"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Luvia!
“Luvia...”
Adara tak sempat menghentikan putrinya yang kini berdiri tepat di hadapan Arsen. Bocah cilik itu masih sesenggukan seraya mengusap air matanya dengan punggung tangan mungilnya. Ia mendongak dan menatap lekat-lekat wajah pria berbadan bongsor itu.
“Kamu kenapa, hm?” tanya Arsen bingung. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke Adara. “Apa yang sudah kau lakukan padanya, Adara?” bentaknya sinis.
“I-itu...” Adara tergagap, menundukkan kepala karena merasa canggung dan serba salah.
“Kak Lucian, Lucky takut lihat Luvia ngamuk!” bisik Lucky panik seraya merangkul lengan Lucian yang tetap berusaha bersikap tenang.
Namun, ketakutan mereka seketika sirna oleh tindakan Luvia selanjutnya. Alih-alih memukul Arsen, gadis cilik itu justru menghambur dan memeluk erat pinggang sang ayah.
“Uwaaa... Daddy...!”
Deg!
Tangisan Luvia kembali menggema di sekeliling restoran. Namun kali ini, tak ada penolakan atau kemarahan di matanya. Tangisan itu murni luapan kebahagiaan. Ia begitu senang mengetahui 'Paman Gendut' adalah ayah kandungnya.
Arsen tertegun. Reaksi ini sungguh di luar dugaannya.
“Daddy... ini benalan Daddy-na Lupia?” isak Luvia memastikan, mengerjapkan mata bulatnya yang masih basah.
Hufft...
Adara mengelus dada dan Lucian menghembuskan napas lega. Berbeda dengan Lucky yang menangis terharu bahkan sampai menyapukan ingusnya ke bahu Lucian.
“Lucky, kamu jorok!” cetus Lucian datar sambil mendorong Lucky, lalu fokus memperhatikan adiknya yang mulai merengek minta digendong.
Sayangnya, karena ukuran perutnya, Arsen kesulitan untuk membungkuk. Adara tertawa kecil melihat momen canggung itu. Ia membungkukkan badan, merengkuh tubuh kecil Luvia, lalu menyerahkannya ke dalam dekapan Arsen.
“Thank you, Mommy,” bisik Luvia manis, menautkan kedua tangan kecilnya di leher Arsen.
Adara hanya tersenyum lembut.
Luvia beralih menatap lekat iris mata Arsen. “Daddy... pacti celama ini cetles linduin Lupia campe pelutna becal gini, ya?”
Ucapan polos itu tak sepenuhnya salah, mengingat Arsen memang sengaja melampiaskan stresnya pada makanan selama lima tahun mencari keberadaan Adara.
“Kok kamu tahu?” goda Arsen pura-pura penasaran.
“Coalna Lupia juga begitu! Pucing mikilin Daddy. Makana Daddy jangan cetles-cetles lagi, ya. Lupia udah di cini. Jangan tinggalin Lupia dan Mommy lagi,” mohon Luvia, menyenderkan pipinya di bahu Arsen.
Arsen tersenyum tipis. Ia mengusap rambut panjang putrinya dengan lembut. “Ehem... tapi kamu benar-benar tidak masalah punya Ayah sepertiku?”
Luvia menggeleng cepat. “Ndak papa! Acalkan Daddy cultan, Lupia cenang! Ndak pelu Mommy cucah-cucah cali uang lagi. Tinggal gecel kaltu aja di Idomalet!”
Matre juga ini anak!
Arsen menggeleng-geleng gemas. Adara bahkan harus membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak pecah. Putrinya sungguh terlalu realistis.
Lucky menyapu sisa air matanya lalu mendekat. “Luvia, kamu tenang saja. Nanti ada Abang yang bakal sulap perut Daddy jadi rata!”
“Calana apa tuh?” tanya Luvia kepo. Sementara Arsen mulai mengendus firasat buruk melihat senyum misterius si kembar. Entah eksekusi diet mengerikan apalagi yang sedang mereka rancang untuk besok pagi.
Lucian maju mencairkan suasana. Ia meraih jemari ibunya seraya menatap ayahnya datar. “Mommy, ayo duduk. Lucian sudah lapar.”
Luvia langsung berseru riang dari atas gendongan. “Ayo, Daddy! Makan yang banyak!”
“Jangan dong, Luvia! Daddy kan harus diet! Masa program sendiri lupa?” celetuk Lucky berkacak pinggang menatap serius.
“Ndak papa, hali ini libul diet dulu, Abang. Lanjut becok-becok aja!”
“Ndak boleh!” sentak Lucky tegas.
“Abang Lucky peliiit!” jerit Luvia kesal.
“Kamu yang gendut! Wlek!” Lucky balas mengejek sambil menjulurkan lidah.
Melihat pertengkaran kecil itu, Adara dan Lucian hanya bisa saling pandang sambil memijat kening. Namun Arsen... diam-diam menyunggingkan senyum tipis. Sebuah rasa hangat yang asing mendadak menjalar dan memenuhi relung dadanya.
Jadi begini rasanya menjadi seorang ayah? Kalau tahu bakal sebahagia ini, kenapa tidak dari dulu saja aku menikah?!
Gerutu Arsen pada dirinya sendiri. Ia lalu mencuri pandang ke arah Adara. Ketika mata mereka tak sengaja beradu, Adara buru-buru memalingkan wajahnya, canggung.
Mereka pun menikmati makan malam bersama dengan tenang. Luvia sibuk membuka mulut mungilnya setiap kali Adara menyuapi, sementara Lucky suka berebut potongan salmon dengan adiknya. Hanya Lucian yang makan dengan tenang, sesekali mengamati interaksi kedua orang tuanya yang masih diliputi kecanggungan.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari restoran. Si kembar tampak kekenyangan. Hanya Arsen yang masih menahan lapar karena sepanjang makan malam ia diawasi secara ketat oleh Lucky. Bocah itu bahkan sempat mengancam akan melapor pada sang kakek jika Arsen berani menambah porsi karbohidrat.
Setibanya di samping mobil jemputan, Arsen meminta Adara dan anak-anak untuk pulang lebih dulu. Ia menengadahkan kepala, menatap langit malam yang mulai mendung.
“Daddy... mau ke mana?” tanya Lucian curiga.
“Daddy mau celingkuh, ya?” selidik Luvia sambil menyipitkan mata, membuat Adara dan Arsen tersedak saliva sendiri.
Ciiiittt!
Sebuah mobil sedan hitam menepi tepat di depan mereka. Mateo keluar dari pintu pengemudi, datang menjemput Arsen sesuai perintah.
“Selingkuh? Memangnya ada wanita yang mau bersama pria gendut sepertiku?” decak Arsen setengah menyindir.
Tanpa ragu, Luvia menunjuk Adara mantap. “Itu Mommy mau cama Daddy! Cantik, pintal cali uang, lajin menabung, ndak combong juga. Daddy cama Mommy untung banyak!”
Jleb!
Pujian spontan dari putri kecilnya sukses membuat pipi Adara memerah padam. Ia sangat malu digoda di depan Arsen.
“Ha... haha... ki-kita pulang sekarang yuk, Sayang. Biarkan Ayah kalian menyelesaikan urusannya,” bujuk Adara salah tingkah. Ia buru-buru memboyong ketiga buah hatinya masuk ke dalam mobil.
“Dadah Daddy Endut! Dadah Paman Meteol!” seru Luvia melambaikan tangan dari balik kaca jendela yang terbuka separuh.
“Pfft... Sepertinya Nona kecil sudah mau mengakui Ayahnya, ya. Tapi julukan 'Gendut' masih melekat erat padamu, Bos,” tawa Mateo begitu mobil Adara melaju pergi.
Namun detik berikutnya, Mateo langsung membungkam mulutnya rapat-rapat saat menyadari kilatan mata Arsen yang sangat menakutkan.
“Mateo, kau sudah mendapatkannya?” tanya Arsen dingin seraya mendekati mobil.
“Sudah, Bos! Edwin sudah berhasil kami amankan. Anda ingin langsung ke sana?”
“Bagus. Bawa aku kepadanya sekarang juga.”
“Baik, Bos!” Mateo tancap gas, membelah malam menuju lokasi penyekapan Edwin.
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu