Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Wush.

Pria itu menghilang dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak langkah atau suara apa pun di lantai ubin.

"Dia memotong jarak dengan melipat ruang, dia bisa muncul dari arah mana saja sesukanya," batin Bayu panik mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut.

Hanya butuh waktu satu detik sebelum firasat mematikan itu kembali mencengkeram tengkuk leher Bayu.

Sebuah kilatan pedang perak muncul persis satu jengkal di sebelah leher Anya yang sedang berdiri gemetar ketakutan.

"Gadis ini terlalu banyak bicara, biarkan dia mati duluan," bisik suara Sang Penghapus Jejak dari udara kosong di samping telinga Anya.

"Batu Waktu, hentikan waktu sekarang juga." teriak Bayu dalam hatinya dengan kepanikan yang luar biasa memuncak.

Wusss.

Dunia mendadak sunyi senyap dan kehilangan semua warna alaminya berubah menjadi monokrom kelabu yang membosankan.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 2/10]

Pedang perak itu berhenti mengambang kaku tepat di depan urat nadi leher Anya yang wajahnya sudah sangat pucat pasi.

Tubuh Sang Penghapus Jejak baru terlihat separuh keluar dari robekan dimensi ruang yang melayang aneh di udara.

"Orang ini benar-benar gila, dia tidak segan membunuh orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini," umpat Bayu di dalam hati.

Bayu segera melangkah maju melawan tekanan entropi yang langsung menimpa dadanya dengan beban yang sangat berat.

Ugh.

Bayu menahan erangan sakit saat memeluk erat pinggang Anya dan menarik tubuh kaku gadis itu menjauh dari jangkauan tebasan pedang.

Ia menyeret Anya dengan susah payah menuju pintu keluar ruangan yang masih terbuka lebar sejak mereka masuk.

"Langkahku terasa sangat berat, padahal baru bergeser beberapa meter saja menuju pintu," keluh Bayu merasakan napasnya mulai tersengal-sengal.

[Beban entropi meningkat. Peringatan cadangan energi mulai mendekati batas kritis.]

Bayu meletakkan Anya dengan aman di dekat anak tangga besi dan segera melepaskan penghentian waktunya.

"Lanjutkan waktu."

Wusss.

Suara bising mesin pabrik di kejauhan dan warna warni dunia kembali menyala normal dalam sekejap mata. Trang.

Sang Penghapus Jejak hanya menebas udara kosong karena mangsanya tiba-tiba sudah berpindah tempat menjauh ke arah pintu keluar.

Pria bertopeng itu terbelalak kaget di balik penutup wajahnya melihat posisi Bayu dan Anya yang berubah drastis tanpa terlihat proses pergerakannya.

"Apa yang baru saja terjadi barusan? Bagaimana kau bisa bergerak lebih cepat dari perpindahan ruangku?" tanya pembunuh itu dengan nada sangat terkejut.

Bayu tidak berniat melayani obrolan musuhnya dan langsung menarik tangan Anya secara paksa untuk menuruni tangga.

"Jangan banyak tanya, Nona Detektif, lari sekencang yang kamu bisa sekarang juga." teriak Bayu pada gadis yang masih terlihat linglung itu.

Anya yang baru tersadar dari ancaman kematian langsung memacu kakinya menuruni tangga besi hingga menimbulkan suara bising yang bergema.

Brak brak brak.

Suara langkah panik mereka berdua menuruni tangga langsung menarik perhatian puluhan preman di lantai bawah yang sedang berjaga.

"Itu mereka. Ada penyusup di lantai dua kantor bos." teriak para preman menunjuk heboh ke arah tangga.

Bayu melemparkan sebuah kursi lipat dari atas tangga ke arah kerumunan preman yang mencoba naik untuk menghadang mereka.

Gubrak.

Dua orang preman terjatuh terguling-guling ke bawah terkena hantaman kursi besi tersebut, membuka sedikit celah jalan bagi Bayu.

"Terus lari ke arah pintu keluar utama gudang, jangan menoleh ke belakang sedikit pun," perintah Bayu sambil terus memegangi tangan Anya erat-erat.

Mereka berdua berlari kencang menembus celah lorong tumpukan kardus barang selundupan dengan kecepatan maksimal.

Di belakang mereka, Sang Penghapus Jejak muncul dari udara kosong tepat di tengah ruangan lantai satu.

"Jangan biarkan bocah itu keluar membawa dokumen dari kantorku hidup-hidup." teriak Sang Penghapus Jejak memberikan komando kepada para preman.

Puluhan preman berwajah sangar langsung mengejar Bayu dan Anya dengan membawa berbagai macam senjata tajam di tangan.

"Ini benar-benar kekacauan yang paling sempurna yang pernah kubuat seumur hidupku," rutuk Bayu sambil terus mengatur napas larinya.

Ia melirik ke arah pintu besi besar yang tinggal berjarak belasan meter di depan mata mereka berdua.

Dor.

Dor.

Suara tembakan pistol rakitan mulai terdengar bersahutan dari arah pengejar, memecahkan beberapa lampu gantung di langit-langit atas mereka.

Pecahan kaca berhamburan turun seperti hujan lebat menghalangi jalan lari Bayu dan Anya menuju pintu.

"Hentikan waktu sejenak." perintah Bayu lagi tanpa memedulikan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya.

Wusss.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 1/10]

Hujan pecahan kaca dan laju peluru panas terhenti membeku di udara menyajikan pemandangan yang mematikan namun indah.

Bayu menarik Anya berlari meliuk-liuk menghindari proyektil dan pecahan kaca tajam yang mengambang statis di sepanjang jalan.

Ia berhasil mencapai ambang pintu besi dan langsung membatalkan jeda waktu seketika itu juga demi menghemat nyawanya.

"Lanjutkan."

Prang.

Dor.

Suara tembakan dan pecahan kaca kembali berjatuhan menyentuh lantai tepat di belakang tumit kaki mereka berdua.

Bayu menendang pintu luar gudang itu sekuat tenaga hingga terbuka lebar dan sinar matahari sore langsung menyilaukan mata mereka.

"Kita berhasil keluar, terus lari sampai ke halte bus tempat kita turun tadi," teriak Bayu tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan larinya.

Anya hanya bisa mengangguk patuh dengan napas yang memburu cepat seakan paru-parunya mau pecah kehabisan oksigen.

Mereka berlari sekuat tenaga meninggalkan area gudang berdebu itu menuju ke arah jalan raya besar yang mulai ramai oleh kendaraan pulang kerja.

Bayu akhirnya jatuh terduduk lemas di trotoar pinggir jalan raya yang aman, disusul oleh Anya yang merosot bersandar pada tiang listrik berkarat.

"Hah... hah... aku hampir saja mati terpotong tebasan pedang tadi," ucap Anya terengah-engah dengan wajah berlumuran keringat dingin.

Bayu tertawa hambar sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak akibat menguras energi sistem dua kali berturut-turut.

"Setidaknya kita berhasil mengamankan bukti ini, misi penyelundupan kita hari ini tidak sepenuhnya gagal," jawab Bayu menepuk pelan tas selempang Anya.

Layar sistem muncul berkedip memberikan sebuah notifikasi peringatan berwarna kuning pucat.

[Energi Waktu tersisa: 1/10]

[Analisis Musuh: Pengguna Relik Spasial tidak dapat mendeteksi manipulasi temporal pengguna secara langsung.]

Bayu tersenyum tipis membaca notifikasi yang terasa sangat berharga untuk kelangsungan hidupnya tersebut.

"Pembunuh sombong itu tidak tahu kalau aku mengendalikan waktu, dia hanya mengira aku punya kecepatan super," batin Bayu menyusun strategi baru di kepalanya.

"Jika aku bisa mengelabuhinya dengan baik di masa depan, masih ada harapan besar untuk menang telak di pertemuan kami berikutnya."

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!