Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaka yang Hilang
Pemuda itu ternyata adalah Jaka, biasa disebut Jack, karena dia malu sama namanya sendiri yang katanya agak ngampung. Jaka mendekati petugas yang bersikap arogan tadi lalu berbicara dengan nada rendah namun tak bisa dibantah.
"Pelankan suaranya Pak, mereka nggak tuli. Mereka semua bukan penjahat besar yang nyuri duit rakyat, mereka hanya orang-orang yang sedang berjuang menghidupi keluarga. Jangan hancurkan harapan mereka yang cari nafkah halal. Ambil yang memang menghalangi jalan utama, tapi biarkan yang kecil-kecil dan tidak mengganggu lalu lintas mereka benahi."
Petugas yang tadi galak itu tampak segan mendengar instruksi Jaka a.k.a Jack.
"Tapi Mas Jaka... Komandan Zaki sendiri yang memerintahkan agar operasi ini berjalan bersih dan tuntas."
Jaka tersenyum tipis namun matanya tetap serius.
"Ayah saya memang menginginkan ketertiban kota, tapi saya yakin beliau tidak menginginkan ketertiban itu dibangun di atas air mata orang-orang susah. Biar saya yang menjelaskan pada ayah nanti jika diperlukan."
Mendengar nama Pak Zaki disebutkan, seluruh badan Raya tertegun. Pak Zaki adalah nama yang sangat disegani di kota itu, ia adalah komandan pasukan Satpol PP yang tegas dan adil. Ternyata pemuda yang kini berdiri melindungi mereka itu adalah putra kandung Pak Zaki sendiri!
Omegot! Akang ganteng ini ternyata anaknya Komandan Satpol PP, pantesan mereka pada nurut, batin Raya.
Kehadiran Jaka bagaikan pangeran yang turun dari langit pada saat yang paling tepat. Ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk menindas, melainkan justru untuk melindungi mereka yang lemah. Di bawah arahan Jaka, penertiban itu dilakukan dengan lebih manusiawi.
Barang-barang yang sangat berharga bagi Bi Nur dan Raya dibiarkan tetap utuh, meskipun mereka tetap diminta memindahkan tempat berjualan ke lokasi yang lebih aman dan tidak mengganggu jalan raya utama.
" Neng, tolong panggil si Mul suruh kesini! Bilangin dia bawa motor Kaisar yang buat ngangkut pasir di matrial, kita harus amankan kendi-kendi itu untuk dibawa pulang" perintah Bik Nur.
" Iya Bik, aku telpon dulu si Mul. "
Setelah kekacauan itu mereda dan petugas-petugas mulai bersiap kembali ke kendaraan masing-masing, Raya memberanikan diri menghampiri Jaka yang sedang berdiri di dekat pohon besar sambil membersihkan debu di bajunya.
"Terima kasih banyak A..." ucap Raya dengan suara yang masih sedikit gemetar karena terharu dan malu. "Kalau tidak ada Aa tadi, entah bagaimana nasib barang dagangan kami."
Jaka menoleh dan menatap Raya lekat-lekat. Senyum yang sangat tulus terukir di wajahnya. Senyum yang seolah mampu menghapus segala rasa sedih yang ada di hati gadis itu.
"Tidak perlu berterima kasih, Neng geulis. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan." jawab Jaka lembut. " Oh ya, nama kamu siapa?"
"Namaku Raya... Rayana Mahali."
"Raya..." ulang Jaka pelan seolah sedang mencicipi nama yang indah itu. "Nama kamu bagus, ngingetin aku sama bedug takbiran dan ketupat opor ayam, pasti lahirnya masih dalam suasana hari Raya ya? "
Raya tersenyum sambil menggeleng pelan,
" Salah A. Kata si Mamah, aku lahir pas bulan Rajab abis pengajian "
Jaka tersenyum mesem.
" Tetap aja kelahiran kamu dirayakan semua orang. Semoga setelah ini kamu tidak berurusan sama Satpol PP lagi ya, soalnya nggak selamanya aku bisa bantuin kamu. "
" Iya A. Sekali lagi terimakasih ya. "
Hari itu menjadi hari yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Raya. Sebelum berpisah, mereka saling bertukar nomor telepon.
Awalnya hanya untuk sekadar memastikan jika ada hal-hal mendesak yang berkaitan dengan tempat berjualan mereka. Namun komunikasi yang dimulai dari pesan singkat itu perlahan tumbuh menjadi rasa saling tertarik, saling menghargai, hingga akhirnya tumbuh menjadi kasih sayang yang begitu mendalam.
Jaka yang tampak sempurna di mata banyak orang ternyata memiliki sisi sederhana yang membuat Raya merasa nyaman. Ia tidak pernah sombong meskipun ayahnya adalah pejabat tinggi. Ia suka mendengarkan cerita-cerita Raya tentang kehidupan sehari-hari, tentang bunga-bunga, tentang kuliah, bahkan tentang seblak pedas yang menjadi kesukaan Raya.
Jaka bahkan pernah ikut menemani Raya membantu Bi Nur mengangkut karangan bunga ke tempat pemakaman yang aman untuk berjualan.
Jaka ini masih kuliah seperti Raya, hanya saja dia beda 1 tingkat diatas Raya. Jaka suka berbisnis kecil-kecilan, kadang jual beli musang, kadang jadi makelar tanah, kadang bantuin temannya yang berprofesi jadi sales motor. Uangnya ia pake buat traktir Raya, karena ia tidak usah mikir untuk biaya kuliah.
Hubungan mereka berjalan selama tiga tahun penuh warna. Tiga tahun di mana mereka saling menguatkan saat dunia terasa berat. Tiga tahun di mana kepercayaan tumbuh kokoh, setidaknya itulah yang Raya pikirkan selama ini.
" Do'ain Aa ya Neng, setelah Aa wisuda nanti, Aa mau coba test TNI atau Polisi jalur sarjana." ujar Jack kala itu.
" Nggak mau jadi Satpol PP aja kayak ayahnya Aa? Kan ada orang dalem, pasti lebih gampang buat masuknya. "
" Enggak mau akh Neng, masa ayah sama anak sama-sama Satpol PP? "
Nyatanya kenyataan tak seindah harapan. Setelah lulus kuliah, Pak Zaki meninggal dunia karena penyakit jantung. Dia meninggalkan hutang yang cukup besar, jangankan dapat warisan, yang ada Jack dan ibunya harus jual asset untuk menutupi hutang tersebut.
" Jadinya Aa mau daftar TNI atau Polisi? " tanya Raya.
" Entahlah Neng, Aa sudah nggak semangat lagi. Aa pusing karena hutang ayah nggak lunas-lunas, entah buat apa dia hutang segitu banyak. " Jack terlihat frustasi.
" Aa yang sabar ya, yang penting Aa dan Ibu sudah berusaha buat bayar."
" Iya Neng, makasih ya. "
Dan pada akhirnya Jaka memilih kerja di dealer mobil yang ada di dekat Pemda. Setidaknya ia bisa menghasilkan uang untuk makan dan menghidupi ibunya.
Flashback off
Setelah mengingat semua kebaikan dan kehangatan Jaka saat mereka masih bersama, Raya merasa semakin bingung dan sedih. Jika dulu Jaka begitu baik hingga rela melindunginya dari kesulitan, mengapa sekarang ia tega membiarkan Raya merasa cemas dan bingung sendirian? Mengapa harus menghilang begitu saja?
Apakah ada hal buruk yang menimpanya? Atau apakah ia sudah menemukan kehidupan baru yang lebih baik tanpa kehadiran Raya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa henti di kepala Raya hingga membuatnya merasa sakit kepala dan lelah jiwa raga.
Matahari sudah mulai condong ke barat, cahaya keemasan mulai membias masuk melalui celah jendela kamar. Raya mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan punggung tangan. Ia tahu meratapi nasib saja tidak akan mengembalikan Jaka. Namun bagaimanapun juga, bagi Raya yang telah memberikan seluruh jiwa dan raga untuk hubungan ini, kehilangan Jaka rasanya seperti kehilangan separuh dari hidupnya sendiri.
Namun di lubuk hati yang paling dalam, masih ada secercah harapan yang tak mau padam. Harapan bahwa Jaka bukanlah orang yang meninggalkan begitu saja tanpa alasan yang kuat. Harapan bahwa suatu hari nanti pemuda itu akan kembali dan menjelaskan semuanya. Dan jika hari itu tiba, Raya bersedia mendengarkan, meskipun hatinya mungkin sudah tergores luka yang dalam.
Raya menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan mencoba menenangkan diri. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja kecil di sudut kamar dan mengambil selembar kertas kosong. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mulai menuliskan pesan yang mungkin tak akan pernah dibaca oleh Jaka, namun setidaknya itu bisa menjadi pelampiasan perasaannya yang sesungguhnya.
"Aa yang dulu menolongku saat aku tak berdaya, mengapa kini membiarkanku tenggelam dalam kekhawatiran? Aku yang telah bersamamu dalam segala keadaan, baik saat hujan maupun cerah... mengapa Aa tak menganggapku layak untuk sekadar tahu ke mana kau pergi?
Namun walau begitu, aku tetap menunggumu. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu betapa berharganya kasih sayang yang pernah kita miliki. Semoga Aa segera kembali, atau setidaknya... semoga aku mampu mengikhlaskan jika memang kau sudah tak lagi untukku."
Malam mulai turun perlahan menyelimuti langit kota. Cahaya lampu jalan mulai menyala satu per satu. Raya menatap ke luar jendela yang terbuka lebar, berharap angin malam akan membawa kabar tentang Jaka dari mana saja ia berada. Meski lelah dan hati sedang remuk, Raya berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap tegar. Karena bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan, entah Jaka ada di sisinya atau tidak.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target