Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Ruby
Bab 26
“Nurut sama bi Siti ya,” titah Ruby sambil ber dadah-dadah.
“Tapi aku mau ke sana, ikut nunggu di rumah sakit.” Wajah Jelita cemberut.
“Besok, pulang sekolah mampir kemari ya. Sekarang udah malam, lagian anak kecil gak boleh ikut nunggu di sini. Diusir satpam.”
“Ya udah, besok aku kesana. Abang cepat sembuh ya.”
Adly mengangguk lemah, panggilan video pun berakhir. Ruby meletakan kembali ponselnya.
“Kenapa? Mau pulang juga? Cepat sembuh, baru kita pulang. Minum lagi ya, kamu harus banyak minum loh. Gak pa-pa kembung, ikan kembung aja sehat banyak minum air.”
“Nanti bun,” sahut Adly.
“Eh, ini snacknya belum dihabiskan. Salad yang diantar pak Budi belum dimakan, ada di kulkas. Mau bunda ambilkan?”
Adly menggeleng. “BUnda belum makan.”
“Gampang, belum selera.” Bagaimana bisa selera, jam 3 tadi Adly mendadak kejang lagi. Sekarang, untuk bergeser apalagi meninggalkan kamar ia tidak berani. Sudah mengirim pesan pada ibu mertuanya terkait kondisi Adly karena Bara masih belum bisa dihubungi.
“ada yang sakit?” tanya Ruby karena Adly malah melamun, kadang menatapnya lalu menatap kakinya yang terbalut selimut. “Kakinya sakit?” Ruby berdiri lalu menyibak selimut. “Bagian mana?” tanyanya lagi.
“Nggak bun, kaki aku nggak sakit.”
Ruby menghela nafas ada rasa tidak nyaman, entah itu sedih atau sakit di hatinya. Bagaimana Adly menjalani hidupnya selama ini, waktu dia belajar berjalan. Saat ia TK dan SD. Menjadi perhatian dan mungkin saja ejekan dari teman sekolah. Bisa-bisanya, orang yang merasa paling tahu kondisi Adly malah menyebut bocah ini anak cacat.
Pengen gue jambak, rambut nenek sihir tadi, batin Ruby.
“Abang,” panggil Ruby. “Kamu jangan berkecil hati ya. Kekurangan kamu hanya sedikit, ibaratnya hanya seujung kuku. Pasti ada banyak kelebihan lain dan kamu akan sukses nanti, bunda yakin itu.” Ruby mengusap kaki Adly yang tidak normal, bahkan sempat mengusap ujung matanya.
“Bunda nangis?”
“Nggak, nggak nangis. Masa seorang Ruby nangis, cengeng gak mungkin dong. Ini mata kelilipan maskara kayaknya.”
“Bunda gak risih sama aku? Bikin ribet, nyusahin doang.”
“Hah, risih? Astaga.” Ruby kembali menatap Adly. “Kenapa Bunda harus risih. Justru bunda iri dengan kalian."
Adly mengernyitkan dahinya.
“Mami kalian mungkin sudah tidak ada, tapi masih ada papi, oma dan opa yang perhatian. Di rumah, ada bibi, bu Siti dan Pak Budi.” Ruby mengingat bagaimana orang tuanya sama-sama sibuk, ia kesepian sampai akhirnya mereka berpisah membuatnya semakin kesepian.
“Jangan pernah merasa kamu berbeda lalu orang akan membedakan kamu. Mungkin ada yang begitu, tapi kamu dikelilingi oleh keluarga yang baik dan hangat. Tunjukan semangat kamu, fokus dengan cita dan masa depan,” tutur Ruby. “Hm, saat kamu sukses nanti. Lulus sarjana, punya peran di masyarakat dan bekerja, bunda mau ada di belakang kamu. Jadi saksi perjalanan sukses kamu. Boleh?”
Adly mengangguk. “Boleh!”
Ruby tersenyum. "Makasih ya."
***
“Sudah siap, bik?” Ratih-- mama Ruby terlihat mencari sesuatu. “Kunci mobil mana ya!”
“Ini bu. Nasi, sop dan buah potong.” Bibi menyerahkan goody bag, di dalamnya ada tiga tumpukan kotak bekal.
“Oh, iya. Makasih ya bik. Kalau gak gini, Ruby pasti gak makan.” Tadi siang, Ratih mendapatkan kabar kalau Adly masuk rumah sakit, berencana menjenguk. Masih sibuk mencari kunci mobil, yang lupa ia simpan di mana. ada suara bel. “Bik, ada tamu.”
Tidak lama bibi kembali. “Bu, ada bapak di depan.”
“Bapak siapa?” tanya Ratih mulai kesal karena ia benar-benar lupa dimana menyimpan kunci.
“Bapaknya mbak Ruby, suami ibu.”
“Hah.” Ratih menghela nafas. Untuk apa mantannya itu datang. Belum ia beranjak, malah sudah masuk.
“Kamu mau pergi?” tanya Dandi -- papa Ruby.
“Iya, mau ke rumah sakit. Adly sakit, Ruby yang jaga dari tadi siang. Haduh, kunci kemana kali. Eh, iya, ada perlu apa?” tanya Ratih.
“Bisa nanti. Saya antar ke rumah sakit, saya mau ikut jenguk.”
Ratih berdecak kesal. Kalau bukan karena buru-buru dan takut kemalaman, pasti ia akan menolak. Sampai di rumah sakit, Ratih membaca lagi pesan dari Ruby di mana Adly dirawat.
“VIP 3,” ucap Ratih. Tidak diduga mereka bertemu dengan Rendra dan Husnah yang juga baru datang.
Sedangkan di kamar rawat inap Adly, ada visit dokter. Dokter spesialis ortopedi anak, yang menangani Adly sejak bayi. Tidak ada masalah dari kondisi kakinya, terapi yang masih dilakukan agar Adly mudah melangkah.
“Ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda dan papinya Adly. Boleh temui saya secepatnya ya.”
“Ada masalah dok?” tanya Ruby, mereka berbincang menjauh dari ranjang pasien.
“Oh, tidak ada. Kondisi kolaps hari ini tidak ada hubungan dengan kondisi CTEV yang dia derita. Dokter spesialis anak yang lebih paham akan itu.”
Ruby mengangguk. “Baik dok, secepatnya kami temui dokter.”
Kembali menempati kursi di samping ranjang, memastikan kalau Adly nyaman dengan posisinya. Terdengar ketukan dan pintu terbuka.
“Adly, ini oma datang, bawa rombongan loh,” ujar Husnah.
Ruby dan Adly menoleh.
“Eh, janjian apa gimana ini,” ujar Ruby. Mendapati mama dan papa datang bersama mertuanya. Meski sempat aneh melihat orang tuanya akur.
“Wah jagoan bisa tepar juga.”
“Mungkin butuh perhatian dari bundanya nih, jadi harus begini deh,” ujar Rendra lalu terkekeh mengusap kepala Adly. “Dokter bilang apa, Ruby?”
Ruby menjelaskan hasil pemeriksaan juga kondisi Adly masih dalam observasi.
“Kamu sabar ya. harus nemenin Adly di sini,” ujar Husnah, ia ingat bagaimana Sinta memaki menantunya ini siang tadi.
“Iya, bu, nyantai aja. Aman, kok.”
Rendra dan Dandi berpindah ke sofa, mengawasi Adly sambil berbincang dan menggoda pasien agar bersemangat.
“Kamu makan dulu. Belum makan ‘kan?” Ratih mengajak putrinya melipir ke meja makan.
“Loh, belum makan By?”
“Belum, bu, tadi nggak selera. KAlau udah ada nyonya pasti dipaksa deh.”
“Adly mau makan lagi, oma suapi?” ucap Ratih.
“Sudah oma, bunda yang belum makan,” sahut Adly.
Husnah tersenyum melihat Ratih memaksa Ruby makan, bahkan disuapi. Adly tersenyum tipis, karena Ruby yang sekarang ia lihat berbeda dengan Ruby yang tadi serius dan dewasa. Kali ini tampak begitu manja.
“Bara sudah dikabari, By?” tanya Rendra.
“Belum nyambung, yah,” Ruby meneguk air mineralnya. “Udah mah, udah kenyang.”
“Buahnya dimakan ya.” Ruby mengangguk, Ratih mendekat ke ranjang menawarkan makanan untuk bocah itu. “Banyak makan, biar cepat sehat terus pulang.”
“Aku hubungi mas Bara lagi.” Akhirnya terdengar nada tunggu di ujung sana.
“Halo, Ruby,” ucap Bara di ujung sana.
“Akhirnya dijawab juga. Ya ampun mas Bara, susah sinyal apa kamu terpikat janda kembang di sana ya.”
“Ruby,” tegur Ratih. Husnah terkekeh dan rendra menggeleng kepala. Dandi hanya bisa menghela nafas, tidak aneh dengan sikap putrinya itu.
“Ck, mana ada. Hati saya udah terpikat perawan di Jakarta, mahasiswi yang kemarin hampir di DO.”
Ruby terkekeh. “Cie, udah kepincut sama aku nih. Eh, iya, aku di rumah sakit mas.”
“Kamu sakit?”
“Bukan, mantan mertua kamu yang sakit, sakit jiwa,” ujar Ruby lirih.
“Maksudnya?”
“Adly, mas, dia dirawat,” ujar Ruby lalu menjelaskan kondisi Adly. “Video call ya, lihat langsung kondisi Adly, sekalian lihat aku. Kangen pastinya."
Ruby naik ke ranjang lalu mengganti panggilan dengan video call. “Papi, aku sakit pih,” ujar Ruby mewakili Adly. Bara bertanya apa yang dikeluhkan dan dirasakan Adly, dijawab pendek dan lemah.
“Secepatnya papi balik ke Jakarta,” ujar Bara.
“Iya. Papi hati-hati, di sini ada Bunda yang jaga aku, ada oma dan opa juga. Semua kumpul.”
“Biar di sini udah rame, papi tetap mau pulang kok, iya ‘kan mas Bara? Mau kumpul sama aku juga.”
Bara mengusap wajahnya. di kondisi begitu, Ruby masih saja bercanda.
“Salam dulu sama papi, sudah waktunya istirahat,” ujar Ruby lalu ia dan Adly pamitan dengan Bara.
Panggilan sudah berakhir, Ruby mengetik pesan untuk suaminya.
...Mas Bara Ganteng...
^^^Jangan khawatir, Adly aman di sini. Mas Bara cepat selesaikan urusannya lalu pulang. Nanti aku kasih hadiah spesial^^^
Ruby, astaga!
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭