"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 30
"Mau bicara dimana, di ruang rapat atau di ruangan Anda?"
"Rapat."
"Ruanganku."
Rhea tersenyum simpul mendengar dua orang itu menjawab secra bersamaan. Lebih menggelikan lagi saat melihat wajah Trisna yang terus saja masam.
"Aku pikir, diriku akan terganggu dengan mereka. Tapi ternyata nggak, sama sekali nggak," batin Rhea. Ia sebenarnya sangat terkejut saat mendengar perintah Nayaka untuk mengikuti za dan Trisna. Banyak kekhawatiran yang muncul.
Bagaimanapun Rhea kembali berhadapan dengan dua orang di masa lalu nya. Mereka dalah orang yang menghancurkan hatinya sampai ada niat untuk mengakhiri hidup.
Akan tetapi setelah berhadapan langsung dengan keduanya, Rhea merasa tak perlu takut. Dan yang terjadi adalah dia merasa biasa saja dengan dua orang tersebut.
Keduanya yang membisu tak membuat Rhea canggung. Dia berjalan tenang, tersenyum ramah kepada karyawan lain hingga akhirnya masuk ke ruangan Oza.
Klak!
Pintu ditutup. Rhea masih berdiri sedangkan Oza dan Trisna sudah duduk lebih dulu.
Ia menelengkan kepalanya, sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap lurus ke arah Oza.
"Sial," umpat Oza lirih. "Silakan duduk Bu Rhea," sambung Oza. Ia kembali berdiri dan mempersilakan Rhea untuk duduk. Baru setelah Rhea duduk, pria itu kembali ke kursinya.
"Berikan padaku hasilnya, aku akan mulai melakukan alih bahasa," ucap Rhea. Bibirnya datar, tangannya mengulur meminta laptop milik Oza.
Sreet
Oza membuka laptopnya dan mendorongnya ke arah Rhea. Wanita itu langsung fokus melakukan tugasnya. Sampai 10 menit berlalu, Rhea terus menatap ke layar laptop dan suasana di ruangan itu sangat-sangat sepi. Namun tiba-tiba sebuah suara membuat tangan Rhea berhenti.
Brak!
Rhea mengangkat wajahnya, mengalihkan matanya darii layar laptop ke sumber suara.
"Apa yang Anda lakukan?" ucap Rhea dingin, wajahnya datar. Tak ada seutas senyum pada bibirnya.
"Gaya banget sih kamu. Sok. Ngelihat kita kayak orang nggak kenal. Padahal kita udah kenal dari lama. bertahun-tahun kita berteman, tapi kamu cuek. Sok bossy lagi."
Rhea diam, matanya berkedip beberapa kali lalu sebuah seringai terbit di bibirnya.
Ia lalu mengalihkan pandangannya lagi, dari Trisna ke laptopnya. Rhea tak menanggapi ucapan Trisna dan fokus kembali bekerja.
Oza sendiri juga hanya melihat, dia tak membuka mulutnya sama sekali.
Suasana kembali sunyi, sampai Trisna kembali mengebrak meja.
"Rhea!" pekiknya. Kali ini Trisna sampai berdiri, dadanya naik turun dan tangan kirinya mengepal erat. Tatapan tajam diarahkannya kepada temannya, atau lebih tepatnya mantan teman karena Rhea tak lagi menganggapnya teman.
"Anda sangat menganggu pekerjaan saya. Pak Kepala Bagian, jika Anda tidak bisa membuat anak buah Anda diam, maka keluarkan dari ruangan ini. Sungguh menganggu."
Rhea tak melihat ke arah Trisna, dia melihat kepada Oza. Rhea juga sadar bahwa rahang Oza mengeras saat melihat kepada dirinya. Tapi Rhea sama sekali tak memedulikannya.
"Jangan sok kamu Rhe. Baru jadi anak buah Pak Nayaka aja sombong. Berlagak nggak kenal sama teman."
"Maaf ya, aku nggak punya temen yang makan temen."
Degh!
Tatapan tajam Rhea meski hanya sekilas membuat dada Trisna berdegup kencang. Wanita itu bahkan sedikit memundurkan tubuhnya.
"Hentikan, kalian jangan bertengkar," Oza angkat bicara juga. Tapi dia masih duduk dengan tenang di kursinya.
"Maaf ya saya tidak bertengkar dengan siapapun. Karena tidak ada yang perlu dipertengkarkan. Sesuatu yang tidak penting dan tidak berharga tidak perlu sampai di ributkan."
Mata Oza membulat sempurna mendengar perkataan Rhea. Dia yang awalnya duduk tenang, kini menegakkan tubuhnya. Matanya membulat dan rahangnya kembali mengeras.
"Apa maksudmu hah!" pekik pria itu. Tangannya reflek meraih tangan Rhea yang sedang sibuk bekerja.
"Lepas!" mata Rhea balik menatap tajam. Dia mengibaskan tangan Oza hingga tangan pria itu terlempar.
"Jangan menyentuhku, kamu kotor," imbuh Rhea.
"Heh, beraninya kamu ngomong kayak gitu hah!" sahut Trisna. Dia menghampiri Oza, dan berdiri diantara Oza dan Trisna.
Rhea menyeringai, ia lalu menaikkan satu tangannya ke atas meja untuk memangku dagunya. Matanya melihat ke arah Oza dan Trisna bersamaan.
Satu tangannya yang lain terangkat, lalu menunjuk ke pada Oza dan Trisna secara bergantian.
"Satunya temen laknat dan satunya kekasih brengsek. Cocok, kalian sungguh pasangan yang sempurna." ucap Rhea dengan bibir full senyum.
Trisna mengangkat tangannya, dia hendak melayangkannya kepada Rhea. Tapi tangan Oza lebih cepat menahannya. Sehingga niat Trisna tak terlaksana.
"Jangan bertindak bodoh," bisik Oza sambil mengeratkan gigi-giginya.
"Kamu bela dia," sahut Trisna cepat.
"Kalau kamu mau buat aku kesulitan, maka lanjutkan."
Mata Oza sangat tajam mengarak ke mata Trisna. Dimana Trisna langsung menciut, agaknya dia mengerti maksud Oza.
"Bagus, jangan buat masalah ya. Karena jika ada masalah dengan saya, kalian lah yang rugi. Mengerti."
Rhea tersenyum tipis, ia lalu melanjutkan pekerjaan nya kembali.
Ceklek
Urat leher Oza sudah sangat menonjol saat mendengar pintu ruangan dibuka tanpa permisi. Dia sudah siap mengeluarkan kata-kata. Tapi saat melihat siapa yang muncul, raut wajah Oza langsung berubah. Dia juga segera berada di posisi siap dan melepaskan tangannya dari tangan Trisna. Pun dengan Trisna, dia menunjukkan sikap yang sama dengan suaminya.
"Rhe, tinggalkan. Biar mereka selesaikan sendiri."
Ucapan yang tenang, datar tapi terdengar lembut.
"Tapi ini belum selesai Pak," jawab Rhea. Wajahnya nampak kebingungan.
"Tinggalkan."
Nayaka memang hanya berdiri di ambang pintu namun tangannya mengulur.
Rhea segera bangun dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Nayaka dan dengan ragu meraih tangan atasannya itu.
Rhea sangat bingung sebenarnya dengan sikap Nayaka. Baru kali ini atasannya bersikap ringan dan hangat.
"Selesaikan sekarang juga. Gunakan semua kemampuan yang kalian miliki untuk melakukan alih bahasa."
Nayaka meninggalkan tatapan tajam dan sebuah peringatan. Semua orang yang mendengar pasti paham makna yang tersirat dari kata-kaya "gunakan semua kemampuan yang kalian miliki."
Nayaka membawa pergi Rhea. Tono yang tertinggal di belakang, masih sempat untuk melongok ke ruangan Oza.
"Kalau sampai tidak selesai, berarti tidak pulang. Kalau selesai tapi salah, tetap tidak pulang juga. Jadi semangat ya."
Bibir Tono memang tersenyum lebar, tapi percayalah itu sangat menakutkan.
Klak!
Pintu ditutup dan Oza langsung menggebrak meja dengan sangat keras.
"Semua gara-gara kamu," sengit Oza sambil melayangkan tatapan tajam kepada Trisna.
"Aku lagi, aku lagi yang salah. Kenapa aku yang jadi tumbal mu? Kenapa aku yang harus menjadi tumpuan atas cinta mu ke orang mati yang belum selesai."
Mereka berbicara dengan pelan, tapi urat dileher mereka sama-sama saling menonjol.
"Panggil semua orang di luar. Suruh mereka masuk dan mengerjakannya.
Oza melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Trisna hanya bisa mengumpat dalam hati.
Oza terus berjalan, namun dia tak tahu tujuannya. Ia melihat ke atas. Rooftop, menjadi pilihannya. Oza memilih tangga untuk sampai ke sana.
"Kenapa!!!!!"
Teriaknya ke langit luas. Ia menutup wajahnya, sebuah bulir bening meluncur dari ujung matanya.
"Sikap kikuk itu, senyuman, tawa dan bahkan kemarahan itu kenapa harus kamu miliki. Kenapa??"
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭