Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA YANG TELAH KEMBALI
Kelopak mata Nabila terangkat perlahan. Namun, detik berikutnya, wanita itu spontan memejamkan matanya rapat-rapat seraya memalingkan wajah. Cahaya putih terang yang menusuk seketika menyerang indra penglihatannya yang telah berbulan-bulan terbiasa berada di balik jeruji kegelapan.
"Pelan-pelan, Billa... Jangan dipaksa," bisik Hafiz penuh kelembutan, mencengkeram jemari istrinya dengan kehangatan yang amat menenangkan.
Nabila menghela napas panjang. Dengan sisa keberanian yang dihimpunnya, ia mencoba membuka matanya kembali. Kali ini lebih perlahan. Ia mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Dunia di depannya terasa sangat kabur, tertutup bayangan putih tebal yang bergoyang-goyang. Nabila tak menyerah, ia terus mengedipkan matanya untuk menyesuaikan pencahayaan ruangan.
Perlahan namun pasti, bayangan samar di hadapannya mulai membentuk garis wajah yang tegas. Garis rahang yang kokoh, sepasang mata teduh yang berkaca-kaca, serta ukiran senyum tulus yang dipenuhi pendar kasih sayang. Fokus penglihatannya membaik hingga akhirnya paras itu terlihat begitu sempurna dan jelas.
Nabila mematung. Matanya menatap tanpa berkedip pada pria yang berada tepat di depannya.
"Billa... sudah bisa melihat wajah Mas Hafiz yang tampan," ucap Nabila polos dengan nada hening yang polos dan penuh kepastian.
Kalimat sederhana itu memecah ketegangan yang membeku. Hafiz tak sanggup lagi menahan gelombang rasa syukur yang membuncah hebat di dadanya. "Alhamdulillah ya Allah!" serunya parau. Tanpa ragu, Hafiz langsung mendekap tubuh Nabila ke dalam pelukan hangatnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri seraya menumpahkan air mata bahagianya.
Di tengah kehangatan dekapan suaminya, sudut mata Nabila melirik ke arah Sisi kanan ranjang. Di sana, berdiri seorang pria jangkung yang sedang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Pipinya sudah basah kuyup oleh genangan air mata yang membanjir tanpa henti.
"Mas Ardhana...?" bisik Nabila ragu, mengenali raut wajah pria yang memiliki kemiripan struktur dengan dirinya itu.
Hafiz mengurai pelukannya perlahan. Pria itu menyapu air matanya sendiri, lalu mengangguk tersenyum seraya memberi ruang bagi kakak kandung istrinya untuk mendekat.
Ardhana melangkah maju dengan tubuh yang bergetar. Begitu sampai di tepi ranjang, ia langsung duduk dan merengkuh erat adik semata wayangnya itu. Tangis Ardhana pecah seketika, suara terisaknya memenuhi sudut-sudut ruangan VIP yang hening.
"Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah!" seru Ardhana di selang terisaknya. Ia mengusap belakang kepala dan punggung Nabila dengan penuh rasa sayang. "Terima kasih Ya Allah... Terima kasih karena Engkau telah mengembalikan penglihatan adikku yang cantik ini..."
Nabila ikut terhanyut dalam haru. Air matanya menetes meresapi bahu kemeja sang kakak. Tangan mungilnya membalas dekapan hangat Ardhana dengan erat, berulang kali mengucap syukur kepada Sang Pemilik Takdir yang telah mengakhiri masa gilapnya.
Di tengah momen emosional itu, Nabila mendongak menatap kakaknya. "Mas Dhana... nanti kalau penglihatan Billa sudah pulih total, ajak Billa ke kuburan Ayah dan Bunda ya? Semenjak Billa buta, Billa tidak pernah sekalipun ziarah ke makam orang tua kita..."
Ardhana menyapu air mata adiknya dengan ibu jari. "Iya, Dek. Pasti. Nanti begitu dokter sudah izinkan kamu keluar dari rumah sakit, Mas Dhana sendiri yang bakal antar kamu ziarah ke makam Ayah dan Bunda."
"Iya, Nak," sela Umi Salamah seraya melangkah mendekat. "Nanti kalau Dokter Irfan sudah beri izin pulang, kita semua akan berangkat sama-sama ke Jakarta. Kita berziarah ke makam almarhum orang tua kamu."
Mendengar perhatian yang begitu hangat, Nabila melepaskan dekapan kakaknya. Wanita itu beralih menatap Umi Salamah, lalu merentangkan kedua tangannya dengan manja bagaikan seorang anak kecil.
Umi Salamah terkekeh lembut. Dengan penuh rasa kasih sayang seorang ibu, ia menyambut rentangan tangan itu dan merengkuh Nabila ke dalam pelukan hangatnya. "Anak Umi... sekarang sudah pintar manja ya," goda Umi Salamah seraya mengelus lembut jilbab instan yang dikenakan Nabila. "Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu bisa melihat indahnya dunia lagi."
"Terima kasih, Umi... Ini semua berkat doa Umi, Abi, Mas Hafiz, dan Mas Dhana yang tak pernah putus-putusnya mengetuk pintu langit untuk Billa," tutur Nabila tulus seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ia lalu menoleh ke arah Dokter Irfan yang berdiri tak jauh dari ranjang. "Eh, Billa sampai lupa... Terima kasih banyak juga untuk Mas Dokter Irfan yang sudah mengoperasi mata Billa. Terima kasih banyak, Mas Dokter!"
Celetukan polos Nabila yang mengucapkan terima kasih dengan nada jujur itu seketika memancing tawa renyah dari semua orang di dalam ruangan. Gelak tawa bahagia melengkapi ketegangan dan rasa haru yang sejak tadi membungkus kamar perawatan tersebut.
Dokter Irfan tertawa pelan, membetulkan letak stetoskopnya. "Sama-sama, Ukhty Nabila. Tapi ingat ya, karena matamu baru saja melewati proses bedah mikro, kamu tidak boleh memaksakan diri untuk melihat terlalu lama. Saraf matanya harus diistirahatkan dulu supaya pemulihannya sempurna."
Nabila mengangguk patuh. Setelah memberikan arahan medis terakhir, Dokter Irfan memohon diri untuk melanjutkan tugasnya.
Melihat kondisi Nabila yang perlu beristirahat, Ardhana, Umi Salamah, dan Kyai Yahya pun bersiap untuk pamit. Namun, saat Ardhana hendak berpamitan pulang ke Jakarta, Nabila melarangnya dengan raut wajah cemas.
"Mas Dhana jangan pulang ke Jakarta dulu ya... Billa masih mau sama Mas Dhana," pinta Nabila memohon.
Kyai Yahya tersenyum menatap kehangatan kakak beradik itu. "Iya, Nak Ardhana. Kamu menginap saja di rumah panggung atau di pondok kami beberapa hari ini. Supaya adiknya tenang dan ada yang menemani."
Ardhana mengangguk mantap. "Baik, Kyai. Saya akan bertahan di sini sampai Billa benar-benar pulih."
Setelah menyampaikan salam dan pelukan hangat, mereka bertiga melangkah keluar dari kamar rawat, meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keheningan yang syahdu.
Hafiz menduduki kursi di sisi ranjang, memegang lembut jemari Nabila. "Sekarang Billa pejamkan matanya ya, sesuai kata Dokter Irfan tadi. Billa harus istirahat."
Nabila menatap Hafiz ragu, jemarinya meremas kain sarung suaminya. "Tapi... Billa takut, Mas..."
"Takut kenapa, Sayang?" tanya Hafiz lembut seraya mengusap kening istrinya.
"Billa takut kalau ini semua cuma mimpi..." bisik Nabila pelan dengan pandangan cemas. "Billa takut waktu Billa bangun nanti... dunia Billa kembali gelap seperti dulu lagi."
Hafiz tersenyum tulus, membawa jemari Nabila ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana. "Tidak, Sayang... ini bukan mimpi. Ini nyata. Allah sudah mengembalikan penglihatanmu. Dan Mas berjanji, Mas akan selalu menggenggam tangan Billa di sini sampai Billa terbangun lagi nanti."
Nabila menghela napas lega. Rasa hangat dan kepastian mengalir memenuhi relung jiwanya. Ia menatap wajah suaminya sekali lagi dengan raut kagum yang polos.
"Masyaallah banget ya... Suaminya Billa ternyata tampan sekali. Ini sepertinya bonus dari Allah untuk Billa," celetuk Nabila polos tanpa rasa canggung.
Hafiz terkekeh renyah mendengar pujian jujur istrinya. Rasa gemas meluap di dadanya. Pria itu mengangkat tangannya, lalu menyentuh pelan ujung hidung mungil Nabila menggunakan punggung jari telunjuknya.
"Iya, ini bonus karena istri Mas yang cantik dan salihah ini begitu sabar serta tabah melewati semua ujian-Nya," bisik Hafiz penuh keromantisan. "Sekarang tidurlah, Bidadariku."
Nabila mengangguk dengan senyuman paling manis yang mengembang di bibirnya. Perlahan, ia memejamkan kedua kelopak matanya dengan hati yang diliputi kedamaian sempurna. Di sampingnya, Hafiz terus menggenggam jemari mungil itu, menjaga lelapnya sang istri dalam naungan cinta dan ridho-Nya.
cus lanjut kak author semangat 💪💪💪
lanjut kak