untuk dikembalikan.

Denting bel pintu membuat Evita mendongak. Vino melangkah masuk dengan senyum cerah yang seolah tak pernah absen dari wajahnya. Pemuda itu mengenakan kaus polos hitam dengan celana jeans longgar, tampak segar seusai menyelesaikan shift siang di kedai.

"Selamat sore, Mbak Vita!" sapa Vino riang, melangkah menghampiri meja kasir namun tetap menahan posisinya dalam jarak yang aman. "Gimana? Kotak bekal saya selamat, kan? Nggak disandera sama Pak Hendra?"

Evita menghela napas pelan, walau sudut bibirnya sejujurnya ingin terangkat mendengar selorohan konyol itu. Ia menggeser wadah bekal ke tepi meja.

"Masakan kamu... enak sekali, Arvino," kata Evita jujur. Suaranya halus, tanpa nada dingin berlebihan yang biasanya ia pasang. "Sup iganya gurih, dagingnya juga sangat empuk. Terima kasih."

Mata Vino seketika berbinar terang. "Beneran, Mbak? Wah, kalau koki dipuji sama pemilik butik secantik Mbak Vita gini, rasanya besok saya mau minta naik gaji sama Bang Jaka."

"Jangan mulai lagi," potong Evita pelan, walau matanya menyiratkan rasa geli. "Ini wadahnya sudah saya cuci bersih. Ibu kamu pasti nyariin."

"Tenang aja, Ibu tahu kok kalau wadah kesayangannya lagi dipinjam sama orang penting," sahut Vino santai seraya meraih tas kain dari sakunya. "Tapi serius, Mbak Vita makan sampai habis, kan? Nggak ada yang dibuang?"

"Habis," jawab Evita singkat, lalu menunjuk kotak di meja. "Keyra juga sempat cicip sedikit ayam wijennya. Dia suka."

"Wah, calon anak—eh, maksud saya Keyra suka?" Vino tertawa lebar saat melihat lirikan tajam Evita. "Bagus deh kalau Keyra suka. Kapan-kapan saya buatkan bekal khusus anak-anak yang bentuknya karakter kartun."

"Tidak usah repot-repot, Arvino. Kamu ini terlalu baik," ujar Evita seraya berbalik hendak mengambil tas belanja dari rak atas di belakang meja kasir untuk membungkus wadah bekal tersebut.

"Nggak repot sama sekali, Mbak. Saya kan emang hobi masak—"

Brakk

Saat Evita berjinjit meraih tas di rak atas, tumpukan manekin kayu kecil dan papan bingkai foto berbingkai besi di sampingnya tersenggol pelan. Bingkai foto yang lumayan berat itu meluncur jatuh tepat ke arah kepala Evita.

"Mbak Vita, awas!"

Spontan dan tanpa berpikir panjang, Vino meloncat maju. Tangannya cekatan menjangkau ke atas, menahan bingkai besi tebal itu tepat beberapa sentimeter sebelum menghantam pelipis Evita. Namun, karena pergerakan refleks yang begitu cepat dan mendadak, tubuh Vino terdorong mendekat, dan lengannya tanpa sengaja menyenggol bahu Evita.

Detik itu juga, dunia di sekitar Evita seolah berhenti.

Puk!

Sentuhan fisik yang tak terduga itu menghantam ingatan Evita bagaikan cambuk. Wajah Evita mendadak pucat pasi. Matanya terpejam erat, napasnya memburu seketika dengan tubuh yang gemetaran hebat.

"Jangan! Jangan pukul!" jerit Evita histeris namun tertahan.

Secara refleks, Evita menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menarik diri dengan amat keras hingga punggungnya membentur sudut dinding. Matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat, bukan ketakutan pada bingkai yang hampir jatuh, melainkan ketakutan luar biasa pada sosok pria yang berada terlalu dekat dengannya.

Vino terpaku. Bingkai foto besi itu masih tergenggam kokoh di tangan kanannya, tetapi perhatiannya sepenuhnya terikat pada reaksi Evita. Melihat tubuh wanita itu berguncang hebat dalam posisi bertahan yang begitu mengenaskan, menyadarkan Vino seketika.

Trauma KDRT. Kata-kata Yunita malam itu bergema nyaring di kepala Vino.

Vino tidak panik. Ia tidak menyuruh Evita tenang dengan nada tinggi. Dengan sangat hati-hati dan tanpa suara, Vino meletakkan bingkai foto itu perlahan ke atas lantai.

Kemudian, Vino mundur. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, hingga tubuhnya bersandar pada pintu kaca depan butik, menciptakan jarak hampir empat meter di antara mereka. Vino menurunkan kedua tangannya terbuka lebar di samping tubuh, menunjukkan gestur bahwa ia sama sekali tidak memegang apa pun dan tidak berniat membahayakan.

"Mbak Vita..." panggil Vino dengan nada suara yang amat sangat pelan, rendah, dan sehalus pusaran angin sore. "Lihat saya, Mbak. Ini Vino."

Evita masih memeluk dirinya sendiri dengan erat, jemarinya meremas kain blusnya hingga kusut. Napasnya tersengal-sengal. Namun suara lembut Vino perlahan menerobos kepanikan yang menguasai pikirannya.

"Saya ada di dekat pintu, Mbak. Jauh banget dari Mbak Vita," lanjut Vino lambat-lambat, mempertahankan nada bicaranya agar tetap stabil dan menenangkan. "Nggak ada yang mau mukul Mbak Vita. Nggak ada yang bakal nyakitin Mbak Vita di sini. Tempat ini aman."

Evita perlahan membuka matanya. Pandangannya yang buram oleh setitik air mata mendapati sosok Vino yang berdiri jauh di ujung ruangan. Pemuda itu tidak menatapnya dengan pandangan mengasihi atau menghakimi; Vino menatapnya dengan binar mata yang begitu jujur, sabar, dan penuh rasa hormat.

Napas Evita yang memburu perlahan mulai teratur kembali. Jemari tangan yang menegang keras di dadanya berangsur-angsur melonggar.

"Ar... Arvino?" bisik Evita dengan suara bergetar.

"Iya, Mbak. Ini saya, Vino si koki kedai," balas Vino seraya mengulas senyum paling hangat yang ia miliki. Ia tidak bergerak satu senti pun dari posisinya di dekat pintu. "Maaf ya, Mbak. Tadi saya geraknya terlalu cepat sampai bikin Mbak Vita kaget. Saya salah."

Evita menatap Vino dalam-dalam. Rasa malu yang luar biasa mendadak menyergap dadanya. Ia baru saja memperlihatkan luka paling kelam dan titik terlemah dalam hidupnya di depan pemuda 18 tahun ini.

"Maafkan saya..." gumam Evita lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan sudut matanya yang basah. "Saya... saya tidak bermaksud—"

"Mbak Vita nggak perlu minta maaf sama sekali," potong Vino cepat, suaranya tetap lembut memeluk suasana. "Mbak nggak salah apa-apa. Saya yang kurang hati-hati."

Vino menunjuk wadah bekal di meja kasir dengan dagunya. "Mbak, kotak bekalnya saya ambil sendiri ya? Saya nggak akan mendekat ke arah Mbak Vita."

Dengan gerakan yang sangat terukur dan perlahan, Vino melangkah mendekati meja kasir, mengambil tas kain wadah bekalnya tanpa menyentuh barang lain, lalu kembali mundur dua langkah.

"Mbak Vita..." panggil Vino pelan sebelum ia meraih gagang pintu.

Evita mendongak pelan, menatap pemuda di depan sana.

"Tangan ini..." Vino mengangkat kedua telapak tangannya sendiri, menatap jemarinya sejenak lalu beralih menatap mata Evita. "...diciptakan Ibu saya cuma buat meracik bumbu masakan dan melindungi orang-orang yang saya sayangi. Tangan ini nggak akan pernah dipakai buat menyakiti wanita. Apalagi Mbak Vita."

Evita terpaku. Kalimat sederhana itu menghantam bagian terdalam dari dadanya yang sudah lama mati rasa. Tidak ada kepalsuan, tidak ada kesombongan pria dewasa yang biasa mengumbarnya. Hanya ada ketulusan murni dari seorang pemuda.

"Saya pamit dulu ya, Mbak," ujar Vino lembut. "Istirahat yang cukup. Jangan lupa kunci pintunya."

Denting bel pintu berbunyi halus saat Vino melangkah keluar, menghilang di balik remang sore Surabaya.

Evita berdiri bersandar pada dinding butik yang dingin. Ia menyentuh dadanya yang kini berdetak hangat. Bayangan buruk masa lalu yang biasanya menghantuinya seusai histeria mendadak sirna, tergantikan oleh gema ucapan tulus Vino yang hangat membelai jiwanya.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!