Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Huru-Hara Masa Ngidam dan Cinta Tanpa Batas
Jam dinding kayu tua di kamar utama menunjukkan tepat pukul 01.45 WIB.
Suasana rumah berlantai dua itu sunyi senyap, hanya didominasi oleh dengung halus pendingin udara dan ritme napas teratur dari Dimas yang baru saja tertidur pulas satu jam lalu setelah merampungkan draf anggaran dinas.
Tiba-tiba, sebuah jemari dengan kuku tercat bening menggoyang-goyang lengan tegap Dimas secara berkala. Awalnya pelan, lalu makin berirama dan penuh penekanan.
Dimas menggeram halus, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih terkubur dalam lelap. Matanya menyipit berat memandang sosok wanita yang kini duduk bersila di sampingnya.
Kiara sudah mengenakan kacamata beralas tipisnya, rambut hitamnya diikat asal, dan tatapan matanya begitu jernih serta tegap—persis seperti raut wajahnya saat akan membacakan eksepsi (bantahan) di hadapan majelis hakim.
"Mas... Mas Dimas, bangun," bisik Kiara. Vokalnya tenang, terstruktur, namun menyimpan aura tak bisa dibantah.
"Kenapa, Sayang?" Dimas seketika terduduk tegap, rasa kantuknya menguap digantikan pemicu panik. Tangan kirinya refleks meraba perut Kiara.
"Ada yang mules? Kontraksi? Kita ke rumah sakit sekarang?!"
" ih.. Mas Dimas....usai kehamilan Aku kan masih empat bulan....gimana sih " Kiara menggeleng cepat, lalu menyunggingkan senyum paling manis yang justru membuat bulu kuduk Dimas berdiri.
"Perut aku nggak papa, Mas. Tapi barusan... adik bayi bisik-bisik. Dia bilang mau makan mangga arum manis," tutur Kiara lembut.
Dimas bernapas lega, mengusap dadanya.
"Alhamdulillah... Cuma mangga. Ya sudah, besok pagi jam tujuh Mas Minta Arga belikan dua keranjang di toko buah impor langganan ya? Sekarang tidur lagi—"
"Nggak mau," potong Kiara cepat. Garis bibirnya mendadak melengkung ke bawah, matanya mulai berkaca-kaca dipenuhi genangan air mata maut.
"Adik bayi nggak mau mangga toko impor yang manisnya buatan. Dia maunya mangga arum manis yang ada di pohon halaman depan rumah Pak RT... yang dipetik langsung sama Papanya pakai galah bambu malam ini juga."
Dimas melongo.
"Ra... Ini jam dua pagi. Pohon Pak RT itu ada di dalam area pagar rumah beliau."
"Kalau nggak dipetik sekarang..."
Setetes air mata Kiara meluncur mulus membasahi pipinya.
"...nanti anak kita waktu lahir ngileran terus tiap lihat pohon, Mas. Tega Mas biarkan anak kita begitu?"
Dimas mengusap wajahnya yang masih kaku. Melawan argumentasi seorang konsultan hukum yang sedang hamil muda adalah tindakan sia-sia.
Dengan pasrah, pejabat tegap berusia tiga puluhan tahun itu akhirnya melangkah turun dari kasur.
Sepuluh menit kemudian, terjadilah pemandangan paling konyol dalam sejarah komplek perumahan tersebut.
Seorang Dimas—pejabat dinas yang disegani bawahannya—berjalan berjinjit menembus hembusan angin malam. Ia cuma memakai sarung kotak-kotak yang terikat ringkih di pinggang, kaos oblong hitam polos, dan memboyong sebatang galah bambu sepanjang tiga meter di bahunya.
Di bawah kegelapan pohon mangga Pak RT, Dimas mengarahkan galahnya ke dahan atas dengan penuh kehati-hatian. Namun, kemalangan tak bisa ditolak.
KREK!
Dahan kering terpijak kaki Dimas, disusul suara mangga besar yang jatuh menimpa atap seng kandang burung Pak RT.
TAK-TAK-TAK!
Seketika lampu teras rumah Pak RT menyala terang benderang. Pintu depan terbuka, dan Pak RT keluar membawa senter swalayan berdaya tinggi lengkap dengan sarung yang dikalungkan di leher.
"SIAPA ITU?! MALING YA?!" teriak Pak RT seraya menyorotkan pendar cahaya terang tepat ke wajah Dimas.
Dimas memejamkan mata rapat-rapat, berdiri kaku di balik galah bambu dengan wajah merah padam menanggung malu yang teramat sangat.
Ia memaksakan sebuah senyuman paling kaku seraya mengacungkan dua buah mangga hijau di tangannya.
"P-Pak RT... Ini saya, Dimas..." sapa Dimas dengan suara serak.
"Maafkan saya Pak RT... Istri saya di rumah... mendadak ngidam mangga pohon Bapak jam dua pagi ini..."
Pak RT membeku sebentar, menatap galah bambu, sarung Dimas, lalu menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya tertawa terpingkal-pingkal hingga perut buncitnya bergetar.
"Oalah, Mas Dimas! Tak kira maling jemuran! Ambil Mas, ambil sekalian sama pohonnya kalau perlu! Demi calon anggota baru komplek ini....hahaha!"
...***...
Bukan Kiara namanya kalau keajaiban ngidamnya cuma berhenti di mangga Pak RT. Memasuki usia kandungan lima bulan, giliran fenomena kuliner langka yang membuat seluruh lini pertahanan mental Dimas nyaris roboh.
Malam itu, pukul 23.30 WIB, Kiara yang sedang menyaksikan acara televisi mendadak meletakkan remot kontrol.
Pandangannya menerawang jauh ke langit-langit ruang tamu.
"Mas... Aku mendadak kangen suara tong-tong-tong..." gumam Kiara jernih.
Dimas yang sedang memotong buah naga di meja makan menoleh bingung.
"Suara tong-tong? Suara tiang listrik dipukul pos ronda?"
"Bukan!" Kiara cemberut.
"Suara gong kecil milik Abang Es Dung-Dung tradisional yang didorong pakai gerobak kayu! Yang es krimnya disendokkan ke dalam roti tawar atau wadah kerucut renyah itu, Mas!"
Dimas menepuk jidatnya. "Sayang... Ini jam setengah dua belas malam. Abang es dung-dung mana ada yang keliling komplek jam segini? Mereka sudah tidur di kontrakan dari tadi sore."
Kiara melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajah ke dinding.
"Pokoknya kalau nggak ada suara tong-tong-tong di depan pagar rumah malam ini, aku gak mau makan nasi seminggu." ancam Kiara
Ancaman itu adalah vonis mati bagi Dimas. Pria itu menyambar ponselnya dengan jari gemetar, membuka aplikasi percakapan dan mengirimkan pesan darurat berformat Broadcast SOS ke dalam grup WhatsApp Geng Harmony:
Dimas: DARURAT VVIP! Kiara ngidam Es Dung-Dung gerobak dorong tradisional malam ini juga. Ada yang tahu abang-abangnya biasa mangkal atau tinggal di mana jam segini? Tolongin gue.
Bagas: BOS?? LU KIRA ABANG ES DUNG-DUNG MANGKAL BARENG KUNTILANAK DI LAPANGAN SUKABUMI JAM SEGINI?!
Dave: Demi keponakan baru gue! Gue meluncur! Gue puterin kawasan Jetayu sampai Kauman sekarang juga!
Galang: Gue sisir daerah Karanganyar dan Pakumbulan!
Fahri: Berdasarkan pemetaan logistik, pemukiman pedagang kaki lima biasanya terkonsentrasi di gang belakang pasar. Saya bergerak ke sana.
Satu jam pencarian masif dilakukan oleh tim EO paling heboh se-Kota Sukabumi tersebut. Dan keajaiban akhirnya terjadi pada pukul 00.45 WIB.
Dave dan Bagas berhasil menyergap seorang Abang Es Dung-Dung tua bernama Pak Manto yang baru saja hendak mengunci pintu rumah kontrakannya di kawasan Kauman.
Tanpa membuang waktu dan tanpa tawar-menawar, Bagas menyodorkan uang tunai lima ratus ribu rupiah di depan mata Pak Manto.
"Pak! Tolong kami, Pak! Ini masalah hidup dan mati rumah tangga Bos kami!" seru Bagas histeris seraya menyewa gerobak es beserta Pak Manto untuk didorong langsung menggunakan mobil pickup milik studio menuju perumahan Dimas.
Pukul 01.15 WIB, keheningan komplek perumahan Dimas dipecahkan oleh suara gong kecil bernada nyaring yang dipukul berulang kali:
Tong... tong... tong... Tong... tong... tong...
Kiara yang mendengar suara itu langsung melompat dari sofa, membelalakkan matanya gembira, lalu berlari kecil menuju pintu depan tanpa memedulikan sandal rumahnya.
Pemandangan di luar rumah malam itu sangat absurd: Pak Manto berdiri dengan bangga di samping gerobak es krim kayunya yang menyala dipasangi lampu petromak.
Sementara di pinggir trotoar jalan komplek, Dimas, Bagas, Dave, dan Galang duduk berjejer seraya memangku mangkuk plastik berisi es dung-dung rasa santan kelapa.
Kiara duduk anggun di kursi lipat taman, menikmati porsi ketiga es dung-dung topping roti tawar dengan binar mata paling bahagia di dunia.
"Enak banget, Mas... Makasih ya," celetuk Kiara santai di antara suapannya.
Dimas yang duduk di trotoar cuma bisa menatap istrinya seraya menghembuskan napas pasrah, sementara Bagas dan Dave sibuk menyendok es krim sambil tertawa terpingkal-pingkal menatap bos mereka yang pasrah sepenuhnya di bawah kendali hormon kehamilan.
...***...
Puncak dari segala kehebohan ngidam Kiara terjadi ketika usia kandungannya memasuki akhir bulan kelima.
Pukul 02.45 WIB, Dimas terbangun bukan karena goyangan tangan, melainkan karena suara tangisan sesenggukan yang amat memilukan.
Dimas seketika terperanjat, mendapati Kiara sedang duduk di sudut ranjang seraya memeluk lututnya, air matanya membanjiri pipi hingga kacamatanya embun.
"Sayang! Ya Allah, kenapa?! Perut kamu sakit?! Ada yang berdarah?!" Dimas memeluk bahu Kiara dengan kepanikan luar biasa, jantungnya berdegup kencang bagai mau melompat keluar.
Kiara menatap Dimas dengan hidung yang memerah basah, mengusap air matanya menggunakan ujung lengan piyamanya.
"Mas..." bisik Kiara dengan suara serak yang mengiris hati.
"Aku sedih banget..."
"Sedih karena apa, Sayang? Cerita sama Mas!"
"Aku... aku mau mendengarkan lagu Balonku Ada Lima..." kata Kiara pelan.
Dimas mengerutkan dahi.
"Lagu anak-anak? Ya sudah, Mas putarkan dari Spotify di HP sekarang ya?"
"Nggak mau dari HP!" tangis Kiara kembali pecah.
"Adik bayi mau dengar lagu Balonku Ada Lima yang dimainkan pakai Gitar Listrik aransemen musik Heavy Metal, dan Mas Dimas yang bernyanyi screaming rock di ruang tamu sekarang juga!"
Dimas membelalakkan matanya hingga batas maksimal.
"S-Sayang... Lagu anak-anak versi Heavy Metal?! Jam tiga pagi?!"
"Iya! Nanti adik bayi di dalam sini ketawa kalau dengar Papanya main gitar rock!" sahut Kiara polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tak punya pilihan lain demi menjaga stabilitas emosi sang istri, Dimas akhirnya turun ke ruang tamu lantai bawah.
Pria tegap itu mengeluarkan gitar listrik warna hitam miliknya yang sudah lama tersimpan di dalam hardcase, memproses kabel ke amplifier kecil, dan mengeset efek distorsi ke tingkat maksimal—namun dengan master volume yang ditekan hingga titik paling minim demi menghindari amukan warga sekomplek.
Dimas berdiri di tengah ruang tamu. Penampilannya benar-benar bertolak belakang dengan citra pejabat publiknya: sarung kotak-kotak masih terikat di pinggang, kaos oblong hitam, rambut acak-acakan bekas tidur, dan gitar listrik bertengger di dadanya.
Kiara duduk bersandar di sofa empuk seraya memangku cangkir susu hangat, matanya berbinar-binar penuh antisipasi.
Di sebelah Kiara, Rayyan yang ikut terbangun karena keriuhan itu memegang marakas mainan plastik warna kuning dengan wajah polos.
Dimas menghela napas dalam-dalam, menatap langit-langit rumah seraya berdoa memohon pengampunan atas kekonyolan ini. Kemudian, jemarinya mulai memetik power chord distorsi berat dengan teknik palm mute yang cadas:
JENG-JENG-JENG! KREEEKKK!
Dimas memajukan tubuhnya ke depan, mengambil gaya vokalis musik padas, lalu bernyanyi dengan suara bernada whisper-scream yang berat namun ditahan agar tidak terlalu keras:
"BALONKU ADA LIMA! RUPA-RUPA WARNANYA! HIJAU KUNING KELABU... MERAH MUDA DAN BIRU!"
JENG-JENG-JENG-JENG!
"MELETUS BALON HIJAU... DOOORRR!"
Rayyan yang berada di sofa langsung mengocok marakas plastiknya heboh.
"Horeee! Papa keren! DOOOORRR!"
Kiara bertepuk tangan riuh dengan wajah yang terpancar kebahagiaan luar biasa, air mata sedihnya mendadak menguap berganti tawa renyah yang amat indah.
Sementara itu, dari balik celah pintu dapur, Mbok Jum yang terbangun cuma bisa mengelus dada seraya beristighfar pelan menatap majikan prianya yang rela berubah menjadi rocker serba konyol demi menyenangkan hati sang istri.
Masa-masa ngidam itu memang menguras tenaga, mengacaukan jam tidur, dan membuat Dimas harus melakukan hal-hal di luar nalar sehatnya.
Namun, setiap kali melihat binar kebahagiaan dan tawa renyah Kiara yang mengangkut seluruh sisa luka masa lalu mereka, Dimas menyadari bahwa tidak ada harga yang terlalu mahal untuk dibayar demi ukiran senyum wanita yang amat dicintainya itu.