Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24: Pulang dan Masa Depan yang Cerah
Liburan musim dingin tiba, dan kota mulai diselimuti udara dingin yang segar. Langit sering kali mendung, dan kadang turun hujan rintik-rintik yang membuat udara semakin dingin namun menenangkan. Aku menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman, dan Ethan. Pagi hari kuhabiskan dengan membaca buku di perpustakaan rumah yang hangat dan beraroma kayu cendana, ditemani secangkir teh hangat dan kue buatan Tante Lisa. Sore hari sering kuhabiskan dengan berjalan-jalan bersama Ethan di taman kota yang kini tampak sunyi dan tenang, atau sekadar duduk berdua di beranda rumah sambil berbicara tentang mimpi-mimpi kami untuk masa depan. Setiap hari terasa berharga, setiap momen penuh kebahagiaan yang sederhana namun mendalam, seolah waktu berjalan lebih lambat agar kami bisa menikmatinya sepenuhnya.
Suatu sore yang cerah, saat matahari sore menyinari kota dengan cahaya keemasan yang lembut, aku berdiri di balkon kamarku memandang langit yang bersih dan luas. Di tanganku, ada buku tebal yang kubaca sebelum aku masuk ke dunia ini—buku yang menceritakan kisah tragis Lily Shen yang berakhir dengan kehancuran dan kesepian. Aku membukanya sebentar, melihat halaman-halaman yang dulu membuatku takut dan sedih, lalu perlahan menutupnya dengan lembut dan menyimpannya di dalam kotak kayu di rak paling bawah. Buku itu tidak lagi mengatur hidupku. Takdir yang tertulis di dalamnya sudah kualihkan dengan tanganku sendiri. Cerita lama itu sudah berakhir, dan cerita baruku telah dimulai—cerita yang kutulis sendiri, kata demi kata, dengan cinta dan kebaikan sebagai tintanya.
"Kau sedang berpikir apa?"
Suara Ethan terdengar pelan dari pintu balkon yang terbuka. Ia berjalan mendekat dan berdiri di sampingku, merangkul bahuku dengan lembut agar aku tetap hangat. Aku menoleh dan tersenyum melihatnya, merasakan kebahagiaan yang tenang dan utuh memenuhi dadaku.
"Aku berpikir tentang betapa beruntungnya aku," jawabku jujur, menatap ke arah cakrawala yang luas dan terang. "Aku datang ke sini dengan tujuan hanya untuk menyelamatkan diri dari akhir yang menyedihkan. Tapi ternyata… aku menemukan jauh lebih banyak dari itu. Aku menemukan keluarga yang menyayangiku tanpa syarat, teman-teman yang setia hingga akhir, dan kau. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, tanpa syarat, tanpa batas. Semua hal yang paling berharga dalam hidup ternyata datang kepadaku tanpa aku minta. Aku hanya berusaha menjadi baik, dan dunia ini membalasnya dengan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan."
Ethan mencium keningku dengan lembut, lalu menyandarkan pipinya di atas kepalaku. "Itu bukan kebetulan, Lily. Kebahagiaan itu datang karena kau menaburkan kebaikan di mana pun kau berada. Kau tidak hanya menyelamatkan dirimu sendiri—kau juga menyelamatkan kami semua dari kesepian dan kegelapan. Dan untuk itu, aku akan selalu bersyukur pada takdir yang mempertemukan kita."
Aku menatap ke arah cakrawala yang cerah dan terbentang luas, melihat masa depan yang penuh kemungkinan dan harapan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin masih ada badai yang akan datang, mungkin masih ada kesulitan yang harus kami hadapi, mungkin masih ada hari-hari yang terasa berat. Tapi aku tidak takut. Karena aku tidak menghadapinya sendirian. Di sampingku ada orang yang kucintai dan yang mencintaiku dengan segenap hatinya. Di belakangku ada keluarga yang selalu mendukungku. Dan di sisiku ada teman-teman yang akan berjalan bersama hingga akhir.
Di dalam hatiku, aku tahu satu hal dengan pasti: cerita ini tidak akan berakhir dengan kesedihan. Ia tidak akan berakhir dengan kehancuran atau kesepian. Ia akan terus berjalan, tumbuh, dan mekar selamanya—seperti pohon maple yang selalu tumbuh kembali setiap musim semi tiba. Dan setiap tahun, saat daun-daunnya berubah menjadi merah keemasan, kami akan kembali ke sana, ke tempat di mana semuanya bermula, untuk mengingat dan bersyukur bahwa dari sebuah kesedihan yang dulu tertulis, lahirlah kebahagiaan yang abadi.