Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbatasan Kota dan Awal Perjalanan Panjang
Debu jalanan di luar gerbang utama Kota Awan Berkabut berterbangan diterpa angin pagi yang berhembus sejuk. Langit biru terbentang luas tanpa awan, menyambut kebebasan baru yang telah direbut oleh Gu Yan-Zhi bersama Gu Ruoxi dan Gu Chen. Setelah meninggalkan aula pertemuan Klan Gu yang gempar dalam kebisuan ketakutan, ketiganya bergerak cepat mengamankan kuda-kuda sewaan dan persediaan logistik secukupnya sebelum fajar semakin meninggi.
Bagi Gu Ruoxi, dunia di luar tembok tinggi Klan Gu terasa begitu asing sekaligus memesona. Selama belasan tahun hidup terkekang di dalam paviliun klan, ia tidak pernah tahu bahwa udara di luar sana begitu segar dan luas. Gadis itu menunggangi kudanya dengan tenang di samping Gu Yan-Zhi, sesekali melirik ke arah pemuda yang kini menjadi tumpuan harapan hidupnya. Ada ketenangan yang begitu kuat terpancar dari diri Gu Yan-Zhi—bukan lagi sosok pemuda lemah yang dulu sering disiksa, melainkan seorang pemimpin yang matang dan penuh perhitungan.
"Tuan muda... kita sebenarnya hendak pergi ke mana sekarang?" tanya Gu Chen, memecah keheningan sambil merapikan tali kekang kuda beban yang membawa kotak warisan pusaka di belakang pelana kudanya. "Klan Gu mungkin tidak akan langsung mengejar kita karena takut pada tekanan kultivasi Anda tadi, tetapi Klan Bai di wilayah barat pasti akan segera mendengar kabar tentang kekalahan Bai Lie. Mereka tidak akan tinggal diam."
Gu Yan-Zhi menarik tali kekang kudanya pelan, membiarkan langkah hewan itu melambat saat mereka mencapai persimpangan jalan besar di luar perbatasan kota. Ia menatap ke arah garis cakrawala di mana jajaran pegunungan hijau membentang jauh tanpa batas. Di sanalah letak Benua Dewa yang sebenarnya—sebuah dunia luas tempat ribuan sekte besar, kekuatan misterius, dan para kultivator tingkat tinggi saling bertarung demi memperebutkan puncak keabadian.
"Kita tidak akan lari bersembunyi dari satu kota ke kota lain hanya untuk menghindari kejaran Klan Bai," jawab Gu Yan-Zhi tenang, suaranya terdengar jernih di udara pagi. "Kota Awan Berkabut terlalu kecil, Gu Chen. Dan Klan Gu maupun Klan Bai hanyalah kerikil kecil di pinggir jalan raya dunia kultivasi ini. Jika kita membuang waktu meladeni dendam mereka secara terus-menerus, langkah kita akan terhenti di tempat."
Gu Ruoxi mengangguk pelan, menyetujui ucapan tersebut. "Kakak benar. Selama kita berada di dalam wilayah pengaruh mereka, kita akan selalu dibayangi oleh keterbatasan. Ayah... Ayah sendiri sudah dikendalikan oleh racun Penatua Kedua, dan klan itu sudah busuk hingga ke akar-akarnya. Tidak ada lagi yang layak kita tangisi di sana."
"Tepat sekali," balas Gu Yan-Zhi sambil tersenyum tipis menatap saudarinya. "Tujuan kita berikutnya adalah Kota Angin Lembayung, sebuah kota perdagangan netral yang terletak tiga hari perjalanan dari sini. Di sana, kita bisa menjual beberapa artefak tingkat rendah, mencari sumber daya obat untuk menstabilkan kondisi kultivasi kita, dan yang paling penting... mempelajari gulungan lanjutan dari Kitab Pembalik Langit yang kudapatkan dari kotak warisan."
Di atas bahu kanan Gu Yan-Zhi, Hu Yijie—yang tetap mempertahankan wujudnya sebagai anak anjing putih berbulu lebat—mengibaskan ekornya pelan, mengeluarkan dengkuran kecil tanda setuju. Selama perjalanan keluar kota tadi, makhluk mitos itu mendeteksi adanya aura energi spiritual yang cukup padat di sepanjang jalur perdagangan utara, menandakan bahwa wilayah luar jauh lebih kaya akan sumber daya alam dibandingkan petak tanah sempit Klan Gu.
Perjalanan panjang dengan gaya penceritaan yang tenang dan mengalir (slow burn) pun resmi dimulai. Selama tiga hari berikutnya, ketiganya menghindari rute utama yang padat untuk mencegah bentrokan dini dengan para pemburu dari Klan Bai. Mereka memilih menyusuri jalan setapak tua yang melintasi bukit-bukit hijau dan lembah berbatu.
Di sepanjang perjalanan, Gu Yan-Zhi tidak menyia-nyiakan waktu. Setiap kali mereka berhenti untuk beristirahat di malam hari di dalam gua atau di bawah naungan pohon besar, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melatih sirkulasi Qi-nya. Berkat Kontrak Darah Kesetaraan Mutlak dengan Hu Yijie serta pemahaman mendalam yang ia bawa dari kedisiplinan mental dunianya yang dulu, Gu Yan-Zhi mampu menyerap energi alam dengan efisiensi tiga kali lipat lebih cepat daripada kultivator biasa pada umumnya.
Pada malam kedua di sebuah perkemahan kecil dekat aliran sungai jernih, Gu Yan-Zhi duduk bersila di atas batu datar. Di hadapannya, gulungan manuskrip kuno bercorak perak dari kotak warisan terbentang lebar. Cahaya dari api unggun memantulkan pendar keemasan pada aksara-aksara kuno yang terukir di atas kulit binatang tersebut.
Kitab Pembalik Langit: Bab Kedua - Pengendalian Ruang Mikro, batin Gu Yan-Zhi membaca baris judul manuskrip itu.
Teknik tersebut mengajarkan bagaimana seorang kultivator bukan hanya menyerap Qi untuk memperkuat fisik atau menyerang musuh dengan tenaga dalam, melainkan bagaimana memahami frekuensi getaran energi di sekitarnya hingga mampu memanipulasi ruang hampa dalam skala kecil—sebuah teknik tingkat tinggi yang biasanya hanya bisa dikuasai oleh para tetua sekte besar yang berada di tahap kultivasi tingkat lanjut.
Gu Yan-Zhi memejamkan mata, mengatur ritme pernapasannya perlahan. Ia membimbing aliran energi keemasan di dalam Dantiannya untuk mengalir melalui jalur meridian baru yang belum pernah disentuh sebelumnya.
Sreeet...
Udara di sekitar ujung jari Gu Yan-Zhi tiba-tiba bergetar hebat. Ruang kosong di antara jari telunjuk dan ibu jarinya melengkung tipis, menciptakan kilatan cahaya transparan kecil yang memotong sehelai daun kering yang jatuh melayang di udara tanpa menyentuhnya secara fisik. Daun itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi.
Hu Yijie, yang sedang berbaring di dekat api unggun, membuka salah satu mata ambernya, menatap takjub ke arah tuannya sebelum kembali mendengkur pelan. Peningkatan kekuatan Gu Yan-Zhi berjalan jauh lebih stabil dan sempurna dari perkiraan ras Singa Surga.
"Bagaimana, Tuan muda?" suara Gu Chen terdengar pelan saat ia mendekat membawa ranting kayu bakar tambahan untuk api unggun. Ia melihat sisa-sisa fenomena pelengkungan ruang di dekat tangan Gu Yan-Zhi dan menelan ludah kagum. "Aku bisa merasakan tekanan energi yang luar biasa pekat setiap kali Anda berlatih teknik itu."
Gu Yan-Zhi membuka matanya, menghentikan latihannya, lalu tersenyum tipis. "Teknik ini masih pada tahap awal, Gu Chen. Tapi setidaknya, jika kita menghadapi kultivator di Pemusatan Qi Tingkat Lima sekalipun di Kota Angin Lembayung nanti, kita tidak perlu gentar."
Gu Chen mengangguk hormat, lalu duduk di dekat api unggun bersama Gu Ruoxi yang sedang menyiapkan makanan kering. Suasana malam itu terasa hangat di tengah dinginnya udara perbukitan. Tidak ada lagi rasa takut ataupun bayang-bayang penindasan yang mengekang seperti saat mereka berada di bawah cengkeraman Klan Gu.
Keesokan paginya, matahari pagi kembali terbit menyinari jalan setapak yang mulai melebar. Di kejauhan, di balik barisan kabut tipis dan lembah hijau, siluet dinding batu raksasa dari Kota Angin Lembayung mulai tampak berdiri megah. Menara-menara pengawas bergaya kuno menjulang tinggi, dan gerbang utama kota dipadati oleh para pedagang keliling, kultivator pengembara, serta karavan barang yang antre untuk masuk.
Kota perdagangan netral itu diatur oleh Aliansi Pedagang Spiritual dan dijaga ketat oleh para ksatria bayaran independen, menjadikannya zona aman dari hukum rimba semena-mena antarklan lokal. Di tempat inilah babak baru kehidupan Gu Yan-Zhi akan diuji—bukan lagi sebagai pelindung sebuah keluarga kecil, melainkan sebagai seorang pencari jalan yang menapaki tangga keabadian di Benua Dewa.
"Mari kita masuk," ujar Gu Yan-Zhi mantap, memegang kendali tali kekang kudanya dan melangkah maju memimpin rombongan kecil itu menuju gerbang besar Kota Angin Lembayung, siap menyongsong takdir agung yang telah menanti mereka di hadapan.